Niatan

“Maaf, Tuan. Sebenarnya...,” ucap Bu Aminah.

“Maaf, Tuan. Saya sudah tidur dengan putri Anda,” sela Alzam.

Dia seketika maju, saat ibunya hendak mengutarakan dosa yang dikira telah dia perbuat. Dia tak tega jika sang ibu lah yang harus mengaku kepada keluarga gadis, yang telah tidur dengannya itu.

Semua nampak terkejut. Rosaline bahkan sampai harus kembali terduduk, sambil memegangi dadanya karena begitu syok dengan apa yang dikatakan Alzam barusan.

Sedangkan Tuan Abimana, dia terlihat memijat keningnya, sembari menoleh ke arah putrinya.

“Benar itu, Liv?” tanya Tuan Abimana.

Sementara yang ditanya, hanya menoleh sembari tersenyum kaku, serta meringis memamerkan deretan gigi putihnya, seolah sama sekali tak ada perasaan dirugikan, bersalah atau ketakutan.

“Maaf, Pah. Oliv, khilaf,” ucap Olivia dengan entengnya.

Tak ada raut penyesalan atau sedih di wajah sang putri, di mana sewajarnya dialami gadis yang telah direnggut mahkotanya.

Tuan Abimana hanya bisa menutupi wajahnya karena malu kepada kedua tamunya, akan tetapi dia pun tak bisa mengungkap perbuatan Olivia yang sudah benar-benar keterlaluan, sampai membuat orang lain merasa harus bertanggung jawab padanya.

“Nggak mungkin! Nggak mungkin Oliv mau sama pemuda... Pemuda miskin ini! Ini pasti pemerkosaan. Iya kan?! Ini pasti pemaksaan! Pah, kita mesti lapor polisi sekarang juga,” seru Rosaline yang masih dalam kondisi terkejut mendengar hal tersebut.

Dia beralih ke arah putrinya dan meraih tangan Olivia.

"Nak, kamu dipaksa kan? Iya begitu kan?" tanya Rosaline memastikan.

Namun, Olivia hanya diam, dan semakin membuatnya lemas.

Rosaline sangat tidak suka putrinya bergaul dengan masyarakat kalangan bawah, apalagi jika harus dekat dan bahkan dipinang oleh mereka. Itu seolah aib baginya.

Dia terus membujuk sang suami untuk melaporkan Alzam kepada polisi, atas pengakuan yang tadi telah dilakukan.

Melihat sang ibu justru menentang dan mengancam membui pemuda incarannya, Olivia pun mulai angkat bicara.

“Jangan laporin Mas Al, Pah. Dia nggak salah. Kami sama-sama nggak sadar. Cukup biarin Mas Al buat tanggung jawab sama Oliv aja, nggak papa kan?” pinta Olivia.

“Oliv, tapi ini kriminal, Nak. Dia harus tanggung jawab di penjara, bukannya malah enak-enakkan nikah sama kamu. Ini paling akal-akalan mereka aja yang pengin numpang hidup enak sama kita. Pah, cepet laporin laki-laki br*ngsek ini, Pah!” seru Rosaline.

“Mah! Apa mamah mau nama Oliv tercemar? Apa mamah mau semua orang tau kalau Oliv udah tidur sama cowok? Kalau mamah laporin Mas Al, otomatis beritanya akan heboh. Mamah mau kaya gitu? Biarin aja sih Mas Al tanggung jawab dengan nikahin Oliv. Lagian juga, Oliv mau kok nikah sama Mas Al,” sanggah Olivia.

“Ya ampun, Oliv. Hei kalian! Pelet apa sing yang kalian pake sampe anak saya jadi begini? Tuhan! Papah, ngomong sesuatu dong. Jangan diem aja!” ucap Rosaline yang benar-benar kesal tapi tak bisa bertindak apa-apa.

Tuan Abimana yang sejak tadi hanya memijat keningnya yang terasa berdenyut pun, kini menurunkan tangannya, dan menyandarkan punggung ke sofa.

Dia mencoba mengambil nafas dalam, sebelum akhirnya mengembuskannya sekaligus.

“Saya tahu maksud Anda berdua baik, dengan datang kemari dan meminta maaf kepada kami. Ditambah, maksud anak ini yang ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Oliv. Tapi jujur, ini sangat mengejutkan bagi kami,” ucap Tuan Abimana.

“Sekali lagi kami meminta maaf, Tuan. Kami sangat sadar jika ini salah. Saya dan putra saya pun sudah menduga kemungkinan akan dilaporkan ke kantor polisi, dan kami bisa menerima hal tersebut. Akan tetapi, jika sampai Nak Oliv mengandung, itu akan menjadi hal berat bagi Nak Oliv, yang harus hamil dalam kondisi belum menikah,” ucap Bu Aminah.

“Gugurkan saja kalau begitu!” sela Rosaline.

“Astaghfirullah hal adzim,”

“Mamah!”

Semua terkejut dengan omongan seorang wanita, yang mengusulkan ab*rsi kepada putrinya sendiri.

“Apa? Cuma itu kan solusi terbaiknya. Laki-laki br*ngsek ini masuk penjara, dan Oliv tetap bisa melanjutkan masa depannya. Benerkan?!” sanggah Rosaline.

“Maaf, Nyonya. Anda juga seorang ibu. Bagaimana mungkin Anda tega memberi pendapat sekejam itu pada putri Anda sendiri?” tanya Bu Aminah, yang tak habis pikir dengan perkataan Rosaline.

“Terus, apa kami harus memberikan anak kami kepada kalian secara cuma-cuma begitu? Jangan mimpi ya. Oliv ini biasa hidup serba ada. Kalau menikah dengan anak ibu yang miskin ini, apa bisa menjamin Oliv bahagia?” jawab Rosaline pedas

Bu Aminah yang berkali-kali mendengar sang putra di hina seperti tiu, hanya bisa mengelus dada sambil beristighfar, meminta pertolongan kepada Allah agar diberi jalan keluar yang terbaik untuk masalah ini.

“Mah, biarin Oliv nikah sama Mas Al aja sih? Kenapa mesti ribet-ribet segala?” rengek Olivia.

“Oliv, nikah itu nggak segampang yang kamu kira. Apa kamu benar-benar siap hidup dengan pemuda miskin yang nggak punya apa-apa ini? Datang ke sini aja pake motor. Pasti kredit kan? Mau dikasih makan apa kamu? Bisa-bisa mereka cuma numpang hidup dari kamu tau nggak,” sangga Rosaline.

“Mah!” panggil Olivia kesal.

“Maaf, saya rasa cukup sampai di sini saja, karena sepertinya pihak Nak Oliv tidak menyetujui adanya sebuah pernikahan. Jadi, kami serahkan kepada Anda sekalian, bagaimana nanti kami harus bertanggung jawab."

"Saya tidak sudi jika putra kebanggan saya ini dihina terus menerus seperti tadi. Kami datang kemari dengan maksud baik-baik, bukan untuk dihina dan dicaci maki. Dia memang salah, maka itu kami datang untuk meminta maaf dan bertanggung jawab. Silakan beritahu kami keputusannya. Kami permisi. Ayo, Nak,” sela Bu Aminah.

Dia sudah tak tahan mendengar Rosaline yang terus menerus menyudutkan dan menghina Alzam di depannya. Ibu mana yang rela menyaksikan anaknya diperlakukan seburuk dan serendah itu.

Bu Aminah pun meraih tangan Alzam, agar pemuda tersebut mau bangun dari duduknya. Alzam pun menurut. Dengan langkah gontai, dia berbalik dan berjalan menyusul sang ibu.

Saat keduanya sudah hampir mencapai pintu, tiba-tiba Tuan Abimana kembali berucap.

“Tunggu dulu!” ucapnya.

Hal itu sontak membuat semua orang menoleh, melihat pria yang masih duduk diam ditempatnya. Begitupun Bu Aminah dan juga Alzam, yang kembali menghentikan langkah kaki mereka.

“Saya akan terima lamaran putra Anda atas putri saya, Olivia,” lanjut Tuan Abimana.

“Apa?!” pekik Rosaline.

“Papah serius?!” tanya Olivia.

“Apa Anda yakin, Tuan?” tanya Alzam.

“Bagaimana, Bu? Apa lamarannya masih berlaku?” tanya Tuan Abimana kepada bu Aminah yang masih diam.

Wanita tua itu menoleh ke arah putranya, dan bergantian ke arah Olivia. Nampak gadis itu memohon dengan tatapan matanya, agar Bu Aminah tidak akan menarik kembali lamarannya.

Wanita itu nampak menghela nafa panjang, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari calon besannya.

“Sesuai niat awal kami kemari, kami akan terima apapun bentuk pertanggung jawaban yang diinginkan oleh pihak keluarga Nak Oliv,” ucap Bu Aminah.

“Baiklah. Kalau begitu, silakan datang kembali untuk prosesi lamarannya. Kapan pun akan kami terima Anda sekeluarga dengan baik di rumah kami,” ucap Tuan Abimana.

“Baiklah. Kalau begitu, kami permisi untuk mempersiapkannya. Assalamu’alaikum,” sahut Bu Aminah.

“Waalaikumsalam,” jawab Tuan Abimana dan Olivia bersamaan.

Kedua tamu itu pun pergi dan menghilang di balik pintu. Saat itu, Olivia serta merta menghambur dan memeluk sang ayah yang masih duduk di kursinya, sementara Rosaline, wanita itu terduduk karena keputusan yang telah diambil sang suami.

“Ah... Ya Tuhan. Ya Tuhan. Nasib buruk apa ini, Tuhan. Aaahhh...,” keluhnya.

Tuan Abimana tahu jika sang istri sangat tidak setuju dengan hal tersebut. Akan tetapi, dia memiliki pertimbangan lain saat memutuskan hal itu.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Enak aka mgomong gitu,kamu blom tau aja azam tuh siapa😌😌😌🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️

2022-12-30

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Aku kesel sama Slzam kok bisa bisa nya dia diam saja saat di hina gitu🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️Anak dia tuh yg setiap hari ngejar2 kamu kayak gak ada harga diri,dan dtg kerumah cowok dr siang hingga malem dgn berbagai alesan,,Ngomong dong zam Hadeehh 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️😡😡

2022-12-30

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Berarti papa nya tau ini ulah putri nya sendiri,,

2022-12-30

0

lihat semua
Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!