Pemuda tersebut meraih tangan sang bunda dan menyalaminya. Dia lalu bangun dan membereskan sajadah tempatnya sholat tadi. Dilipatnya dan ia letakkan di atas meja yang berada di samping tempat tidur.
Dia lalu menarik kursi belajarnya, dan duduk di hadapan sang bunda. Dia tak bersuara, hanya menatap ibunya dengan senyum tipis yang terulas di bibir. Dia tahu, jika sang bunda pasti ingin menanyakan sesuatu padanya.
“Kamu ada masalah apa, Nak?” tanya Bu Aminah.
Alzam sudah menduga, jika insting sang bunda selalu tajam pada anak-anaknya. Bu Aminah selalu peka pada setiap perubahan yang terjadi pada ketiga putra putrinya, meski mereka berusaha menutupi sebaik mungkin.
Pemuda itu terdiam. Dia dilema antara memberitahukan yang sebenarnya kepada sang bunda, atau tetap merahasiakannya.
Dia khawatir jika hal itu akan memberikan pukulan berat untuk wanita yang telah melahirkannya itu, dan pasti akan membuat sang ibu kecewa dengan dirinya sendiri.
Ibu pasti akan merasa telah gagal mendidikku. Bagaimana kalau nanti ibu jatuh sakit setelah mendengar pengakuan ku ini? batin Alzam.
Melihat putranya terus diam, Bu Aminah meraih tangan Alzam dan memintanya menatap kedua mata sang bunda.
Namun, tiba-tiba Alzam turun dari kursi dan bersimpuh di hadapan sang bunda. Dia menunduk dan menempelkan kening di atas tangan ibunya.
“Maafin Azam, Bu. Azam udah berbuat dosa besar,” ucap Alzam.
Akhirnya Alzam pun mengungkapnya. Bu Aminah benar-benar terkejut mendengar pengakuan dari putra kebanggaannya itu. Dia tak menyangka jika Alzam telah melakukan hal memalukan seperti yang dituturkan.
Berkali-kali dia mengucap istighfar, memohon ampun kepada Tuhan Sang Maha Pemurah, atas apa yang baru saja dia ketahui.
“Nak, kamu tahu kan kalau itu dosa besar? Kenapa kamu masih melakukannya?” tanya Bu Aminah.
Wanita tua itu mencoba setenang mungkin menghadapi masalah ini, meski hatinya sakit mendengar kenyataan bahwa Alzam telah mengecewakannya.
“Azam benar-benar lupa apa yang terjadi saat itu, Bu. Azam bahkan nggak merasa melakukannya. Tapi pagi itu tiba-tiba aja kita berdua udah...,” ucap Alzam terputus.
Dia tak mampu lagi mengulang pernyataan itu di depan sang bunda. Dia bahkan masih tertunduk dan belum berani melihat wajah Bu Aminah, yang sudah pasti sangat sedih saat ini.
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Bu Aminah.
Alzam menceritakan perihal kejadian tempo hari di caffe dengan Olivia, dan semua perkataan kasarnya pada gadis tersebut. Bu Aminah lagi-lagi tak habis pikir dengan putra yang ia kenal sopan dan lemah lembut pada setiap orang.
“Astaghfirullah hal adzim. Kenapa kamu bisa berpikir sempit seperti itu? Nak, benar kata Oliv. Lupa bukan berarti tidak terjadi apa-apa. Kamu juga nggak bisa mencap kalau dia sudah tidak perawan sejak awal. Kau harus bertanggung jawab pada gadis itu, Zam!” seru sang bunda.
“Tapi, bagaimana kalau orang tuanya tidak terima dan menuntut ku secara hukum, Bu?” tanya Alzam
“Itu resiko yang harus kau ambil. Ibu lebih memilih kau masuk penjara, dari pada menjadi pria tak bertanggung jawab. Ingat, bentuk pertanggungjawaban dalam masalah seperti ini tak hanya dengan menikahinya, tapi yang lebih penting adalah mau mengaku dan menerima semua konsekuensinya,” ucap Bu Aminah.
Alzam diam. Sejak beberapa hari ini dia mencoba mencari jawaban, dan saat ini dia berbincang dengan sang bunda tentang masalahnya.
Mungkin ibu adalah perantara jawaban dari Allah atas masalahku ini, batin Alzam.
“Kapan kau akan ke rumah Oliv? Ajak ibu juga ke sana!” pinta Bu Aminah.
Alzam seketika mendongak dan untuk pertama kalinya melihat raut wajah wanita tersebut setelah pengakuannya. Nampak jejak basah di pipi sang bunda, yang membuat hati Alzam terasa semakin sakit.
Dia kembali meminta maaf, dan tak mampu lagi berkata selain kata itu. Bu Aminah tahu jika sang putranya telah salah, namun naluri seorang ibu mengatakan bahwa dia harus membantu sang putra.
“Besok hari minggu. Bawa ibu kesana bersama mu!” seru Bu Aminah.
Alzam hanya bisa mengangguk mengiyakan perintah dari sang bunda. Dia tak mampu lagi berkata apapun, karena perasaan yang saat ini bercampur aduk di dalam hatinya.
...☕☕☕☕☕...
Keesokan harinya, di suatu kamar yang sangat luas, dengan dominasi warna putih dan juga rose gold, seorang gadis nampak berbaring menelungkupkan tubuhnya di atas kasur king size super empuk.
Dia terlihat tengah berbincang dengan seseorang lewat panggilan telepon seluler. Sesekali kakinya ia ayunkan ke atas dan bawah, dan sesekali juga dia terdengar terkekeh atau kesal pada benda pipih di tangannya.
“Anj*ng lu, Yon. Temen apaan lu. Udahlah, kalo ide lu yang kemarin nggak sukses, gue mau pake cara gue aja,” ucap Olivia.
“Emang lu punya cara apaan?” tanya Leon dari seberang.
“Rahasia! Yang jelas lebih gila dari kemarin,” ucap Olivia.
“Jangan bilang, kalau lu mau pura-pura hamil sama tuh cowok?!” terka Leon.
“Kepo lu. Lihat aja ntar,” ucap Olivia.
“Wah... Parah ni anak! Lu kepelet apa sih sampe segitu pengennya dapetin tuh cowok? Ganteng banget juga kagak. Gantengan juga gue,” tanya Leon.
“Yang jelas, dia tuh spesial. Nggak kaya lu, bekas banyak cewek,” ejek Olivia.
“Enak aja. Bukan bekas. Gue itu tukang icip. Sebelum jadi bini orang, gue icip-icip dulu mereka. Hahaha...,” kelakar Leon.
“Dasar gila lu, Yon,” sahut Olivia.
Gadis itu ikut terkekeh mendengar kelakar sang sahabat. Keduanya asik berbincang kesana kemari tentang hal yang tak penting. Namun itulah pembicaraan yang sering dilakukan oleh kedua sahabat tersebut.
“Eh, Nenek gayung. Ini misal nih yah. Kalo tuh cowok beneran mau nikahin elu, emang lu siap buat jadi bini orang? Nggak bakal nyesel lu?” tanya Leon.
“Emang kenapa? Bukannya semua orang juga bakal nikah? Terus harus nyesel kenapa?” tanya Olivia balik.
“Nikah itu butuh yang namanya ko.mit.men. Lebih ribet dari pacaran. Gue aja ogah pacaran, apalagi nikah. Lu nggak takut ntar bakal dikekang ama laki lu? Gue rasa, lu cuma terobsesi aja deh ama tuh cowok. Mending lu pikir-pikir lagi deh sama keinginan lu itu,” ucap Leon.
Kedua sahabat itu masih terus berbincang perbincangan yang tak jelas, dan berakhir pada pertanyaan Leon yang membuat Olivia terdiam.
“Lu tau apa sih soal cinta? Yang ada di otak lu kan cuma **** doang. Mending lu mikir masa depan lu aja deh, dari pada ngurusin urusan gue,” sahut Olivia.
Gadis itu terdengar terkekeh meski jelas ada rasa gamang di sana.
Saat keduanya masih berbincang, tiba-tiba pintu kamar Olivia diketuk dari luar. Gadis itu pun membalikkan badannya dan menoleh ke arah pintu tersebut.
“Siapa?” tanya Olivia dengan suara kencang.
“Maaf, Non. Di bawah ada yang nyariin Enon,” ucap seseorang di luar sana, yang tak lain adalah asisten rumah tangga di tempat tersebut.
“Nyariin gue? Siapa?” gumam Olivia.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Arsuni Gustaf
keterlaluan benar si leon sama oliv.....kasihan Alzam sama ibunya....dipermainkan.
2022-11-26
0
Indah Rahmadini
wajar aja si oliv begitu, org dia gila 😂😂
2022-11-25
0
afrena
bener itu kata leon menikah itu butu komitmen yg jelas agar tk berantakan. jgn menuruti emosi diri kamu. kasih anak org kamu jdikan mainan lucu aja berati.
2022-11-21
0