Alzam berjalan ke tepi jalan raya. Benar saja, tak butuh waktu lama, ada sebuah taksi kosong yang melintas di depan sana. Alzam pun kemudian menghentikannya.
“Bang, tolong bawa dia masuk sekalian ya,” seru Alzam.
Si bodyguard itu pun lalu memapah Olivia dan mendudukkannya di dalam mobil. Sedangkan Alzam, sejak awal pemuda itu sama sekali tak mau menyentuh tubuh gadis tersebut.
Setelah memasukkan Olivia ke dalam taksi, si bodyguard melihat bahwa Alzam sudah kembali menaiki motornya.
“Tadz, kok malah naik motor? Nggak ngikut taksi aja?” tanya si bodyguard.
“Nggak usah, Bang. Saya sekalian nunjukin jalan aja biar nggak usah bolak balik. Makasih bantuannya yang tadi ya, Bang,” ucap Alzam.
Pemuda itu pun melajukan motornya di depan taksi, dan membimbing jalan untuk mobil tersebut.
Sesampainya di apartemen, Alzam meminta supir taksi itu untuk membantunya membawa Olivia ke dalam apartemen, akan tetapi supir tersebut tidak bersedia karena harus menjemput pelanggan lain yang sudah ia accept orderannya.
Alhasil, mau tak mau Alzam sendiri yang harus memapah Olivia ke atas. Beruntung masih ada sekuriti yang sedang bertugas di lobi, sehingga pemuda tersebut bisa meminta bantuan satpam.
Kebetulan, dia mengenal Olivia dan berkat bantuannya, Alzam bisa membawa Olivia sampai ke lantai atas di mana apartemennya berada.
Namun, sesampainya di depan pintu, keduanya kebingungan karena kartu akses masuk tak ada di tangan. Alzam meminta sekuriti mencari di dalam tas Olivia, akan tetapi tak menemukannya juga.
“Biar saya coba pinjam kunci cadangan di lobi. Tolong tunggu sebentar di sini,” ucap si sekuriti.
Dia pun kemudian pergi meninggalkan Alzam, yang masih memapah Olivia yang belum sadarkan diri.
Lama mereka berdiri menunggu, akan tetapi si sekuriti belum juga datang. Tiba-tiba, Olivia mengerang lirih. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Rupanya kartu akses masuk berasa di sana.
Gadis itu antara sadar dan tidak, membuka pintu dengan benda tersebut. Dia melepas rangkulan Alzam dan mencoba masuk sendiri. Namun karena mabuk, jalannya sempoyongan dan membuat Alzam reflek menangkap tubuh gadis tersebut sebelum jatuh ke lantai.
Pemuda itu pun terpaksa kembali memapah Olivia masuk ke dalam. Setelah mereka masuk, pintu tertutup dan terkunci otomatis, namun masih bisa dibuka dari arah dalam.
Alzam tahu sedikit tentang sistem kunci di apartemen yang seperti itu, sehingga dia tak khawatir bagaimana harus keluar.
Setelah di dalam, dia mencari tempat untuk meletakkan Olivia. Apartemen itu bisa dibilang cukup mewah dan memiliki dua lantai di dalamnya. Dia melihat sebuah kamar di lantai atas, dan Alzam pun segera memapah Olivia ke sana.
Kamar tersebut nampak gelap. Dengan kepayahan, Alzam mencari saklar lampu yang berada di balik pintu. Setelah menyala, barulah terlihat bahwa kamar tersebut di memang didominasi warna hitam dan abu-abu.
Ini lebih mirip kamar laki-laki dari pada kamar seorang gadis, gumam Alzam dalam hari.
Namun, dia tak berlama-lama memikirkan hal tersebut, dan segera membawa Olivia ke tempat tidur. Alzam ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya dan segera pergi dari tempat ini.
Dengan susah payah, akhirnya Alzam berhasil membaringkan Olivia, dan menyelimuti tubuh gadis mabuk itu.
Nafasnya nampak terengah-engah karena harus memapah Olivia dari lantai bawah hingga ke kamarnya di lantai dua belas.
Dia kemudian keluar dari kamar. Saat melewati dapur, dia melihat teko air yang terbuat dari kaca bening. Dia nampak menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Karena hau, Alzam pun bermaksud meminta air untuk minum dari reko tersebut.
Dia langsung meminumnya tanpa memakai gelas. Alzam minum lebih dari setengah teko karena sangkin hausnya, dan setelah dia selesai minum, Alzam pun bermaksud untuk segera pulang ke rumah.
Awalnya, dia tak merasakan apapun, akan tetapi saat dia hampir sampai pintu, kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Dia bahkan sampai tak bisa berdiri dengan tegak di atas kakinya sendiri.
Ada apa nih? Kenapa pusing banget? Astaghfirullah, ya Allah. Lindungi hamba mu ini, gumam Alzam dalam hati.
Pemuda itu terus berusaha untuk membuat dirinya tetap sadar, akan tetapi entah apa yang sudah membuatnya seperti ini.
Saat dia berhasil meraih gagang pintu depan, tiba-tiba semuanya gelap. Alzam terjatuh dan tak sadarkan diri di dalam apartemen tersebut.
...☕☕☕☕☕...
Keesokan harinya, mentari bersinar cukup terik. Sinarnya sampai bisa menerobos tirai tebal di salah satu kamar apartemen di lantai dua belas tower Z.
Seseorang yang sedang tertidur lelap, nampak terusik oleh sinar mentari yang masuk dan mengenai pelupuk matanya.
Dia pun berbalik dan berusaha menghindari sinar menganggu itu. Akan tetapi, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang kenyal, dan membuat indera perabanya mencoba mengenali benda tersebut.
Dia merasa ada yang aneh dengan apa yang dipegangnya, dan memaksa dirinya membuka mantan yang tadi enggan untuk terbuka.
Saat dia menyadari apa yang disentuhnya, seketika dia membelalak dan cepat-cepat menarik kembali tangannya dari sana.
“Astaghfirullah hal adzim! Kenapa bisa begini?” tanyanya lirih di tengah keterkejutan.
Ya, dialah Alzam. Pemuda yang terakhir kali jatuh tak sadarkan diri di depan pintu apartemen Olivia, akan tetapi kini justru sudah berada di atas ranjang yang sama dengan gadis tersebut.
Dia segera bangkit dan mencoba turun dari ranjang, sebelum gadis itu sadar. Dia tak sengaja menyentuh dada Olivia yang sedikit terlihat, karena selimut yang tak menutupinya dengan benar.
Namun, dia kembali harus terkejut, saat melihat dirinya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Bahkan bagian paling intimnya pun sampai bisa ia lihat dengan jelas.
Dia kembali duduk di atas kasur dan menutup dirinya dengan selimut. Alzam nampak mengusap kasar wajahnya yang masih kusut.
Ya Allah. Apa yang udah terjadi semalam? Kenapa aku bisa berada di kondisi seperti ini?batin Alzam.
Dia melihat pakaian mereka berdua sudah berserakan di lantai. Seingatnya, semalam Olivia mabuk sampai tak sadarkan diri dan dia pun sudah meninggalkan kamar ini. Tapi kini mereka berada di atas tempat tidur yang sama, dengan kondisi yang sangat tak pantas.
Apa semalam aku sudah khilaf? Tapi aku sama sekali nggak ingat apapun juga, gumam Alzam dalam hati.
Dia pun mencoba menenangkan dirinya, dan bangun memunguti pakaiannya satu persatu yang terjatuh di lantai kamar tersebut.
Dengan ribuan pertanyaan dalam benaknya, dia mengenakan satu persatu pakaian yang ada. Awalnya, Alzam ingin segera pergi dari sana. Namun, kondisi Olivia yang seperti itu, tak mungkin baginya untuk meninggalkan gadis itu seorang diri tanpa penjelasan.
Jika dia sadar, dia pasti bingung banget sama apa yang terjadi semalam. Kalau aku pergi gitu saja tanpa penjelasan, sama aja aku kaya cowok brengsek yang ngambil keuntungan saat orang sedang nggak sadar, batin Alzam.
Alzam kini hampir selesai berpakaian. Tinggal kemejanya saja yang masih belum ia kancing, dan membuat dadanya terlihat. Saat itu, tiba-tiba terdengar suara erangan lirih dari sebuah arah.
Alzam pun berbalik dan melihat Olivia yang menggeliat di atas tempat tidur. Selimut yang tadi sudah turun, kini kembali turun dan membuat bagain atas Olivia semakin terbuka dan jelas terlihat.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 132 Episodes
Comments
Sri Widjiastuti
kasihannya ddijebak oliv
2023-02-13
0
Qaisaa Nazarudin
Haaahaaa terjebak kan kamu,makanya jgn polos polos amat🤣🤣🤣
2022-12-30
0
Qaisaa Nazarudin
Makanya jgn sembarangan minum di tempat org,,kan bisa aja langsung turun,bli aja air di kedai pinggir jln,,,
2022-12-30
0