Jangan datang lagi!

Alzam kemudian kembali keluar dan sudah berganti pakaian. Dia membawa dua buah helm dan menyerahkannya satu kepada Olivia dengan kasar, sampai gadis itu terhuyung ke belakang.

Olivia mencebik kesal karena Alzam lagi-lagi bersikap kasar padanya. Kedua adik Alzam yang melihat hal itu pun mengepalkan tangan dan menekuk lengannya ke atas, pertanda memberi semangat kepada gadis kaya raya itu.

Saat sampai di ambang pintu, Alzam kembali berhenti dan menoleh ke belakang. Dia berpesan pada kedua adiknya, untuk mengatakan pada ibu mereka bahwa dia akan pulang terlambat.

Setelahnya, dia kembali berjalan dan pergi keluar rumah, diikuti oleh Olivia yang sejak tadi memang berada di belakang pemuda tersebut.

Alzam tak berkata apapun lagi. Dia hanya duduk di atas motor matic-nya dan langsung mengenakan helm. Sementara Olivia, gadis itu buru-buru naik sebelum Alzam benar-benar melajukam motor tersebut lebih dulu.

Pemuda itu pun kemudian melajukan motornya menuju ke alamat apartemen, yang selalu ia datangi setiap kali mengantar Olivia pulang. Gadis itu benar-benar tidak meminta untuk diantar ke rumahnya seperti tempo hari.

Setelah sampai di depan lobi apartemen, Alzam menunggu Olivia mengembalikan helm miliknya. Saat gadis itu telah menyerahkan benda pelindung tersebut, Alzam tiba-tiba berucap.

“Besok nggak usah datang lagi ke rumah ku. Kehadiranmu di sana, cuma bikin nama keluargaku jadi bahan gunjingan warga aja tau nggak!” ucap Alzam.

“Atas dasar apa kamu bisa bilang kek gitu ke aku, Mas?” tanya Olivia.

Dia tak terima jika caranya kali ini juga ditolak oleh Alzam. Dia kira, hampir sepekan ini dia sudah mulai bisa dekat dengan keluarganya, maka Alzam pun akan mulai menerima dirinya sedikit demi sedikit kelak.

Akan tetapi, hari ini Alzam justru melarangnya untuk datang kembali ke rumah itu.

Alzam tak menjawab. Dia pun segera menyalakan kembali mesin motornya, dan bersiap untuk pergi dari sana.

Namun, Olivia menahan lengan Alzam. Dia mencoba meminta penjelasan kepada pemuda tersebut atas larangannya tadi.

“Mas, jawab dong. Kenapa malah diem aja? Atas dasar apa kamu bilang begitu ke aku? Kata siapa warga ngegunjingin keluarga kamu karena aku? Aku nggak ngerasa ngelakuin apapun yang buruk kok di sana?” elak Olivia.

“Itu karena kamu selalu melakukan semuanya seenaknya. Nggak pernah kan kamu mikir akibat dari setiap tindakan yang kamu buat? Pernah mikir nggak, keberadaan mu di rumah ku yang sampai larut malam itu salah, hah?” tepis Alzam keras.

Olivia terkejut mendengar pemuda itu membentaknya. Baru kali ini ada orang yang berani bersikap seperti itu padanya. Bahkan orang tuanya pun tak pernah sekali pun. Olivia terdiam.

Melihat gadis itu mematung, Alzam pun menepis genggaman tangan Olivia di lengannya, dan segera melajukan motornya pergi dari sana, meninggalkan Olivia yang masih tertegun seorang diri.

Gadis itu tersadar, saat mendengar bunyi klakson sebuah mobil sport putih yang sudah berhenti tepat di depannya.

“Woi! Ngapain lu bengong di mari? Kesambet dedemit tower lu, Liv?” tegur Leon, yang baru saja keluar dari parkiran basement apartemennya.

Olivia tak menjawab. Dia serta merta membuka pintu mobil dan duduk di samping Leon.

“Lu pasti mau ke klub kan? Gue ikut,” ucap Olivia.

“Lu nggak salah? Ke klub pake pakean begini? Lebih mirip orang mau pengajian tahu nggak?” ujar Leon.

Bukan tanpa alasan Leon berkata seperti itu, pasalnya karena semenjak sering pergi ke rumah Alzam, penampilan Olivia lebih terlihat normal dan sopan.

Dia lebih sering memakai Kemeja lengan panjang atau tuniq yang dipadukan dengan celana kain panjang.

Dia mencoba menyamakan kebiasaan berpakaian di keluarga tersebut, agar lebih terlihat sopan, demi menarik simpati ibu dan dua adik Alzam.

“Berisik! Gue mau jalanin rencana lu tempo hari. Gue capek pake cara bersih. Sama sekali nggak mempan ama dia,” ungkap Olivia.

“Wah... Lu serius, Liv?” tanya Leon memastikan.

“Jangan banyak omong deh. Buruan berangkat!” seru Olivia.

“Oke! Oke! Lets go party!” ucap Leon.

Mereka pun melaju menuju ke salah satu klub malam terkenal di ibu kota.

...☕☕☕☕☕...

Setelah mengantarkan Olivia pulang, Alzam tak langsung pulang ke rumah. Dia lebih dulu pergi untuk melihat lokasi yang akan menjadi target selanjutnya, dalam membuka cabang kedainya.

Lokasinya hampir sama seperti yang lama. Dia memilih tempat strategis, di mana tempat tersebut dekat dari kawasan aktifitas anak muda, seperti sekolah menengah atas atau kejuruan, kampus dan juga lapangan olahraga umum serta taman warga.

Tempat-tempat tersebut akan cocok dengan konsep kedainya yang memiliki tema bebas berekspresi. Banyak gambar mural di dinding bagian dalam dan luar, hasil dari coretan anak-anak muda yang memang ingin mengekspresikan diri mereka.

Ada juga buletin atau papan kecil yang biasanya tertempel banyak note dari pelanggan, yang ingin menyampaikan pesan kepada seseorang atau sekedar iseng.

Awalnya, buletin itu tak masuk konsep kedai Alzam. Namun suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang menunggu teman kencannya, akan tetapi yang ditunggu tidak datang.

Kemudian, orang tersebut meminta ijin pada Alzam untuk menempelkan sebuah pesan pada papan buletin tersebut, berharap jika teman kencannya itu datang, dan dia bisa melihat pesan tersebut.

Singkat cerita, si teman kencan tersebut datang terlambat dikarenakan suatu hal. Dia merasa bersalah dan menanyakan tentang orang yang menunggunya tadi. Alzam memberitahukan bahwa ada pesan di papan buletin untuknya. Akhirnya, dia mendapatkan pesan tersebut dan mereka bisa bertemu dan menyelesaikan kesalah pahaman tersebut.

Kisah itu menjadi viral setelah diunggah ke akun media sosial pribadi pasangan tersebut, terutama dikalangan mahasiswa kampus, yang terletak dekat dengan kedainya, dan membuat kedai Alzam kini menjadi tempat berkirim pesan, bahkan dari seorang fans kepada idol-nya yang berada di luar negeri sana, yang bahkan mereka pun tak tahu bahwa dirinya ada.

Meski kedai tersebut menyasar pasar anak muda, namun tak dipungkiri, kedai Alzam juga sering mendapatkan pelanggan para karyawan kantor. Meski masih kecil, akan tetapi kedai ini cukup laku keras, karena tempatnya yang nyaman dan juga memiliki menu yang enak dengan harga lumayan terjangkau di kantong para pelajar.

Dia berencana membuka satu persatu cabang kedainya di kota ini, dan memilih lingkungan yang hampir sama dengan kedai pertamanya.

Saat ini, dia tengah berada di depan salah satu ruko di kawasan timur ibukota, di mana ada sebuah komplek sekolah dan tak jauh dari sana ada sebuah arena olahraga umum yang cukup ramai di setiap sore hari.

Alzam mendapatkan informasi tersebut dari Nurul, karena sahabatnya itu tahu kebiasaan dan tempat kegemaran anak-anak muda jaman sekarang. Hal tersebut tak lepas dari profesinya sebagai guru sekolah kejuruan yang selalu dekat dengan anak usia remaja.

Pemuda itu turun dari motornya, dan melihat ke sekeliling. Dia lalu terlihat sedang menelpon seseorang. Pada deringan pertama, telepon pun terjawab.

“Halo, assalamu’alaikum,” sapa Alzam.

.

.

.

.

Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

terimakasih 😁

Episodes
1 Gadis bernama Olivia
2 Rival
3 Mengadu
4 Curhat
5 Tamu
6 Mengantar
7 Jangan datang lagi!
8 Tempat uji iman
9 Situasi tak terduga
10 Jebakan
11 Mencarinya
12 Kabar dari Leon
13 Tamparan
14 Memohon petunjuk
15 Maaf
16 Bertamu
17 Niatan
18 Lamaran
19 Fitting
20 Ocehan Rosaline
21 Pemeriksaan
22 Merenung
23 Hari H
24 Pernikahan
25 Pelaminan
26 Rumah baru
27 Obrolan dengan mertua
28 Sholat malam
29 Getaran
30 Orang asing
31 Aku ikut yah?
32 Ikut ke kedai
33 Memperhatikan
34 Kesal
35 Mengobati
36 Perhatian kecil
37 Makasih, suamiku
38 Kamu hantunya
39 Gadis Awam
40 Makan malam kaki lima
41 Kata-kata Mamah Ros
42 Rencana Mamah Ros
43 Sang tamu
44 Amarah
45 Manis atau Asin
46 Perhatian kecil lainnya
47 Pagi yang panas
48 Jama'ah pertama
49 Seseorang yang menunggu
50 Diskusi
51 Datang jauh-jauh
52 Maafkan aku, Mas
53 Sebuah lamaran
54 Bincang malam
55 Keributan di Kampus
56 Chat unfaedah
57 Aku ingin pindah
58 Minta ijin
59 Melihat rumah
60 Rumah baru
61 Lebih seksi dari ini
62 What?!
63 Masak
64 Panggilan tak terjawab
65 Ketiduran
66 Kantong plastik
67 Mengikuti kajian
68 Antusiasme
69 Partner
70 Prasangka
71 Apa aku boleh...
72 Kesal
73 Kesepakatan
74 Seorang pengunjung
75 Panik
76 Bertaruh dengan takdir
77 Kesabaran
78 Pesan pernikahan
79 Rentetan pertanyaan
80 Gaun haram
81 Transformasi
82 Aku nggak marah
83 Dokter Leonke
84 Penguntit
85 Kedatangan Papah Abi
86 Nasi goreng
87 Hidangan penutup
88 Rujak vs Salad
89 Tangan kasar
90 Sambutan Mamah Ros
91 Mendinginkan hati
92 Narasumbernya ketemu
93 Seseorang yang terus membayangi
94 Pengajian untuk Leon
95 Gamis biru muda
96 Kajian di rumah mertua
97 Istri macam apa?
98 Ilmu ikhlas
99 Seorang pelanggan kedai
100 Menolak jabat tangan
101 Masalah di antara mereka
102 Mengungkapkan
103 Maaf
104 Cerita pahit
105 Melepas beban
106 Membantu mertua
107 Suami limited edition
108 Pengin
109 Kehebohan pagi hari
110 Cek lab
111 What the F**k!
112 Tumpahan kopi
113 Mobil bergoyang
114 Menyergap
115 Pengacara
116 Kedatangan Keluarga Leon
117 Dua garis
118 Kekhawatiran Mamah Ros
119 Memberi tahu Papah Mamah
120 Berusaha semaksimal mungkin
121 Vonis
122 Pemeriksaan rutin
123 Kegundahan Leon
124 Aku mau taarufan
125 Datang bersua
126 Datang memenuhi undangan
127 Tantangan
128 Setuju nggak sih?
129 Pernikahan siapa?
130 Berhasil
131 Pernikahan
132 Happy ending
Episodes

Updated 132 Episodes

1
Gadis bernama Olivia
2
Rival
3
Mengadu
4
Curhat
5
Tamu
6
Mengantar
7
Jangan datang lagi!
8
Tempat uji iman
9
Situasi tak terduga
10
Jebakan
11
Mencarinya
12
Kabar dari Leon
13
Tamparan
14
Memohon petunjuk
15
Maaf
16
Bertamu
17
Niatan
18
Lamaran
19
Fitting
20
Ocehan Rosaline
21
Pemeriksaan
22
Merenung
23
Hari H
24
Pernikahan
25
Pelaminan
26
Rumah baru
27
Obrolan dengan mertua
28
Sholat malam
29
Getaran
30
Orang asing
31
Aku ikut yah?
32
Ikut ke kedai
33
Memperhatikan
34
Kesal
35
Mengobati
36
Perhatian kecil
37
Makasih, suamiku
38
Kamu hantunya
39
Gadis Awam
40
Makan malam kaki lima
41
Kata-kata Mamah Ros
42
Rencana Mamah Ros
43
Sang tamu
44
Amarah
45
Manis atau Asin
46
Perhatian kecil lainnya
47
Pagi yang panas
48
Jama'ah pertama
49
Seseorang yang menunggu
50
Diskusi
51
Datang jauh-jauh
52
Maafkan aku, Mas
53
Sebuah lamaran
54
Bincang malam
55
Keributan di Kampus
56
Chat unfaedah
57
Aku ingin pindah
58
Minta ijin
59
Melihat rumah
60
Rumah baru
61
Lebih seksi dari ini
62
What?!
63
Masak
64
Panggilan tak terjawab
65
Ketiduran
66
Kantong plastik
67
Mengikuti kajian
68
Antusiasme
69
Partner
70
Prasangka
71
Apa aku boleh...
72
Kesal
73
Kesepakatan
74
Seorang pengunjung
75
Panik
76
Bertaruh dengan takdir
77
Kesabaran
78
Pesan pernikahan
79
Rentetan pertanyaan
80
Gaun haram
81
Transformasi
82
Aku nggak marah
83
Dokter Leonke
84
Penguntit
85
Kedatangan Papah Abi
86
Nasi goreng
87
Hidangan penutup
88
Rujak vs Salad
89
Tangan kasar
90
Sambutan Mamah Ros
91
Mendinginkan hati
92
Narasumbernya ketemu
93
Seseorang yang terus membayangi
94
Pengajian untuk Leon
95
Gamis biru muda
96
Kajian di rumah mertua
97
Istri macam apa?
98
Ilmu ikhlas
99
Seorang pelanggan kedai
100
Menolak jabat tangan
101
Masalah di antara mereka
102
Mengungkapkan
103
Maaf
104
Cerita pahit
105
Melepas beban
106
Membantu mertua
107
Suami limited edition
108
Pengin
109
Kehebohan pagi hari
110
Cek lab
111
What the F**k!
112
Tumpahan kopi
113
Mobil bergoyang
114
Menyergap
115
Pengacara
116
Kedatangan Keluarga Leon
117
Dua garis
118
Kekhawatiran Mamah Ros
119
Memberi tahu Papah Mamah
120
Berusaha semaksimal mungkin
121
Vonis
122
Pemeriksaan rutin
123
Kegundahan Leon
124
Aku mau taarufan
125
Datang bersua
126
Datang memenuhi undangan
127
Tantangan
128
Setuju nggak sih?
129
Pernikahan siapa?
130
Berhasil
131
Pernikahan
132
Happy ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!