Ruangan besar yang mirip seperti sebuah pelataran itu tampak hening . Gelas - gelas dan piring - piring antik masih terlihat berbaris disebuah meja giok putih berbentuk persegi persegi Panjang . Sepertinya sebelumnya baru dilaksanakan pertemuan penting . Melihat buah - buahan dan minuman yang dihidangkan agaknya ini adalah pertemuan tokoh - tokoh besar .
Tuanku Rajo Nan Hitam Nampak sedang berdiri di depan sebuah Jendela sambil memandang kearah luar . Di kejauhan tampak perkampungan Penduduk yang lumayan luas dan sebuah Bangunan besar Mirip Istana tampak berdiri megah di tengah - tengah . Itu adalah istana Sutan Permata Putih yang bernama
" Balerong Si bungo Rampai " .
" Dengar Dubalang , Tidak lama lagi Istana itu harus menjadi milikku , dan aku tidak ingin Rencana besar ini menjadi berantakan hanya karena para cecunguk kecil itu " Tuanku Rajo Nan Hitam bicara tanpa menoleh kepada lawan bicaranya .
Dubalang Rambut Api yang dipanggil tampak tersenyum namun senyuman itu tampak dipenuhi sifat kelicikan sambil menunduk hormat .
" Duli , Tuanku , Rencana kita sudah dipersiapkan sedemikian Rupa ' aku sangat yakin para pengacau kecil itu tak akan menyadari siasat kita yang sesungguhnya " jawab Dubalang Rambut api .
" Bagus , Tapi sebelumnya aku ingin kau utus beberapa orang Prajurit dari bangsa Jin Hitam untuk menghabisi bocah bernama Sinto itu , karena aku yakin dia akan menjadi penghalang rencana kita " Tuanku rajo nan hitam menambahkan .
" Baik Tuanku , Hamba akan Panggil SiRajo Rayo di Hutan Keramat " Jawab Dubalang Rambut api
" Bagus , Segera lakukan , Katakan Padanya bahwa ini perintah langsung dariku . " Tuanku Rajo Nan Hitam menyilang tangan didada dan sekejap mata ia sudah menghilang dari Pandangan Dubalang Rambut Api . Orang tua Jahat itupun Tampak segera berkelebat pergi dari tempat itu .
\*\*\*
Nurdin Tampak sedang mengambil ancang - ancang untuk menghadapi lawannya berikutnya . Kali ini lawannya bernama Rangga dari kampung Ampang Gadang . Pemuda ini terlihat masih seumuran dengan Nurdin dan kawan - kawan . Ia hanya tampak berdiri santai seolah tak menghiraukan ancang - ancang Nurdin . Setelah memastikan kedua petarung siap wasitpun meniup Pluit . Dan anehnya bocah bernama Rangga itu masih berdiri santai . Ia menatap Nurdin sambil tersenyum aneh . Nurdin hanya diam sambil tetap memasang kuda - kuda karena heran melihat tingkah bocah itu .
" kenapa dia hanya diam dan seolah meremehkanku , apa dia ingin aku yang menyerang duluan ? " Batin Nurdin
Pemuda bernama Rangga itu masih berdiri santai sambil tersenyum kearah Nurdin . Perlahan ia tampak mengangkat sebelah tangan dengan posisi lurus kearah nurdin dan menggerakkan ujung - ujung jari seolah memanggil nurdin untuk mendekat .
" Ternyata memang benar , Baiklah " kata nurdin dalam hati . ia langsung membentuk kuda - kuda menyerang dan kemudia maju kedepan menghantamkan tangan kanan ke arah kepala Rangga . Bocah yang diserang tampak tersenyum santai dengan bergeser satu langkah kekanan pukulan Nurdin hanya lewat disampingnya . Rangga maju satu langkah sambil memukul keras kearah pergelangan siku Nurdin . Nurdin tampak kaget Namun dengan sigap ia menurunkan tangan kebawah sehingga pukulan rangga hanya mengenai angin . Dengan cepat Nurdin memutar pinggang ke kiri dan menyodorkan tinju kearah rusuk kiri Rangga . Rangga yang terlihat sangat tenang itu memutar badan tiga ratus enam puluh derajat kearah kanan sambil melayangkan tinju memutar kearah Pipi Nurdin . Nurdin kaget sekali karena tinjunya mengenai tempat kosong dan satu pukulan cepat mengarah ke pipi kanannya , Nurdin sepertinya tidak sempat lagi mengelak dan ....
" Pakkk " satu pukulan mendarat tepat didepan telinga kanan Nurdin . Nurdin merasakan kepalanya bagaikan dihantam sebuah benda keras . Pandangannya langsung berkunang - kunang . Dia hampir saja tumbang jika wasit tidak segera meniup pluit . Wasit menanyakan keadaan Nurdin apakah masih bisa melanjutkan pertandingan dan nurdin menjawab bisa . wasit kemudian memberi waktu istirahat sebentar . Ini adalah toleransi buat Nurdin yang sudah menang sebanyak tujuh kali pertarungan . Dipinggir arena Pandeka sahar pun langsung memberikan Nurdin minum dan memberi sedikit arahan .
" Nampaknya lawanmu kali ini cukup kuat , aliran silek yang dipakainya adalah aliran Natar , aliran itu termasuk aliran silek yang paling Tua di minangkabau , dan sangat berbahaya , jika kau salah - salah menyerang tangan atau kakimu bisa saja dengan mudah dia patahkan . Tapi kelemahan silek itu adalah dia tidak punya gerakan menyerang , fokusnya hanyalah menunggu serangan lawan dan memanfaatkan tenaga lawan . ingat, serang dia dengan gerakan pancingan , saat dia balas menyerang disitulah waktumu mengalahkannya , kau mengerti ??? " Pandeka sahar mengingatkan Nurdin .
" Baik guru , " Jawab Nurdin
Pluit pun berbunyi dan kedua petarungpun kembali bersiap - siap . Nurdin kali ini tak mau berlaku ayal lagi . Ia tampak hati - hati memperhatikan gerak - gerik lawan . Tapi lawan yang diperhatikan tetap masih sama seperti tadi , Masih berdiri santai .
Nurdinpun terlihat mulai mendekati rangga untuk mencoba gerakan memancing . Nurdin kemudian mencoba mengayunkan kaki kearah lutut Rangga dan Bocah itu terlihat termakan pancingan Nurdin . ia langsung bergerak menggeser kaki menyilang seperti hendak mengunci lutut Nurdin dan saat kuncian nya hampir mengenai sasaran mendadak Nurdin menarik kakinya dan dengan cepat mengayunkan tinju ke rusuk Rangga yang terbuka lebar ..
" Dduukk .. " Pandeka sahar yang duduk di kursi pelatih yang terletak di tepi arena tampak langsung berdiri dan bertepuk tangan melihat gerakan Nurdin barusan . Sementara Rangga tampak menahan Nafas karena kesakitan . Nafasnya pun terasa sesak dan berat karena tinju Nurdin mendarat telak di Rusuk kanannya . Pelatihnya yang tampak duduk disudut lain lapangan Nampak berdiri dan menyilangkan tangan ke Wasit tanda ia mundur dari pertarungan . Ia berjalan dan memberikan salam kepada pandeka sahar . ia sepertinya tau kalau muridnya Rangga sudah pasti akan kalah karena Nurdin sudah mengetahui kelemahan jurusnya . Rangga yang nampaknya masih ingin bertarung tampak agak sedikit kecewa dengan keputusan gurunya . Namun karena rasa hormat kepada guru ia pun berjalan dan mengulurkan salam kepada Nurdin .
" Kau sungguh kuat , kawan " kata Rangga senyum
" Begitu juga denganmu " jawab Nurdin membalas senyum Rangga
Merekapun kemudian bersalaman dan berpelukan dan setelah itu Rangga pun nampak berjalan meninggalkan arena . penonton bersorak semakin keras . mereka sepertinya sudah sangat mengidolakan Nurdin . Dibangku penonton kak ayu , hamidah dan reza nampak sangat bahagia sekali dengan kemenangan Nurdin .
" Ternyata Nurdin itu Jago juga ya , " kak ayu bicara pada Hamidah
" iya kak , semoga saja tahun ini kampung kita jadi juara , " Hamidah menjawab .
kali ini Hamidah tampak memakai gamis biru yang terbuat dari bahan jeans .
" Itu belum seberapa Lho , kalian belum lihat kekuatan Nurdin yang sebenarnya , "
jawab reza ikut bangga karena saudara dan sahabat seperguruannya dipuji .
kemudian salah seorang panitia terlihat berjalan bergegas kepanggung utama sambil menyerahkan secarik kertas kepada MC . Setelah tampak berbicara sebentar dengan pria yang menyerahkan kertas MC pun tampak mengacungkan jempol pada pria tersebut dan langsung berjalan kembali menuju Microphone .
" Saudara - Saudara !!!!! baru saja kami selaku panitia acara mendapatkan informasi bahwasanya galanggang silek terakhir yaitu galanggang kampung Tarandam yang akan menjadi lawan Nurdin hari ini tidak bisa hadir disebabkan ada satu halangan penting . untuk itu setelah berdiskusi dengan dewan juri maka kami memutuskan untuk mendiskualifikasi tim tersebut , dan sekaligus mengumumkan bahwa Galanggak silek Taratak Bungo yang diwakili oleh pesilat muda kita Nurdin , lolos kebabak Final !!!!! " Teriakan MC tersebut membuat seantero lapangan bergemuruh dengan suara sorak sorai penonton dan peserta acara . terakhir diketahui bahwasanya galanggang silek kampung Tarandam memang sengaja tidak datang karena mereka sudah ikut bergabung dalam organisasi " Persekutuan Raja Api " yang dipimpin oleh Garang .
" Pertandingan Final Antara Nurdin dari Galanggang Silek Taratak Bungo melawan Juara Bertahan Kita dua tahun berturut - turut Angku Muda Garang dari ..... "
MC tampak bingung dan sekilas menatap ke arah Garang yang tengah duduk dibangku juara bertahan . Garang kemudian menatap tajam MC itu dan tersenyum sinis sambil menggangguk pelan .
" Baiklah kami Ulangi , Pertandingan Final antara Nurdin dari Galanggang silek Taratak bungo melawan Angku Muda Garang dari PERSEKUTUAN RAJA API !!!! " MC tampak sangat bersemangat saat menyebut nama Persekutuan yang dipimpin oleh Garang itu . Penonton bertepuk tangan semakin Riuh . Dan ketika diperhatikan dengan teliti ternyata dileher MC itu terdapat sebuah dasi merah berbentuk Kupu - kupu sama persis dengan yang dipakai Sapar , pono , lenggang dan Kacak .
" Pertandingan akan dilaksanakan besok malam dan sekaligus pada malam besok akan diumumkan pemenang dari seluruh lomba - lomba yang telah kita laksanakan dan akan dilanjutkan dengan penyerahan hadiah Utama !!!! " MC pun mendelikkan mata angker kearah Raja saat ia mengucapkan Hadiah Utama . Para penonton yang tidak paham adanya skenario jahat dibalik acara ini tampak bertepuk tangan dan bersorak sorai dengan sangat meriah .
Sinto yang sudah kembali dari berjalan - jalan kemudian bergabung kembali dengan rombongan kampung Taratak bungo . mereka terlihat sangat gembira dengan lolosnya Nurdin ke babak Final . mereka bahkan berencana akan menggelar pesta besar jika Nurdin berhasil menjadi Juara . Namun sinto saat justru memikirkan hal lain . Ada beberapa kejanggalan yang ia temukan saat sedang berjalan - jalan tadi . Orang - orang yang memakai jas hitam dan Dasi merah sepertinya cukup mencurigakan .
" Aku harus menyelidiki mereka , " Sinto menggumam dalam hati . Tak lama kemudian ihsan dan Rimbun datang dan tak lama setelah itu Nurdin pun bergabung . Kedatangan Nurdin disambut riuh oleh warga taratak bungo , mereka memuji - muji Nurdin dan banyak juga yang minto Foto .
" Wahhh , sepertinya Nurdin sudah jadi selebriti " kata reza . Sinto dan yang lain tertawa dan dalam hati mereka ikut bangga dengan pencapaian Nurdin . Namun pertarungan dengan Garang besok malam membuat mereka cukup mengkhawatirkan Nurdin .
Hari telah menunjukkan jam setengah enam . mereka semua memutuskan untuk pulang karena Malam ini Nurdin harus beristirahat untuk menjaga staminanya . Namun Sinto memilih untuk tinggal disana untuk mengawasi lokasi .
" Kalian pulanglah duluan , aku ingin mengawasi daerah ini sebentar , nanti malam kita berkumpul di Rumah Guru " kata Sinto
" Baiklah , Tapi kau harus Hati - Hati , Nto " jawab Reza .
" Tenang saja , aku pasti baik - baik saja " Sinto menjawab sambil menepuk pundak Reza . Setelah itu Nurdin ihsan rimbun dan reza langsung pulang .
Sinto melihat sebuah warung kopi disudut lapangan dan ia memilih duduk disana sambil menunggu cuaca agak sedikit gelap agar ia bisa bebas berkeliling . Setelah memesan segelas Kopi ia nampak duduk santai sambil memperhatikan sekeliling . Tenda Para Raja terlihat sudah kosong karena Yang Dipertuan dan para Raja dari negeri tetangga sudah pergi untuk beristirahat di Istana Balerong si bungo Rampai . Selama event berlangsung memang para raja dan permaisuri dari Negeri - Negeri tetangga biasanya menginap di Istana Sutan Permata Putih . Disana mereka akan dijamu dan dilayani sebagai Tamu kehormatan . Tak terasa ternyata hari telah menunjukkan pukul setengah Tujuh . Langit sudah mulai terlihat gelap . Dan Sinto pun mulai berjalan - jalan disekeliling Lapangan .
Dibelah utara Lapangan itu terdapat Hutan yang sangat lebat karena masyarakat tidak diperbolehkan berladang disana . karena didalam sana adalah tempat Yang dipertuan Sutan Permata Putih berburu Rusa . Sinto berencana akan melihat sekeliling lapangan dari Radius 200 meter .
\*\*\*
Tak terasa hari sudah menunjukkan Jam setengah delapan . Kacak dan Sapar terlihat saling memberikan tanda dan mereka serentak berjalan mendekat kearah delapan orang penjaga yang berdiri menjaga menara . Delapan orang penjaga itu berdiri mengelilingi tapak menara yang berbentuk segi empat sehingga di satu sisi terdapat dua orang penjaga yang berjaga . Dan Pada malam hari biasanya mereka akan bergantian menjaga . dari jarak 50 meter dari lokasi tersebut dibalik sebuah pendopo kayu terlihat pono sudah siap dengan delapan orang pemuda berbadan tegap . sapar dan Kacak melihat sekeliling lapangan dan terlihat sangat sepi , orang - orang masih di masjid menunggu waktu shalat isya datang karena acara hiburan akan dimulai selepas isya .
" Ini waktu yang Pas , ayo cepat " ajak Sapar . Salah seorang penjaga menara tampak sedang santai merokok sambil ngobrol dengan kawannya sesama penjaga . Sapar terlihat berjalan santai kearah Penjaga yang sedang merokok .
" Bang , boleh pinjam korek api bang ? " kata sapar dengan gaya sopan .
Penjaga yang ditanya mengeluarkan korek api dari saku jaket kulitnya . ia tak curiga sedikitpun karena Sapar hanyalah pemuda kurus ceking yang tidak mungkin punya niat jahat . Setelah membakar rokok nya Sapar terlihat menghembuskan asap sebanyak mungkin sambil berjalan memutari kedelapan penjaga . Sambil berjalan terlihat ia sengaja menghembus - hembuskan asap rokok agar terhirup oleh kedelapan penjaga . Ia berjalan kearah kacak yang berdiri tidak jauh darinya . Setelah Sapar datang kacak tampak memberikan segelas air berwarna merah tua dan sapar langsung meminumnya . Air itu adalah penawar racun , karena rokok yang dibakar sapar sudah dibubuhi racun yang sangat kuat . Mereka menoleh kearah penjaga dan ternyata kedelapan penjaga itu sudah roboh terkapar ditanah . Mereka memberi kode dan delapan orang pemuda berbadan tegap datang . Mereka kemudian melucuti pakaian seluruh penjaga dan kemudian memakainya . Lenggang yang sudah siap dari tadi langsung melompat cepat dan memanjat menara untuk menurunkan keris sakti " Palito SiRajo Endah" karena benteng keris itu hanya untuk makhluk gaib dan tidak bisa melukai manusia . Lenggang memakai kostum berwarna silver agar terlihat menyatu dengan warna menara . Ia memanjat dari arah belakang hingga tak terlihat dari kejauhan . setelah pakaian para penjaga dilucuti dan dipakai oleh kedelapan pemuda . Delapan pemuda itu berdiri seolah menggantikan para penjaga . Sementara delapan orang penjaga yang masih pingsan diangkat kesebuah gerobak dan dibawa masuk kedalam hutan untuk segera dieksekusi .
\*\*\*
Sinto tampak berjalan dengan Sangat Hati - Hati , Bulan Purnama tampak bersinar terang dilangit . Sinto mempercepat gerakannya karena sebentar lagi dia ada janji dengan teman - temannya . setelah capek berkeliling sinto tidak menemukan sesuatu . tetapi perlahan ia mendengar suara langkah mengikutinya . semakin lama terdengar semakin dekat . Sinto sengaja memperlambat jalannya untuk mengetahui siapa yang mengikutinya . setibanya dilokasi yang Cukup lapang dan kering sinto berhenti dan menoleh kebelakang dan ternyata sekitar delapan meter dibelakangnya terlihat sesosok makhluk tinggi besar bewarna hitam berjalan kearahnya . Setelah makhluk itu mendekat sinto nampak kaget karena ternyata Makhluk tinggi besar itu memiliki kepala seperti seekor anjing hitam . Badan seperti manusia namun ditumbuhi bulu bulu hitam . Ia memakai celana hitam dan berjalan tegak seperti manusia . Sinto berusaha bersikap tenang . Sambil mengerahkan tenaga dalam keseluruh tubuh ia mencoba bicara dengan makhluk itu .
" Siapa kau , orang aneh ? Dan mengapa kau mengikutiku ? " Tanya sinto
" Perkenalkan , Namaku SiRajo Rayo , dan aku mengikutimu karena aku harus membunuhmu " Ternyata suara makhluk itu mirip seperti suara pemuda umur Dua puluh an . Tidak ada kesan angker dari suaranya , sepertinya keangkerannya sudah keburu diambil semua oleh wajahnya .
Mendengar kata - kata makhluk itu Sinto pun jadi terpancing emosinya .
" Heiii , Makhluk kepala Guguk , baru saja ketemu langsung mau Membunuh ?? Pasti kau hanyalah kacung suruhan seseorang " Balas sinto dengan sengit . Perlahan ia Sudah menyiapkan satu pukulan ditangan kiri .
" Ya , aku kacung dari yang mulia Tuanku Rajo Nan Hitam , Raja diraja yang sesungguhnya di alam Minangkabau , aku diperintahkan mengambil nyawamu " makhluk itu bicara dengan santainya .
" Kalau memang kau mampu , Silahkan saja " jawab Sinto sambil memasang Kuda - Kuda Tempur .
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments