Chapter 2 " Galanggang silek "

Setelah lebih kurang dua belas jam di perjalanan dari pelabuhan teluk bayur akhirnya rombongan keluarga itu sampai di Nagari Taratak Bungo yaitu kampung halaman Sinto. Disana terlihat hamparan Pesawahan yang berjejer dikelilingi bukit karang yang berdiri kokoh . Bocah bernama sinto itu sejenak memandang sebuah bangunan tua yang menurut atuknya adalah Rumah Gadang Datuk Panduko alam yaitu Rumah gadang di kampung nya . Dalam Sekali pandang saja anak muda itu sudah bisa merasakan aura kewibawaan yang sangat kuat dari bangunan yang konon ceritanya sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu namun hingga sekarang masih terlihat gagah perkasa memancarkan aura mistik yang begitu kuat . ukiran indah menghiasi dinding serta atap yang terbuat dari jalinan ijuk disertai susunan gonjong yang sambut menyambut menyerupai tanduk kerbau menambah kuatnya pancaran mistis dari bangunan tersebut .

Angin sore itu bertiup kencang dari punggung bukit seolah memberikan kesejukan tersendiri bagi sinto. Ia tampak menghirup nafas panjang karena mendapatkan sebuah kedamaian yang sangat asing dan belum pernah ia rasakan sebelumnya .

" Sintooo !!! . tiba - tiba terdengar suara atuknya memanggil dan ternyata atuk dan seluruh anggota keluarganya sudah berada didalam sebuah rumah tua yaitu rumah neneknya. Rumah itu berdiri berhadap - hadapan dengan rumah gadang yang sangat menawan itu dan hanya berbatas oleh jalan dan halaman yang cukup luas .

Sinto pun segera menyusul kedalam kerumah .

Rumah kayu hitam berukuran lebih kurang dua belas kali delapan meter persegi tersebut masih terasa sangat kokoh . Entah jenis kayu apa yang dipakai untuk bahan bangunannya , Foto - foto hitam putih sedikit kusam terlihat rapi menggantung didinding dan sepertinya itu adalah foto profil para anggota keluarga dari berbagai generasi . Rumah tua itu selama ini dijaga oleh sepupu dekat nenek sinto dan ia pun hanya datang sesekali untuk merawat dan membersihkan rumah tersebut . karena nenek sekeluarga sudah lama di hidup rantau orang . Sinto memandang keluar dari jendela belakang dan disana terlihat hamparan sawah yang begitu luas membentang. bukit batu yang menjulang tinggi seolah selalu mengawasi tindak tanduk para penduduk desa serta padi yang masak bewarna kuning keemasan karena diterpa cahaya matahari Seperti menari gemulai dihembus oleh angin bukit.

Sinto merasa sangat tentram karena suasana itu karena sangat berbanding terbalik dengan kondisi di kota jakarta yang super bising dengan segala problemanya . Ingin rasanya Ia tinggal berlama - lama di kampung .

Magrib pun datang , selesai sholat magrib bocah itu pun keluar dan duduk di beranda depan dengan secangkir teh hangat , sesaat kemudian dikejauhan terlihat cahaya lampu lentera datang menuju ke arahnya dan ternyata itu atuknya yang baru pulang dari surau. setelah semakin dekat orang tua itupun duduk disamping sinto.

" Bagaimana rasanya tinggal di kampung ? " tanya atuk.

" Asyik juga Tuk , suasana disini sangat tentram sekali " jawab sinto sambil tersenyum .

kakeknya tertawa girang seolah ikut merasa senang seperti biasa sebelum mulai bicara atuk menarik nafas panjang dan dalam .

" Ini adalah tanah tumpah darahmu sinto , kau lihat rumah gadang yang di depan sana ? itu adalah rumah gadang kaum kita , kaum Datuk Panduko Alam , Sejak dahulu kala keluarga kita adalah pemimpin adat dikampung ini dan suatu saat bila waktunya datang kaupun harus ikut turun tangan memimpin dan membangun kampung ini " ujar atuk

Sinto hanya termangut - mangut mendengar cerita atuknya

" Boleh aku masuk ke dalam Tuk ? "

Sinto bicara sambil melirik kearah Rumah gadang yang terlihat jelas di depan karena Ia sangat penasaran dengan isi rumah gadang tersebut .

" Boleh saja , besok pagi kalau Mak Datukmu datang kita akan ajak beliau masuk ke sana  Tapi ingat kamu jangan sembarangan memegang barang - barang yang ada di dalam rumah apalagi bertingkah tidak sopan , bisa ketulahan kamu " . Atuk menambah keterangan

" Ketulahan itu apa tuk ? Tanya sinto

" Kualat , " kata kakeknya sambil mengusap kepala sinto

" Dan satu lagi jangan pernah masuk ke bilik dalam " kali ini atuk bicara setengah berbisik dan sambil melototkan mata kearah sinto

Sejenak dahi bocah itu mengernyit

" Bilik dal.... "  belum sempat bocah itu bertanya Atuknya langsung menjawab seolah tau apa yang hendak ditanyakan sinto .

" Bilik dalam itu adalah kamar peribadi leluhurmu Datuk panduko alam yang pertama , Sejak beliau wafat ratusan tahun yang lalu ruangan itu dikunci rapat dan tidak ada seorangpun yang diperkenankan untuk membukanya "

Sinto sesaat melongo , ia langsung teringat cerita di film - film horor yang sering ditontonnya .

" Seremm bangetttt !!! " ujarnya setengah berbisik

Atuknya tersenyum sambil mengusap kepala sinto dan kemudian berdiri melangkah masuk ke dalam rumah untuk segera beristirahat . Tak lama setelah kakeknya masuk sinto pun ikut masuk kedalam rumah karena tiba - tiba saja Bulu kuduknya merinding setelah mendengar cerita dari atuknya barusan .

kamar tidur yang tidak begitu besar itu terlihat sangat sederhana. didalamnya hanya terdapat sebuah dipan kayu dan kasur kapas serta sebuah lemari kayu tanpa kaca . Mungkin karena terlalu capek setelah menempuh  perjalanan jauh mata sinto pun mulai mengantuk . Kini ia siap mengembara ke alam mimpi . namun tiba - tiba satu hal aneh pun terjadi . ketika tidurnya hampir lelap diseluruh ruangan tercium bau kemenyan yang sangat kuat . Bocah itu kembali membuka mata dan melihat ke sekitar dan ternyata tidak ada siapa - siapa disana . Tidak lebih dari dua puluh detik bau kemenyan itupun perlahan menghilang dan Sinto pun ingin kembali melanjutkan tidur dengan pikiran yang terheran heran . Namun saat bocah itu hampir tertidur pulas tiba - tiba saja ia merasa sekujur tubuhnya kaku dan nafasnya sesak serta lidahnya pun terasa kelu , seluruh tubuhnya terasa bergetar hebat , Ia panik karena untuk berteriak minta tolong  ia tak mampu . Bocah itu merasa sangat ketakutan . Saat ini hanya matanya yang bisa dibuka dan ia bisa melihat sekeliling ruangan tanpa bisa mengerakkan kepala . Tiba - tiba saja disamping kanan dipannya ia melihat sesosok orang tua berjubah hitam menatap tajam kearahnya dengan Wajah sangar seperti marah . Perlahan bola mata orang tua itu berubah seperti dua bola api merah menyala , Gigi taringnya memanjang Seolah ingin menerkam sinto saat itu juga . Tangannya bergetar dan bergerak keras ke kanan seolah ingin mencakar tubuh sinto . Namun sesaat sebelum orang tua itu dapat mencapai tubuh sinto seketika itu juga angin dingin sedingin es berhembus keras . orang tua itu tampak terkejut dan sambil menggereng keras perlahan tubuhnya pun berkelebat dan menghilang .

Setelah wujud orang tua angker itu menghilang dari pandangan mendadak tubuh sinto pun terasa normal kembali . Sekarang ia bisa bergerak dan berbicara seperti biasanya . Keringat dingin terlihat membasahi sekujur tubuh dan wajah sinto . Ia kaget dan merasa sangat ketakutan . Angin dingin itupun perlahan menghilang dan ruangan itu pun sejenak dipenuhi aroma bunga aneh yang sangat wangi . Sinto terdiam dan berfikir keras tentang sosok orang tua angker yang terlihat sangat marah padanya tadi karena seumur umur baru kali ini ia merasakan kejadian yang sangat mengerikan seperti itu . Tapi ia akhirnya berkesimpulan itu hanyalah sebuah mimpi buruk . meskipun terasa sangat nyata .

" Hampir saja tadi gue kencing di celana , untung aja bayangan angker tadi cepat pergi , kalau nggak kan bisa berabe nih , Bisa Malu seumur hidup  " katanya dalam hati .

ia kemudian teringat cerita kakeknya di kapal saat perjalanan pulang yaitu tentang kepercayaan orang - orang minangkabau kuno . Namun logika modern nya tetap memastikan bahwa itu hanyalah sebuah mimpi buruk . Setelah lelah berfikir akhirnya sinto pun tertidur pulas hingga pagi hari .

Kicau burung di pagi hari dan nyanyian alam lainnya membuat suasana dusun taratak bungo terasa sangat permai . Sungai besar yang diapit oleh dua bukit pasir itu seolah mengundang Sinto dan sahabat barunya Reza untuk segera menyeburkan diri. Reza adalah sahabat pertama sinto di kampung , mereka bertemu saat sinto ikut menemani atuknya kerumah orang tua reza yang masih terletak di dusun Taratak Bungo .

" Ayo lompat , Nto " kata reza sambil memakai gaya salto ke belakang kemudian Sinto pun ikut menyeburkan diri dengan gaya salto dan mereka berenang dengan serunya . Setelah puas berenang mataharipun sudah naik kira - kira satu penggalan . Mereka berdua duduk santai di atas batu besar di Pinggiran sungai .

" Nanti malam aku mau pergi latihan silek di galanggang kampung , kau mau ikut tidak ? Kata reza dengan bahasa indonesia bercampur logat padangnya .

" Wizz .. itu keren sekali !! aku mau ikut Za" Sinto menjawab girang karena Memang inilah yang dia inginkan sejak dari jakarta .

" Tapi syaratnya kau harus mendaftar dulu dengan cara kau harus ajak ayahmu pergi kerumah Pandeka Sahar karena dia adalah guru silek kita di kampung ini , kalau kamu mendaftar siang ini nanti malam kamu pasti bisa langsung ikut latihan " timpal reza .

Setelah itu merekapun sepakat untuk pulang .

Sesampai dirumah tanpa pikir panjang lagi Sinto langsung merengek kepada ayah dan Atuknya untuk segera pergi menemui pandeka sahar . Ia ingin didaftarkan siang ini juga karena ingin ikut belajar silek nanti malam dan ternyata Ayahnya pun mengizinkan .

" tapi kamu harus Ingat belajar silek bukan untuk gagah - gagahan , silek itu adalah belajar mengendalikan diri dan mengontrol emosi " begitu ayahnya berpesan.

Sementara itu di waktu yang bersamaan disebuah kastil tua berselimut kabut gelap terlihat orang tua berwajah hitam angker tengah duduk disinggasana yang terbuat dari tengkorak sambil tersenyum sinis .

" saatnya sudah hampir tiba , Aku harus segera keluar dan menguasai negeri ini " ujarnya .

hulubalang atau pengawalnya yang wajahnya tak kalah seramnya terlihat menundukkan kepala dan berseru .

" Duli Tuanku "

\*\*\*

" Assalamualaikum , Ooooo Pandeka "

Terdengar satu sautan menjawab salam dari dalam rumah dan sekaligus mempersilahkan tamu itu untuk masuk.

Rumah itu cukup tinggi karena memiliki kolong atau semacam ruangan lepas di bawahnya . Rumah panggung itu terlihat cukup unik karena didalam kolong tersebut terdapat kandang ayam , kambing dan juga itik . Rumah tinggi Itu adalah rumah pandeka sahar dan tamu yang datang itu ternyata adalah sinto dan ayahnya . Setelah dihidangkan segelas kopi dan sedikit bercengkerama barulah kemudian ayah sinto menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang .

" Jadi begini pandeka , sebenarnya besar sekali niat kami datang berkunjung ke rumah kediaman pandeka ini , yaitu saya berniat ingin mendaftarkan anak saya ini untuk ikut belajar silek di galanggang silek yang pandeka pimpin "

ujar ayah sinto memulai pembicaraan .

Setelah pandeka sahar menjelaskan tata cara dan meminta berbagai macam persyaratan yang diperlukan akhirnya pandeka sahar mengizinkan sinto untuk ikut berlatih di galanggang sileknya taratak bungo . Bukan main girangnya hati sinto . Ia membayangkan dirinya akan menjadi pendekar hebat tanpa tanding meskipun sebenarnya kejadian buruk yang tadi malam ia alami saat menjelang tidur masih mengganggu dipikirannya . Namun ia memilih diam dan tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun .

Dari kejauhan terlihat puluhan obor yang dibakar mengelilingi sebuah lapangan yang datar dan ditumbuhi rumput halus yang dipotong rapi . Itulah tempat yang bernama gelanggang silek taratak bungo . Nama gelanggang silek ini mungkin disesuaikan dengan nama dusun tersebut . Saat sinto dan reza sampai di lokasi  terlihat sudah banyak murid - murid yang datang dan mereka nampak berlatih berpasang - pasangan sambil memainkan gerakan - gerakan yang sekilas tampak lebih seperti orang menari .

Pandeka sahar selaku tuo silek atau guru silek di gelanggang itu sementara menghentikan semua proses latihan dan dia mempersilahkan sinto untuk memperkenalkan diri agar dia lebih akrab dengan teman - teman seperguruannya yang lain .

"  kalian harus ingat dan tanamkan dalam hati bahwa teman seguru itu tak ubahnya seperti saudara kandung . jika yang satu terluka maka yang lain juga harus ikut merasa terluka karena Hakikat silek atau silat itu adalah silaturahmi "  begitu pandeka sahar memberikan arahan terhadap murid - muridnya . Semua murid termasuk sinto mengangguk tanda paham

Semenjak malam itu sinto resmi menjadi murid di gelanggang silek taratak bungo dan disana ia mulai mendapat lebih banyak teman karena sifatnya yang mudah senyum dan suka becanda ternyata cepat diterima oleh teman - teman seperguruannya . Pandeka sahar pun terlihat senang dengan sinto karena ia adalah anak yang berbakat dalam ilmu bela diri . Disuatu malam setelah latihan mereka terlihat asyik bercakap - cakap .

" Sinto , apakah sebelumnya kamu juga pernah belajar beladiri ? " tanya Pandeka Sahar

" Iya Tuan Guru , saya pernah belajar karate saat di jakarta " jawab sinto .

" Pada dasarnya semua beladiri itu sama namun ada sedikit perbedaan pada silek karena Jurus - jurus silek itu sangat dirahasiakan dan tidak boleh diajarkan ke orang lain tanpa seizin guru kecuali kamu sudah dapat kaputusan silek , Kamu paham ? . Pandeka sahar menegaskan dan Sinto pun mengangguk tanda paham .

Kaputusan silek adalah sebuah saat dimana seorang guru silek memberikan seluruh jurus rahasia yang dimilikinya kepada murid yg telah ia pilih untuk menjadi penerusnya dan mulai saat itu murid tersebut sudah diizinkan dan diperbolehkan untuk membuka sebuah galanggang silek baru .

Seusai latihan silek pada malam itu Sinto dan teman - temannya diundang ke rumah ihsan salah seorang teman seperguruannya karena di rumah ihsan ada acara kenduri keluarga .

Rumah ihsan terletak dikampung sebelah yang kira - kira berjarak setengah kilometer dari dusun taratak bungo .

Kampung itu bernama kampung sawah  hilir dan ternyata jalan menuju rumah ihsan melewati satu bangunan besar yang ternyata sebuah gelanggang silek juga . Sinto kemudian bertanya mengapa ihsan tidak belajar di gelanggang itu saja karena lebih dekat tetapi Ihsan bercerita bahwa murid - murid di gelanggang itu terkenal sangat nakal dan suka berkelahi dan guru sileknya  pun terkesan agak sombong . Oleh karena itu ayah ihsan yang juga merupakan orang dari kampung taratak bungo memilih tempat belajar ihsan di gelanggang silek taratak bungo .

Saat mereka asyik bercerita dari belakang terdengar suara orang - orang yang mengejek

" woii kawan - kawan nampaknya para pendekar kampung sebelah ingin mencoba kepandaian kesini " Diiringi suara tawa cemooh  .

Sinto menoleh kebelakang seperti ingin menjawab tapi ihsan memegang tangannya dan memberi isyarat untuk diam dan terus mempercepat langkah . Sinto dan teman - temannya yang lain akhirnya mengikuti saja . tidak begitu lama akhirnya mereka sampai di halaman rumah ihsan.

" Uuuuuu Ternyata pendekar kampung sebelah hanya gadang sarawa " mereka kembali tertawa terbahak - bahak

" Apa artinya gadang sarawa??

Tanya sinto pada reza yang juga ikut ke rumah ihsan .

" Gadang sarawa itu artinya pengecut atau pecundang " jelas Reza jengkel

" Sudah tidak usah diperpanjang , lebih bagus kita makan saja !! " kata nurdin yang memang lebih dewasa diantara mereka semua . Mereka pun makan namun saat sedang makan sinto yg rada emosi kembali bertanya

" Emangnya yang ngomong tadi itu siapa san ?

" Namanya Garang , Dia adalah orang kaya dan keturunan bangsawan didesa ini , Makanya lagaknya selalu sombong dan congkak tetapi kita tidak perlu berurusan dengan dia karena Keluarganya sangat kaya raya dan terkenal sombong dan kejam , Lebih baik kita mengalah saja " Kata ihsan dengan wajah memelas .

Mendengar penjelasan ihsan sinto dan kawan - kawan yang lainnya hanya diam dan fokus melanjutkan makan karena masakan dirumah ihsan sangat lezat dan gurih .

" jangan sungkan - sungkan ya Habiskan makannya , kalau mau nambah langsung ambil saja " terdengar suara ibu ihsan dari belakang .

" Terima kasih Mak cik , masakan mak cik memanglah is the best " kata sinto disambut ketawa teman - temannya .

Setelah makan dan bercengkerama sejenak mereka semua kemudian pamit kepada orang tua ihsan dan segera pulang ke rumah mereka masing - masing .

Sesampai dirumah Sinto langsung bersiap untuk tidur dan tidak ada lagi kejadian aneh seperti malam pertama ia tidur dikampung tetapi sinto teringat lagi cemoohan anak - anak nakal dari kampung sebelah tadi .

" Bocah congkak bernama garang itu suatu saat akan kuberi pelajaran " . Desis sinto

Next : chapter 3 : Bukit mendinding alam

#Ksatriaduadimensi

Terpopuler

Comments

M. Yudi Albana

M. Yudi Albana

mantaaaps, smg critanya berlanjut trus yooo

2022-09-19

3

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 " Mudik "
2 Chapter 2 " Galanggang silek "
3 Chapter 3 " Bukit Mendinding Alam "
4 Chapter 4 " Festival silek nagari "
5 Chapter 5 " Ramalan dua Gerhana "
6 Chapter 6 " Wasiat Datuk Panduko Alam "
7 Chapter 7 " Kembalinya Sang kesatria "
8 Chapter 8 " Pusaka keris api "
9 Chapter 9 " Persekutuan Raja Api "
10 Chapter 10 " Datuk Harimau Salju "
11 Chapter 11 " Perang Strategi"
12 Chapter 12 " Festival Silek Dibuka "
13 Chapter 13 " Pertemuan Dua kesatria "
14 Chapter 14 " Si Peretas Dimensi "
15 Chapter 15 " SIASAT PARA IBLIS "
16 Chapter 16 " Hantu SiRajo Rayo "
17 Chapter 17 " Kurungan Alung Bunian "
18 Chapter 18 " Ramalan Gadis Indigo "
19 Chapter 19 " Pertemuan Para Sahabat "
20 Chapter 20 " Festival Silat berdarah "
21 Chapter 21 " Sang Juara Baru "
22 Chapter 22 " Munculnya Sang Iblis "
23 Chapter 23 " Benteng Piramida "
24 Chapter 24 " Perang Besar Dimulai "
25 Chapter 25 " Sebuah TiTik Awal "
26 26 " HARI PERTAMA SEKOLAH "
27 Chapter 27 " Pertarungan di bukit belakang sekolah "
28 Chapter 28 " Laksamana Kumbang "
29 Chapter 29 " Prahara di Tanjung Meranti
30 Chapter 30 " PUTI CAHYO KUMALO "
31 Chapter 31 " Purnama di Telaga Sangkar Bulan "
32 Chapter 32 " IBLIS di PERPUSTAKAAN "
33 Chapter 33 " TEROR di SEKOLAH
34 Chapter 34 " Sang Iblis Tua "
35 Chapter 35 " Pedang Naga Salju "
36 Chapter 36 " lonceng penghisap sukma "
37 Chapter 37 " Geger Pedang Sakti "
38 Chapter 38 " Malaikat agung Tak bernama "
39 Chapter 39 " Dewi kipas perak "
40 Chapter 40 " Gerbang ke alam lain "
41 Chapter 41 " Alam tingkat ketiga "
42 Chapter 42 " Goa lembah Neraka "
43 Chapter 43 " Gadis berambut merah "
44 Chapter 44 " Delapan penyamun Padang berdarah "
45 PANGGILAN UNTUK PARA PEMBACA !!!
46 Chapter 45 " Sang Kaisar Api "
47 Sinto vs Batara Karsa
48 CHAPTER 47 " PETUALANGAN DI MULAI
49 chapter 49 " Murid murtad "
Episodes

Updated 49 Episodes

1
Chapter 1 " Mudik "
2
Chapter 2 " Galanggang silek "
3
Chapter 3 " Bukit Mendinding Alam "
4
Chapter 4 " Festival silek nagari "
5
Chapter 5 " Ramalan dua Gerhana "
6
Chapter 6 " Wasiat Datuk Panduko Alam "
7
Chapter 7 " Kembalinya Sang kesatria "
8
Chapter 8 " Pusaka keris api "
9
Chapter 9 " Persekutuan Raja Api "
10
Chapter 10 " Datuk Harimau Salju "
11
Chapter 11 " Perang Strategi"
12
Chapter 12 " Festival Silek Dibuka "
13
Chapter 13 " Pertemuan Dua kesatria "
14
Chapter 14 " Si Peretas Dimensi "
15
Chapter 15 " SIASAT PARA IBLIS "
16
Chapter 16 " Hantu SiRajo Rayo "
17
Chapter 17 " Kurungan Alung Bunian "
18
Chapter 18 " Ramalan Gadis Indigo "
19
Chapter 19 " Pertemuan Para Sahabat "
20
Chapter 20 " Festival Silat berdarah "
21
Chapter 21 " Sang Juara Baru "
22
Chapter 22 " Munculnya Sang Iblis "
23
Chapter 23 " Benteng Piramida "
24
Chapter 24 " Perang Besar Dimulai "
25
Chapter 25 " Sebuah TiTik Awal "
26
26 " HARI PERTAMA SEKOLAH "
27
Chapter 27 " Pertarungan di bukit belakang sekolah "
28
Chapter 28 " Laksamana Kumbang "
29
Chapter 29 " Prahara di Tanjung Meranti
30
Chapter 30 " PUTI CAHYO KUMALO "
31
Chapter 31 " Purnama di Telaga Sangkar Bulan "
32
Chapter 32 " IBLIS di PERPUSTAKAAN "
33
Chapter 33 " TEROR di SEKOLAH
34
Chapter 34 " Sang Iblis Tua "
35
Chapter 35 " Pedang Naga Salju "
36
Chapter 36 " lonceng penghisap sukma "
37
Chapter 37 " Geger Pedang Sakti "
38
Chapter 38 " Malaikat agung Tak bernama "
39
Chapter 39 " Dewi kipas perak "
40
Chapter 40 " Gerbang ke alam lain "
41
Chapter 41 " Alam tingkat ketiga "
42
Chapter 42 " Goa lembah Neraka "
43
Chapter 43 " Gadis berambut merah "
44
Chapter 44 " Delapan penyamun Padang berdarah "
45
PANGGILAN UNTUK PARA PEMBACA !!!
46
Chapter 45 " Sang Kaisar Api "
47
Sinto vs Batara Karsa
48
CHAPTER 47 " PETUALANGAN DI MULAI
49
chapter 49 " Murid murtad "

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!