" Saat bulan purnama muncul diantara dua gerhana disitulah pintu kedua alam terbuka lebar , kau akan menemukan jawaban yang engkau cari , bersihkan hatimu , rangkul takdirmu "
Pagi itu sinto terlihat asyik melihat album foto usang yang ia ambil di ruang tamu keluarga . album itu terletak di atas rak kecil dilemari pajangan yang menempel didinding ruang tamu . Cover album itu terlihat sudah sangat tua tetapi nampak masih terjaga . Di halaman sampul depan tertulis Acara penobatan Datuk Panduko Alam XI di Tahun 1908 ditulis dengan ejaan lama dengan gaya tulisan tegak bersambung . Album tua itu berisi foto - foto hitam putih dengan kertas yang cukup tebal . Dari foto - foto yang ia lihat sinto dapat menyimpulkan bahwa acara penobatan itu dilaksanakan di Rumah Gadang di depan Rumahnya . Sejenak ia melihat ke rumah gadang itu melalui jendela depan , ia coba bandingkan dengan yang ada didalam foto .
" Nyaris tak ada perbedaan " bisik sinto
yang membedakan hanyalah busana yang dipakai org - org didalam foto karena Sinto yakin mereka semua pasti sudah meninggal dunia . Namun Rumah gadang itu masih terlihat kokoh berdiri hingga saat ini . Sinto Saat ini masih memikirkan cara untuk bisa masuk dan memeriksa isi Rumah tersebut . Alasan ia membongkar foto - foto lama itupun sebenarnya masih dalam rangka mencari informasi yang dirasa berguna namun tampaknya tidak ada satupun foto yang bisa dijadikan petunjuk .
Beberapa hari yang lalu sinto sudah sempat bicara kepada atuknya tapi atuknya bilang dia lagi sibuk karena sejak pulang ke kampung halaman kakeknya sibuk menghabiskan hari di sawah dan di ladang mungkin untuk mengenang masa kecilnya .
Kunci rumah gadang itu disimpan dikamar almarhum nenek sinto . kamar tengah itu sekarang dihuni oleh ibu dan ayah sinto . Karena ibu sinto adalah satu - satunya anak perempuan atuk dan nenek dan Ia pewaris tunggal dirumah ini karena memang kami sebagaimana orang minangkabau lainnya menganut sistem kekerabatan materilinial .
Saat Sinto sedang sibuk berfikir memikirkan cara sembari melihat foto - foto jadul itu terdengar suara ibunya memanggil .
" Sinto ,, kamu lagi ngapain ? Sudah dua hari ini ibu lihat kamu nggak pernah keluar rumah , apa kamu bertengkar dengan teman - temanmu ? "
" Nggak kok bu , sinto cuma lagi malas keluar aja dan pengen santai dirumah " jawab sinto seadanya
" Ya sudah , kalau begitu kamu hari ini bantu ibu dan kakakmu " jawab ibunya lembut
" Bantu ngapain bu? " jawab sinto agak malas . Sinto memang paling malas kalau disuruh melakukan pekerjaan perempuan
" Itu kamu lihat nggak Rumah gadang didepan sepertinya Sudah lama sekali tidak dibersihkan , pasti didalamnya sudah banyak debu dan kotoran , ibu dan kakakmu hari ini berencana akan membersihkannya "
Bagai mendengar satu lantunan lagu termerdu sinto langsung bangkit berdiri dari duduknya dengan muka berseri ia menjawab
" Asshhiaaapp , Sinto siap - siap dan ganti baju dulu " Sinto langsung saja bergerak untuk bersiap - siap .
Dalam hati sinto berbisik senang
" Pucuk dicinta ular keket pun tiba " hehehe
\*\*\*
Disebuah batu picak yang terletak dipinggiran sebuah air terjun yang tingginya kira - kira dua puluh lima meter terlihat sesosok tubuh duduk bersila dengan tangan dilipat didada dan jika dilihat dengan seksama Sepertinya sosok ini sedang melakukan semedi . kerasnya deru air yang turun tampaknya tidak sedikitpun mengganggu sosok yang sedang hanyut dalam suasana mengheningkan cipta .
Orang yang tengah bersemedi itu ternyata adalah kakek tua jahat yang bernama dubalang rambut api . Setelah gagal total membunuh sinto tempo hari ia sengaja pergi menyembunyikan diri dan bersemedi untuk meningkatkan kekuatan nya karena untuk kembali ke istana bukit mendinding alam ia sangat takut Karena Tuanku Rajo Nan hitam pasti sangat marah kalau mengetahui ia sudah gagal dua kali .
Tiba - tiba dalam khusyuk semedinya orang tua itu mendengar sebuah suara serak tanpa wujud .
" Disaat bulan purnama muncul diantara dua gerhana , maka seorang kesatria akan merangkul takdirnya , wadah Datuk siraja dewa akan muncul dan tak ada yang akan mampu menghentikannya "
Dubalang rambut api bergetar mendengar suara tak berwujud itu namun dia tau kalau suara itu adalah suara gurunya yang bernama Panglima api laknat . Seorang tokoh aliran sesat yang sangat jahat dan licik namun telah menemui ajal ratusan tahun yang lalu saat perang kuno terjadi . Tetapi anehnya sampai saat ini dari alam roh ia masih bisa berkomunikasi dengan muridnya dubalang rambut api melalui semedi .
" lantas apa yang harus saya lakukan , guru ? " mohon berikan petunjukmu
" Bagaimanapun caranya kau harus gagalkan ramalan itu , culik dan bunuh bocah itu sebelum bulan purnama diantara dua gerhana itu muncul "
" Tapi bocah itu selalu dilindungi oleh Harimau Salju guru , aku tak kuasa menandingi tenaga dalam harimau sakti itu "
" Lalu sebenarnya apa maumu , katakan saja , jangan bertele - tele ?? Suara panglima api laknat terdengar mulai meninggi .
" Guru ,, jika memang ramalan itu tidak bisa dihentikan tentu saja butuh kekuatan besar untuk menghancurkan wadah itu . Bukankah kau memiliki mustika batu api ? Batu itu bisa meningkatkan tenaga dalamku menjadi puluhan kali lipat , Aku mohon berikan mustika itu padaku guru " dubalang rambut api berbicara seolah merengek
" Hahahaha Dasar Tua bangka licik , dari awal aku sudah tahu niatmu itu tapi mengingat kau adalah satu - satunya muridku mustika itu akan kuberikan padamu tetapi dengan satu syarat , segera temukan wadah baru untuk menampung segala kekuatanku karena aku sudah tidak sabar untuk membalas semua kekalahanku " suara itu bergetar keras
" Terima kasih banyak guru tentu saja aku akan segera mencarikan wadah baru untuk menjadi pemilik semua kesaktianmu guru , dan aku sudah menemukan orang yang tepat " dubalang rambut api menjura hormat
" Baik , mustika batu api kuserahkan padamu , tapi kau harus siap memelihara mustika itu dengan meminum darah bayi setiap tiga purnama untuk menjaga khasiat mustika itu karena kalau tidak kesaktiannya akan menghilang dan kau akan menyesal "
Suara panglima api laknat perlahan terasa mulai menjauh dan menghilang
Dubalang rambut api perlahan membuka mata dan melepaskan nafas secara perlahan pertanda ia telah menutup semedinya . dihadapannya terlihat tergeletak sebuah batu seukuran ujung kelingking memancarkan cahaya merah bagai bara api yang menyala . Dubalang rambut api terlihat tersenyum puas , ia langsung mengambil mustika itu dan memasukkan kedalam mulutnya kemudian perlahan ia merasa kekuatannya mulai bangkit dan berlipat ganda . Ia menelan mustika itu dan terlihat kedua bola matanya bersinar angker seperti bara api yang merah menyala
\*\*\*
Sinto dan kakaknya gadih ranti tampak kompak bekerja mengepel lantai Rumah Gadang sementara ibu mereka terlihat sedang menggosok guci - guci antik yang sudah tampak tertutup debu . Sesekali mata sinto terlihat mengarah kesebuah Ruangan yang terletak di sudut kiri ruangan dimana kamar itu tampak terkunci oleh gembok Sementara tiga kamar lain dibiarkan terbuka .
" Itukah yang disebut bilik dalam ? " sinto menggumam dalam hati
Rumah gadang itu ternyata memiliki empat buah kamar berukuran empat kali empat meter persegi dan Keempat kamar itu dibuat berjejer menghadap kearah pintu depan Sementara ruangan tengahnya terhampar luas berbentuk persegi panjang , tidak ada kursi tamu atau pun singgasana raja hanya tikar bambu licin mengkilat yang tampak terbentang . Menurut atuk sinto itu dikarenakan orang minangkabau sudah sejak lama hidup berdemokrasi .
" Duduk sama rendah tegak sama tinggi "
Tidak ada singgasana sebagaimana kita temukan di kerajaan - kerajaan lain di Nusantara karena Para datuk atau pemimpin kampung akan selalu mengambil keputusan dengan cara bermusyawarah dengan kaumnya Begitupun para raja semisal Sutan Permata Putih di dalam mengambil keputusan ia akan bermusyawarah dengan para datuk pemimpin adat . Begitulah sistem pemerintahan di nagari taratak bungo .
Saat itu hari menunjukkan pukul dua belas siang . ibu sinto sepertinya telah selesai membersihkan semua perabotan dan Kakaknya gadih ranti pun sepertinya sudah mulai terlihat kelelahan .
" kita istirahat sebentar dan bagaimana kalau kita makan siang di Rumah gadang ini saja " ibu sinto menawarkan
" Karena selepas dzuhur nanti kita akan lanjut bekerja , itu semua kamar sepertinya juga harus dibersihkan " ibu nya menambahkan
" Semua kamar bu ??? " tanya sinto memancing
" iya kecuali kamar yang itu " Ibu sinto menunjuk kearah kamar yang terletak disudut kiri .
" kenapa bu ? " Tanya sinto lebih ingin tahu
" Ibu juga tidak tahu kenapa sinto , tapi atuk mu dan orang - orang desa bilang kamar itu adalah kamar terlarang dan setahu ibu sejak dulu belum pernah ada orang yang berani membukanya bahkan kabarnya angku Datuk yang sekarang pun tidak pernah berani menginap di rumah ini "
" Iihhh serem banget " kakak sinto pun merinding ketakutan sambil melirik kamar tersebut .
" Ya sudah ibu dan kakak menyiapkan makan siang dulu dan sambil menunggu kami delesai kamu lanjutkan saja dulu bekerja " ibu sinto pun dan gadih ranti pun berlalu .
Sekarang tinggalah sinto sendiri didalam rumah gadang itu .
Tak berapa lama setelah ibu dan kakaknya pergi sinto langsung bergerak menuju kamar terlarang itu dan sesampai didepan pintu ia melihat pintu itu terkunci gembok besi berukuran besar . Sepertinya gembok itu bukan buatan dalam negeri dan sudah berumur sangat tua .
" Aduh gimana caranya supaya terbuka nih " Sinto berfikir keras
Perlahan sinto mencium harum semerbak bunga cempaka dan dari dalam kamar dan kemudian terdengar suara orang merapalkan dendang yang terkesan aneh . karena suara itu kurang jelas sinto kemudian menempelkan sebelah telinganya ke daun pintu .
" Saat bulan purnama muncul diantara dua gerhana disitulah pintu kedua alam terbuka lebar , kau akan menemukan jawaban yang engkau cari , bersihkan hatimu , rangkul takdirmu "
Sinto dapat mendengar jelas kalimat yang diucapkan oleh suara tanpa wujud itu Namun ia bingung untuk mencerna maksudnya dan ia sangat penasaran dengan sipemilik suara . Suara itu jelas terdengar dari dalam kamar . Sinto sangat penasaran dengan siapa orang tua yang ada didalam .
Belum hilang rasa heran sinto tiba - tiba pintu itu bergetar keras dan bangunan besar itu seolah mau ambruk bagai digoncang gempa besar . Sinto yang masih menempel didaun pintu seolah tersedot masuk kedalam kamar tua tersebut dan semuanyapun dalam sekejap menjadi menghitam dan gelap .
Perlahan diluar terdengar suara ibu sinto memanggil . Setelah mendengar tak ada jawaban dan setelah puas menggedor pintu akhirnya wanita separuh baya itu memaksa untuk masuk dan sesampai didalam ia menjerit histeris sangat melihat sinto pingsan tak sadarkan diri didepan pintu bilik dalam .
" Sinto ayo bangun , kamu kenapa nak ? Ibu sinto menangis cemas .
Bocah itu hanya terkapar dan tak menjawab sementara Bau wangi bunga cempaka terasa makin menyengat memenuhi ruangan itu .
Gadih ranti kakak sinto pun mulai berteriak - teriak minta tolong dan Orang - orang pun mulai berdatangan dan akhirnya tubuh sinto yang lemah terkulai digendong bersama - sama menuju rumah neneknya .
\*\*\*
Malam itu rumah sinto terlihat ramai dengan orang - orang yang datang silih berganti untuk melihat keadaan sinto . Nurdin ihsan dan reza pun terlihat ada didalam karena tadi sore mereka mendengar kabar kalau sinto pingsan . Setelah berkumpul mereka langsung menuju kerumah sinto .
" Ternyata benar cerita orang - orang bahwasanya Rumah gadang itu menyimpan misteri " reza bicara sambil mengunyah permen karet yang tadi dibelinya saat diperjalanan .
Mereka terlihat asyik membicarakan hal aneh yang terjadi pada sinto .
" Agaknya nya peristiwa yang terjadi pada sinto ada kaitannya dengan kejadian saat kita pergi menggalah ikan tempo hari " sambung ihsan
" Ya , seoertinya kita harus melakukan sesuatu karena firasatku mengatakan sinto saat ini sedang dalam bahaya besar " balas nurdin
" Betul din aku juga berfikir begitu , bagaimana kalau kita ceritakan semua peristiwa itu kepada guru kita pandeka sahar ? " ujar ihsan
" Aku setuju , besok malam segera kita temui pandeka sahar " jawab reza
Sinto tampak masih terkapar lemas di atas dipan kayu dan Sesekali terlihat keningnya mengernyit seperti menahan sesuatu .
Apa yang sebenarnya terjadi pada sinto ???
Saksikan kelanjutannya di chapter berikutnya " Wasiat Datuk Panduko Alam "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments