Pagi itu Sinto dan kawan - kawan berencana akan berkunjung ke rumah reza karena ibu reza sedang sakit . Hari sudah menunjukkan jam sepuluh pagi . Nurdin , ihsan , Rimbun dan Sinto Sampai dirumah reza . Ternyata reza lagi ramai , para gadis - gadis penari terlihat sedang membagi - bagi pakaian tari . Setelah kak ayu mempersilahkan mereka masuk mereka langsung menuju kekamar reza . Setelah diperjenalkan dengan Rimbun reza mengajak kawan - kawannya keluar menuju ruang tengah . Ibu reza terlihat sudah sehat , mungkin kemaren demam hanya karena kecapean . Setelah beristirahat satu hari ia menjadi bugar kembali . ibu reza membuatkan minum dan merekapun asyik mengobrol di ruang tengah .
" Rimbun , jadi kamu sudah mengetahui juga rencana jahat para makhluk itu ,menurutmu apa yang harus kita lakukan ? " tanya ihsan
" Sebaiknya kita ikuti saja arahan dari pandeka sahar , karena sepertinya dia yang paling tahu betul kondisi lapangan itu " jawab rimbun .
Selagi teman - temannya asyik bercerita mata sinto terlihat asyik mencari - cari sesuatu . Ia menengok dari balik tirai pembatas ruangan tamu dan ruang tengah rumah reza . Ia mencari - cari hamidah , Tapi gadis cantik itu tidak terlihat diantara para gadis - gadis itu .
" Woiiii , ngapain lhu bengong aja ? Reza bicara setengah menghardik . Sinto kaget dan bicara tergagap - gagap .
" Eeee , iya sampai mana tadi ? " jawab sinto sambil mengeluarkan gaya senyum - senyum konyolnya .
" Sampai medan , " jawab reza kesal
Mereka semua tertawa mendengar jawaban reza .
" Rimbun , kenapa kau tak bercerita tentang dirimu ? " tanya ihsan
" Apanya yang penting tentang diriku ? " jawab Rimbun mengeles .Tapi karena mereka semua mendesak akhirnya Rimbun memulai kisahnya .
" Aku dilahirkan dari suku Pengembara dua Alam , sejak dahulu kala dari zaman nenek moyangku kami sudah tahu bagaimana caranya berjalan menembus ke dimensi lain , yaitu alam tingkat ketiga . Alam jin " Rimbun memulai kisahnya
" Menurut cerita turun temurun bahwanya dahulu kala kakek buyutku menjalin persahabatan dengan Raja jin Putih yang bernama Datuk SiRaja dewa , beliaulah yang memberikan kepandaian itu kepada kami . Dan Semenjak datuk sakti itu meninggal dunia kami secara turun - temurunlah yang Merawat dan menjaga hewan peliharaannya yang bernama Datuk Harimau Salju. Karena sejak kematian datuk siraja dewa harimau itu selalu murung hingga kemudian seorang anak manusia menjadi pewaris kekuatan datuk siraja dewa , ia bernama Datuk Panduko Alam yaitu kakek buyut sinto . Namun waktu terus berjalan Akhirnya datuk panduko alampun tewas setelah perang besar terjadi sehingga harimau itu kembali lagi ke gua gunung es menunggu kedatangan pewaris berikutnya . Kami dari suku pengembara dua alam mendapat tugas lagi untuk merawat dan mengurus segala keperluan harimau salju . Aku adalah pejaga yang terakhir karena saat ini sang pewaris baru itu sudah muncul , mulai saat ini harimau sakti itu akan mengikuti sinto ". Kata rimbun sambil melirik sinto .
Mereka semua tampak takjub mendengar cerita Rimbun . Dari ruangan tamu terdengar suara merdu menyapa .
" Maaf semuanya , midah terlambat " suara seorang gadis yang ternyata hamidah . kak ayu terdengar mempersilahkannya masuk . diruangan tengah jantung sinto berdebar . Entah kenapa sejak pandangan pertama mereka bertemu di lapangan belakang rumah reza sinto sering terbayang wajah gadis cantik itu .
" Itu pasti dia " desis sinto dalam hati . Ingin rasanya ia keluar untuk menengok tapi dia malu. Matanya kembali mengintip dari balik tirai dan kini ia melihat wajah manis yang menggetarkan hatinya itu tengah memilih baju tari yang pas dengan ukuran badannya . Saat itu hamidah sepertinya sedang bingung memilih antara tiga baju yang dirasanya cocok . Baju itu berwarna merah tua , biru muda dan hijau tua . Ketiga baju itu memang terlihat bagus apalagi yang memakainya adalah hamidah , si kembang desa . sinto yang memang dari tadi memperhatikan hamidah perlahan mulutnya menggumam
" Merah , Pilih yang merah saja " ujar sinto
" Apa ? Yang merah ini yang paling enak ya ? " Rimbun bertanya Pada sinto , sambil memandang kue bewarna warni yang terletak diatas meja . Sinto yang kaget bercampur malu langsung mengambil kue bewarna merah dan memasukkan ke mulutnya .
" Ia mbun , kamu coba saja , kalau nggak percaya " sambung sinto dengan mulut penuh disumpal kue . Nurdin yang dari tadi memperhatikan sinto sudah tidak tahan menahan ketawa langsung mintak izin ke kamar mandi . Didalam kamar mandi ia cekikikan sendiri melihat ulah konyol sinto .
" Silahkan dimakan , Mbun jangan sungkan - sungkan " reza ikut mempersilahkan Dan rimbunpun terlihat mengambil kue bewarna merah . Sinto kemudian melirik lagi keluar dan ternyata Hamidah juga akhirnya memilih baju yang berwarna merah . Entah kenapa sinto jadi senang sekali . Padahal semua hanyalah kebetulan . Setelah selesai bicara diruang tengah akhirnya mereka sepakat untuk pergi kerumah pandeka sahar . Untuk menuju keluar tentu saja mereka harus lewat ruang tamu . Sinto langsung merapikan rambut dan bajunya karena sesaat lagi dia akan lewat didepan hamidah .
" Ehhhhh , Midah , kalian hari ini nggak latihan " sapa reza
" Ia, Za, ini sebentar lagi mau latihan . Mau coba - coba baju dulu " jawab hamidah
Kemudian sambil menengok ke belakang reza bicara kepada sinto dan yang lain
" Perkenalkan ya , Gadis cantik ini adalah sepupuku , Hamidah . dia adalah gadis baik dan terhormat . Awass ya !!! jangan sampai ada yang punya niat macam - macam " ujar reza sambil mengepal tinju dan membesarkan mata pada sinto dan kawan - kawan .
Hamidah tertawa kecil mendengar candaan reza , pipinya merona kemerahan . Perlahan ia berdiri dan bersalaman dengan Sinto dan yang lain . Mereka bersalaman hanya sampai sebatas ujung jari . Dan Mereka saling menyebutkan nama masing - masing
" kenalkan , namaku Sinto " sinto mencoba mengeluarkan senyum terbaiknya .
" Saya Midah " jawab hamidah sambil tersenyum . Jantung sinto serasa disengat aliran listrik melihat senyuman hamidah yang terlihat begitu dekat . Bulu bulu tipis yang tumbuh disudut bibirnya menambah keanggunan kembang desa itu .
" Ya , sudah , kami berangkat dulu ya . Kalian harus ingat , besok pada saat festival itu berlangsung jangan berkeluyuran kemana - mana . Kalian harus tetap terlihat didalam pantauan kami " ujar reza dengan berwibawa dan keren .
" Siappp pak pendekar " Kali ini kak ayu yang menjawab dengan tangan hormat tapi bibir sengaja dipencongkan . Para gadis tertawa mendengar candaan Reza dan kak ayu . Begitupun sinto dan kawan - kawan . Sekilas pandangan sinto dan hamidahpun kembali bertemu kali ini hamidah dan sinto tidak membuang muka lagi . Hamidah tersenyum sambil mengangguk seolah mempersilahkan sinto dan yang lainnya pergi . sinto pun membalas sambil melangkah keluar Rumah . Sejak saat itu sinto sepertinya mulai merasa Jatuh Hati Pada Hamidah . Tapi ia hanya memilih memendam karena ia menaruh segan dan hormat kepada Reza .
***
Garang terlihat sedang berkumpul dengan para pasukannya diruangan pertemuan galanggang silat mereka . Mereka terlihat sedang menyusun strategi untuk melakukan penyerangan kepada Yang dipertuan Sutan permata putih pada malam puncak acara festival . Ia masih ingat pesan gurunya tadi malam bahwa rencana penyerangan harus disusun dengan matang . Pangeran api laknat mendapat informasi dari Tuanku Rajo Nan hitam bahwasanya dimenara tertinggi yang terletak disamping arena pertarungan itu terdapat sebuah keris sakti milik kerajaan yang sengaja dipasang untuk menghalangi mereka masuk . Selama keris itu terpasang disana baik panglima api laknat maupun Tuanku Rajo Nan Hitam tidak akan pernah bisa masuk karena benteng keris sakti itu sangat kuat dan kokoh . Tugas utama Garang dan pasukannya adalah menurunkan keris sakti yang bernama keris " Palito Si rajo Enda " itu dari menara tertinggi sebelum melakukan huru - hara .
" Persekutuan Raja api yang telah kita dirikan bersama - sama saat ini sudah mulai mengepakkan sayap - sayap kebesarannya . Ini adalah momentum yang sangat penting dan kita harus berhasil . Karena jika kita berhasil kita akan menjadi satu - satunya penguasa di negeri ini , " garang menutup pidatonya diiringi dengan tepuk tangan meriah dari para anggota persekutuan .
Setelah semua anggota bubar Garang memanggil empat orang ajudan utamanya . Mereka masing - masing bernama Sapar , Lenggang , Pono dan Kacak .
" Kalian berempat aku tugaskan menyelidiki kampung taratak bungo , kalian harus temukan penyusup siapa penyusup yang datang kerumah ku tadi malam . Salah satu dari mereka memakai jaket merah . Kalian harus mulai penyelidikan dari gelanggang silek taratak bungo , aku merasa ini ada hubungan dengan mereka " Garang memberi perintah
" Siap , kami akan laksanakan , Pimpinan " jawab kacak dan diiringi dengan anggukan tiga temannya .
***
Sinto dan kawan - kawan sudah sampai di tempat kediaman Pandeka Sahar . Setelah dipersilahkan masuk mereka pun masuk dan terlihat pandeka sahar sudah duduk menunggu kedatangan mereka .
" Aku sudah mencoba menghubungi teman - teman seperguruanku dan kabar baiknya mereka akan datang membantu kita " ujar pandeka sahar memulai pembicaraan
" kita harus mulai membagi tugas masing - masing . Nurdin , kau fokuslah mengikuti perlombaan , ingat kau harus kalahkan semua pesilat sampai bertemu dengan Garang dimalam puncak . Ihsan dan Rimbun , kau berjaga - jaga di dekat tenda tamu undangan , kau bertugas menjaga keselamatan para bangsawan yang hadir . jika kalian melihat satu hal yang membahayakan Raja kalian cepat berteriak dan langsung bertindak . Reza kau dan sinto bertugas menjaga keamanan para penduduk kampung taratak bungo . kita semua akan berkomunikasi lewat telepon genggam kita masing - masing . Setiap tim harus selalu dalam komandoku , kalian paham ? " pandeka sahar mencoba memberikan arahan .
Sinto dan kawan - kawan mangut - mangut mendengar strategi pandeka sahar .
" khusus untuk sinto dan reza , setelah kalian pastikan para penduduk selamat , kalian harus kembali ke panggung utama , karena aku yakin puncak kegaduhan ini akan terjadi disana " tambah pandeka sahar .
" Baik , guru " sinto menjawab .
" Begitu juga dengan ihsan dan rimbun . Kalian harus berhati - hati , jika kalian lihat para pengawal raja sudah bersiap - siap kalian juga harus segera bergabung ke panggung utama ." Pandeka sahar terlihat sangat serius memberikan arahan .
" Baik pandeka , " jawab rimbun
Hari sudah menunjukkan pukul tiga sore . Sinto pamit untuk pulang kerumah karena ia teingat janjinya kepada Harimau Salju . Mereka berjanji akan berlatih di puncak gunung es nanti malam . Tapi sinto tidak tahu dimana letak gunung es itu , sinto bingung tapi dia putuskan saja untuk menunggu dirumah . Sementara kawan- kawannya yang lain berniat melanjutkan berlatih dengan pandeka sahar yang dibantu oleh Rimbun .
***
Setiba dirumah sinto hanya duduk bermalas - malasan dikamar , sambil membaca komik kesukaannya . Ia saat ini masih menunggu aba - aba dari Harimau Salju . Sambil berbaring malas Perlahan ia terbayang wajah cantik hamidah yang tadi ditemuinya dirumah reza . Senyuman Hamidah melekat di dalam angan - angan nya . Ia membayangkan hamidah tengah menari gemulai dengan baju tari berwarna merah tua .
" Kenapa aku selalu terbayang wajah gadis , itu " sinto menggumam dan mencoba menepis bayangan tentang hamidah . Tapi ia tak mampu , ia malah jadi senyam - senyum sendiri membayangkan hamidah dan sangat berharap hamidah bisa menjadi kekasihnya . Ini adalah cinta pertama sinto . dan sinto bingung bagaimana cara mengutarakannya . Sementara ia bersahabat dekat dengan Reza sepupu Hamidah . Akhirnya sinto kembali memilih untuk memendam perasaan nya kepada Hamidah . Sedang asyik sinto berkhayal tiba - tiba telinganya berdengung keras dan ia mendengar suara serak berwibawa .
" Sinto , Cepatlah Kesini " suara itu adalah suara Harimau Salju Sahabatnya . sinto mencoba memusatkan energi dan menjawab dalam hati .
" Aku tidak tau harus bagaimana , Datuk "
" Silahkan duduk bersila , pusatkan energimu dan bayangkan aku , kemudian bawa dirimu masuk menembus dimensi Alam tingkat ketiga , aku akan bantu menarikmu dari sini . " ujar Harimau salju
Sinto pun melakukan apa yang diperintahkan Harimau Salju , ia duduk bersila dan memusatkan seluruh energinya . Ia bayangkan sosok harimau sakti itu dan ada suatu tarikan yang ia rasakan . Ia pasrah mengikuti tarikan itu . Perlahan tubuhnya terasa berputar dan putaran itu semakin cepat . Sinto hanya bisa diam sambil pejamkan mata . Tak berapa lama kemudian tubuhnya terasa berhenti berputar namun ia merasa ada yang aneh pada bagian bawah tubuhnya . Ia merasa pinggul dan kakinya menjadi dingin sekali seolah ia sedang menduduki balok es . ketika sinto membuka mata ia kaget ternyata memang ia tengah duduk bersila diatas hamparan Salju tebal . Dan tidak jauh darinya tampak Harimau Salju Berdiri dan berjalan pelan kearahnya seolah menyambut kedatangan dirinya .
Bersambung ke chapter berikutnya
" Pembukaan Festival "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments