Rumah tua seukuran enam kali delapan meter itu terlihat masih terawat dengan baik . rumah papan berwarna hitam itu adalah rumah reza sahabat sinto . pagi ini sinto dan kawan - kawannya yang lain berjanji akan berkumpul di rumah reza Karena ada suatu hal penting yang akan mereka bincangkan bersama . Reza dari tadi pagi sudah siap menunggu kedatangan sahabat - sahabatnya . Goreng ubi kayu yang masih hangat tampak sudah terletak dimeja ruang tengah . Pagi tadi ibu reza sudah bangun dan menyiapkan semuanya sebelum ia berangkat ke sawah sementara ayah reza yang bekerja disebuah tambang jauh didalam hutan biasanya hanya pulang sekali dua minggu . Reza adalah anak bungsu dari empat bersaudara . Dua saudara tua nya sudah bekeluarga dan saat ini hanya reza dan seorang kakak perempuannya yang bernama Ayu yang menemani ibunya dirumah . Kakak perempuan reza duduk di bangku kelas tiga SMA karena antara reza dan ayu umurnya hanya terpaut sebanyak dua tahun .
Pagi itu saat sinto datang terlihat ayu kakak reza tengah menyapu dihalaman depan rumahnya.
" Pagi kak , rezanya ada dirumah ? " Sinto menyapa
Kak ayu pun menoleh dan sesuai namanya ia memang seorang gadis yang ayu dan cantik . Rambutnya yang hitam lebat dibiarkan tergerai sepanjang bahu . ia memakai baju kaos hijau dan celana hitam pendek bewarna hitam .
" Ehhh sinto , udah lama banget kamu nggak kesini? Si reza ada tuh dirumah , kamu langsung masuk aja ya , duduk aja sebentar nanti biar kakak bikinkan kopi " ujar kak ayu
" Aduhh gak usah repot - repot kak " ujar sinto mencoba berbasa basi sambil kemudian melangkah masuk ke dalam rumah .
Tak lama setelah sinto datang Nurdin dan ihsan pun menyusul .
Sebenarnya Sinto sangat penasaran tentang topik apa yang akan mereka bahas kali ini . Mereka berempat terlihat duduk santai di ruangan tengah dan tak lama kemudian kak ayu datang membawa empat gelas kopi . Mereka duduk melingkar mengelilingi sebuah meja kayu petak yang terletak di ruang tengah rumah Reza .
Sambil mengunyah ubi kayu reza tampak memulai pembicaraan .
" kemaren sore aku bertemu pak Abdul kepala Desa dan Beliau Titip pesan untuk guru kita Pandeka Sahar katanya acara Festival silek nagari tahun ini akan dipercepat untuk menghindari acara di bulan Ramadhan , dia juga berpesan kepada pandeka sahar untuk segera mempersiapkan murid - murid yang akan ikut berlaga " ujar reza
Festival silek nagari adalah acara tahunan yang selalu diadakan oleh Pucuk adat atau raja nagari yang bergelar Sutan Permata Putih . Acara ini biasanya dihadiri oleh para Bangsawan dari negeri tetangga , Tokoh masyarakat penting , Para guru silek Dan juga masyarakat banyak . Pesertanya adalah Sepuluh galanggang silek karena di daerah wilayah kekuasaan Sutan permata Putih terdapat sepuluh buah dusun dan masing - masing dusun harus mengutus satu galanggang silek untuk ikut berpartisipasi pada festival tersebut . Acara tersebut biasanya berlangsung selama satu minggu dimulai dengan babak penyisihan sampai dengan acara Puncak yaitu Babak Final . Setiap Galanggang yang diutus akan mewakili dusunnya masing - masing dan Piala yang diperebutkan adalah piala bergilir .
" Wahhh asyik lah kalau begitu, tahun ini galanggang kita harus jadi pemenang " ihsan terlihat bersemangat sekali
Sinto yang awalnya agak bengong mendengar cerita mereka pun akhirnya mulai paham dan akhirnya jadi ikut terpancing karena melihat antusias teman - temannya . Bayangkan saja jika kita bertarung ditengah arena yang sudah disiapkan dan disaksikan oleh para datuk , para pemimpin desa , dan juga orang - orang desa dan yang pasti banyak juga gadis - gadis cantik yang ikut menonton . Sinto langsung saja berkhayal jika seandainya dia yang terpilih untuk mengikuti pertandingan itu dan dia jadi senyum - senyum sendiri . Tapi kemudian dibenaknya langsung muncul satu pertanyaan .
" Asyik juga tuh kayak nya , tapi siapa kira - kira yang akan mewakili gelanggang kita ? " Ujar sinto
" Kalau urusan itu terserah kepada guru kita pandeka sahar karena beliau yang akan menentukan calon peserta , tapi kalau menurutku sepertinya Nurdin yang akan dipilih " ujar ihsan
" Kenapa pulak aku ? " Nurdin seolah membantah tapi dalam hati ia sangat senang karena ia memang sangat berharap ikut dalam pertandingan itu .
" Menurutku juga begitu Din Karena memang kamu yang paling lihai diantara kita semua " reza membenarkan pendapat ihsan .
" kalau benar begitu kayaknya mulai sekarang kamu harus berlatih keras Din " sambung sinto
Dalam hati sinto sebenarnya agak kecewa karena dari tadi dia sudah terlanjur mengkhayal tapi ia mengakui kalau diantara murid - murid pandeka sahar memang nurdinlah yang paling lihai dan cekatan dalam ilmu bela diri dan Sinto sangat yakin nurdin bisa jadi juara kalau seandainya ia ikut . akhirnya sinto pun ikhlas jika seandainya memang nurdin yang nanti terpilih oleh guru mereka .
Selagi mereka asyik mengobrol terdengar suara perempuan di luar mengucapkan salam dan langsung dijawab oleh kak ayu .
" Wa'alaikumsalam , eh Hamidah adik ku yang cantik , tumben kamu mampir kesini ? Ayo sini cepat masuk " kak ayu langsung berdiri menyambut tangan gadis cantik itu yang ternyata adalah Hamidah puteri Khatib syarif .
" Iya kak , tadi Midah disuruh ibu mengantarkan rendang untuk mak tuo " gadis itu menjawab dengan sopan .
Mak Tuo adalah panggilan untuk saudara perempuan ibu yang lebih tua dan yang dipanggil maktuo oleh hamidah adalah ibunya reza dan ayu .
" Oooo begitu , terima kasih banyak ya tapi ibu kakak sedang ke sawah , kamu duduk aja dulu biar kakak bikinkan minuman dulu " kak ayu bicara sambil merapikan alas meja di ruang tamu .
" Baik kak " gadis cantik itu pun duduk di kursi tamu .
Hamidah saat itu memakai baju kurung berwarna kuning muda dan mengenakan rok panjang batik bermotif hitam . Jilbab kuning muda yang ia kenakan terlihat sangat pas di wajahnya yang cantik .
" si Reza kemana kak ? Akhir - akhir ini jarang sekali kelihatan " tanya hamidah
Hamidah memang merupakan sepupu dan teman Reza sejak kecil tetapi sejak mereka mulai dewasa dan duduk dibangku SMA mereka sudah mulai jarang bertemu karena mungkin mereka sudah mulai dewasa dan saat ini sudah mulai sibuk dengan urusan masing - masing .
" Itu didalam lagi kumpul sama teman - teman nya "
" Reza !!!!! ini ada hamidah " kak ayu setengah berteriak memanggil reza sambil kemudian menghidangkan minuman untuk hamidah .
Kemudian terdengar sahutan dari ruang tengah dan tidak lama pun reza keluar dan langsung bersalaman dengan hamidah .
" Tumben udah lama nggak muncul ??? " Sapa reza
" Iya sekarang aku sibuk membantu ibu dirumah dan kadang - kadang selepas magrib membantu ayah mengajar mengaji di surau " jawab hamidah
" Wisss , calon ustadzah ni " ucap reza sambil ketawa dan Hamidah pun ikut tertawa mendengar candaan reza .
Saat ia tertawa terlihat lesung pipit di pipinya dan rambut halus tumbuh di sudut bibirnya . Pantas saja si garang tergila gila dengan gadis ini .
" kamu kenapa udah lama nggak mampir ke rumah , za ? Biasanya paling nggak sekali seminggu pasti datang berkunjung " hamidah bertanya sambil meminum teh nya
" Iya akhir - akhir ini aku agak sedikit sibuk apalagi sebentar lagi kan ada festival silek nagari tentu saja aku dan kawan - kawan harus berlatih keras agar kampung kita bisa jadi juara " jawab Reza
" Wahhhhh , udah jadi pendekar nih " hamidah balas meledek reza .
Reza hanya bisa nyengir sambil garuk2 kepala dan kak ayu pun menambahkan
" iya , Tapi pendekar gadang sarawa " sambil cekikikan .
Reza tampak kesal pada kakaknya tapi kemudian ia ikut juga tertawa .
" kami juga rencananya akan ikut di acara lomba tari itupun kalau kak ayu mau bergabung dan menjadi pelatih " pancing hamidah sambil melirik ke arah kak ayu sambil tersenyum manis
Di acara festival silek nagari itu memang terdapat berbagai macam jenis perlombaan Mulai dari memasak , menari , pidato adat dan acara puncaknya adalah pertandingan silek .
" I am ready , Kapan kita bisa kumpul ? " balas kak ayu yang memang terkenal sebagai penari yang lihai
" Bagaimana kalau minggu depan , kak ? Biar midah kumpulkan anggota dulu " jawab hamidah .
akhirnya mereka pun sepakat untuk mulai latihan minggu depan .
Sementara Sinto Nurdin dan Ihsan pun makin terlihat asyik berbincang di ruangan tengah .
" Minggu depan kita harus mulai latihan bersama , terserah siapapun yang akhirnya dipilih oleh pandeka sahar dan itu tidak masalah yang pasti kita semua harus berusaha dulu semaksimal mungkin " Nurdin terlihat sangat bersemangat
" Setuju " Sinto dan Ihsan menjawab serentak .
Reza pun masuk kembali keruangan tengah tempat mereka ngobrol Karena Hamidah sudah pamit untuk balik pulang kerumahnya
" Eh .. eh eh .. apa ini main setuju - setuju aja ? Aku kan belum dengar hasil keputusannya . " Ucap reza sewot
Setelah nurdin menjelaskan panjang lebar akhirnya mereka sepakat untuk berlatih bersama pada hari minggu pagi di lapangan belakang rumah reza karena Lapangan itu memang cukup luas dan agak tertutup .
Malam itu sebelum tidur sinto kembali teringat kejadian aneh yang dialaminya sewaktu mereka pergi menggalah ikan . Kejadian yang baru pertama kali dia alami seumur hidup dan kejadian yang mulai mengubah pola fikir sinto karena ia mulai berfikir tentang cerita atuknya pada saat diperjalanan dan cerita itu terasa mulai masuk akal baginya . ternyata memang ada kehidupan lain diluar kehidupan manusia dan kemudian Ia teringat lagi pada sosok harimau putih besar yang ia lihat .
" Mustahil ada harimau yang seukuran itu , dan mustahil juga harimau itu tidak memakan kami jika itu memang seekor harimau asli dan aku sangat yakin itu bukanlah harimau biasa dan mengapa saat aku melihatnya ada perasaan aneh yang tiba - tiba muncul seolah aku merasa sudah begitu lama mengenal harimau itu ? "
Sinto tak habis fikir mau bertanya pada atuknya ia takut dituduh membual tetapi ia teringat kembali kata - kata ayahnya saat mereka masih di jakarta
" Ingat sinto , jangan sembarangan mengotak atik barang - barang yang ada di Rumah gadang "
Sinto seakan menemukan sebuah jalan
" Ya itu dia , aku harus masuk kedalam rumah gadang itu dan aku yakin akan menemukan sebuah petunjuk terkait semua kejadian ini disana " Fikir Sinto
Akhirnya sinto membulatkan tekad untuk memeriksa isi rumah gadang yang ada dikampungnya dan Ia harus memberanikan diri meski itu melanggar petuah ayah dan atuknya Karena Sinto sangat yakin segala keanehan yang ia alami selama ia dikampung ada hubungannya dengan tempat itu yaitu tempat yang kata atuknya bernama Bilik Dalam yaitu kamar peribadi leluhurnya yang bernama Datuk Panduko Alam Pertama .
Akhirnya Demi mendapatkan satu titik terang bocah enam belas tahun itu siap menanggung segala resiko yang akan diterimanya .
Next chapter " Ramalan dua gerhana "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Roland Mangkuto Sutan
Yess bro
2022-09-25
0
Marten Koto
ubi kayu = ketela pohon
2022-09-24
1