Agaknya, Abraham kini ingin melihat pesan apa yang membuat Marsha begitu serius. Terlebih lagi, Abraham sangat tahu jika sekarang ini ada sesuatu yang mengusik Marsha. Pria itu tampak mengambil duduk di dekat Marsha, dan walaupun terkesan tidak sopan, tetapi Abraham sangat ingin melihat apa yang dilihat Marsha sekarang ini.
Seakan terusik, Abraham membuka handphone miliknya sendiri dan mulai melihat di situs portal berita online yang selalu update perdetik itu. Mata Abraham pun membelalak saat membaca headline di artikel tersebut.
“Sweet Affair Aktor Berinisial M!”
Sebuah headline yang tentu menggiring opini publik bahwa ada aktor berinisial M tersebut memang sedang memiliki affair dengan seorang wanita. Terlebih di artikel itu disebutkan bahwa wanita itu bukan berasal dari dunia keartisan. Aktor berinisial M yang selama ini selalu tersohor dengan prestasinya di dunia akting, kali ini justru naik dengan sensasi yang terjadi. Benarkah itu hanya sekadar sensasi untuk melambungkan nama sang aktor. Hanya memang kebenaran yang baru saja terungkap kebenarannya.
“Aku tahu … pasti karena ini kan?” tanya Abraham kepada Marsha.
Pria itu tampak menunjukkan layar handphonenya kepada Marsha sekarang ini. Seakan Abraham mendapat jawaban sendiri dengan perubahan raut wajah dan suasana hati Marsha sekarang ini.
Terlihat Marsha melirik sekilas ke arah Abraham. Tanpa dinyana-nyana air mata mengalir begitu saja dari kedua mata Marsha. Ya, wanita itu terdiam, tetapi air mata berlinangan begitu saja di pipinya. Apakah mungkin ini adalah jawaban dari perasaan tidak tenang yang dirasakan Marsha saat hendak terbang ke Jogjakarta kemarin.
Melihat Marsha yang menangis, Abraham tampak menghela nafasnya dan membawa kepala Marsha itu untuk bersandar di dadanya. Sama sekali Abraham tidak berbicara apa pun, tetapi seakan Abraham ingin memberikan waktu bagi Marsha. Meluapkan kesedihan dan perasaan yang berkecamuk di dalam hati wanita itu.
Merasa rapuh, akhirnya tangis Marsha pecah juga. Wanita itu tampak menangis dan terisak. Hingga gemericik di Air Terjun Kedung Kayang itu seakan tak bisa meredam isakan tangis Marsha sekarang ini.
“Kita ke mobil yuk. Di sana kamu bisa menangis sepuasnya. Tahan dulu ya menangis,” balas Abraham kali ini.
Abraham pun menggenggam tangan Marsha dan membawa wanita itu untuk memasuki mobilnya. Memang tadi mereka bertiga ke Kedung Kayang dengan membawa dua mobil. Akan tetapi, setelah Nania pergi terlebih dahulu, praktis tinggal satu mobil yang tersisa di situ. Abraham terlihat menuntun Marsha, dan segera membawa Marsha untuk memasuki mobilnya. Bahkan Abraham sengaja menghidupkan mesin mobilnya. Memberi waktu dan tempat untuk Marsha menangis.
“Menangislah … tidak apa-apa. Aku akan menunggumu di luar,” ucap Abraham kali ini.
Saat Abraham keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil itu, tangis Marsha benar-benar pecah. Mungkinkah suaminya memiliki affair sekarang ini? Apakah itu hanya kebetulan semata? Bagaimana dengan foto-foto yang dia terima sekarang ini.
Sementara di luar, Abraham memilih duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari bambu. Menunggu di luar dan menunggu sampai Marsha selesai menangis. Sudah beberapa menit berlalu dan belum ada tanda-tanda bahwa Marsha telah selesai. Di luar kabut dari pegunungan perlahan turun, gerimis mulai turun dari langit dan membasahi tempat itu. Lantaran hujan, Abraham sedikit berlari untuk masuk ke mobilnya. Pria itu melirik ke arah Marsha yang masih terisak.
“Sorry Sha … hujan di luar,” ucap Abraham. Bukan maksudnya untuk mengganggu Marsha. Hanya saja hujan yang turun di luar sana membuat dirinya harus berteduh di dalam mobil. Sebab di alam terbuka seperti itu, tidak ada tempat untuk berteduh.
Perlahan Marsha menganggukkan kepalanya, dan membuang mukanya ke arah kaca jendela. Malu sesungguhnya dengan keadaannya yang menyedihkan seperti ini di hadapan Abraham. Akan tetapi, air mata berlinangan begitu saja tanpa bisa dibendung lagi.
Tangan Abraham kini bergerak dan hendak menyerahkan tissue kepada Marsha. Berharap Marsha akan menyeka jejak-jejak air mata di wajahnya. Akan tetapi, justru Abraham mengurungkan niatnya dan pria itu kini justru meraih kepala Marsha dan memeluknya.
“Jangan terus-menerus, Sha … kamu punya aku. Kamu bisa bercerita semuanya kepadaku,” ucap Abraham kali ini.
“Dia … Dia Melvin, Bram,” ucap Marsha dengan terisak.
Seakan Marsha ingin memberitahu bahwa foto pria yang sedang menggandeng tangan seorang wanita itu adalah Melvin. Aktor berinisial M itu adalah Melvin, Melvin Andrian.
“Aku tahu,” jawab Abraham.
“Kamu boleh menangis … cuma hanya menerima semuanya dengan mentah-mentah. Mungkin saja dia hanya aktris yang sedang bersama suamimu,” ucap Abraham lagi.
“Dia bukan dari kalangan selebritis, Bram,” sahut Marsha.
“Jangan terlalu berpikiran negatif, Sha … suamimu adalah publik figur jadi jika ada gosip seperti ini sudah sangat wajar,” balas Abraham.
“Benar Bram, hanya saja kenapa perasaanku sejak kemarin tidak enak. Apakah Tuhan memang sudah memberikan sebuah pertanda terlebih dahulu kepadaku?” tanya Marsha yang masih terisak.
Terlihat Abraham mengusapi kepala Marsha yang bersandar di bahunya. Seakan-akan Abraham berusaha menjadi tempat bersandar bagi wanita yang dulu pernah singgah di hatinya itu.
“Tenang Sha … kamu harus mendengar kebenarannya dari suamimu sendiri,” balas Abraham.
Setidaknya Marsha harus mempercayai Melvin dan mendengarkan penjelasan dari suaminya sendiri. Jika Melvin tidak atau belum memberikan penjelasan itu berarti hanya sebuah gosip atau kabar burung.
“Iya … aku akan menelpon Melvin nanti,” sahut Marsha.
Beberapa saat berlalu dan Marsha masih menangis di dada Abraham, sampai akhirnya Marsha bisa mengelola perasaannya sendiri. Wanita itu menarik wajahnya dari dada Abraham dan menyeka jejak-jejak air mata di wajahnya.
“Makasih Bram … sorry,” ucap Marsha yang tiba-tiba merasa canggung dengan Abraham.
“Tidak masalah Sha … kapan pun kamu ada masalah, kamu bisa membaginya denganku. Kisah kita memang telah usai, tetapi tidak ada salahnya jika kita menjadi teman mengobrol. Teman curhat,” balas Abraham.
Perlahan ada anggukkan samar dari kepala Marsha, “Apa tidak masalah?” tanya Marsha kemudian.
“Iya … tidak masalah, dan dadaku ini siap menjadi tempat menampung air matamu,” balas Abraham dengan tersenyum menyeka air mata di sudut mata Marsha.
Usapan ibu jari Abraham di pipinya membuat Marsha terkesiap. Wanita itu mengerjap dan sedikit menjauh. Canggung dengan suasana yang hanya berdua dan juga canggung dengan Abraham dan kebaikannya. Apa yang diucapkan Abraham benar, mungkin dirinya bisa bercerita dan curhat dengan Abraham. Lagipula Abraham pun sudah tahu siapa dirinya dan juga Melvin. Rahasianya bersama Melvin sudah pasti akan aman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Adelia Rahma
dari awal curhat,kasi semangat,kasi saran,dan yg paling penting kasi perhatian..
dan itu semua akan manis dan tidak mungkin juga akhirnya timbulnya perasaan sayang dan cinta kembali bersemi
2022-08-09
0
Sky Blue
Smangat buat kmu bertahan Marsha
2022-08-07
1
Nany Setyarsi
kalo awalnya curhat ,
biasanya habis itu trus datang rasa nyaman. Krn yg diajak curhat itu orang yg care , sayang,dan cinta sama kita.
justru ini salah sih sebenarnya,bisa jd bibit awal perselingkuhan.
baiknya gk usah cerita masalah pribadi deh
2022-08-07
1