“Kamu prioritas utamaku, Sha … mobil bisa besok-besok, tetapi kamu enggak,” ucap Abraham dengan melirik ke arah Marsha.
Sungguh, Abraham rasanya tidak tega melihat Marsha menyetir mobil seorang diri menuju ke Jakarta. Sementara Marsha memilih diam. Dirinya juga ragu, terlebih hari sudah begitu malam saat ini. Membutuhkan waktu kurang lebih 2 hingga 3 jam untuk tiba di Jakarta.
“Bram, enggak perlu … aku bisa sendiri,” sanggah Marsha kali ini.
“Kalau gitu, nginep di hotel saja, Sha … bahaya menyetir malam-malam seperti ini. Gimana kalau kamu ngantuk di jalan,” sahut Abraham kali ini.
“Ya sudah … aku nginap di Bogor saja. Aku balik besok siang ke Jakarta. Ke hotel terdekat saja,” balas Marsha kali ini.
Sebenarnya Marsha tidak masalah jika harus kembali ke Jakarta, menyetir tengah malam juga tidak masalah bagi Marsha. Hanya saja, jika harus bersama Abraham rasanya Marsha begitu sungkan. Terlebih mengingat bahwa Abraham dulu adalah sosok yang dekat dengannya. Berlama-lama dengan Abraham membuat Marsha sangat sungkan.
Sementara Abraham sendiri menyunggingkan senyuman di wajahnya, “Nah … gitu. Balik besok pagi juga tidak masalah, Marsha. Yang penting jangan mengendarai mobil sendirian gelap-gelap begini,” sahut Abraham.
Hingga akhirnya, Abraham menghentikan mobilnya di sebuah hotel yang berada di Bogor. Pria itu segera turun dari mobil dengan membawa tas yang berisi kamera miliknya. Sementara Marsha turun dengan membawa koper miliknya.
“Minta dua kamar dong Kak,” pinta Marsha kali ini kepada petugas hotel.
Saat itu Marsha mengenakan sebuah masker untuk menutupi wajahnya karena wajahnya sebagai istri Melvin Andrian cukup dikenal banyak orang. Oleh sebab itu, kemana-mana Marsha selalu mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Sekaligus berjaga-jaga supaya keberadaannya tidak terendus oleh khalayak ramai.
“Sebentar ya Kak,” balas resepsionis tersebut.
Menunggu beberapa menit, akhirnya resepsionis yang memberikan dua buah kunci kepada Marsha.
“Silakan Kak … kamar di 708 dan 710 ya Kak,” balas resepsionis tersebut.
Marsha segera menerima kunci itu dan memberikannya kepada Abraham. “Kamu pilih saja satu. Aku tidak masalah memakai kamar mana saja,” balas Marsha.
“Aku 710 saja, Sha,” sahut Abraham.
Setelahnya, mereka berjalan menaiki lift yang akan membawanya menuju ke lantai 7. Marsha akan mengenakan kamar 708, sementara Abraham akan memakai kamar 710.
“Marsha, kamu bahagia tidak?” tanya Abraham dengan tiba-tiba.
“Maksud kamu Bram? Apa menurutmu aku tidak bahagia?” tanya Marsha kepada Abraham.
“Bukan begitu Marsha … hanya saja, kenapa rasanya kamu tidak sebahagia saat bersamaku,” sahut Abraham.
Marsha menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, dan menatap tajam Abraham,
“Lebih baik fokus ke dirimu sendiri, Bram. Jangan mencoba untuk menilai diriku. Lagipula, aku cukup bahagia dengan keadaanku sekarang,” sahut Marsha.
Begitu lift sudah sampai di lantai 7. Marsha segera memasuki kamarnya di 708, sementara Abraham menuju ke kamar 710. Marsha memilih memasuki kamar tanpa menghiraukan Abraham.
“Good night, Sha,” sahut Abraham ketika Marsha hendak memasuki kamarnya.
“Hmm,” sahut Marsha.
Begitu sudah sampai di dalam kamar, Marsha tampak mengambil handphone di dalam sling bagnya. Tentu saja, Marsha akan menghubungi Melvin terlebih dahulu. Memberitahukan kepada suaminya itu bahwa hari ini dirinya tidak akan pulang ke rumah dan akan kembali esok siang ke Jakarta.
Jari-jemari Marsha tampak mencari nama suaminya di kontak handphonenya, dan segera menggeser ikon bergambar telepon berwarna hijau di handphonenya.
Melvin
Memanggil
“Halo … Ayang,” sapa Marsha begitu panggilannya tersambung dengan Melvin.
“Ya, halo … Ayang. Ada apa?” sahut Melvin.
“Uhm, begini Ayang … hari ini aku tidak bisa kembali ke Jakarta. Itu karena semalam ini baru selesai pemotretannya. Jadi aku menginap semalam di Bogor,” ucap Marsha kali ini kepada suaminya.
Di seberang sana, Melvin tampak menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya secara samar. “Baiklah … hati-hati di sana ya Ayang. Aku juga pulang dini hari. Ini saja masih harus bersiap untuk take,” sahut Melvin.
“Iya … jaga kesehatan, Ayang. Maaf yah, aku pulang besok,” balas Marsha kali ini.
“Iya … tidak apa-apa. Yang penting kabari bila besok sudah pulang di rumah yah,” balas Melvin.
Marsha tampak menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya … besok aku akan kirimkan pesan jika aku sudah sampai di rumah,” balas Marsha.
Sebelum Marsha menutup panggilan telepon, rupanya Melvin kembali berbicara kepada Marsha.
“Ayang, sorry aku lupa memberitahu … besok Mama dan Papa datang ke rumah kita. Kemungkinan siang Mama datang dari Bali. Tolong besok kamu temanin Mama dan Papa yah,” ucap Melvin kali ini.
“Iya, besok … aku temenin Mama dan Papa,” sahut Marsha. “Kamu tidak ingin ambil cuti, Yang? Mumpung Mama dan Papa datang,” ucap Marsha kali ini.
“Belum bisa cuti Ayang … kamu tahu sendiri kan. Jadwalku sangat padat. Izin cuti itu harus jauh-jauh hari. Tidak bisa mendadak. Sutradaranya bisa marah,” balas Melvin.
Sampai pada akhirnya ada helaan nafas panjang dari Marsha, “Hmm, baiklah,” sahutnya dan mematikan panggilan seluler itu secara sepihak.
Pikirnya mumpung Mama dan Papanya Melvin datang dari Bali, Melvin bisa menyempatkan waktu untuk membangun waktu berkualitas bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu. Siapa sangka jika untuk meminta cuti sehari saja harus dari jauh-jauh hari.
Marsha akhirnya memilih mengguyur badannya terlebih dahulu. Membiarkan air shower yang dingin membasahi tubuhnya. Menenangkan pikirannya, mendinginkan hati yang begitu sepi dan sangat merindukan Melvi. Sebagai seorang istri, dirinya seakan tidak mendapatkan perhatian dari suaminya. Dia juga membutuhkan belaian dan kasih sayang dari suaminya sendiri. Akan tetapi, bersama Melvin, malam-malamnya mau tidak mau harus dijalani sendirian.
Selang setengah jam lebih, ketika Marsha sudah selesai mandi dan bersantai di dalam kamarnya. Terdengar ketukan dari pintu kamarnya.
“Siapa?” teriak Marsha saat itu.
“Aku, Bram,” sahut pria yang tengah mengetuk pintu kamar Marsha.
Marsha pun berjalan gontai dan membuka pintunya sedikit, “Ada apa Bram?” tanyanya.
“Makan malam, Sha … kamu belum makan sejak siang tadi. Sekarang makanlah dulu,” ucap Abraham menyerahkan paper bag yang berisi makan cepat saji ala restoran Jepang untuk Marsha.
“Tidak perlu repot-repot, Bram,” sahut Marsha.
Akan tetapi, tangan Abraham dengan cepat bergerak dan menyerahkan paper bag itu ke tangan Marsha.
“Ini … makanlah. Awas jika tidak dimakan. Esok aku akan kemari dan melihat apakah makanan ini sudah kamu makan apa belum. Jangan pikirkan berat tubuhmu, Marsha. Bagaimana pun kamu sudah cantik dengan berat tubuhmu,” ucap Abraham.
Usai menyerahkan makanan itu, Abraham berlalu pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara Marsha hanya menghela nafas sepenuh dada.
Tidak perlu memperhatikanku, Bram …
Tidak perlu memastikanku makan seperti ini.
Aku hanya tidak ingin terjebak lagi dalam perhatian, Bram …
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Asnaini Abdullah
jgn salahkan marsha y melvin ... ia berusaha menjaga statusnya tp krn kau hanya peduli dg katirmu tanpa memandang istrimu... ntar lagi diembat Bram ...baru tau rasa
2022-08-26
1
Adelia Rahma
perhatian dari suami tidak ada..
perhatian dari mantan akan datang dan selalu datang..
tidak menutup kemungkinan cinta lama belum kelar akhirnya menyatu kembali
2022-08-02
1
Nany Setyarsi
nah jadi galau kan Marsha,
punya suami masa depan tapi kurang perhatian,
sementara ada mantan masa lalu yg tetap masih care dan perhatian.
sampai takut terjebak perhatiannya
2022-07-31
2