Perhatian Pria Lain

“Kamu prioritas utamaku, Sha … mobil bisa besok-besok, tetapi kamu enggak,” ucap Abraham dengan melirik ke arah Marsha.

Sungguh, Abraham rasanya tidak tega melihat Marsha menyetir mobil seorang diri menuju ke Jakarta. Sementara Marsha memilih diam. Dirinya juga ragu, terlebih hari sudah begitu malam saat ini. Membutuhkan waktu kurang lebih 2 hingga 3 jam untuk tiba di Jakarta.

“Bram, enggak perlu … aku bisa sendiri,” sanggah Marsha kali ini.

“Kalau gitu, nginep di hotel saja, Sha … bahaya menyetir malam-malam seperti ini. Gimana kalau kamu ngantuk di jalan,” sahut Abraham kali ini.

“Ya sudah … aku nginap di Bogor saja. Aku balik besok siang ke Jakarta. Ke hotel terdekat saja,” balas Marsha kali ini.

Sebenarnya Marsha tidak masalah jika harus kembali ke Jakarta, menyetir tengah malam juga tidak masalah bagi Marsha. Hanya saja, jika harus bersama Abraham rasanya Marsha begitu sungkan. Terlebih mengingat bahwa Abraham dulu adalah sosok yang dekat dengannya. Berlama-lama dengan Abraham membuat Marsha sangat sungkan.

Sementara Abraham sendiri menyunggingkan senyuman di wajahnya, “Nah … gitu. Balik besok pagi juga tidak masalah, Marsha. Yang penting jangan mengendarai mobil sendirian gelap-gelap begini,” sahut Abraham.

Hingga akhirnya, Abraham menghentikan mobilnya di sebuah hotel yang berada di Bogor. Pria itu segera turun dari mobil dengan membawa tas yang berisi kamera miliknya. Sementara Marsha turun dengan membawa koper miliknya.

“Minta dua kamar dong Kak,” pinta Marsha kali ini kepada petugas hotel.

Saat itu Marsha mengenakan sebuah masker untuk menutupi wajahnya karena wajahnya sebagai istri Melvin Andrian cukup dikenal banyak orang. Oleh sebab itu, kemana-mana Marsha selalu mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Sekaligus berjaga-jaga supaya keberadaannya tidak terendus oleh khalayak ramai.

“Sebentar ya Kak,” balas resepsionis tersebut.

Menunggu beberapa menit, akhirnya resepsionis yang memberikan dua buah kunci kepada Marsha.

“Silakan Kak … kamar di 708 dan 710 ya Kak,” balas resepsionis tersebut.

Marsha segera menerima kunci itu dan memberikannya kepada Abraham. “Kamu pilih saja satu. Aku tidak masalah memakai kamar mana saja,” balas Marsha.

“Aku 710 saja, Sha,” sahut Abraham.

Setelahnya, mereka berjalan menaiki lift yang akan membawanya menuju ke lantai 7. Marsha akan mengenakan kamar 708, sementara Abraham akan memakai kamar 710.

“Marsha, kamu bahagia tidak?” tanya Abraham dengan tiba-tiba.

“Maksud kamu Bram? Apa menurutmu aku tidak bahagia?” tanya Marsha kepada Abraham.

“Bukan begitu Marsha … hanya saja, kenapa rasanya kamu tidak sebahagia saat bersamaku,” sahut Abraham.

Marsha menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, dan menatap tajam Abraham,

“Lebih baik fokus ke dirimu sendiri, Bram. Jangan mencoba untuk menilai diriku. Lagipula, aku cukup bahagia dengan keadaanku sekarang,” sahut Marsha.

Begitu lift sudah sampai di lantai 7. Marsha segera memasuki kamarnya di 708, sementara Abraham menuju ke kamar 710. Marsha memilih memasuki kamar tanpa menghiraukan Abraham.

“Good night, Sha,” sahut Abraham ketika Marsha hendak memasuki kamarnya.

“Hmm,” sahut Marsha.

Begitu sudah sampai di dalam kamar, Marsha tampak mengambil handphone di dalam sling bagnya. Tentu saja, Marsha akan menghubungi Melvin terlebih dahulu. Memberitahukan kepada suaminya itu bahwa hari ini dirinya tidak akan pulang ke rumah dan akan kembali esok siang ke Jakarta.

Jari-jemari Marsha tampak mencari nama suaminya di kontak handphonenya, dan segera menggeser ikon bergambar telepon berwarna hijau di handphonenya.

Melvin

Memanggil

“Halo … Ayang,” sapa Marsha begitu panggilannya tersambung dengan Melvin.

“Ya, halo … Ayang. Ada apa?” sahut Melvin.

“Uhm, begini Ayang … hari ini aku tidak bisa kembali ke Jakarta. Itu karena semalam ini baru selesai pemotretannya. Jadi aku menginap semalam di Bogor,” ucap Marsha kali ini kepada suaminya.

Di seberang sana, Melvin tampak menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya secara samar. “Baiklah … hati-hati di sana ya Ayang. Aku juga pulang dini hari. Ini saja masih harus bersiap untuk take,” sahut Melvin.

“Iya … jaga kesehatan, Ayang. Maaf yah, aku pulang besok,” balas Marsha kali ini.

“Iya … tidak apa-apa. Yang penting kabari bila besok sudah pulang di rumah yah,” balas Melvin.

Marsha tampak menganggukkan kepalanya perlahan, “Iya … besok aku akan kirimkan pesan jika aku sudah sampai di rumah,” balas Marsha.

Sebelum Marsha menutup panggilan telepon, rupanya Melvin kembali berbicara kepada Marsha.

“Ayang, sorry aku lupa memberitahu … besok Mama dan Papa datang ke rumah kita. Kemungkinan siang Mama datang dari Bali. Tolong besok kamu temanin Mama dan Papa yah,” ucap Melvin kali ini.

“Iya, besok … aku temenin Mama dan Papa,” sahut Marsha. “Kamu tidak ingin ambil cuti, Yang? Mumpung Mama dan Papa datang,” ucap Marsha kali ini.

“Belum bisa cuti Ayang … kamu tahu sendiri kan. Jadwalku sangat padat. Izin cuti itu harus jauh-jauh hari. Tidak bisa mendadak. Sutradaranya bisa marah,” balas Melvin.

Sampai pada akhirnya ada helaan nafas panjang dari Marsha, “Hmm, baiklah,” sahutnya dan mematikan panggilan seluler itu secara sepihak.

Pikirnya mumpung Mama dan Papanya Melvin datang dari Bali, Melvin bisa menyempatkan waktu untuk membangun waktu berkualitas bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu. Siapa sangka jika untuk meminta cuti sehari saja harus dari jauh-jauh hari.

Marsha akhirnya memilih mengguyur badannya terlebih dahulu. Membiarkan air shower yang dingin membasahi tubuhnya. Menenangkan pikirannya, mendinginkan hati yang begitu sepi dan sangat merindukan Melvi. Sebagai seorang istri, dirinya seakan tidak mendapatkan perhatian dari suaminya. Dia juga membutuhkan belaian dan kasih sayang dari suaminya sendiri. Akan tetapi, bersama Melvin, malam-malamnya mau tidak mau harus dijalani sendirian.

Selang setengah jam lebih, ketika Marsha sudah selesai mandi dan bersantai di dalam kamarnya. Terdengar ketukan dari pintu kamarnya.

“Siapa?” teriak Marsha saat itu.

“Aku, Bram,” sahut pria yang tengah mengetuk pintu kamar Marsha.

Marsha pun berjalan gontai dan membuka pintunya sedikit, “Ada apa Bram?” tanyanya.

“Makan malam, Sha … kamu belum makan sejak siang tadi. Sekarang makanlah dulu,” ucap Abraham menyerahkan paper bag yang berisi makan cepat saji ala restoran Jepang untuk Marsha.

“Tidak perlu repot-repot, Bram,” sahut Marsha.

Akan tetapi, tangan Abraham dengan cepat bergerak dan menyerahkan paper bag itu ke tangan Marsha.

“Ini … makanlah. Awas jika tidak dimakan. Esok aku akan kemari dan melihat apakah makanan ini sudah kamu makan apa belum. Jangan pikirkan berat tubuhmu, Marsha. Bagaimana pun kamu sudah cantik dengan berat tubuhmu,” ucap Abraham.

Usai menyerahkan makanan itu, Abraham berlalu pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Sementara Marsha hanya menghela nafas sepenuh dada.

Tidak perlu memperhatikanku, Bram …

Tidak perlu memastikanku makan seperti ini.

Aku hanya tidak ingin terjebak lagi dalam perhatian, Bram …

Terpopuler

Comments

Asnaini Abdullah

Asnaini Abdullah

jgn salahkan marsha y melvin ... ia berusaha menjaga statusnya tp krn kau hanya peduli dg katirmu tanpa memandang istrimu... ntar lagi diembat Bram ...baru tau rasa

2022-08-26

1

Adelia Rahma

Adelia Rahma

perhatian dari suami tidak ada..

perhatian dari mantan akan datang dan selalu datang..
tidak menutup kemungkinan cinta lama belum kelar akhirnya menyatu kembali

2022-08-02

1

Nany Setyarsi

Nany Setyarsi

nah jadi galau kan Marsha,
punya suami masa depan tapi kurang perhatian,
sementara ada mantan masa lalu yg tetap masih care dan perhatian.
sampai takut terjebak perhatiannya

2022-07-31

2

lihat semua
Episodes
1 Semua Terasa Indah
2 Rumah Tangga Tanpa Gairah
3 Menjaga Image
4 Suami Super Sibuk
5 Mantan Terindah
6 Kisah Masa Lalu yang Belum Usai
7 Satu Mobil
8 Perhatian Pria Lain
9 Rasa yang Tertinggal
10 Kunjungan Mertua
11 Kedatangan Melvin
12 Bukan Penyelesaian yang Diinginkan
13 Perasaan Terluka
14 Tak Sengaja Bersua
15 Mendatangi Marsha
16 Tekanan dari Mertua
17 Perhatian Manis dari Melvin
18 Kesempatan Emas
19 Gosip Aktor Berinisial M!
20 Menenangkan Marsha
21 Klarifikasi Melvin
22 Hanya Sekadar Gosip
23 Pantai Parangtritis
24 Forbidden Kiss
25 Menemukan Kembali Kesadaran
26 Percikan Perasaan Terlarang
27 Suami Tak Pulang-Pulang
28 Alibi Andalan
29 Bagaimana Jika Selingkuh?
30 Berawal dari Kopi Berakhir dengan Main Hati
31 Hilangnya Kecanggungan
32 Sikap Kasar Melvin
33 Hilangnya Kasih Mula-Mula
34 Keributan
35 Kedatangan Teman Tiba-Tiba
36 Izin Memanfaatkan
37 Hubungan Settingan
38 Behind The Scenes
39 Main Hati
40 Titik Kenyamanan
41 Mantan Tapi Mesra
42 Mengambil Cuti
43 Membatalkan Janji
44 Bayangan Pria Lain
45 Mengurai Rasa
46 Mencuri Waktu untuk Menelpon
47 Izin Kontak Fisik
48 Menemui Abraham Lagi
49 Sweet Time!
50 Di Ujung Percikan
51 Memberi Jarak
52 Dikunjungi Mertua
53 Berbagai Tekanan
54 Tak Ada Pembelaan dari Suami
55 Menenangkan Diri
56 Adegan Demi Adegan Melvin
57 Tak Bisa Melampaui
58 Kita Akhiri Saja!
59 Pengobat Luka
60 Pelukan Hangat
61 Terpergok Mertua
62 Kian Terpojok
63 Amarah Melvin
64 Pelampiasan Amarah
65 Kepedulian Sang Mantan
66 Pelukan yang Hangat
67 Playing Victim
68 Penghakiman Publik
69 Melayangkan Gugatan
70 Perselingkuhan Seperti Angin
71 Melvin Menerima Surat Gugatan Perceraian
72 Memergoki Sendiri
73 Tekad Semakin Bulat
74 Ajakan untuk Bertemu
75 Kembali Terluka
76 Membalut Setiap Luka
77 Prosedur Visum
78 Persidangan Perceraian Perdana
79 Menolak Mediasi
80 Pizza Kenangan
81 Percik Kekhilafan
82 Kekhilafan Terlarang
83 Tak Sekadar Hasrat
84 Melaporkan Melvin
85 Pengakuan Tak Terduga Sang Aktor
86 Putusan Perceraian
87 Resmi Menjanda
88 Cinta Tanpa Restu
89 Permintaan Kedua Kali
90 Upaya Penahanan
91 Good Bye, Dear!
92 Meminta Penjelasan
93 Kekalutan Abraham
94 Bulan-Bulan yang Berlalu
95 Ke Semarang
96 Suatu Masa di Kota Lumpia
97 Candi Gedong Songo
98 Momen Dramatis
99 Cinta yang Mempertemukan
100 Dia yang Berbeda
101 Mengetahui Fakta Tersembunyi
102 Usaha Mendapat Restu
103 Keputusan Mama Diah
104 Meluluhkan Batu Karang
105 Hati yang Terketuk
106 Prosesi Lamaran
107 LDR Sepekan
108 Telepon Rindu
109 Wedding Day
110 Romansa Pengantin Baru
111 Di Balik Sinar Bulan Purnama
112 Ungkapan Bahagia
113 Hangatnya Mentari Pagi
114 Perasaan yang Membuncah
115 Sisa Bulan Madu
116 Hidup Bersama Mertua
117 Menjejakkan Kaki di Ibukota
118 Membuka Lembaran Baru
119 Pertimbangan Memilih Dokter Kandungan
120 Detak Jantung si Baby
121 Nafkah Lahir
122 Efek Hujan
123 Ledakan Dahsyat
124 Ngidamnya Bumil
125 Kembali Digunjingkan
126 Rasa Kecewa
127 Tertahan karena Deringan Telepon
128 Mengikuti Suami Bekerja
129 Tawaran Kerja Sama
130 Menjemput Rezeki
131 Sedikit Fakta yang Terungkap
132 Cinta Bukan Belenggu
133 Mempersiapkan Kebutuhan si Baby
134 Sang Aktor dari Balik Jeruji Besi
135 Conjugal Visit
136 Pemaksanaan Kehendak
137 Menanti Saatnya Launching
138 Inner Child
139 Momen Emosional
140 Tidak Menyakiti Bukan?
141 Kedatangan Tamu Spesial
142 Mertua Super Perhatian
143 Sayur Bening Buatan Mertua
144 Maternity Shoot
145 Menikmati Sore
146 Martabak Spesial
147 Cerita Masa Kecil Abraham
148 Pelukan Hangat Seorang Istri
149 Tidak Marah tapi Kecewa?
150 Vitamin Booster
151 38 Weeks!
152 Mengabadikan Momen
153 Insecurenya Bumil
154 Curhat dengan Mertua
155 Mendadak Panik
156 Braxton Hicks
157 Berbagai Kecemasan
158 Upaya Si Calon Ibu
159 Menjelang Waktunya
160 Terpaan Badai!
161 Amazing Momen!
162 Welcome Our Princess
163 Perasaan Haru
164 Posisi dan Perlekatan Pertama
165 Daddy's Little Girl
166 Tamu Kejutan
167 Kembali ke Apartemen
168 Malam-Malam Orang Tua Baru
169 Kerja Sama Orang Tua Baru
170 Kabar Baru Sang Aktor
171 Perselisihan Besar
172 Hari Kebebasan
173 Isi Hati Melvin
174 Diskusi Bersama
175 Euforia Kebebasan
176 Berpapasan
177 Hadangan
178 Mencari Properti
179 Perbincangan Dua Pria
180 Waktunya Ngeteh
181 Survei Rumah Baru
182 Keluarga yang Terjalin Bukan dari Hubungan Darah
183 Kenangan Indah Tak Terlupakan
184 Pindah ke Rumah Baru
185 Saat Terbaik
186 Pagi Hari di Rumah Baru
187 Sambutan Keluarga Baru
188 Pertemuan Tak Diinginkan
189 Papa Kandung Abraham
190 Masa Kritis
191 Saudara Tiri
192 Saat Terakhir
193 Semua yang Tuhan Takdirkan
194 Tempat Bersandar
195 Hari yang Ketujuh
196 Terikat Hubungan Darah
197 Ahli Waris?
198 Tempat Pelarian Terbaik
199 Pengalaman Terpahit pun Memberikan Pelajaran
200 Waktu Bersama Mira
201 Waktu Berkualitas
202 Relaksasi Terbaik
203 Kegilaan Melvin Andrian
204 Mendatangi Abraham
205 Pembalikkan Jitu Abraham
206 Keluarga Harta yang Paling Berharga
207 Mama Diah kembali ke Semarang
208 Masih Sedih
209 Formasi Keluarga Kecil
210 Playdate Dua Keluarga
211 MPASI Pertama Baby Mira
212 Pemberitaan Miring
213 Amarah Tak Tertahan
214 Ditolong Orang yang Dulu Disakiti
215 Mengampuni Masa Lalu
216 Perasaan Abraham
217 Pagi yang Lebih Baik
218 Kekacauan di Rumah Melvin
219 Pemberitaan Hangat
220 Liburan Dadakan ke Semarang
221 Tiba di Semarang
222 Merayakan Ulang Tahun Mama
223 Kenangan Waktu Pacaran
224 Farm House
225 Sensasi Tanpa Batas
226 Ditertawain Mama
227 Vonis Melvin Andrian
228 Menenangkan Pikiran
229 Kembali ke Jakarta
230 Membagi Oleh-oleh
231 Promosi Novel: Muara Kasih Ibu Tunggal
232 Lika-Liku Kehidupan
233 Mira's Birthday Party
234 Sayang Adik Mira!
235 Kumpul Bocah
236 Ungkapan Bahagia
237 Kata Pertama
238 Fixed Anak Papa!
239 Dikunjungi Mama Saraswati
240 Rekonsiliasi Dua Wanita
241 Bentuk Hubungan Baru
242 Kabar Baik dari Tetangga
243 Pintu Berkah dari Allah
244 Kembali Pemotretan
245 Bekerja dengan Passion
246 Permintaan Mira
247 Doa dan Ikhtiar
248 Bounding Time
249 Demam Dadakan
250 Tes Rahasia
251 Ulang Tahun Suami Tercinta
252 Surprise Ulang Tahun
253 Membagi Kabar Baik
254 Embrio Si Baby
255 Ngidam Martabak Manis
256 Sabar Menghadapi Ibu Hamil
257 Ngidam Super Aneh
258 Lighting Crocth
259 Menyesal
260 Jauh Jadi Rindu
261 Rekonsiliasi Suami dan Istri
262 Hati ke Hati Papa dan Anak
263 Menebus Kesalahan
264 Malam Berselimut Hujan
265 Misi Berhasil
266 Menemui Mama Kandung Marsha
267 Anak yang Kembali Terluka
268 Pengakuan Seorang Mama
269 Orang Tua yang Terlambat Menyadari
270 Kembali ke Jakarta
271 Jenis Kelamin Si Baby
272 Formasi Lengkap
273 Menelpon Mama Diah
274 Day's Out Dua Keluarga
275 Api Unggun
276 Rencana Jangka Panjang
277 Kenapa Setuju?
278 Jalan-Jalan Pagi
279 Tanda Pengikat
280 Masih Ada Kejutan
281 Teringat Kenangan Lama
282 Papa yang Terhebat
283 Berakhir Pekan
284 Cerita Persalinan Caesar
285 Ungkapan Kerinduan
286 Meledak dan Pecah
287 Profesionalitas Tanpa Batas
288 Maternity Shoot Jilid Dua
289 Mengunjungi Baby E!
290 Senyamannya Istri
291 32 Minggu!
292 Mengikuti Saran Dokter
293 Olahraga Bagi Kesehatan Jiwa
294 Nasi Kuning
295 Playdate dengan Duo E 1
296 Playdate dengan Duo E 2
297 Kedatangan Mama Diah
298 Normal atau Caesar?
299 Welcome Baby Boy!
300 Baby M Junior!
301 Welcome Home
302 Adaptasi untuk Mira
303 Dijenguk Calon Besan
304 Persalinan Selalu Punya Cerita
305 Lingkungan Tumbuh Kembang
306 Meng-ASI-hi dengan Penuh Kasih
307 Fase Growth Spurt
308 Kabar Melvin dari Jeruji Besi
309 Menyampaikan Pesan
310 Permintaan Mama Saraswati
311 Sebatas Persaudaraan
312 Menemui Melvin di Penjara
313 Sepuluh Menit Berarti
314 Deep Talk
315 Bulan Demi Bulan yang Berlalu
316 Pagi dalam Duka
317 Saat Terakhir
318 Promosi Novel: Pembalasan Istri yang Tersakiti 2
319 Promosi Novel Terbaru: Duda Terpaksa Turun Ranjang
Episodes

Updated 319 Episodes

1
Semua Terasa Indah
2
Rumah Tangga Tanpa Gairah
3
Menjaga Image
4
Suami Super Sibuk
5
Mantan Terindah
6
Kisah Masa Lalu yang Belum Usai
7
Satu Mobil
8
Perhatian Pria Lain
9
Rasa yang Tertinggal
10
Kunjungan Mertua
11
Kedatangan Melvin
12
Bukan Penyelesaian yang Diinginkan
13
Perasaan Terluka
14
Tak Sengaja Bersua
15
Mendatangi Marsha
16
Tekanan dari Mertua
17
Perhatian Manis dari Melvin
18
Kesempatan Emas
19
Gosip Aktor Berinisial M!
20
Menenangkan Marsha
21
Klarifikasi Melvin
22
Hanya Sekadar Gosip
23
Pantai Parangtritis
24
Forbidden Kiss
25
Menemukan Kembali Kesadaran
26
Percikan Perasaan Terlarang
27
Suami Tak Pulang-Pulang
28
Alibi Andalan
29
Bagaimana Jika Selingkuh?
30
Berawal dari Kopi Berakhir dengan Main Hati
31
Hilangnya Kecanggungan
32
Sikap Kasar Melvin
33
Hilangnya Kasih Mula-Mula
34
Keributan
35
Kedatangan Teman Tiba-Tiba
36
Izin Memanfaatkan
37
Hubungan Settingan
38
Behind The Scenes
39
Main Hati
40
Titik Kenyamanan
41
Mantan Tapi Mesra
42
Mengambil Cuti
43
Membatalkan Janji
44
Bayangan Pria Lain
45
Mengurai Rasa
46
Mencuri Waktu untuk Menelpon
47
Izin Kontak Fisik
48
Menemui Abraham Lagi
49
Sweet Time!
50
Di Ujung Percikan
51
Memberi Jarak
52
Dikunjungi Mertua
53
Berbagai Tekanan
54
Tak Ada Pembelaan dari Suami
55
Menenangkan Diri
56
Adegan Demi Adegan Melvin
57
Tak Bisa Melampaui
58
Kita Akhiri Saja!
59
Pengobat Luka
60
Pelukan Hangat
61
Terpergok Mertua
62
Kian Terpojok
63
Amarah Melvin
64
Pelampiasan Amarah
65
Kepedulian Sang Mantan
66
Pelukan yang Hangat
67
Playing Victim
68
Penghakiman Publik
69
Melayangkan Gugatan
70
Perselingkuhan Seperti Angin
71
Melvin Menerima Surat Gugatan Perceraian
72
Memergoki Sendiri
73
Tekad Semakin Bulat
74
Ajakan untuk Bertemu
75
Kembali Terluka
76
Membalut Setiap Luka
77
Prosedur Visum
78
Persidangan Perceraian Perdana
79
Menolak Mediasi
80
Pizza Kenangan
81
Percik Kekhilafan
82
Kekhilafan Terlarang
83
Tak Sekadar Hasrat
84
Melaporkan Melvin
85
Pengakuan Tak Terduga Sang Aktor
86
Putusan Perceraian
87
Resmi Menjanda
88
Cinta Tanpa Restu
89
Permintaan Kedua Kali
90
Upaya Penahanan
91
Good Bye, Dear!
92
Meminta Penjelasan
93
Kekalutan Abraham
94
Bulan-Bulan yang Berlalu
95
Ke Semarang
96
Suatu Masa di Kota Lumpia
97
Candi Gedong Songo
98
Momen Dramatis
99
Cinta yang Mempertemukan
100
Dia yang Berbeda
101
Mengetahui Fakta Tersembunyi
102
Usaha Mendapat Restu
103
Keputusan Mama Diah
104
Meluluhkan Batu Karang
105
Hati yang Terketuk
106
Prosesi Lamaran
107
LDR Sepekan
108
Telepon Rindu
109
Wedding Day
110
Romansa Pengantin Baru
111
Di Balik Sinar Bulan Purnama
112
Ungkapan Bahagia
113
Hangatnya Mentari Pagi
114
Perasaan yang Membuncah
115
Sisa Bulan Madu
116
Hidup Bersama Mertua
117
Menjejakkan Kaki di Ibukota
118
Membuka Lembaran Baru
119
Pertimbangan Memilih Dokter Kandungan
120
Detak Jantung si Baby
121
Nafkah Lahir
122
Efek Hujan
123
Ledakan Dahsyat
124
Ngidamnya Bumil
125
Kembali Digunjingkan
126
Rasa Kecewa
127
Tertahan karena Deringan Telepon
128
Mengikuti Suami Bekerja
129
Tawaran Kerja Sama
130
Menjemput Rezeki
131
Sedikit Fakta yang Terungkap
132
Cinta Bukan Belenggu
133
Mempersiapkan Kebutuhan si Baby
134
Sang Aktor dari Balik Jeruji Besi
135
Conjugal Visit
136
Pemaksanaan Kehendak
137
Menanti Saatnya Launching
138
Inner Child
139
Momen Emosional
140
Tidak Menyakiti Bukan?
141
Kedatangan Tamu Spesial
142
Mertua Super Perhatian
143
Sayur Bening Buatan Mertua
144
Maternity Shoot
145
Menikmati Sore
146
Martabak Spesial
147
Cerita Masa Kecil Abraham
148
Pelukan Hangat Seorang Istri
149
Tidak Marah tapi Kecewa?
150
Vitamin Booster
151
38 Weeks!
152
Mengabadikan Momen
153
Insecurenya Bumil
154
Curhat dengan Mertua
155
Mendadak Panik
156
Braxton Hicks
157
Berbagai Kecemasan
158
Upaya Si Calon Ibu
159
Menjelang Waktunya
160
Terpaan Badai!
161
Amazing Momen!
162
Welcome Our Princess
163
Perasaan Haru
164
Posisi dan Perlekatan Pertama
165
Daddy's Little Girl
166
Tamu Kejutan
167
Kembali ke Apartemen
168
Malam-Malam Orang Tua Baru
169
Kerja Sama Orang Tua Baru
170
Kabar Baru Sang Aktor
171
Perselisihan Besar
172
Hari Kebebasan
173
Isi Hati Melvin
174
Diskusi Bersama
175
Euforia Kebebasan
176
Berpapasan
177
Hadangan
178
Mencari Properti
179
Perbincangan Dua Pria
180
Waktunya Ngeteh
181
Survei Rumah Baru
182
Keluarga yang Terjalin Bukan dari Hubungan Darah
183
Kenangan Indah Tak Terlupakan
184
Pindah ke Rumah Baru
185
Saat Terbaik
186
Pagi Hari di Rumah Baru
187
Sambutan Keluarga Baru
188
Pertemuan Tak Diinginkan
189
Papa Kandung Abraham
190
Masa Kritis
191
Saudara Tiri
192
Saat Terakhir
193
Semua yang Tuhan Takdirkan
194
Tempat Bersandar
195
Hari yang Ketujuh
196
Terikat Hubungan Darah
197
Ahli Waris?
198
Tempat Pelarian Terbaik
199
Pengalaman Terpahit pun Memberikan Pelajaran
200
Waktu Bersama Mira
201
Waktu Berkualitas
202
Relaksasi Terbaik
203
Kegilaan Melvin Andrian
204
Mendatangi Abraham
205
Pembalikkan Jitu Abraham
206
Keluarga Harta yang Paling Berharga
207
Mama Diah kembali ke Semarang
208
Masih Sedih
209
Formasi Keluarga Kecil
210
Playdate Dua Keluarga
211
MPASI Pertama Baby Mira
212
Pemberitaan Miring
213
Amarah Tak Tertahan
214
Ditolong Orang yang Dulu Disakiti
215
Mengampuni Masa Lalu
216
Perasaan Abraham
217
Pagi yang Lebih Baik
218
Kekacauan di Rumah Melvin
219
Pemberitaan Hangat
220
Liburan Dadakan ke Semarang
221
Tiba di Semarang
222
Merayakan Ulang Tahun Mama
223
Kenangan Waktu Pacaran
224
Farm House
225
Sensasi Tanpa Batas
226
Ditertawain Mama
227
Vonis Melvin Andrian
228
Menenangkan Pikiran
229
Kembali ke Jakarta
230
Membagi Oleh-oleh
231
Promosi Novel: Muara Kasih Ibu Tunggal
232
Lika-Liku Kehidupan
233
Mira's Birthday Party
234
Sayang Adik Mira!
235
Kumpul Bocah
236
Ungkapan Bahagia
237
Kata Pertama
238
Fixed Anak Papa!
239
Dikunjungi Mama Saraswati
240
Rekonsiliasi Dua Wanita
241
Bentuk Hubungan Baru
242
Kabar Baik dari Tetangga
243
Pintu Berkah dari Allah
244
Kembali Pemotretan
245
Bekerja dengan Passion
246
Permintaan Mira
247
Doa dan Ikhtiar
248
Bounding Time
249
Demam Dadakan
250
Tes Rahasia
251
Ulang Tahun Suami Tercinta
252
Surprise Ulang Tahun
253
Membagi Kabar Baik
254
Embrio Si Baby
255
Ngidam Martabak Manis
256
Sabar Menghadapi Ibu Hamil
257
Ngidam Super Aneh
258
Lighting Crocth
259
Menyesal
260
Jauh Jadi Rindu
261
Rekonsiliasi Suami dan Istri
262
Hati ke Hati Papa dan Anak
263
Menebus Kesalahan
264
Malam Berselimut Hujan
265
Misi Berhasil
266
Menemui Mama Kandung Marsha
267
Anak yang Kembali Terluka
268
Pengakuan Seorang Mama
269
Orang Tua yang Terlambat Menyadari
270
Kembali ke Jakarta
271
Jenis Kelamin Si Baby
272
Formasi Lengkap
273
Menelpon Mama Diah
274
Day's Out Dua Keluarga
275
Api Unggun
276
Rencana Jangka Panjang
277
Kenapa Setuju?
278
Jalan-Jalan Pagi
279
Tanda Pengikat
280
Masih Ada Kejutan
281
Teringat Kenangan Lama
282
Papa yang Terhebat
283
Berakhir Pekan
284
Cerita Persalinan Caesar
285
Ungkapan Kerinduan
286
Meledak dan Pecah
287
Profesionalitas Tanpa Batas
288
Maternity Shoot Jilid Dua
289
Mengunjungi Baby E!
290
Senyamannya Istri
291
32 Minggu!
292
Mengikuti Saran Dokter
293
Olahraga Bagi Kesehatan Jiwa
294
Nasi Kuning
295
Playdate dengan Duo E 1
296
Playdate dengan Duo E 2
297
Kedatangan Mama Diah
298
Normal atau Caesar?
299
Welcome Baby Boy!
300
Baby M Junior!
301
Welcome Home
302
Adaptasi untuk Mira
303
Dijenguk Calon Besan
304
Persalinan Selalu Punya Cerita
305
Lingkungan Tumbuh Kembang
306
Meng-ASI-hi dengan Penuh Kasih
307
Fase Growth Spurt
308
Kabar Melvin dari Jeruji Besi
309
Menyampaikan Pesan
310
Permintaan Mama Saraswati
311
Sebatas Persaudaraan
312
Menemui Melvin di Penjara
313
Sepuluh Menit Berarti
314
Deep Talk
315
Bulan Demi Bulan yang Berlalu
316
Pagi dalam Duka
317
Saat Terakhir
318
Promosi Novel: Pembalasan Istri yang Tersakiti 2
319
Promosi Novel Terbaru: Duda Terpaksa Turun Ranjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!