Menjelang siang, barulah Marsha melakukan cek out. Wanita itu segera turun dari kamarnya di lantai tujuh dan hendak melakukan cek out dan membayar kamar yang dia pakai semalam. Dengan tenang, Marsha menuju ke bagian resepsionis.
“Kak, aku mau cek out dong,” ucap Marsha.
“Kamar 708 ya Kak?” tanya resepsionis tersebut.
“Iya,” sahut Marsha dengan cepat.
Terlihat resepsionis yang mengecek data di sana. Menelpon bagian room servis untuk memastikan kamar tidak ada masalah. Barulah resepsionis tersebut kembali berbicara kepada Marsha.
“Kamar 708 sudah dilunasi oleh Pak Abraham Narawangsa ya Kak … jadi sudah beres,” jelas resepsionis tersebut.
Tentu saja Marsha terperangah mendengar bahwa Abraham yang sudah membayar kamar yang mereka tempati. Mengapa pria bernama Abraham itu begitu sukanya melakukan sesuatu sesuka hatinya sendiri.
“Baik Kak, thanks yah,” pamit Marsha dan berlalu dari hotel tersebut.
Marsha akhirnya keluar dari hotel menuju ke parkiran yang berada di basement guna mengambil mobilnya. Rupanya di depan mobilnya ada Abraham yang berdiri dan seakan menunggunya.
“Marsha,” sapanya sembari melambaikan tangannya kepada Marsha.
“Kenapa Bram? Aku mau ganti biaya kamar hotelku,” ucap Marsha yang sembari mengeluarkan dompetnya dari sling bag. Sebab, Marsha tidak ingin berhutang apa pun kepada orang lain. Terlebih jika orang lain itu adalah Abraham, maka Marsha ingin mengganti sewa kamar hotelnya.
Akan tetapi dengan cepat Abraham menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, Sha … aku ikhlas kok. Makasih ya sudah nolongin aku sampai di sini. Mobilku juga sudah selesai, itu,” ucapnya menunjuk sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari mobil Marsha.
“Eh, tapi Bram ….”
Marsha menyahut, sungguh dia tidak ingin diperlakukan seperti ini.
“Tidak perlu pakai tapi-tapi,” sahut Abraham.
“Ya sudah, aku balik duluan ya Marsha. Hati-hati nyetirnya. Jangan kangen sama aku loh,” goda Abraham dengan tiba-tiba.
Marsha hanya merotasi bola matanya dengan malas mendengarkan gombalan dari mantan kekasihnya itu. Sampai pada akhirnya, Marsha membiarkan Abraham untuk pergi terlebih dahulu. Usai mobil yang dikemudikan Abraham keluar dari parkiran di basement hotel tersebut. Barulah Marsha memasuki mobilnya dan mengemudikan mobilnya perlahan-lahan.
Begitu telah mengendarai mobilnya, rupanya handphone Marsha berbunyi dan kali ini adalah panggilan dari suaminya itu Melvin. Marsha memilih menepi mobilnya di bahu jalan dan menerima telepon dari Melvin.
“Ya halo, Ayang,” sapa Marsha begitu sudah menggeser ikon telepon berwarna hijau di layar handphonenya.
“Jadi kamu pulang hari ini kan Ayang?” tanya Melvin melalui sambungan telepon siang itu.
“Iya … aku sudah di jalan. Kenapa?” tanya Marsha.
“Enggak … kamu ingat kan kalau hari ini Mama dan Papa aku datang dari Bali. Kuharap kamu tidak lupa,” ucap Melvin yang mengingatkan Marsha perihal kedatangan Mama dan Papanya.
“Iya Ayang … aku ingat kok. Makanya ini aku juga buru-buru pulang, supaya cepetan sampai rumah,” balas Marsha.
“Oke deh Ayang … tolong nanti temenin Mama dan Papa dulu yah. Sorry banget, aku tetap pulang jam biasa. Namun, coba deh aku bilang ke Sutradaranya untuk bisa pulang cepet,” balas Melvin di seberang sana.
“Terserah kamu saja, Ayang … kalau bisa pulang agak cepat. Kan sudah lama juga enggak ketemu sama Mama dan Papa,” balas Marsha.
“Iya deh … aku usahain. Semoga saja bisa sekali take dan enggak ngulang-ngulang. Sampai ketemu di rumah nanti yah. I Miss U, Ayang,” balas Melvin dan mematikan panggilan suara itu.
Usai menerima telepon dari Melvin, Marsha kemudian menyimpan kembali handphonenya dan melanjutkan untuk mengemudikan mobilnya. Bukannya dia sungkan kepada mertuanya, hanya saja Marsha ingin Melvin juga menyempatkan waktu untuk menemui Mama dan Papanya. Terlebih sudah beberapa bulan berlalu, Melvin tidak menemui Papa dan Mamanya. Kesibukan syuting stripping yang gila-gilaan membuat Melvin benar-benar terbenam di dalam rutinitas hariannya.
Mencoba fokus dengan mobilnya, hingga tidak terasa Marsha sudah memasuki kota Jakarta. Hanya beberapa belas menit lagi Marsha akan tiba di kediamannya. Tidak lupa, Marsha mampir di sebuah toko kue dan membelikan kue kesukaan Mama dan Papa mertuanya terlebih dahulu.
Kue lapis legit dan juga kue Bolu Mandarin menjadi dua jenis kue yang dibeli Marsha siang itu. Pikirnya dua kue itu memang kesukaan Mama dan Papa mertunya. Cukup menghidangkannya dengan secangkir Teh Manis hangat sudah sangat enak. Selepas membeli kue, Marsha kembali menjalankan mobilnya dan tujuannya sekarang adalah pulang ke rumah. Di depan rumah terlihat ada sebuah Mobil Alphard berwarna putih yang terparkir rapi di halaman rumahnya.
“Mama … Papa, sudah datang?” sapa Marsha yang membuka pintu rumahnya dan melihat Mama dan Papa mertuanya yang sudah duduk di ruang tamu.
“Hmm, iya,” sahut Mama Saraswati yang adalah Mama dari Melvin.
“Kamu dari mana saja Sha?” tanya Mama Saraswati kepada menantunya itu.
“Oh, dari Bogor, Ma … kemarin ada pemotretan di Bogor,” jawab Sara.
“Melvin hari ini syuting?” tanya Papa Wisesa yang adalah Papa dari Melvin.
Terlihat Marsha yang menganggukkan kepalanya, “Iya Pa … Melvin stripping hari ini,” jawabnya.
“Marsha menaruh koper sebentar ya Ma, Pa,” pamitnya yang hendak menaruh koper miliknya ke kamar terlebih dahulu.
Tidak membutuhkan waktu lama, Marsha kembali turun dan menyeduh Teh. Menyajikan Teh Manis hangat dan kue-kue yang dia beli dari toko kue itu, kemudian menyuguhkannya kepada Papa dan Mama mertuanya.
“Silakan dinikmati Ma, Pa,” ucap Marsha yang mempersilakan Papa dan Mama mertuanya itu untuk menikmati hidangan yang dia sajikan.
Terlihat Mama Saraswati mengamati cangkir keramik yang berisi Teh manis itu, kemudian mengambilnya perlahan. Wanita yang masih kelihatan cantik di usia kepala lima itu terlihat anggun memegang cangkir keramik itu, kemudian menyesap teh itu perlahan-lahan. Sementara Papa Wisesa tampak meminum juga teh hangat yang disajikan sendiri oleh Marsha itu.
“Gimana kabar kamu baik, Sha?” kali ini Mama Saraswati yang bertanya kepada menantunya itu.
“Alhamdulillah, baik, Ma,” sahut Marsha sembari menganggukkan kepalanya.
“Syukurlah … kesibukanmu selain pemotretan apa? Melvin sibuk sekali kan?” tanya Mama Saraswati lagi.
“Hanya bekerja saat ada jadwal pemotretan, Ma … selebihnya Marsha di rumah saja,” balas Marsha.
Memang Marsha hanya mengambil pekerja pemotretan. Itu pun tidak setiap hari. Jika tidak ada jadwal pemotretan dari agensinya, Marsha memilih berdiam diri di dalam rumah. Kaum rebahan yang lebih suka menikmati film atau drama korea dengan rebahan di dalam kamar.
“Kapan kalian akan memiliki anak? Pernikahan kalian sudah dua tahun. Mama kira, sudah saatnya kalian memikirkan juga untuk memiliki momongan,” balas Mama Saraswati kini.
Pertanyaan ini seolah menjadi pertanyaan wajib yang selalu ditanyakan Mama Saraswati setiap kali bertemu dengan Marsha. Akan tetapi, Marsha pun tidak bisa memberikan jawaban. Sebab, Marsha sangat tahu dengan kesibukan Melvin yang seakan tidak memiliki waktu istirahat sama sekali.
“Biarkan saja Ma … lagipula Melvin sangat sibuk,” sahut Papa Wisesa kali ini.
“Kalau terlalu santai, nanti justru mereka berdua tidak memprioritas untuk memiliki buah hati dong Pa,” balas Mama Saraswati.
Marsha lantas tersenyum getir dan menundukkan kepalanya, memiliki anak dalam rumah tangga itu adalah rencana bersama. Akan tetapi, di saat seperti ini justru Marsha merasa dirinya yang bersalah karena tak kunjung hamil. Padahal juga dirinya yang tak kunjung hamil juga karena Melvin yang begitu jarang menggumulinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Adelia Rahma
berasa sayur Tampa garam hambar gak ada rasanya begitulah yang di rasakan Marsha..
rumah tangga yang hambar dan sunyi Tampa ada canda tawa dan perhatian dari sang suami
2022-08-02
1
Dinarkasih1205
sakitnya mempertahankan rumah tangga yang sudah hambar
2022-08-02
3
Nany Setyarsi
next thor
2022-08-01
3