Selang beberapa hari pun berlalu, tetapi tidak mengubah keadaan rumah tangga Marsha dan Melvin. Terlebih jadwal syuting stripping yang gila-gilaan, untuk Melvin tiba di rumah dalam keadaan begitu lelah. Sehingga terkadang, tampa menyapa sang istri yang sudah terlebih dahulu terlelap, Melvin memilih langsung tidur.
Sebenarnya Melvin pun merasa dirinya kurang istirahat, kurang relaksasi. Akan tetapi, momen di saat dirinya ada di puncak karier harus dikejar dan dipertahankan. Sebab, kesempatan emas seperti ini tidak akan terulang lagi bukan?
Marsha pun agaknya bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Daripada terus-menerus mengajak Melvin beradu mulut, Marsha memilih diam. Walau pun sebenarnya, diam untuk seorang wanita itu bersifat sangat ambigu. Wanita yang memilih diam dan seolah tidak terjadi apa-apa, justru menyimpan luka yang amat dalam di hatinya.
Menjelang jam 11 siang, Melvin baru saja bangun dari pria itu terlihat bersiap untuk kembali berangkat ke lokasi syuting. Pria itu tampak mengamati istrinya yang kali ini juga sedang berkemas.
“Kamu mau kemana, Yang?” tanya Melvin kepada Marsha siang itu.
Sebab, sudah beberapa menit berlalu dan Marsha tampak menyiapkan clutch make up, beberapa kostum, dan peralatan lain yang dia butuhkan dalam satu koper berukuran sedang.
“Oh, aku hari ini ada pemotretan di Bogor, Yang … malam aku baru pulang,” ucap Marsha kali ini.
Melvin lantas berjalan mendekati ke arah Marsha, “Kenapa baru bilang sekarang? Hmm,” tanya Melvin kepada istrinya itu.
Padahal biasanya, Marsha akan memberitahukan jadwal pemotretannya dua hari sebelumnya. Sementara sekarang tiba-tiba Marsha sudah ingin berangkat menuju ke Bogor untuk pemotretan.
“Iya … baru saja dikasih tahu agensiku, kalau ada pemotretan di Bogor,” balas Marsha.
Melvin perlahan menganggukkan kepalanya, “Baiklah … penting hati-hati ya Ayang. Jangan kecapekan. Kalau ada apa-apa hubungi aku,” ucap Melvin kali ini.
“Iya,” sahut Marsha dengan singkat.
Merasa bahwa semua keperluannya untuk pemotretan telah siap, Marsha kali ini berangkat terlebih dahulu. Tidak lupa dia berpamitan dengan suaminya itu.
“Ya sudah, aku berangkat dulu ya Ayang … bye,” pamitnya sembari keluar dari kamar dengan membawa sebuah koper.
Marsha memilih untuk mengemudikan mobilnya sendiri dari Jakarta menuju ke Bogor. Lagipula, ini bukan akhir pekan jadi arus lalu lintas tidak begitu ramai. Beberapa jam berkendara, akhirnya Marsha telah tiba di lokasi pemotretan.
“Hei, Non … sudah datang?” panggil seorang agensi tempat Marsha bernaung.
Marsha menganggukkan kepalanya, dan mulai berjalan menuju orang bernama Santi yang baru saja memanggil namanya itu.
“Gimana Kak Santi, aku enggak terlambat kan?” tanya Marsha.
“Aman … yuk, sekarang bersiap. Pemotretan kali ini mengambil tema nuansa alam gitu, jadi ada sessi foto indoor dan outdoor. Kita lakukan pemotretan indoor dulu ya, masih panas soalnya. Menjelang sore baru melakukan pemotretan outdoor,” jelas Santi kepada Marsha.
“Oke Kak … siyap. Aku mah ngikut aja,” balas Marsha.
Kemudian ada seorang stylist dan make up artist yang mulai melakukan make over kepada Marsha. Memberikan sentuhan make up di wajah Marsha yang ayu, dan mengenakan kostum untuk pemotretan di dalam ruangan.
“You are so pretty,” ucap sang MUA yang kala tengah melakukan shading dengan mengaplikasikan blush on di tulang pipi Marsha.
Wanita yang kini memejamkan matanya itu, sekilas tersenyum, “Biasa aja Sis,” jawabnya.
“Serius Non … kamu itu cantik. Pantas sih kalau kamu ini istri aktor papan atas,” balas sang MUA lagi.
Marsha lagi-lagi hanya tersenyum, padahal menurutnya tidak ada hubungan antara dirinya yang cantik dan menjadi istri seorang aktor papan atas. Lagipula, dia sudah menikahi Melvin sejak pria itu berada di puncak kariernya.
Tanpa Marsha sadari, ada seorang pria yang dalam diam memperhatikan Marsha yang sedang dimake-up itu. Pria berparas tampan dan berperawakan tinggi itu tengah menyiapkan lensa kameranya. Akan tetapi, pria itu diam-diam mencuri pandangan kepada Marsha.
Hingga akhirnya, Marsha pun telah selesai untuk dimake-up. Wanita itu kemudian berjalan menuju ke tempat pemotretan. Betapa terkejutnya Marsha, saat matanya bersitatap dengan mata yang sudah cukup lama dia kenal. Wanita itu pun terpaku, tidak mengira akan bertemu dengan pria tersebut di sini.
“Ayo Non … fotografernya sudah siap tuh. Malah bengong di situ sih,” panggil Santi kepada Marsha sembari melambaikan tangannya.
Helaan nafas yang berat dihembuskan Marsha begitu saja, lantas Marsha memejamkan matanya sesaat dan mulai berjalan ke tempat yang sudah dipersiapkan sedemikian.
“Kenalan dulu dong … supaya hasil fotonya bagus, harus ada chemistry antara fotografer dengan modelnya kan. Nah, Marsha … ini Abraham, dan Abraham … dia Marsha, kamu pasti tahu kan siapa dia? Seantero negeri ini juga tahu siapa Marsha Valentina,” jelas Santi kepada Abraham dengan kekehan samar di bibirnya.
Marsha memilih diam dan tidak merespons, sementara Abraham tampak memberi anggukan secara kecil. Lantas Santi mulai meninggalkan keduanya. Sepeninggal Santi, Abraham mengambil tablet di tangannya dan dia hendak menjelaskan terlebih dahulu konsep untuk foto kali ini.
“Hei, Sha,” sapa Abraham dengan suara baritonnya yang khas.
Ya Tuhan, hanya sekadar dipanggil namanya saja, Marsha bisa merasakan dan semua memori di masa dulu berputar kembali.
“Konsep pemotretan kali ini seperti ini ya Sha, Lo pelajari dulu saja. Gak akan susah kok. Lagipula, Lo udah berpengalaman, jadi gue yakin sih lo pasti bisa,” ucap Abraham kali ini.
Marsha memfokuskan retina matanya ke tablet yang dipegang oleh Abraham, sementara Abraham justru terkadang memberikan lirikan ke wajah Marsha.
Beberapa saat berlalu, dan Marsha mengamati konsep yang diberikan Abraham itu.
“Gimana lo udah paham?” tanya Abraham.
Marsha merespons dengan memberikan anggukan kecil, “Hmm, iya,” sahutnya singkat.
Abraham tersenyum kecil, flash cahaya segera dinyalakan, dan pria itu segera stand by di balik tripod kameranya.
“Yuk, Sha … kita mulai yah,” instruksi Abraham kali ini.
“Wajah sedikit ke kanan Marsha, pertahankan senyumannya. Yup, oke,” ucap Abraham disertai dengan jepretan kamera.
Beberapa pose sudah berhasil Abraham dapatkan, tetapi ada satu pose yang dirasa masih kurang, Abraham pun berhasil mendekat ke arah Marsha.
“Marsha, sorry,” ucap pria itu.
Tangan Abraham bergerak, menyentuh sisi wajah Marsha, memiringkannya ke sebelah kiri sedikit, memperbaiki bahunya, dan membenarkan sesaat anakan rambut di kening Marsha.
Ya, Tuhan …
Lagi-lagi Marsha tertegun dengan sikap Abraham kali ini.
Usai membenarkan posisi Marsha, nyatanya Abraham justru tersenyum dan memperhatikan Marsha.
“Nice to meet you Marsha … mantan terindahku,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
Sontak Marsha membelalakkan matanya, tidak mengira bahwa Abraham akan mengatakan kebenaran status keduanya di masa lalu.
Ya, Abraham Narawangsa adalah mantan Marsha, tiga tahun yang lalu sebelum Marsha menjalin hubungan dengan Melvin Andrian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Sky Blue
Hahahah😶😶😶🥰
2022-08-13
2
Adelia Rahma
mantan terindah...
kalau udah ketemu dan ingat mantan pasti deh
2022-08-02
1
Gina Savitri
Cewek dan cowok mantan pacar klo saling ketemu bisa2 ada cinta terlarang apalagi hubungan suami atau istri mereka udah mulai hambar tanpa ada kemauan untuk memperbaiki
2022-07-28
1