Kali ini Melvin benar-benar berangkat ke lokasi syuting. Pria itu menuruni kamarnya dengan diantar Marsha sampai ke depan pintu. Mau tidak mau memang Melvin harus berangkat ke lokasi syuting karena sinetronnya sedang kejar tayang. Terlebih semalam dirinya sudah pulang lebih cepat, sehingga Melvin tidak bisa izin lagi.
“Baik-baik ya di rumah,” pesan Melvin kali ini kepada Marsha.
Seolah sedikit pun Melvin tidak mencemaskan keadaan Marsha. Melvin bahkan terlihat tenang begitu keluar dari rumah dan berpamitan dengan Marsha saat itu.
“Iya … kalau senggang, hubungi aku yah.” balas Marsha.
Bukan permintaan yang berlebihan, karena memang terkadang Marsha merasa sepi karena harus seharian penuh di dalam rumah. Terlebih jika memang tidak ada jadwal pemotretan sama sekali, Marsha hanya menghabiskan waktu di dalam rumah. Oleh sebab itu, wanita itu meminta Melvin menghubunginya saat senggang nanti.
“Iya … nanti yah, kalau aku tidak sibuk,” sahut Melvin.
Pria tampan itu segera memasuki mobil Alphard berwarna putih miliknya dan menuju ke lokasi syuting. Di dalam mobilnya, Melvin sudah bersiap dengan naskah yang harus dia hafalkan. Terlebih perjalanan dari rumah menuju ke lokasi syuting membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Sehingga waktu itu bisa dimanfaatkan Melvin untuk menghafalkan dialog bagiannya.
Sehingga di lokasi syuting, Melvin tinggal berganti kostum, dimake-up tipis-tipis, dan segera beraksi di depan kamera. Daripada harus menghafalkan naskah lagi. Waktu yang tersisa bisa Melvin manfaatkan untuk hal lainnya.
Sementara di rumah, Marsha agaknya mulai bisa mengelola emosinya. Wanita itu memilih untuk membantu Bibi Tini memasak untuk makan siang. Sekali pun istri seorang aktor besar, tetapi Marsha tak segan untuk membantu ART-nya memasak. Bahkan terkadang Marsha membantu asisten pribadi suaminya untuk menyiapkan keperluan syuting. Semua itu Marsha lakukan demi kewajibannya sebagai seorang istri yang mengabdi kepada suami.
“Mama dan Papa, makan siang …” ucap Marsha kali ini yang memanggil Mama dan Papa mertuanya untuk bersantap siang terlebih dahulu.
Mama Saraswati dan Papa Wisesa tampak menganggukkan kepalanya dan kemudian menuju ke meja makan. Pasangan paruh baya itu sedikit tersenyum melihat aneka masakan kesukaan mereka yang sudah tersaji di meja makan. Ada Udang Saus Padang, Telor Dadar dengan irisan daun bawang dan cabai, Sup Bayam, dan juga Ikan Fillet Asam Manis.
“Siapa yang masak Sha?” tanya Mama Saraswati.
“Bibi Tini dan Marsha, Ma,” balasnya.
Marsha mengatakan dengan jujur karena memang dirinya turut membantu Bibi Tini untuk memasak semuanya itu. Mengambil hati mertuanya dengan memasak. Siapa tahu bisa membuat Mama Saraswati dan Papa Wisesa bahagia.
“Bagus … walaupun model juga bisa memasak yah,” sahut Mama Saraswati.
Seakan perkataan Mama Saraswati menohok Marsha sekali lagi. Pekerjaannya sebagai model bisa dikatakan hanya pekerjaan sambilan belaka. Lagipula, Marsha memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Oleh sebab itu, Marsha pun tak ragu untuk berjibaku di dapur. Bahkan dini hari, jika terkadang Melvin pulang dan merasa lapar, Marsha sendiri yang menyediakan makan untuk suaminya itu.
Seakan tidak ingin terlibat dengan obrolan yang sengit dengan mertuanya lagi. Marsha hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian mempersilakan Mama dan Papa mertuanya untuk makan siang.
“Ayo, silakan dimakan Ma … Pa, mumpung masih hangat,” ucapnya.
Mama Saraswati kemudian menganggukkan kepalanya dan mulai mengisi piring kosong suaminya terlebih dahulu. Setelahnya barulah Mama Saraswati mengisi piringnya. Sementara Marsha sebagai menantu mempersilakan Mama dan Papa mertuanya untuk mengisi piring mereka. Setelah Mama dan Papa mertuanya sudah puas, barulah Marsha mengisi piringnya sendiri.
Ketiganya pun bersantap siang dan sesekali melemparkan obrolan. Marsha juga berusaha untuk bisa terlibat dalam obrolan dengan Mama Saraswati dan Papa Wisesa. Usai makan siang, Marsha sendiri yang membersihkan meja makan, dan kemudian membantu Bibi Tini untuk mencuci peralatan makan.
“Non Marsha biar Bibi saja yang mencucinya. Non Marsha istirahat saja,” ucap Bibi Tini yang merasa tidak enak karena Nyonya Rumahnya justru membantunya mencuci peralatan makan di dapur.
“Tidak apa-apa, Bi … Bibi kalau mau makan siang dulu boleh loh. Marsha bisa mencuci semua ini sendiri,” ucapnya.
“Eh, jangan Non … Bibi di sini kan bekerja memang untuk mengerjakan semuanya ini,” balas Bi Tini.
“Santai saja sama Marsha, Bi … tidak perlu sungkan,” sahut Marsha.
Usai membersihkan meja makan dan mencuci semua peralatan makan. Barulah Marsha melihat handphonenya, dan kemudian ada kabar bahwa agensinya memintanya untuk bertemu. Untuk itu, Marsha pun bersiap-siap dan berpamitan dengan Mama dan Papa mertuanya terlebih dahulu untuk bertemu dengan pihak agensinya.
Marsha mengemudikan mobilnya sendiri dan menuju ke sebuah kafe yang berada di pusat Ibukota. Kafe yang terkesan classy dan cukup sepi karena mereka yang datang harus reservasi terlebih dahulu. Dengan demikian, Marsha pun merasa tenang dan tidak perlu sembunyi-sembunyi jika ada orang yang mengenalinya sebagai istri Melvin Andrian.
“Kak Nania, gimana Kak?” tanya Marsha kepada pihak agensi model itu.
“Gini Sha … pekan depan kita ada pemotretan lagi di Jogjakarta. Tiga hari di sana. Lo bisa kan?” tanya Kak Nania kepadanya.
“Oh … ke Jogjakarta ya Kak? Coba deh ntar gue pamit dan ngobrol dulu sama Melvin,” balas Marsha.
Memang untuk pekerjaan yang mengharuskannya pergi ke luar kota. Marsha akan mengobrol dan meminta izin kepada Melvin terlebih dahulu. Tidak pernah Marsha mengambil pekerjaan tanpa seizin Melvin.
“Atur deh … palingan juga boleh. Kan suami lo juga kesibukannya selangit,” sahut Nania.
Marsha pun tersenyum, “Emang sih … tetap saja harus izin dulu,” sahutnya.
Saat Marsha tersenyum dan menoleh ke arah kanannya, terlihat seorang pria yang sejak tadi mengamatinya dalam diam. Saat mata bertemu dengan mata, rasanya dada Marsha berdebar dengan begitu mudahnya. Senyuman di wajah wanita itu pun sirna begitu saja dan tergagap menyebut nama pria itu.
“Bram, lo di sini?” ucap Marsha dengan menatap tak percaya dengan kehadiran Bram di kafe itu.
Terlihat Abraham menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Marsha. Sementara Nania juga menoleh dan mengikuti arah pandang Marsha sekarang ini.
“Loh … dia kan si Fotografer? Kebetulan … nanti kita ke Jogjakarta pake dia. Hasil foto-fotonya bagus banget dan seakan hasil jepretannya berbicara gitu,” sahut Nania. Kabar yang mengejutkan karena agensi dari Marsha akan menggunakan Abraham lagi sebagai fotografer untuk pemotretan di Jogjakarta nanti.
Mendengar bahwa Abraham yang akan menjadi fotografer dan turut ke Jogjakarta pekan depan sontak saja membuat Marsha kesusahan untuk meneguk salivanya sendiri. Inginnya tidak berhubungan lagi dengan Abraham. Akan tetapi, justru dirinya harus terlibat dalam pekerjaan dengan Abraham lagi dan lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Adelia Rahma
itu tandanya kamu berjodoh dengan Abraham sha
2022-08-05
1
Dinarkasih1205
pepet terus bram ,, wk ,, wk 😀😀 waduuh kenapa aku jadi gini kok ngedukung perselingkuhan
2022-08-04
3