“Aku tadi melihatmu diantar oleh suaminya,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
Sontak saja Marsha membolakan kedua matanya. Mungkinkah saat itu, Abraham melihat Melvin yang sedang memeluknya tadi.
“Hmm, iya,” sahut Marsha dengan asal.
"Kamu bahagia bersamanya?" tanya Abraham kemudian.
Akan tetapi, kali ini Marsha hanya diam. Seakan tak bisa sama sekali menjawab pertanyaan Abraham saat itu. Lagi pula bukan ranah pria itu untuk mengatakan bahwa dirinya bahagia atau tidak. Satu yang pasti bahwa bagaimana pun pernikahannya, Marsha akan menjalaninya.
Sampai pada akhirnya awak kabin memberikan pengumuman bahwa pesawat akan segera lepas landas. Untuk itu, seluruh penumpang diminta untuk menegakkan sandaran dan mengenakan sabuk pengaman. Tampak Marsha yang mengenakan sabuk pengamannya dan kemudian membuang mukanya ke arah jendela. Sungguh, Marsha berupaya untuk tidak terlibat obrolan dengan Abraham.
"Aku ingat dulu, setiap kali pesawat lepas landas kamu akan ketakutan. Saat kita liburan ke Bali dulu," ucap Abraham dengan tiba-tiba.
Pria yang kini duduk di samping Marsha itu seakan tak henti-hentinya mengingatkan memori mereka berdua. Kenangan saat mereka masih berpacaran dulu.
"Itu semua hanya masa lalu, Bram," sahut Marsha.
Seolah berkali-kali Marsha menekankan bahwa semua hanyalah masa lalu. Hingga perlahan-lahan, Pilot mulai menjalankan pesawat tersebut. Roda-roda pesawat perlahan berjalan, dari kecepatan sedang sampai dengan kecepatan yang begitu cepat. Badan pesawat juga perlahan-lahan mulai terangkat di udara seiring dengan tekanan udara di dalam pesawat yang berubah.
Tampak Marsha yang memejamkan matanya. Sebenarnya posisi ketika pesawat terbang akan lepas landas seperti ini membuat Marsha takut. Sehingga Marsha memilih memejamkan matanya.
Abraham menyadari bahwa Marsha tengah ketakutan. Tanpa permisi, tangan Abraham bergerak dan menggenggam tangan Marsha. Menautkan jari-jemarinya di sana dan memberi remasan di tangan Marsha.
"Jangan takut, ada aku," ucap Abraham kemudian.
Kedua mata Marsha yang semula terpejam mulai perlahan mulai terbuka. Wanita itu tampak menoleh ke arah Abraham.
"Lepaskan Bram," pinta Marsha kepada Abraham untuk melepaskan tangannya.
Akan tetapi, Abraham tampak menggeleng perlahan, "Nanti … saat pesawat sudah stabil di udara," balas Abraham.
Sebab bagi Abraham bisa berdekatan dan menggenggam tangan Marsha seperti ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dia sia-siakan. Kapan lagi Abraham akan memiliki kesempatan untuk menggenggam tangan Marsha yang ukurannya lebih kecil dibandingkan tangannya dan permukaan kulit tangan Marsha begitu lembut dan halus.
Marsha menghela nafas yang terasa berat, wanita itu menunduk dan melihat bagaimana sekarang tangannya dan tangan Abraham saling bertaut.
Di dalam hatinya, Marsha merasa bahwa semua ini tidak benar. Hanya saja dirinya memang ketakutan sekarang ini. Untuk itu, Marsha akan membiarkan tangan Abraham menggenggamnya. Begitu pesawat sudah stabil di udara, barulah Marsha akan melepaskan genggaman tangan itu.
Di bawah lautan biru, di atas terlihat gumpalan awan putih. Sementara di dalam pesawat itu ada Abraham yang terlihat nyaman menggenggam tangan Marsha. Pria itu seolah menegaskan bahwa dirinya benar-benar peduli dengan Marsha.
"Sudah Bram, pesawat sudah stabil di udara," ucap Marsha.
Tentu saja Marsha mengatakannya karena memang pemberitaan bahwa sabuk pengaman sudah bisa dilepas. Untuk itu, Marsha berusaha mengurai genggaman tangan Abraham di tangannya.
Pria itu mengangguk pias dan kemudian melepas genggaman tangan Marsha.
"Kapan pun kamu membutuhkan tanganku, kamu bisa langsung menggenggamnya," ucap Abraham.
Apa yang diucapkan Abraham barulah seakan mengingatkan Marsha dengan peristiwa tiga tahun yang lalu.
***
Tiga tahun yang lalu ….
Dalam penerbangan dari Jakarta menuju Denpasar saat liburan kuliah tiga tahun yang lalu. Tampak Abraham dan Marsha yang liburan ke Bali bersama beberapa temannya. Saat itu Marsha yang masih menjadi pacar Abraham tentunya di dalam pesawat duduk di samping pacarnya itu,
“Takut?” tanya Abraham saat pesawat hendak lepas landas.
“Enggak begitu sih … kalau pun takut cuma waktu take off saja,” sahut Marsha.
“Gak perlu takut. Kamu punya aku … kapanpun kamu membutuhkan tanganku, kamu bisa langsung menggenggamnya,” ucap Abraham dengan sungguh-sungguh kepada Marsha.
Sehingga saat itu, ketika pesawat mulai lepas landas refleks, Marsha menggenggam tangan Abraham dengan begitu kuatnya. Bahkan gadis itu tampak beberapa kali memejamkan matanya karena begitu takut dengan pesawat yang melaju dengan begitu kencang, hingga akhirnya badan pesawat mulai terangkat perlahan-lahan ke udara.
“Hold my hand,” ucap Abraham yang seakan mengeratkan genggaman tangannya di tangan Marsha. Membuat wanita itu perlahan membuka matanya dan tersenyum ke arah Abraham.
“Thanks Bram,” jawab Marsha.
“No problem, bahkan dua jam penerbangan dari Jakarta ke Bali, kamu bisa menggenggamnya,” ucap Abraham dengan begitu santainya.
Merasa mendapatkan lampu hijau dari Abraham, Marsha pun tidak ragu untuk menggenggam tangan kekasihnya itu. Genggaman tangan yang erat dan hangat. Tangan yang seakan bisa terus dia pegang hingga dirinya tidak lagi merasa ketakutan.
***
Kini …
Membayangkan semua yang terjadi di masa lalu dan juga perkataan Abraham yang sama persis dengan masa lalu. Membuat Marsha merasakan sesuatu yang berdesir di dalam hatinya. Secara refleks, Marsha pun melepaskan genggaman tangan Abraham yang masih bertaut di tangannya.
“Kenapa dilepas?” tanya Abraham dengan tiba-tiba.
Tampak Marsha menggelengkan kepalanya secara samar, dan tersenyum menatap Abraham, “Tidak layak kita melakukannya. Aku wanita yang sudah bersuami,” balas Marsha kemudian.
Setidaknya Marsha ingin mengungkapkan kepada Abraham bahwa statusnya kini adalah seorang wanita yang sudah bersuami. Sangat tidak layak untuknya menggenggam tangan pria lain yang bukan siapa-siapanya.
“Aku tahu kamu sudah bersuami … hanya saja, tidak masalah jikalau kamu terus menggenggam tanganku. Aku tidak keberatan,” sahut Abraham pada Marsha.
Hingga akhirnya, pesawat pun terus terbang di angkasa. Membelah gumpalan awan berwarna putih. Di bawah terlihat pulau-pulau Indonesia yang tampak mengapung di lautan, hingga terdengar suara pemberitahuan bahwa pesawat akan segera mendarat di Yogyakarta Internasional Airport. Tidak terasa sudah dua jam berlalu, dan kini mereka akan segera tiba di Jogjakarta dan memulai pemotretan untuk tiga hari dua malam di kota Gudeg itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Adelia Rahma
sampai dimari rasanya Thor sayang 🤭🤭
2022-08-05
2
Nany Setyarsi
memang ya hal" yg terlarang itu terasa menyenangkan dan mendebarkan,penuh tantangan.
padahal jelas banget gak akan dibenarkan
2022-08-05
3