“Nice to meet you, Marsha … mantan terindahku,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
Marsha yang sedari tadi menunduk dan menghindari kontak mata dengan Abraham, kini pun menatap wajah pria itu dengan kedua mata yang membelalak sempurna. Sungguh dia tidak mengira bahwa Abraham akan mengucapkan hal tersebut secara frontal.
“Diam kamu, Bram … tidak ada apa-apa lagi di antara kita,” sahut Marsha.
Akan tetapi, Abraham pria yang terbiasa dipanggil Bram itu pun tersenyum sinis menatap wajah Marsha.
“Kamu yakin tidak ada apa-apa lagi di antara kita? Padahal kalau kamu inget, kita belum sepenuhnya putus,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
Seorang terperangah, Marsha tampak mengingat-ingat kembali masa lalunya bersama dengan Abraham. Seingatnya mereka telah memutuskan hubungan mereka dengan baik-baik. Akan tetapi, mengapa kini Abraham justru mengatakan bahwa mereka berdua belum sepenuhnya putus.
“Maksud kamu apa?” tanya Marsha kepada Abraham.
“Saat kamu meminta putus, aku belum memberi jawaban Marsha. Tentu kamu ingat itu. Putus itu jika dua pihak saling sepakat dan setuju dengan keputusan yang mereka ambil, sementara di kasus kita berdua, aku belum memberikan jawaban sama sekali,” ucap Abraham dengan menatap Marsha.
***
Tiga tahun yang lalu …
Di sebuah taman yang berada di tengah-tengah universitas, dengan sebuah kolam yang menghiasi taman itu, terdapat pasangan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang terlibat pembicaraan serius. Taman yang sepi, teduh, dan lengang itu menjadi tempat yang dipilih oleh keduanya untuk menyelesaikan masalah serius yang sedang mereka hadapi sekarang ini.
“Bram, kelihatannya kita sudah banyak tak sepaham. Tujuan kita berpacaran tidak seperti ini Bram … mengingat semuanya yang sudah melenceng jauh, lebih baik kita putus,” ucap Marsha yang kala itu masih menjadi kekasih Abraham saat duduk di bangku kuliah.
Abraham, pemuda tampan yang sedang duduk dengan pandangan lurus menatap kolam air di depannya pun perlahan melirik ke arah Marsha.
“Maksud apa Marsha? Kamu ingin kita putus?” tanya Abraham.
Sungguh, Abraham sendiri tidak menyangka bahwa Marsha akan meminta putus darinya. Padahal menurut Abraham, hubungan mereka baik-baik saja … justru terbilang mereka sedang romantis-romantisnya. Pria yang saat itu mengenakan kemeja kotak-kotak itu perlahan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa kamu ingin putus, Sha? Padahal kita baik-baik saja selama ini. Aku juga tidak pernah mengecewakan dan selalu bantuin kamu,” ucap Abraham lagi kali ini.
“Aku cuma ingin kita putus,” ucap Marsha kali ini. Air mata wanita itu berlinangan hingga membasahi keduanya pipinya.
Melihat Marsha yang menangis, Abraham pun beringsut dan duduk menghadap Marsha. Jari-jemari pria itu bergerak dan menyeka air mata Marsha di pipinya.
“Kamu kenapa menangis? Apa yang membuatmu seperti ini?” tanya Abraham dengan begitu lembut kepada Marsha.
Kemarin Mamamu datang menemuiku. Mamamu tidak mengizinkan aku untuk berpacaran dengan anaknya. Kata Mamamu, berpacaran hanya akan membuat nilaimu semakin hancur. IPK mu akan turun. Jadi, lebih baik kita berpisah, Bram …
Walau aku masih mencintaimu, tetapi untuk apa berdiri di atas sebuah hubungan yang jelas-jelas telah ditolak oleh orang tuamu sendiri. Biarkan aku yang mengalah, Bram. Kuliahlah yang rajin sampai kamu lulus dan diwisuda.
Sayangnya semua ucapan itu hanya ada di dalam hati Marsha, tanpa pernah terucap sama sekali kepada Abraham. Wanita itu hanya terisak dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya terlampau sakit sekarang ini. Bukannya dia meminta putus karena sudah tak cinta, tetapi Mama Abraham yang datang menemuinya dan memintanya untuk menjauhi Abraham sudah menjadi bukti yang kuat bahwa Marsha harus melepaskan Abraham.
“Tidak ada alasan apa pun, Bram … aa … aku akan pindah ke Jakarta. Aku akan meninggalkan kota Semarang ini dan aku akan pergi ke Jakarta,” balas Marsha pada akhirnya.
“Kenapa kamu akan pindah ke Jakarta tanpa memberitahu kepadaku terlebih dahulu, Sha?” tanya Abraham.
Sungguh Abraham merasa kecewa dengan Marsha, sebagai seorang pacar, nyatanya Marsha tidak pernah memberitahunya terkait keputusannya pindah ke Jakarta. Baru kali ini, Marsha membuka mulutnya dan mengatakan hendak pindah ke Jakarta. Sebelumnya, tidak pernah sama sekali Marsha menyebut-nyebut kota Jakarta.
“Mama dan Papaku akan pindah ke sana, Bram … jadi, aku akan mengikuti mereka,” balas Marsha.
“Kuliahmu?” tanya Abraham lagi.
“Aku akan transfer ke universitas di Jakarta,” sahut Marsha dengan cepat.
“Lalu, aku?” tanya Abraham.
“Kita putus, Bram,” balas Marsha.
Agaknya putus memang adalah sebuah keputusan final yang ingin diambil Marsha sekarang ini. Sebab, dia tidak ingin menjalin hubungan yang tidak ada restu dari Mamanya Abraham. Lebih baik, dirinya yang pergi dan biarkan Abraham menjadi sosok anak yang baik dan berbakti kepada Mamanya.
Usai mengatakan semua itu, Marsha pun berdiri. Gadis itu lantas berlari dan meninggalkan Abraham begitu saja di taman itu.
***
Kini …
“Sudah ingat dengan semuanya kan?” tanya Abraham.
Ya Tuhan, barulah Marsha ingat. Jadi, semua kenangan itulah yang membuat Abraham menganggap bahwa putusnya hubungan mereka berjalan sepihak. Hanya Marsha saja yang menganggap bahwa hubungan keduanya telah putus. Akan tetapi, tidak dengan Abraham. Sebab, bagi Abraham keputusan tiga tahun lalu adalah murni keputusan Marsha.
Abraham lantas menyerahkan ponselnya kepada Marsha, “Berikan nomormu, Marsha … mungkin kita bukan lagi sepasang kekasih seperti dulu. Akan tetapi, kita bisa menjadi teman dan rekan kerja mungkin,” ucap Abraham.
Ragu itulah yang dirasakan Marsha kali itu. Bahkan tangan Marsha enggan terulur untuk menerima ponsel dari Abraham.
“Ayo, Sha … berikan nomormu. Jika aku membutuhkan seorang model, aku rasa aku bisa menghubungimu,” balas Abraham lagi.
Dengan berat hati, Marsha pun menerima ponsel Abraham dan segera memberikan nomor handphonenya kepada pria itu.
“Nomor yang cantik … secantik kamu, Sha,” balas Abraham dengan tersenyum melihat nomor Marsha yang tertera di layar handphonenya itu.
Sementara Marsha memilih diam, dan tidak merespons ucapan Abraham sama sekali. Marsha memilih meninggalkan ruangan pemotretan dan bersiap untuk melakukan pemotretan outdoor yang akan dilakukan sore ini.
Kini Marsha dan Abraham pun bersiap untuk melakukan pemotretan secara outdoor, pria itu tak mengarahkan beberapa gaya kepada Marsha.
“Miring ke kanan sedikit, Marsha … ya, pertahankan posisi itu. Kamu menawan dari sisi kanan,” ucap Abraham sore itu.
Marsha membelalak, dia tidak mengira bahwa Abraham akan mengatakan demikian.
Mencoba fokus dan tidak terpengaruh dengan ucapan Abraham, Marsha memilih melanjutkan pose dan Abraham pun tetap memotret Marsha dengan kamera miliknya.
“Oke … thanks, Sha … makasih buat hari ini. Aku akan mengirimkan hasil foto-fotonya nanti kepadamu juga. Kalau ada telepon atau pesan dariku, terima ya Sha,” ucap Abraham kali ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Uthie
cerita yg menarik dari semua chemistry para pemainnya 👍🤗
2022-10-24
0
Adelia Rahma
awalnya pekerjaan akhirnya percintaan yang belum usai
2022-08-02
1
Nany Setyarsi
awalnya gini ya,
ntar lama" makin akrab dan saling membutuhkan. Krn kondisi Marsha yg lag gak baik sama suami nya
2022-07-29
1