Usai membersihkan sisa-sisa percintaannya dengan Melvin. Marsha pun terbaring dengan memunggungi Melvin. Wanita itu kini justru bermata sembab setelah beberapa saat lamanya menangis di dalam kamar mandi. Sekalipun dirinya ingin mendapatkan sentuhan dari Melvin, tetapi bukan sentuhan seperti ini yang Marsha harapkan.
Sebab bagi seorang wanita, penyatuan yang berupa hubungan intim bukan sekadar membakar gairah yang saling sulut-menyulut. Akan tetapi, juga tindakan yang lembut dan penuh perasaan. Sementara tadi Melvin menyentuhnya dengan nafas yang memburu. Seolah tidak mempedulikan kenyamanan dan perasaan Marsha.
Dengan memunggungi Melvin, Marsha pun berbaring. Menetralkan sendiri perasaannya yang begitu bergemuruh dan juga mengatupkan erat kedua pahanya karena Marsha merasa sakit di inti tubuhnya. Mungkin saja karena gesekan yang keras dan tidak menunggu dirinya siap. Hingga inti tubuhnya merasa sakit dan perih rasanya.
Sementara Melvin tertidur dengan begitu lelapnya. Bahkan pria itu sampai mengorok setelah mendapatkan vitamin tentunya. Akan tetapi, Marsha justru meringkuk kecil di pembaringannya. Menyimpan rasa sakit dan perih yang dia alami sendirian.
Sampai akhirnya, Marsha benar-benar bisa terlelap. Wanita itu begitu kecapekan dan terluka hingga tertidur dengan berlinangan air mata.
Begitu pagi hari, Marsha yang kecapekan akhirnya bangun agak siang. Biasanya Marsha memang bangun pagi. Akan tetapi, karena semalaman dirinya banyak pikiran dan inti tubuhnya yang terasa begitu sakit sehingga Marsha membutuhkan waktu untuk bisa tertidur. Menjelang jam 07.00 pagi barulah Marsha turun dari kamarnya.
“Matahari sudah menyingsing tinggi, tetapi di sini seorang Istri baru saja bangun,” cibir Mama Saraswati yang melihat Marsha turun dari anak tangga.
Terlebih ucapan Mama Saraswati cukup keras, sehingga tentu saja Marsha bisa mendengarkannya. Marsha hanya menundukkan wajahnya saat Mama mertuanya mencibirnya demikian. Semalam sudah membuatnya menangis, pagi ini agaknya Marsha harus menelan rasa sakit karena cibiran dari mertuanya itu.
“Pagi Ma,” sapa Marsha begitu mendekat ke arah meja makan.
“Hmm, iya … seharusnya seorang Istri bangun paling pagi di rumah. Suamimu pagi-pagi sudah bangun dan jogging, tetapi Istrinya jam segini baru bangun.”
Kali ini Mama Saraswati mengatakan dengan terang-terangan kepada Marsha. Pagi tadi memang Melvin sudah bangun terlebih dahulu. Pria itu terlihat jogging di pagi hari. Sementara Marsha memang mengakui bahwa dirinya kali ini bangun kesiangan.
“Maaf Ma … semalam Marsha tidak bisa tidur,” balas Marsha dengan jujur.
Bukannya Marsha ingin membela diri, tetapi memang pada kenyataannya usai menikmati malam panas dengan Melvin nyatanya Marsha justru tidak bisa tidur. Hatinya sakit, inti tubuhnya juga merasa begitu perih di bawah sana. Akan tetapi, tidak mungkin juga Marsha akan mengatakan bahwa semalam dirinya berhubungan suami istri dengan Melvin yang membuatnya tidak bisa tidur.
“Ya sudah … lain kali itu bangun lebih pagi. Melvin sudah bangun dan olahraga, Istrinya justru masih bergelung di bawah selimut,” sahut Mama Saraswati.
Sampai pada akhirnya, Melvin telah datang usai jogging. Pria itu mengenakan kaos olahraga dengan celana training, Badannya berkeringat, hingga rambutnya setengah basah. Melvin merasa ada ketegangan di meja makan sekarang ini.
“Pagi Ma … pagi Ayang,” sapanya kepada Mamanya dan Marsha.
“Ini loh Melvin … Mama mengingatkan Marsha supaya Istrimu ini supaya bangun lebih pagi,” ucap Mama Saraswati yang terlihat mengadu pada Melvin.
Terlihat Melvin yang menghela nafas dan melirik sekilas ke arah Marsha, “Tidak apa-apa Ma … Marsha kan juga butuh istirahat,” balas Melvin.
“Secapek apa pun, seorang Istri itu harus bangun lebih dahulu. Apalagi nanti kalau sudah punya anak. Harus bangun lebih pagi lagi. Sekarang belum punya anak saja bangunnya siang. Gimana nanti kalau sudah punya anak,” sahut Mama Saraswati.
Ya Tuhan, disudutkan seperti ini membuat hati Marsha kian terluka rasanya. Membela diri pun sia-sia karena Mama mertuanya sudah menghakimi dirinya yang bersalah karena bangun kesiangan.
Seolah gerah dengan Marsha, Mama Saraswati meninggalkan meja makan begitu saja dan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Marsha yang tertuduh dan bersalah hanya menundukkan kepalanya.
Perlahan Melvin pun mendekat dan berjalan ke arahnya, “Tidak perlu dimasukkan dalam hati. Aku tahu kamu pasti kecapekan,” ucap Melvin yang berusaha menenangkan Marsha.
Dengan dada yang bergemuruh, Marsha memilih diam dan tidak merespons ucapan Melvin. Sampai pada akhirnya, Melvin pun mengambil duduk di samping Marsha.
“Kamu pasti sebal kan?” tanya Melvin kemudian.
Perlahan Marsha mengangkat wajahnya guna menatap wajah suaminya itu, “Emang aku yang salah di sini kok. Aku bangun kesiangan juga karena aku punya alasan sendiri. Akan tetapi, yang bersalah tetap aku,” jawab Marsha dengan lirih kali ini.
Usai mengatakan semuanya itu Marsha beranjak. Wanita itu memilih masuk ke dalam kamarnya. Hati dan perasaannya terlampau sakit. Hanya perkara bangun kesiangan saja, dirinya harus menerima cibiran pedas dari mertuanya.
Melvin pun turut berdiri dan mengekori Marsha sampai ke dalam kamarnya. Pria itu kini menatap Marsha dengan begitu lekatnya.
“Tidak perlu dimasukkan hati. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Mama. Yang pasti kamu minta maaf saja,” balas Melvin.
Seakan ucapan Melvin, pria itu memintanya hanya meminta maaf. Padahal tadi Marsha juga sudah meminta maaf. Akan tetapi terlihat Mama Saraswati yang mengadukan dirinya kepada Melvin. Itu sangat membuatnya kian tertuduh rasanya.
Melihat Marsha yang diam dan seakan mengambek pagi itu. Melvin kemudian menyeka keringat di wajahnya dengan menggunakan handuk kecil, kemudian melirik ke arah Marsha.
“Ya sudah … aku akan siap-siap untuk berangkat syuting. Kamu baik-baik ya di rumah sama Mama dan Papa. Lagian besok Mama dan Papa sudah kembali kan ke Bali. Sabar satu hari ini saja,” pinta Melvin kali ini kepada Marsha.
Sebab, menurut Melvin memang sebagai anak dan menantu, Marsha harus memaklumi Mama dan Papanya. Lagipula, esok Mama dan Papa akan kembali ke Denpasar, Bali. Sehingga Melvin meminta kepada Marsha untuk bersabar terlebih dahulu selama satu hari ini.
Usai mengatakan itu, Melvin kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dan bersiap untuk berangkat ke lokasi syuting. Melvin percaya bahwa semarah dan sengambek apa pun Marsha, istrinya itu adalah wanita yang lembut dan baik hati. Melvin percaya bahwa Marsha bisa mengelola hati dan perasaannya sepanjang hari ini.
Sementara dari sudut pandang Marsha, Melvin lagi-lagi hanya meninggalkannya dan tidak berusaha untuk menyelesaikan masalah. Dia ingin Melvin bisa menenangkannya. Melihat dengan sudut pandang yang benar. Akan tetapi, suaminya itu justru memilih bersiap dan berangkat ke lokasi syuting. Sekali lagi, Marsha merasa bahwa dirinya bukan prioritas bagi Melvin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Adelia Rahma
awas vin..
istri mu akan mendapatkan perhatian lebih dari sang mantan..
karena dari kamu dia sudah tidak mendapatkan nya lagi..
jadi bersiap siap lah kamu akan sakit hati karena istri mu lebih nyaman curhat dengan sang mantan nantinya
2022-08-03
2
Nany Setyarsi
kalo di posisi Marsha,ya seperti itu memang rasanya. gk enak bgt,udah gknads yg benar dihadapan mertua tanpa tahu sebabnya. dan sikap suami yg gk peka sama istri.
komplit deh sakit nya.
harus tambah sabar LG ya Marsha.
tp gk bisa dibiarin lama",kalo kondisinya gini terus benar" gk sehat rumah tangga kalian
2022-08-03
2
Dinarkasih1205
dari rasa tidak nyaman jadi cari pelampiasan di luar rumah
2022-08-03
2