“Bram, lo di sini?” tanya Marsha yang seakan tidak percaya bisa melihat Abraham di kafe tersebut.
Tampak Abraham menganggukkan kepalanya secara samar dan pria itu kini berjalan ke arah Marsha.
“Hai, Sha … iya, gue di sini,” sahut Abraham.
“Wah, kebetulan sekali lo di sini. Pekan depan, ke Jogjakarta yah … kita akan ada pemotretan di Jogjakarta,” ucap Nania.
“Oke … atur aja,” sahut Abraham.
Saat Abraham dan Nania terlihat obrolan tentang pekerjaan di Jogjakarta pekan depan. Marsha tampak diam dan seakan tidak ingin terlibat dalam obrolan tersebut. Sampai pada akhirnya, Nania kembali mengajak Marsha berbicara.
“Jangan lupa izin sama suami dulu ya Marsha … supaya enak. Tiga hari saja kok,” ucap Nania.
Terlihat Marsha menganggukkan kepalanya secara samar, “Oke … nanti coba gue obrolin sama Melvin dulu,” balasnya.
Begitu mendengar nama Melvin, justru terlihat Abraham yang mengalihkan pandangannya dari Marsha. Kini pria itu tampak sibuk dengan handphone di tangannya.
“Ya sudah, gue duluan ya Non … ditunggu pekan depan,” pamit Nania kepada Marsha.
“Duluan ya Bram … pekan depan yah. Harus bisa,” ucap Nania kali ini kepada Abraham.
“Oke siyap,” sahut Bram sembari menganggukkan kepalanya menatap Nania.
Sepeninggal Nania, di kafe itu hanya menyisakan Marsha dan juga Abraham. Lagi-lagi suasana begitu canggung. Rasanya Marsha juga ingin pergi dari kafe itu, tetapi berlama-lama di rumah sementara masih ada mertuanya juga pasti membuatnya menerima cibiran dari Mama Saraswati. Untuk itu, Marsha memilih untuk berdiam di kafe sembari menunggu waktu agak sore barulah dia akan pulang ke rumah.
“Pekan depan bisa kan?” tanya Abraham tiba-tiba kepada Marsha.
“Gue pamit dulu sama suami,” sahut Marsha.
Bukan bermaksud mendahului, tetapi memang Marsha akan pamit dan mengobrol terlebih dahulu dengan Melvin. Walaupun Melvin pasti memberikan izin kepadanya. Hanya saja, Marsha memberikan jawaban seperti itu.
Kemudian tampak Abraham yang mengamati wajah Marsha. Entah, seolah Abraham menangkap raut wajah yang berkabut duka di wajah Marsha sekarang ini. Sorot mata yang seolah redup dan kantong mata yang agak hitam. Membuat Abraham bertanya kepada Marsha.
“Kamu baik-baik saja kan Sha? Tidak ada masalah yang terjadi kan?” tanya Abraham.
Marsha justru tersenyum hambar dan menatap pria yang kini duduk di hadapannya itu, “Enggaklah … gue baik-baik saja,” sahut Marsha.
Wanita memang paling pintar menyembunyikan perasaannya dan apa yang dia alami. Termasuk Marsha yang kali ini harus menyembunyikan permasalahannya. Terlebih jika itu yang bertanya adalah Abraham, maka Marsha harus menyembunyikan semuanya dari Abraham.
“Kenapa aku merasa keadaan kamu sedang tidak baik-baik saja yah,” ucap Abraham kini.
Bukan karena Abraham sudah mengenal Marsha sejak lama. Hanya saja, di mata Abraham sekarang ini terlihat Marsha yang menyimpan sesuatu. Wajah yang terlihat sembab dengan kantong mata di sana.
“Jangan terlalu percaya diri. Yang tahu hidup gue tentu gue sendiri,” sarkas Marsha kali ini.
“Ya, aku tahu … hanya saja tidak biasanya mata kamu berkantong seperti itu. Kamu semalam begadang?” tanya Abraham dengan tiba-tiba.
Jari telunjuk pria itu nyaris menyentuh kantung mata di wajah Marsha. Akan tetapi, Marsha segera menghindar dan tidak membiarkan jari telunjuk Abraham mengenai wajahnya.
Melihat Marsha yang menghindarinya, Abraham justru tersenyum. Kini pria itu justru terlihat menggelengkan kepalanya secara samar.
“Kamu menghindar,” ucap Abraham kali ini.
Sudah jelas Marsha akan menghindar. Lagipula, dia hanya tidak ingin terlibat dengan kontak fisik dengan Abraham. Bagi Marsha, semua tentang Abraham hanyalah masa lalu.
“Asal kamu tahu Marsha … kalau kamu mau berbagi masalahmu. Mau cerita ke aku, aku akan dengan terbuka membuka telingaku untuk mendengarkanmu. Apa pun itu, kamu bisa datang kepadaku,” ucap Abraham dengan menatap wajah Marsha begitu lekatnya.
Ya Tuhan, mendapatkan perhatian seperti ini dari Abraham membuat hati Marsha berdesir. Di saat dirinya tidak mendapatkan kebahagiaan di dalam rumah. Kini di luar rumah justru ada seorang pria yang terlihat tulus dan perhatian kepadanya. Padahal yang Marsha inginkan bukan seperti ini adanya.
“Gue baik-baik saja,” ucap Marsha.
Akan tetapi, di mata Abraham saat Marsha mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Justru semua itu mengisyaratkan bahwa kondisi Marsha saat ini sedang tidak baik-baik saja. Abraham cukup lama mengenal Marsha, bagaimana sikap dan karakter seorang Marsha, Abraham sangat mengetahuinya.
Di saat Abraham ingin kembali berbicara, rupanya handphone Marsha berbunyi. Wanita itu segera mengeluarkan handphonenya dari sling bag miliknya. Marsha menghela nafas saat melihat nama Mama Saraswati yang tertera di sana. Sekalipun enggan, jari tangan Marsha juga menggeser ikon berwarna hijau di layar handphonenya.
“Ya halo, Ma,” sapa Marsha begitu menerima panggilan seluler itu. Marsha mendekatkan handphone ke telinganya dan menyapa Mama Saraswati.
“Ya, Marsha … kamu pergi berapa lama?” tanya Mama Saraswati.
“Tidak lama Ma … paling sebentar lagi Marsha akan pulang. Ada apa Ma?” tanyanya.
“Ya sudah … segera pulang. Kamu ini, Mama dan Papa datang ke rumah, justru kamu keluyuran di luar,” ucap Mama Saraswati.
Sekalipun itu adalah obrolan melalui media telepon, tetapi bisa terdengar betapa ketusnya ucapan Mama Saraswati sekarang ini. Marsha yang mendengar ucapan Mama Saraswati hanya menganggukkan dan menundukkan wajahnya sekilas.
“Maaf Ma … ini juga membahas pekerjaan kok. Setelah selesai, Marsha akan pulang,” jawab Marsha.
Bahkan di saat Mama Saraswati berbicara ketus kepadanya, Marsha masih berusaha menjawab dengan sopan dan lembut. Tidak akan menyakiti perasaan Mama mertuanya itu.
“Ya sudah, kalau sudah buruan pulang. Mama tunggu,” balas Mama Saraswati sembari menutup panggilan itu secara sepihak.
Begitu panggilan sudah tertutup, Marsha memilih menaruh handphonenya di atas meja. Wanita itu segera meraih minuman yang sebelumnya dia pesan dan meminumnya. Semua sikap Marsha ini tidak luput dari pengamatan seorang Abraham. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal bagi Abraham sehingga pria itu justru kian menatap Marsha dengan begitu lekatnya.
“Sabar,” ucap Abraham dengan pelan-pelan.
Memang Abraham tidak tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi. Hanya saja melihat raut wajah Marsha yang berbeda, juga ada perasaan terluka di sorot mata Marsha membuat Abraham menerka bahwa sesuatu telah terjadi sekarang ini.
Marsha hanya bisa tersenyum getir, dan tidak ingin menceritakan masalahnya kepada Abraham. Baginya biarlah dia menyimpan segala sesuatunya sendiri.
“Ya sudah … gue balik dulu ya, Bram,” pamit Marsha kali ini.
Lebih baik Marsha segera kembali ke rumah. Daripada Mama Saraswati akan semakin mencibirnya yang tidak-tidak. Dilukai secara verbal itu sangat tidak enak. Sementara Marsha memilih untuk menghindari cibiran pedas dari mama mertuanya dengan cara segera pulang ke rumah.
“Iya … hati-hati, Sha,” balas Abraham.
Marsha kemudian beranjak dari tempat duduknya, berusaha berjalan dan keluar dari kafe itu. Baru beberapa langkah Marsha berjalan, rupanya Abraham kembali memanggil nama Marsha.
“Marsha,” panggil Abraham kali ini kepada wanita yang terlihat punggungnya itu.
Merasa namanya dipanggil, perlahan Marsha pun menoleh ke arah Abraham.
“Hmm, apa?” sahutnya.
“Semangat ya Sha … sabar,” balas Abraham kali ini.
Marsha menganggukkan kepalanya dan kemudian berbalik. Wanita itu melanjutkan langkahnya dan keluar dari kafe itu. Apa yang diucapkan Abraham benar bahwa dia harus bersemangat dan bersabar. Tidak masalah dengan cibiran dari mertuanya, Marsha akan berusaha sabar dan bersemangat untuk menjalani semuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Sky Blue
Smangat brjuang buatmu Marsha..,🥰🥰
2022-08-13
0
Adelia Rahma
sabar aja sha.. suatu saat nanti mama mertua mu akan tau akan sikap anaknya nanti ke kamu...
dan di situlah mereka akan menyesal akan tindakan nya selama ini
2022-08-05
2
Virushe Aira
lanjut
2022-08-04
2