Selang sepekan berlalu, hari ini Marsha tampak bersiap untuk menuju ke Bandara Soekarno - Hatta, Cengkareng. Dirinya hendak menuju ke Jogjakarta hari ini. Sesuai dengan rencana, Marsha akan tinggal di Jogjakarta selama tiga hari untuk mengikuti pemotretan di sana. Berbagai perlengkapan sudah Marsha masukkan ke dalam kopernya. Wanita itu kemudian mendatangi suaminya yang belum berangkat ke lokasi syuting.
“Ayang, hari ini loh aku ke Jogjakartanya,” pamit Marsha kali ini kepada suaminya itu.
“Iya … sampai tiga hari kan? Kelihatannya aku pulang ke apartemennya Rido saja ya Yang. Biar lebih deket ke lokasi syuting,” balas Melvin.
Tampak Marsha yang membolakan kedua matanya dan menatap ke wajah suaminya itu, “Emangnya tidak mengganggu Rido? Dia kan juga capek loh Yang,” balas Marsha.
Justru Melvin tampak menggelengkan kepalanya perlahan dan menatap Marsha, “Enggaklah … lagian dia juga tinggal sendiri. Kalau aku nginep dua malam kan enggak masalah,” sahut Melvin kemudian.
“Ya sudah … terserah kamu saja. Yang penting jangan macem-macem ya Ayang. Jaga selalu kepercayaanku,” balas Marsha kali ini.
Terlihat Melvin yang menggerakkan tangannya dan menggenggam tangan Marsha, “Tenang saja Ayang … aku kan cuma kerja saja. Di lokasi terus. Janji deh gak bakalan macam-macam,” balas Melvin dengan ucapan yang terdengar meyakinkan.
“Iya … aku pamit yah. Biar enggak ketinggalan pesawatnya,” pamit Marsha kali ini kepada Melvin.
“Mau sekalian bareng aku? Aku juga ke arah bandara kok,” jawab Melvin yang kali ini menawarkan untuk mengantarkan Marsha ke bandara terlebih dahulu.
Agaknya justru ucapan Melvin membuat Marsha curiga. Setahunya, syuting Melvin berada di Bogor. Lantas, untuk apa suaminya itu menuju ke bandara.
“Ayang ke arah bandara? Tumben sih,” sahut Marsha.
Tampak Melvin tersenyum sembari mengusapi puncak kepala Marsha, “Aku belum cerita ya? Aku ada syuting mini series di dekat bandara. Nanti scene-nya ketemuan sama pacarku di bandara gitu,” cerita Melvin kali ini kepada Marsha.
“Yakin?” tanya Marsha yang mencoba mendapatkan keyakinan yang pasti dari Melvin.
Pria itu pun menganggukkan kepalanya, “Gak percayaan banget sih, aku syuting mini series di sana. Syutingnya cuma satu bulan,” balas Melvin lagi.
“Ya sudah, aku nebeng kamu yah,” balas Marsha.
Setidaknya daripada dirinya repot-repot membawa mobil sendiri ke bandara, lebih baik Marsha menebeng mobil Alphard suaminya. Ada supir yang siap mengemudikan dan dirinya bisa bersantai dan istirahat sejenak di dalam mobil besar dan mewah itu.
Lantas Marsha dan Melvin pun keluar dari rumah, bahkan kali ini Melvin tampak memperlakukan Marsha dengan baik. Pria itu tampak membukakan pintu untuk Marsha. Sebuah tindakan manis yang sudah lama tidak pernah dilakukan Melvin untuk Marsha.
“Masuk,” ucap Melvin.
“Makasih,” sahut Marsha.
Wanita itu pun memasuki Mobil Alphard keluaran terbaru itu, dan mengambil tempat duduk di balik kursi kemudi yang tersekat sehingga tidak ada kontak langsung dengan supir. Kemudian, Melvin pun mengambil tempat duduk di samping Marsha.
“Sorry yah … mobilnya berantakan. Biasa semua kostum dan perlengkapan aku masuk sini,” ucap Melvin.
Memang Melvin menggunakan mobil super besar dan mewah itu untuk diisi dengan kostum, sepatu, dan barang-barang lainnya. Lagipula, bagi seorang aktor, mobil ibarat kata seperti rumah kedua. Sehingga di pergantian take syuting, Melvin sering beristirahat di dalam mobil besar itu.
“No problem, Ayang,” jawab Marsha.
Sepenuhnya Marsha bisa memahami bahwa mobil itu bukan sekadar kendaraan atau alat transportasi bagi Melvin. Akan tetapi, mobil itu juga menjadi tempat beristirahat bagi Melvin.
Sampai pada akhirnya, sopir melajukan mobil itu. Membelah lalu lintas di Ibukota yang begitu sibuk. Sampai pada akhirnya hampir 45 menit, barulah mereka tiba di bandara. Tampak mengenakan masker di wajahnya tentu untuk menutupi wajahnya, kemudian menggunakan topi. Pria itu tampak terlihat mengeluarkan dua buah koper yang saat ini dibawa Marsha.
“Aku berangkat dulu yah,” pamit Marsha kepada suaminya itu.
“Iya Ayang … take care yah, kalau sudah sampai Jogjakarta jangan lupa kabari aku,” sahut Melvin kemudian.
Pria itu tampak mengambil dua langkah ke depan, mengikis jaraknya dengan Marsha kemudian memeluk tubuh istrinya itu. Membiarkan waktu beberapa detik berlalu dan Melvin masih memeluk tubuh Marsha.
“I’ll miss u,” balas Melvin sembari memeluk Marsha.
“Me too,” balas Marsha.
Wanita itu terlebih dahulu mengurai pelukan Melvin, kemudian tersenyum menatap suaminya itu. “Aku berangkat dulu yah,” pamit Marsha.
“Iya … safe flight and safe landed,” balas Melvin kemudian.
Setelahnya, Marsha pun mendorong kedua kopernya dan segera memasuki bandara. Wanita itu akan siap untuk menuju ke Jogjakarta. Melakukan cek in terlebih dahulu untuk memilih nomor tempat duduk dan memasukkan kopernya ke dalam bagasi.
“Hei, Non … sini,” teriak Nania yang tampak memanggil Marsha di ruang tunggu kelas VIP di Lounge itu.
“Oh, hai … udah lama?” tanya Marsha kepada Nania.
“Baru aja … sepuluh menit. Siap kan buat ke Jogjakarta?” tanya Nania lagi.
“Siap gak siap,” sahut Marsha.
Entah … hanya saja perasaannya begitu tidak enak kali ini. Bukan tentang dirinya sendiri, tetapi justru hatinya tertuju kepada Melvin. Sungguh diperlakukan dengan baik oleh Melvin yang terbiasa cuek justru membuat Marsha merasa tidak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
“Ya sudah … santai saja. Lagipula kita juga sekalian bersenang-senang kok di Jogjakarta,” sahut Nania kemudian.
“Iya,” sahut Marsha.
Beberapa saat mereka menunggu di Lounge, hingga sebuah bus mengantar mereka menuju ke terminal tempat pesawat mereka berada. Mereka akan segera terbang menuju ke Jogjakarta saat ini.
“Eh, Bram mana?” tanya Marsha begitu tiba-tiba kepada Nania.
“Kurang tahu … mungkin dia enggak nunggu di Lounge. Tenang saja, bagaimana pun tetap dia kok yang akan memotret kamu nanti,” jawab Nania,
Ada helaan nafas yang keluar dari hidung Marsha. Wanita itu memilih untuk menaiki pesawat bisnis dan mengambil tempat duduk sesuai dengan nomor kursi yang tercetak di tiketnya.
Betapa kagetnya Marsha, rupanya Abraham sudah duduk di kursi yang seharusnya dia tempati. Seat 8C.
“Permisi … gue duduk di dekat jendela yah,” ucap Marsha kali ini.
“Eh, Bram … kok lo bisa duluan di sini yah?” sela Nania yang tampak terkejut karena fotografernya sudah duduk di dalam pesawat.
Tampak Abraham yang tersenyum, pria itu berdiri dan mempersilakan Marsha untuk duduk terlebih dahulu.
“Ya sudah … titip Marsha ya Bram,” ucap Nania kemudian.
Abraham hanya mengangguk dan kemudian duduk di samping Marsha. Selama dua jam ke depan, pria itu akan duduk di samping Marsha. Kesempatan emas tentunya. Sungguh, Abraham begitu suka bisa duduk di samping mantan pacarnya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 319 Episodes
Comments
Adelia Rahma
kok seperti nya ni Melvin ada main deh sama lawan main sinetron nya
2022-08-05
1
Virushe Aira
sepertinya ada yang aneh pada malvin
2022-08-05
1
Dinarkasih1205
waduuh semoga sikap melvin bukan ada udang di balik bakwan 😀😀
2022-08-05
1