Bi Marni dan Angga berpamitan kepada bu Sarah juga pak Jamal untuk pergi, mereka harus kembali keruangan tempat Maura dan teman-temannya dirawat.
Saat itu Gerald mengajak Camelia untuk ikut juga, tapi Camelia menolaknya dia masih ingin bersama kedua orang tuanya.
"Baiklah kalau begitu, tapi ingat jika kita kembali lagi kau harus ikut. Dan jangan khawatir tuan Angga sudah berjanji akan merawat orang tuamu.
Dan tepati juga janjimu tadi," kata Gerald mengingatkan Camelia.
Camelia mengangguk senang, Gerald langsung dibawa bi Marni dan Angga keluar dan berpamitan lalu pergi.
Sesampainya di ruangan UGD, tempat Maura dan lainnya dirawat.
"Kak Angga darimana? Tadi dicariin ga ada loh. Bi Marni juga disini?" tanya Maura, dia mau kesal dengan Angga tapi tidak jadi karena ada bi Marni.
"Papa kemana? Kok ga ada. Om Wisnu juga ga ada?" tanya Angga, dia hanya melihat Dhania dan mamanya saja yang menemani Kevin , Maura juga Maurice.
"Om Irwan menyusul Papa keluar, katanya mau cari angin dulu. Paling ngerokok dulu" jawab Dhania.
Mendengar itu Angga jadi khawatir takut papanya dan pak Wisnu bertengkar lagi, dia mau menyusul mereka lalu berpamitan keluar dengan alasan ada yang mau dibeli.
"Wah, si empus juga diajak!" kata Maura dia senang melihat kucing kesayangannya itu.
"Iya, ga ada yang jagain dia di rumah. Kalau ditinggal sendiri nanti berantakan semua isi rumah dibuatnya" sahut bi Marni dengan canda tawanya.
"Makanya aku ga mau melihara binatang apapun di rumah, takutnya itu rumah berantakan. Belum lagi harus bersihin kotorannya. Ih, geli dan menjijikan tau!" sahut mama Kevin sambil bergidik geli.
"Ahh, Mama sama binatang apapun juga sama, takut!" ledek Kevin.
Saat itu bi Marni berdirinya tak terlalu jauh dengan bu Ella, mama Kevin. Dan Gerald entah sengaja atau tidak dia mengendus-endus ke arah mama Kevin, beliau kaget dan berteriak.
"Ah! pergi, pergi! Huss, huss!" katanya pada Gerald, bi Marni terpaksa menjauh daripada nanti ada yang terluka. Entah itu mama Kevin atau Gerald.
Melihat itu semua orang tertawa termasuk ada beberapa pasien di sana , ada perawat yang memeriksa pasien juga.
Saat itu Maura minta bi Marni untuk memberikan Gerald kepadanya, saat Maura menggendong Gerald. Dia baru menyadari Gerald memakai kalung cantik.
Kalung berhiaskan permata dari batu giok warna merah berbentuk hati, Maura melihat sekilas seperti ada cahaya berkilat di permata itu.
Maura penasaran lalu memegang batu itu, saat dia memegang batu tersebut telapak tangannya terasa panas, dan seperti terkena sengatan aliran listrik. Dia kaget bukan main.
"Aakh!" teriak Maura, tanpa sadar dia juga mendorong Gerald di pangkuannya.
Tangannya terasa perih seperti luka terbakar, terlihat di telapak tangannya ada tanda guratan-guratan berbentuk petir.
Berlahan-lahan tanda itu menghilang seiring dengan rasa sakitnya itu, hanya menyisakan kulitnya berwarna sedikit kemerahan seperti luka bakar.
Yang lain mendengar teriakannya jadi kaget lalu menghampirinya.
"Kamu kenapa teriak? Kucing itu mengigit mu?" tanya mama Kevin jadi tambah takut dengan Gerald.
"Ga kok Ma, tanganku sakit seperti tersengat sesuatu" kata Maura menjelaskan, lalu dia memperlihatkan telapak tangannya yang memerah.
Bi marni langsung menghampirinya, dia khawatir apa yang dia takutkan selama ini akan terjadi. Dia melihat tanda merah itu lalu melirik Gerald.
Gerald sedari tadi masih duduk diam, dia tampak tenang memperhatikan Maura.
"Tanda luka ini kamu dapat darimana Maura?" tanya bi Marni heran bercampur takut.
"Entahlah Bi, aku tadi habis pegang kalung si empus. Tau-tau tangan aku sakit banget" jawab Maura sambil meringis, tangannya masih terasa perih walaupun sedikit.
Bi Marni melihat kalung Gerald, kalung permata giok merah itu memancarkan cahaya warna merah.
Bi Marni merasakan firasat buruk tentangnya. Tiba tiba..
"Aakhh! Tidak, tidak! Pergi, pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Maura histeris, semua orang di sana kaget bercampur heran. Ada apa dengannya?
Sebelumnya, Maura masih terlihat memperhatikan tangannya dan mulai merasakan hal aneh.
Dia mendengar suara-suara berisik disekitarnya, ketika dia mau melihat kearah suara berisik itu.
Dia kaget, suasana tenang di ruangan itu mendadak ramai. Banyak orang berlalu lalang, entah itu pasien, perawat ataupun dokter di sana.
Tapi ada yang aneh, penampilan juga bentukkan mereka berbeda dengan orang pada umumnya, badan mereka penuh luka sayatan.
Ada yang kepalanya masih tertancap pisau, ada wajahnya sobek sampai ke mulut, ada juga badannya separuh utuh separuh tengkorak.
Dan bermacam-macam lagi bentukkan mengerikan lainnya.
Salah satu penampakan itu sepertinya menyadari kalau Maura bisa mendengar dan melihat mereka, dia menghampirinya.
"Tolong... Tolong aku!" kata penampakan itu, arwah itu badannya penuh luka sayatan.
Badannya remuk semua seperti semua tulangnya patah, yang paling mengerikan lehernya patah sampai darahnya menetes dari leher itu.
Maura ketakutan lalu berteriak histeris, karena makhluk itu mendekatinya.
......................
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Sang
untung aja saya bacanya siang hari, kalo nggak bakal ketakutan deh saya simbah @Andini Andana 🤫🤫
2022-12-03
2
Amri AlaSha
makin seru,,, lanjuut👍💪
2022-08-10
1
Bintang kejora
Ada apa dg kalung yg digunakan Gerald?? Mgknkah krn kalung tsb membuat Maura jd lbh peka pd sosok kasat mata yg ada di dekatnya??
2022-08-09
4