Sehari sebelumnya.
Pak Irwan mendapat telepon aneh dari seseorang.
"Halo, ini dengan Irwan hartawijaya. Dengan siapa ini?" tanya pak Irwan.
"Wan, sampai kapan kamu bersembunyi, apakah berniat menghilang selamanya ..." suara ditelpon terdengar lirih.
Pak Irwan kaget mendapat telpon tersebut, bukan karena kata-kata itu yang membuatnya tertegun melainkan suara itu.
"Pulanglah, aku menunggumu, jangan biarkan aku disini sendirian." Sambung suara tersebut.
"Maura ..." tiba-tiba suara itu menyebut nama anaknya, membuat pak Irwan terkejut.
"Ada apa dengan Maura? Apakah kau mengenalnya? Siapa kau?" tanya pak Irwan.
"Hehe! Aku lebih mengenalnya daripada siapapun, bahkan kau pun-"
"Jangan ganggu putriku! Kau siapa hah?!" pak Irwan langsung memotong pembicaraan itu.
Dia khawatir dan takut akan ada sesuatu yang menimpa putri kesayangannya itu.
Pak Irwan langsung menutup telpon tersebut dan bergegas pulang.
Malam harinya.
"Maura, besok kamu masih banyak kegiatan ekskul atau ada Mata pelajaran tambahan lagi?" tanya Pak Irwan.
"Ga ada Pa, paling belajar ke perpus bareng Maurice. Sekalian mau liat Kevin main Futsal." Senyum Maura terlihat manja.
"Ya udah, pulang jangan terlalu larut"
"Baik Pa.."
Tengah malam itu pak Irwan mendapat telpon aneh lagi.
"Halo, siapa ini?" tanya pak Irwan dengan suara sedikit serak, maklum jam menunjukkan pukul 1am dini hari.
Saat itu pak Irwan lagi tidur sebelum telpon berdering.
"Aku tau kamu mengenal suaraku Irwan." Jawaban telpon tersebut membuat pak Irwan tersentak kaget, suara ini..
"Apa mau mu? Jangan ganggu aku dengan anak-anakku lagi!" bentak pak Irwan.
"Hahaha! Aku hanya merindukan Maura, apa dia masih mengingatku?" tanya orang tersebut.
"Sudah kubilang, jangan ganggu kami! Aku sudah memberikan apa yang kamu mau, bahkan aku pergi sangat jauh seperti yang kamu minta!" teriak pak Irwan.
"Sepertinya kamu salah faham, suara yang kamu kenal, belum tentu dia orang yang sama kamu kenal, hehe! Kamu yakin aku orang itu?" terdengar suara tawa mengejek.
"Siapa kamu?! Kenapa suaramu mirip dengannya?!" terdengar suara pak Irwan bergetar.
"Kamu tak perlu tau siapa aku, yang jelas kamu perlu tau mulai besok ada kejutan untukmu." Kata suara itu lalu langsung menutup teleponnya.
Tubuh pak Irwan bergetar, detak jantungnya berdegup kencang keringat dingin membasahi tubuhnya.
Pandangannya nanar memandangi sekeliling kamarnya, lalu dia teringat kembali kejadian beberapa tahun lalu.
Kejadian saat mereka masih di Indonesia, saat mendiang istrinya masih hidup.
Dan tragedi itu terjadi didepan putri bungsunya yang masih kecil.
Paginya.
"Maura, kamu jangan pulang terlalu sore. Angga kapan kamu kembali ke California?" tanya pak Irwan kepada anak-anaknya.
Pagi itu, seperti biasa mereka sarapan pagi bersama sebelum melakukan aktivitas seperti biasanya.
"Iya, Papa" jawab Maura.
"Sekitar dua atau tiga hari lagi Pa, tunggu selesai acara di kantor Pa" jawab Angga sambil menyantap sarapannya.
"Gimana dengan Tari, kakakmu itu?" tanya pak Irwan.
Tari Putri sulung pak Irwan, sudah menikah dengan pria keturunan Korea Amerika.
Saat ini mereka tinggal di Seoul menemui keluarga suaminya dan berencana tinggal di sana.
"Kakak masih di Seoul Pa, belum tau kapan kembali. Biarin ajalah Pa, biarkan dia lebih kenal dan mengakrabkan diri dengan keluarga suaminya jika ingin menetap di sana," jawab Angga.
Meskipun terlihat cuek dia sebenarnya sangat perhatian dengan keluarganya.
"Papa ga masalah dengan keputusannya tinggal di Korea, cuma ..." pak Irwan menghela napas dengan berat.
Beliau ini tidak terlalu dekat dengan putri sulungnya itu semenjak kejadian dimasa lalu.
Siang harinya, saat di kantor.
Kring! Kring! King!
Suara telepon berbunyi, saat itu pak Irwan bersiap untuk istirahat makan siang.
"Halo?" jawab pak Irwan.
"Hihihi..." terdengar suara cekikikan ditelpon.
Pak Irwan langsung merinding mendengar suara itu, tiba-tiba dia teringat telpon tadi malam.
"Kamu masih mengenali suaraku Irwan?" tanya suara itu.
"Kamu-" pak Irwan tidak dapat melanjutkan kata-katanya, lidahnya keluh.
"Sampai jumpa nanti sore."
"Hahaha!" terdengar suara tawa menggelegar memekikkan telinga.
Pak Irwan langsung menutup telepon dan membantingnya.
Dia kesal dan marah, takut. Yah, lebih tepatnya dia takut.
Pak Irwan langsung pamit pulang ke sekretarisnya sambil menitipkan pesan padanya.
"Cancel semua rapat hari ini dan alihkan semua urusan penting lainnya untuk besok pagi, dan panggilkan William." Perintah pak Irwan.
"Baik, Pak" jawab sekretarisnya.
Beberapa saat kemudian, William datang.
"Ya Pak, ada yang perlu saya siapkan lagi?" tanya William, dia kepala manajer di perusahaan pak Irwan.
"Tolong handle semua kerjaan hari ini, aku mau pulang lebih awal. Ada urusan yang tidak bisa ku tinggalkan."
"Baik, Pak saya mengerti" jawab William.
Pak Irwan langsung bergegas pulang ke apartemennya, menunggu putrinya pulang sekolah.
Saat di jalanan kota New York sangat macet, seharusnya lebih cepat sampainya ini terganggu oleh lalu lintas yang padat.
Saat itu pak Irwan sedang melihat kearah jalan, di sana berderet toko-toko bunga.
Sangat cantik, dia langsung teringat mendiang istrinya, yang begitu menyukai banyak tanaman khususnya bunga.
Ada sesuatu yang membuat pak Irwan tertarik, didalam salah satu toko bunga itu terlihat ada satu bunga yang nampak berbeda dari yang lainnya.
Disaat bunga lainnya nampak begitu layu seolah-olah sari patinya dihisap habis dan kesegaran bunganya hilang, tapi bunga itu masih terlihat segar.
Sehat dengan kelopak bunganya terlihat mekar mengembang dan warna bunganya, Merah darah.
Tidak ada yang aneh dengan itu, tapi entah mengapa pak Irwan merinding melihatnya.
Seperti ada sesuatu dengan bunga itu, lamunannya buyar ketika mendengar suara klakson dari mobil belakang tandanya jalanan sudah kembali normal lagi.
Sesampainya di rumah, beliau gelisah sudah sore kenapa putrinya belum pulang.
Beberapa kali ia menelpon Maura tapi tak diangkat. Suara hpnya berbunyi,suara notifikasi dari group chat nya.
Grup chat apartemen ini dibentuk sesama penghuni untuk saling mengenal atau berbagi informasi seputaran apartemennya.
Maklum, rata-rata penghuni apartemen ini orang-orang sibuk dan disini tidak ada waktu untuk berkumpul dengan tetangganya.
"Astaga, saya dengar ada kecelakaan didepan."
"Kecelakaan? Kecelakaan apa?"
"Katanya ada seorang anak ketabrak sepeda motor, dia meninggal ditempat"
"Saya dengar begitu, keadaan tubuhnya mengenaskan"
"Maksudnya apa?"
"Untuk orang yang ketabrak sepeda motor, seharusnya tubuhnya tidak hancur seperti itu."
"Ha-hancur?"
Mengetahui ada kabar tersebut ditambah dengan beberapa komentar tetangganya itu, membuat pak Irwan tambah khawatir. Dia memikirkan putrinya.
Dan pada saat tiba putrinya pulang diantar teman-temannya, dia menyadari ada sesuatu yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi.
Sosok bermata merah, menyeringai seram memandangi putrinya.
......................
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
angel
ok sampai sini aku masih belum ngerti ada apa dengan keluarga..itu .
2023-02-03
3
范妮·廉姆
semangat kak, aku mampir ni
jgn lupa mampir lapak karya aku berjudul amnesia makasih
2022-12-13
2
J. Jeannette
Haloo! The Phantom child mampir, semangat akak othor!! 💓
2022-08-18
1