Didepan koridor, diruang tunggu keluarga pasien duduklah seorang wanita paruh baya seorang diri. Dia duduk melamun terlihat kesedihan diwajahnya.
"Mama... Maafkan Camelia, tidak bisa menepati janji untuk terus bersama" ujar Camelia sambil menangis.
Sarah, nama wanita itu Sarah. Dia mamanya Camelia, wanita itu memakai penutup kepala khas miliknya, sehingga tidak susah untuk mengenalinya.
Sarah dan suaminya keturunan Turki, mereka merantau ke negeri orang untuk mencari perubahan ekonomi mereka.
Mereka ingin mengadu keuntungan berharap lebih baik dari sebelumnya.
Siapa tahu nasib berkata lain, putri satu-satunya harus meninggalkan mereka selamanya, kecelakaan tragis itu meninggal trauma mendalam untuk kedua orang tua Camelia, terutama papanya.
Beliau terpaksa dirawat di rumah sakit karena serangan jantung, syok menerima kenyataan itu.
Mama Camelia melihat ada Gerald duduk disampingnya, beliau kaget.
"Gerald, apakah itu kau?" tanya bu Sarah kaget dan langsung memeluk Gerald, air matanya tumpah melihat kedatangan Gerald membuat bu Sarah tambah sedih, itu mengingatkannya dengan Camelia, putrinya.
"Apakah kau datang kemari untuk mencari Camelia? Maafkan kami Gerald, kesedihan kami melupakan tanggung jawab kami kepadamu" ujar bu Sarah sambil mengelus Gerald.
Saat itu bi Marni tak sadar kalau Gerald tadi pergi meninggalkannya, ketika pertengkaran pak Wisnu dan pak Irwan selesai, dan mereka kembali kedalam keruangan.
Mereka kaget melihat Angga didepan pintu dengan wajah murung.
Angga keluar meninggalkan mereka, baik pak Wisnu maupun papanya Angga merasa tak enak. Pasti Angga mendengarkan semua percakapan mereka.
"Bi, kenapa masih diluar?" tanya Angga melihat bi Marni masih celingukan mencari Gerald.
"Aku tadi datang membawa kucing itu, kemana dia perginya?" tanya bi Marni bercampur kesal.
Angga pun mulai ikut mencari, dia melihat Gerald dipeluk oleh seorang wanita asing.
"Bi, bukankah itu kucingnya?" tanya Angga seraya menunjuk Gerald masih dipeluk bu Sarah.
Bi Marni dan Angga langsung menghampiri mereka.
"Maaf, apakah anda pemilik kucing ini?" tanya bi Marni.
"Kucing ini milik mendiang putri saya, pemberian ibu saya" jawab bu Sarah dengan lirihnya.
Mendengar itu bi Marni dan Angga saling bertatapan heran.
"Apa maksudnya mendiang? Apa pemiliknya sudah meninggal" ujar Angga dalam hati.
"Sebelumnya saya mohon maaf Bu, kalo boleh saya tahu siapa nama putri Ibu itu?" tanya lagi bi Marni, beliau ingin menyakinkan diri sendiri Kalau Ibu ini benar-benar mamanya Camelia atau bukan.
Saat itu arwah Camelia masuk kedalam ruangan dimana papanya dirawat, jadi bi Marni tak bisa melihatnya.
Saat itu juga Gerald melepas rindu kepada bu Sarah. Jadi dia tidak memperdulikan kedatangannya.
"Nama putri saya Camelia, dia meninggal saat kecelakaan beberapa hari yang lalu. Kasihan sekali dia, dia baru saja dilamar kekasihnya. Tapi dia harus pergi dengan cara begitu" jawab bu Sarah sambil menangis pilu, dia tidak tahan menceritakan nasib putrinya.
"Camelia" gumam bi Marni.
"Berarti seseorang yang ingin dia temui itu orang tuanya" pikir bi Marni, dia merasa kasihan dengan Camelia dan orang tuanya.
Angga mendengar penjelasan dari bu Sarah jadi teringat dengan kecelakaan beruntun waktu itu.
"Kasihan sekali ibu ini, dan kucing ini sepertinya sangat merindukan pemiliknya" kata Angga dalam hati.
"Bu, sebenarnya kucing ini beberapa hari yang lalu ada bersama kami. Adik saya menemukannya" kata Angga.
" Sepertinya dia begitu menyukai kucing ini, dan kami lihat kucing ini juga betah tinggal bersama kami. Tapi dia sepertinya lebih memilih bersama kalian" sambung Angga.
"Kalau begitu Gerald berada ditangan yang tepat, selama ini dia tinggal bersama putri saya dan dirawat dengan baik. Dan sekarang tak ada yang merawatnya" kata bu Sarah.
" Sebenarnya aku juga ingin Gerald bersama kami lagi, tapi aku takut tak bisa merawatnya. Sekarang aku harus merawat dan menjaga suamiku yang sedang terbaring di sana, dan aku juga harus bekerja. Aku takut tak bisa menjaga keduanya," sambung bu Sarah sedih.
"Kalau begitu, Ibu mau menyerahkan kucing ini kepada kami?" tanya bi Marni.
"Iya, aku serahkan dia pada kalian untuk dirawat dengan baik. Maafkan aku Gerald yang tak bisa menjagamu lagi." Bu Sarah menangis lagi, kini dia merasa benar-benar sendirian.
Tapi mau gimana lagi, dia harus mengambil keputusan demi kebaikannya dan Gerald.
Gerald diserahkan ke bi Marni, kucing itu mengeong seolah tak mau pisah.
Meeeong! Meeoong!
"Mulai sekarang kau bersama kami, dan kami akan merawat mu sebaik mungkin. Jika kamu ingin kembali menemui pemilik mu ini, silakan kami tak keberatan" ujar Angga pada Gerald.
Kucing itu seolah mengerti ucapan Angga langsung diam dengan tenangnya di pelukkan bi Marni.
"Kalau boleh, kami ingin melihat keadaan Bapak Bu?" pinta Angga dengan sopan.
"Boleh, silakan beliau juga pasti senang melihat Gerald" ujar bu Sarah.
Angga dan bi Marni dipersilakan masuk kedalam ruangan untuk melihat kondisi suami bu Sarah, papanya Camelia.
Saat itu Camelia berdiri di samping papanya nampak kaget melihat bi Marni dengan Angga bersama bu Sarah.
Bi Marni melihat Camelia di sana, dia berusaha bersikap tenang seolah-olah dia tak melihat apapun.
"Pa, bangun Pa... Lihat siapa yang datang?" Kata bu Sarah sambil membangunkan suaminya.
Papa Camelia membuka matanya pelan-pelan, pertama dia melihat agak kabur pemandangannya.
Dia seperti melihat bayangan Camelia di sana.
"Camelia, Putriku ..." ujar papanya seraya mengulurkan tangan ingin menggapai sosok yang tak ada itu.
......................
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Bintang kejora
Akhirnya Gerald jd milik Maura, krn mamanya Camelia sendiri yg memberikannya tuk keluarga Angga.
2022-08-09
1
Azka Ibrahim
kasihan camelia..
2022-08-09
2
Dian Sandarangin Mekarsakti
lanjutt..
2022-08-09
2