Para penghuni apartemen kaget mendengar suara guntur menggelegar diiringi kilatan cahaya petir.
Padahal sebelumnya cuaca malam ini nampak cerah, dengan langit penuh bintang, seketika menjadi gelap gulita seperti ada badai akan datang.
"Bac*t kau! Sini lawan aku, aku tak peduli seberapa kuatnya akan ku lawan kau sampai habis, bangs*t!" teriak sosok wanita itu kepada si kabut hitam, dia menggeram meluapkan amarahnya.
Cuaca malam itu nampak berubah, disebabkan oleh pertempuran kedua mahkluk astral ini.
"Boleh juga kau, baiklah kalo itu mau mu aku ladenin kau, tapi ingat jika kau kalah kau harus ikut denganku."
Sahut si kabut hitam itu, baginya ini kesempatan bagus untuk mendapatkan pengikut baru untuknya.
Keduanya bertarung sengit, berputar-putar di udara. Baku hantam tak terelakkan, pertarungan itu berjalan lumayan lama, sehingga makhluk wanita itu tidak berdaya, kekuatannya tak cukup kuat untuk melawan sosok kabut hitam itu.
Saat dia lengah, kabut hitam itu berhasil mencengkram lehernya seraya berkata,
"Hantu kelas teri macam kau jangan sok-sok'an ingin melawanku, jika kau ingin melawanku lagi, kau harus mengumpulkan kekuatan energi yang lebih banyak, dengan memakan jiwa jiwa tersesat macam kau!"
Ujar sosok kabut hitam itu, makhluk wanita itu tidak berdaya. Energinya terkuras habis melawan si kabut hitam, lehernya tercekik dia seperti mau mati untuk kedua kalinya.
"Kau tahu, ini sebenarnya bukan wujud asliku. Kau takkan mudah lagi mencari ku seperti tadi.
Aku bisa berubah dengan sosok lain, atau menjelma menjadi manusia seperti kulakukan padamu.
Hehehe!" ujar mahkluk itu sambil tertawa terkekeh-kekeh, lalu dia melepaskan cengkeramannya.
"Hari ini aku lepaskan kau, karena aku ada urusan yang lebih penting. Daripada meladeni mu lagi, aku tak ingin tuanku marah"
Ujar lagi si kabut hitam, mahkluk wanita itu menyeringai sambil mengusap lehernya, tersenyum sinis.
"Tak ku sangka, yang katanya kau paling kuat disini masih ada rasa takut juga, aku kira kau tuannya ternyata kacung juga" kata mahkluk wanita itu.
"Diam kau mahkluk rendahan! Aku pergi, jika aku melihatmu lagi jangan harap kau akan selamat!" Sosok kabut hitam itu melesat pergi, menghilang di kegelapan malam.
Sementara itu didalam apartemen.
"Apa itu tadi? Tiba-tiba aja ada suara kilat.." kata Angga sambil melihat keluar jendela. Dan anehnya cuaca kembali terang, karena pertempuran tadi sudah selesai.
"Biarkan saja, mungkin diluar sana ada kejadian lainnya" kata bi Marni, suaranya pelan seperti sedang melamun kan sesuatu.
Maurice heran melihat tingkah bi Marni, baginya itu hal yang aneh.
Sepertinya bi Marni mengetahui banyak hal.Tapi tidak dengan yang lainnya, bagi mereka itu sudah biasa,karena mereka tau 'kelebihan' bi Marni ini.
Tapi untuk Kevin masih belum terbiasa dengan hal-hal berbau mistis ini, baginya itu semua takhayul.
Maklum anak metropolitan yang dibesarkan di era modern penuh teknologi, tidak akan mudah percaya dengan hal semacam itu.
Untuk Angga dan Maura dari kecil bersama bi Marni itu sudah biasa mereka dengar, banyak larangan ini-itu dari bi Marni karena beliau takut, akan menyebabkan malapetaka nantinya.
Tapi bagi mereka itu hanya bentuk protektif dari orang tua saja.
Pak Irwan mengalihkan pembicaraan, "sudah, sudah... Ayo kalian makan dulu, dan Ayuk mari saya antar kan ke kamar kembali." Kata pak Irwan seraya menuntun bi Marni masuk kamar.
Yang lainnya mulai makan malam sedangkan Maura kembali ke kamarnya sambil membawa kucing tadi.
Selesai makan malam semuanya kembali ke kamarnya, Kevin tidur dikamar tamu sedangkan Maurice tidur dikamar Maura.
Tok! Tok! Tok!
Maurice mengetuk pintu, tak biasanya dia mengetuk pintu. Maura melihat kearah pintu dan melihat Maurice.
"Masuklah, kenapa pake ketuk pintu segala" kata Maura sambil tersenyum.
"Maaf, tadi aku bersama Kevin lagi" kata Maurice dengan perasaan tak enak dengan sahabatnya itu.
"Oh, jadi itu penyebabnya kamu dari tadi diam saja takut aku cemburu," kata Maura sambil ngeledek Maurice.
Maurice senang melihat sahabatnya itu kembali tersenyum lagi.
"Aku takut kamu marah dan salah faham May" kata Maurice sambil memeluk sahabatnya itu.
"Kenapa aku salah faham? Malah aku faham banget tau." Sahut Maura sambil berlalu meninggalkan Maurice, dia mengambil sesuatu didalam laci riasnya.
Ada kota kecil berwarna merah jambu ditangannya.
"Nih buat kamu," kata Maura menyodorkan kota itu kepada Maurice.
"Apa ni?" tanya Maurice heran.
"Buka aja, nanti juga kamu tau" kata Maura sambil tersenyum ikhlas, terlihat ada ketulusan di sana.
Maurice membuka kotak merah jambu itu, terlihat ada gelang perak dengan ukiran bunga Lily, bunga kesukaan Maurice.
Didalam sisi gelang itu ada ukiran nama Maurice, dibawah gelang itu ada kertas dengan tulisan,
To, Maurice..
Aku berikan ini untukmu sebagai hadiah, aku harap kamu suka. Semoga kita bisa lebih dekat lagi.
From, Kevin.
......................
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Inru
Terima kasih hadiahnya.
2022-08-21
1
Amri AlaSha
aq terharu dgn ceritanya,, Maura lambang sahabat sejati😭
2022-08-02
0
Bintang kejora
Syukurlah jika akhirnya Maura tau bhwa Kevin menyukai Maurice. Sahabat yg baik emg hrs spt itu, jgn hnya krn lelaki merusak hubungan pertemanan mrk. Lg pula soal hati tdk bs dipaksakan.
2022-08-02
3