Saat ini.
"Pa! Apa-apaan sih, kok narik tangan Maura kenceng banget. Sakit tau!" Maura meringis kesakitan sambil memegang tangannya.
Tadi pak Irwan memegang tangannya terlalu kencang, pak Irwan tak menggubris perkataan anaknya itu.
Dia masih memikirkan makhluk apa itu yang dia lihat tadi.
Pak Irwan mengintip keluar lewat lubang pintu untuk memastikan tidak ada apa-apa diluar sana.
Dan ternyata benar diluar tidak ada orang, cuma bayangan itu.
"Kamu mandi aja dulu terus sholat, Papa tunggu diruang makan, sebentar lagi mau makan malam." Perintah pak Irwan kepada anaknya.
Maura melihat sekeliling rumahnya, dia tidak melihat bi Sumarni asisten rumah tangganya.
Saat keluarga pak Irwan pindah ke Amerika, bi Sumarni sengaja dibawa ikut juga untuk membantu dan menjaga anak-anaknya.
Khususnya Maura, saat itu Maura masih kecil dan dia masih butuh perhatian ekstra, kejadian menimpa mendiang mamanya membuatnya trauma berat.
Saat itu Maura selalu terlihat murung dan pendiam, hanya Kevin satu-satunya sahabatnya saat itu.
Dia sangat dekat dengan bi Sumarni. Orang yang sangat tulus kepadanya.
"Pa, bi Marni kemana? Kok ga kelihatan dari tadi" tanya Maura sambil menuju ruang tv.
Biasanya di sana bi Sumarni menunggu Maura pulang sambil menonton acara tv kesukaannya.
" Bi Marni ada di kamarnya" jawab pak Irwan pelan, terlihat wajah sedihnya.
Meskipun bi Marni asisten rumah tangga, baginya dia bagian dari keluarganya juga.
Bi Marni sudah ikut keluarganya sejak dia masih kecil, saat itu bi Marni sering ikut orang tuanya bekerja di rumah majikannya, majikannya itu orang tua pak Irwan.
Keluarga pak Irwan didaerahnya termasuk orang yang berpengaruh, keluarga pak Irwan turun-temurun mengelola perkebunan teh di sana.
Sudah puluhan tahun bisnis teh nya berjalan dan masih sukses terus sampai sekarang. Tadinya, orang tua bi Sumarni hanya buruh tani diperkebunan teh milik keluarga pak Irwan.
Melihat mereka bekerja dengan rajinnya, orang tua pak Irwan meminta mereka bekerja dirumahnya.
Karena bi Marni sering ikut orang tuanya bekerja, dia sering diajak main sama saudara-saudaranya pak Irwan, termasuk dia juga.
Orang tua pak Irwan sangat baik dan tidak pelit memberi bantuan kepada orang tua bi Sumarni, sehingga orang tua bi Marni pun loyal dalam bekerja.
"Bi Marni ada di kamarnya, lagi istirahat," kata pak Irwan.
"Istirahat? Istirahat kenapa Pa? Bi Marni sakit kah? Pagi tadi dia baik-baik saja?" tanya Maura.
Dia bergegas pergi ke kamar bi Marni tanpa menunggu jawaban papanya.
Dia nampak khawatir sekali, maklum selama ini yang merawat Maura selagi keluarganya sibuk adalah beliau.
Bagi Maura, bi Marni sudah seperti ibunya.
Tok..tok..tok..
Maura mengetuk pintu kamar bi Marni, Marni adalah nama panggilan untuk bi Sumarni.
Terdengar suara lirih dari dalam kamar.
"Siapa? Masuk saja" kata bi Marni.
"Ini May Bi," jawab Maura. May nama panggilan Maura yang diberikan mendiang mamanya.
Maura membuka pintu kamar dan melihat bi Marni berbaring di kasurnya, kaki sebelah kirinya berbalut perban dan bi Marni terlihat lesu dengan wajahnya pucat.
Melihat pemandangan itu Maura jadi kelihatan sedih, bi Marni tau perasaan itu.
Lalu dia tersenyum dan meminta Maura menghampirinya.
"Bibi ga kenapa-kenapa kok" katanya sembari tersenyum.
Dia berusaha untuk bangun tapi masih terlihat lemah sekali, Maura langsung menghampirinya dengan khawatir.
"Bibi tiduran aja kalo masih lemas, jangan memaksakan diri" jawab Maura, dia membantu bi Marni berbaring kembali.
"Kamu sudah makan? Maaf ya Bibi ga bisa masakin kamu makanan, padahal Bibi mau masakin kamu gulai ayam nanas dan sambal kacang kesukaan kamu," kata bi Marni.
Gulai ayam nanas dan sambal kacang merupakan salah-satu masakan khas didaerahnya.
Salah-satu masakan khas di daerah Lahat dan Pagaralam, kota kelahirannya.
"Udah ga usah dipikirin Bi, ntar bisa delivery, kan ada papa juga" jawab Maura sambil tersenyum.
"Untuk gulai ayam nanas sama sambal kacangnya kan bisa nanti kalo Bibi udah benar-benar sembuh," sambung Maura.
"Ngomong-ngomong, kenapa kaki Bibi bisa diperban? Bibi jatuh dimana? Segitu parahnya sampai ga bisa gerak gitu?" cecar Maura penasaran.
"Cuma kepeleset aja kok, yah... Lagi apes aja,
Bibi yang kurang hati-hati" jawab bi Marni, padahal ada penyebab lain yang membuatnya jatuh.
"Yakin ni cuma kepeleset, kayaknya ga deh. Masak kepeleset bisa bikin luka separah itu?!" tanya Maura curiga, belum sempat bi Marni menjawab pak Irwan sudah didepan pintu kamarnya.
"Maura, kamu masih disini. Ayo mandi sana, jangan lupa sholat. Makan malamnya sudah siap dari tadi," kata pak Irwan.
"Iya Pa, maaf... Aku sebenarnya tadi ingin melihat keadaan Bi Marni sebentar," jawab Maura kesal, dia pikir papanya ingin mengganggunya saja.
"Bi, Maura keluar dulu, nanti kalo udah selesai semua aku kesini lagi yah" kata Maura sambil memeluk bi Marni.
Dia begitu sayang kepada pengasuhnya itu.
"Iya," singkat jawaban bi Marni.
"Yuk, jangan katakan apapun kepada Maura apa yang terjadi siang tadi, aku ga mau Maura kepikiran dan khawatir terus-menerus.
Jika Ayuk sayang pada Maura, Ayuk pasti mengerti maksudku" kata pak Irwan.
Ayuk adalah kata sebutan untuk kakak perempuan di daerahnya Sumatra Selatan.
"Baik Pak, saya mengerti. Saya juga tidak ingin Maura tahu, karena ini mengingatkan saya akan kejadian beberapa tahun lalu" jawab bi Marni.
"Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku Pak, meskipun Ayuk bekerja denganku tak sedikitpun aku menganggap mu bawahan ku. Kita ini keluarga" kata pak Irwan.
Matanya sedikit berkaca-kaca membicarakan hal itu. Baginya bi Marni sudah banyak berjasa dalam banyak hal terutama mengurus anaknya.
"Dan satu lagi, jangan pernah bahas tentang masa lalu. Bersusah payah kita tinggal disini agar Maura melupakan semuanya, jangan sampai dia teringat lagi kejadian buruk itu." Sambung pak Irwan.
"Baik Pak, eh... Dik saya akan ingat itu" jawab bi Marni agak sedikit linglung bingung mau manggil apa ke pak Irwan.
Pak Irwan tersenyum geli melihat tingkahnya.
"Iya, panggil Adik juga tidak apa... Kan aku manggil kamu Ayuk," jawab pak Irwan sambil tersenyum.
"Ya udah aku tinggal ya, Yuk... Istirahat aja, ga usah mikirin pekerjaan rumah dulu. Santai aja" kata pak Irwan sambil meninggalkan bi Marni sendirian dikamar.
Bi Marni melamun sendirian memikirkan kejadian tadi siang, kejadian yang benar-benar tak terduga.
Tak terpikirkan olehnya akan mengalami hal seperti itu lagi, seperti waktu itu, sore hari.
Di kebun belakang rumah majikannya, makhluk itu sama persis dengan sosok yang dilihatnya.
Seperti kabut hitam memancarkan sinar mata begitu merah.
Begitu merah seperti darah, dan berbisik.
"Mau mati, atau kembali."
......................
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Sang
loh saya malah baru tahu hari ini ada makanan khas lahat, pulang nanti minta dimasakin deh 😁😁😁
2022-12-01
1
Siti H
dari palembang ya thor..
2022-08-09
1
Siti H
semangat thor...😊
2022-07-31
1