Maura menuju ruang makan, pak Irwan sudah menunggu di sana.
"Lama banget sih, Papa udah laper nih" kata pak Irwan sambil cemberut.
"Hehe! Iya, maaf" ujar Maura sambil tersenyum manja.
"Pa, bi Marni udah makan belum?" tanya Maura.
"Nanti Papa anterin makanannya ke bi Marni, kamu habiskan dulu makanannya" perintah pak Irwan.
Selesai makan malam pak Irwan menyiapkan makanan untuk bi Marni.
"Pa, biar aku aja yang nganterin makan buat bi Marni yah?" pinta Maura.
"Ga usah, biar Papa aja. Lagian kamu harus belajar buat menyiapkan UN nanti," jawab pak Irwan.
"Tapi Pa, tadi Maura udah bilang ke bi Marni mau nemenin dia," Maura merajuk dengan jawaban pak Irwan tadi.
"Maura, bibi perlu istirahat, Nak. Kamu bisa mengunjunginya lagi besok pagi yah." Jawab pak Irwan dengan sabar, sambil mengelus lembut kepala putrinya itu.
"Baik Pa, Maura ngerti" sahut Maura sambil tertunduk sedih.
Sebenarnya pak Irwan tidak tega melihat putrinya begitu tapi mau gimana lagi kalo dibiarkan dia pasti akan banyak tanya ke bi Marni soal kecelakaannya itu, pak Irwan takut bi Marni keceplosan soal kejadian dimasa lalu.
Sebelumnya kejadian sore tadi.
Kevin dan Maurice pamit pulang ke pak Irwan setelah mengantar Maura pulang.
"Maurice kenapa diam saja, dari tadi aku liat dia nampak murung" gumam Kevin.
Setelah masuk lift mereka memencet tombol dasar, untuk menuju ruang parkir tempat Kevin memarkirkan mobilnya. Berselang beberapa saat, tiba tiba.
Ting!
Lift berbunyi dan pintunya terbuka, terlihat sepanjang koridor begitu gelap dan hanya sedikit cahaya yang menyinarinya. Begitu sepi dan sunyi.
"Vin, kamu tadi pencet tombol nomor berapa? Kok kesini sih, seharusnya kita di lobby bawah?" tanya Maurice.
"Aku tadi pencet B2 kok, tapi kenapa malah kesini" jawab Kevin tak kalah herannya dia.
"Ya udah, tutup dan kita turun aja langsung" pinta Maurice.
Entah kenapa ada perasaan tidak enak dihatinya, ada sesuatu yang membuatnya gelisah sedari tadi.
"Oke" kata Kevin, dia juga merasakan sesuatu semenjak masuk dari apartemen tadi, cuma dia mengabaikan perasaan itu.
Kevin menutup pintu lift dan pencet tombol turun. Selang hitungan detik pintu lift terbuka dan kembali kelantai itu, dan berulang kembali sampai tiga kali.
Kevin kesal dan menendang pintu lift.
"Sial, ini lift kenapa sih?" Saat Kevin melihat no lantai di lift tertera di sana no 13.
Padahal Kevin tidak memencet no.13 dan anehnya lagi no itu tidak ada di lift, no.13 diganti menjadi no.12b.
Kevin heran bercampur takut dan buru-buru menutup pintu lift.
Saat itu Maurice diam terpaku memandang ke depan, terlihat ada sesosok berdiri diujung koridor lantai itu.
Tidak terlalu jelas namun sosok itu seperti wanita bergaun sexy, memakai gaun warna hitam panjang selutut dengan rambut panjang bergelombang.
Memakai sepatu warna merah, wanita itu berdiri bersandar didinding sambil menatap mereka.
"Vin, turun. Turun vin!" teriak Maurice ketakutan, karena sosok itu berlahan lahan mendekati mereka.
Dan mulai terlihat jelas penampakannya, yang membuat Maurice takut sosok wanita itu mulai tersenyum aneh dan menyeringai.
Wajahnya putih pucat dan memakai lipstik merah menyala, dan memakai sepatu high heels merah.
Kevin kaget mendengar teriakan Maurice dan buru-buru menutup pintu lift, untungnya pintu berhasil tertutup dan langsung turun kebawah. Dan..
Hahaha..hahaha...
Terdengar suara wanita tertawa kencang dan menggelegar, saking kencangnya membuat lift mereka tumpangi sedikit bergoyang dan lampu lift berkedip-kedip.
Maurice ketakutan, Kevin melihat Maurice nampak pucat berkeringat dingin langsung memegang tangannya untuk menenangkannya.
"Kevin, kamu mendengarnya?" tanya Maurice dengan suara bergetar.
"Iya.." sahut Kevin.
"Kamu tadi melihatnya juga tidak?" tanya lagi Maurice.
Kevin menggelengkan kepalanya, dia tadi sibuk dengan tombol lift.Tapi mendengar suara tawa mengerikan tadi yang membuatnya takut juga.
"Ada yang aneh dengan gedung ini" gumam Kevin.
Sesampainya dibawah mereka bergegas menuju tempat parkir mobil, saat mereka menuju mobil Kevin terlihat ada seorang wanita berdiri di samping mobil.
Saat wanita itu berseberangan dengan mobil Kevin, dia terlihat panik dan bingung.
"Duh, gimana nih? Mobilku bannya kempes padahal aku harus pergi" katanya kesal.
Saat itu Kevin dan Maurice tidak memperhatikannya, wanita itu melihat Kevin.
"Hey boy, bisa minta tolong tidak?" dia meminta Kevin membantunya.
"Apa yang bisa aku bantu?" kata Kevin menghampirinya.
Saat itu Maurice menunggunya di samping mobil Kevin dan memperhatikan mereka.
"Ban mobilku kempes, kamu bisa memperbaikinya? Aku ga ada waktu untuk memanggil tukang servis atau mencari taksi, aku sedang terburu-buru" katanya.
"Maaf aku ga bisa, aku juga harus pergi" jawab Kevin.
Sambil menoleh melihat kearah Maurice, dia berusaha menjaga jarak dengan wanita itu. Dia tidak ingin Maurice berpikir kalo dia menggoda wanita lain.
"Maaf yah," sambung Kevin sambil berlalu pergi menuju mobilnya.
"Ya udah, aku coba tuk memperbaikinya sendiri" kata wanita itu terlihat lesu dan sedih melihat keadaan mobilnya itu.
"Come on Maurice" kata Kevin sambil membukakan pintu mobilnya untuk Maurice.
Maurice diam terpaku wajahnya terlihat pucat, keringat dingin membasahi tubuhnya sambil menatap lurus ke depan kearah wanita itu.
"Hei, kamu kenapa lagi?" tanya Kevin dengan nada khawatirnya.
Maurice tidak menjawab dia langsung masuk mobil dengan menutup pintunya.
Kevin mencoba memahami keadaannya.
"Sepertinya kejadian di lift tadi masih membuatnya takut dan trauma," pikir Kevin.
Kevin naik mobilnya dan meninggalkan area parkir dengan wanita tadi, yang masih nampak kebingungan dengan mobilnya.
Didalam mobil Maurice masih memikirkan wanita diparkiran tadi, wanita itu sangat mirip dengan sosok yang dia lihat tadi.
Wanita cantik memakai gaun **** hitam panjang selutut dengan sepatu high heels merah, rambut panjang bergelombang memakai lipstik merah menyala.
Apa itu kebetulan saja? Atau dia masih kepikiran dengan kejadian tadi? Ada apa dengan apartemen ini?
Sepanjang perjalanan pulang, Maurice hanya diam melamun dan Kevin fokus menyetir, mereka larut dengan pikiran masing-masing,
tiba-tiba.
Duaagh! Braakk!
Suara tabrakan mobil terjadi didepan mata mereka, jarak mobil mereka hanya beberapa meter saja.
Sedikit saja mereka bisa jadi korban juga, seketika jalanan macet, ada beberapa mobil yang ikut tabrakan beruntun itu.
Kevin keluar mau melihat keadaan di sana, Maurice menunggu didalam mobil.
Salah satu mobil kecelakaan itu berhadapan dengan mobil mereka, keadaan mobil itu hancur berantakan.
Sopir mobil itu terlihat parah kondisinya, badannya penuh luka berdarah. Posisi korban berada di kursi stir, tapi Maurice masih bisa melihat dan mengenali si korban, dia adalah si wanita di parkiran tadi.
Yang membuat Maurice semakin merinding, dia melihat sosok makhluk di koridor tadi ada disana.
Setelah memandangi si korban, makhluk itu menatap Maurice sambil tersenyum menyeramkan.
Sosok makhluk berwujud wanita cantik bergaun **** warna hitam memakai high heels merah.
"Selanjutnya... Kamu"
Kata-katanya terdengar jelas oleh Maurice, membuatnya ketakutan. Saking takutnya dia tak bisa berteriak, tubuhnya kaku untuk digerakkan, seketika dia pingsan .
......................
bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 294 Episodes
Comments
Anggraeni_Diana
Maurice indigo ya thor
2022-11-16
2
Raindrops
merinding aku thor wkwkw keren keren
2022-08-16
2
Siti H
waduh..lift 13 thor.. angka sial..😥😥
2022-08-09
1