pagi hari sebagian penghuni kost 010 pulang ke kost karena akan melakukan aktivas seperti biasanya. ada yang kuliah dan ada yang bekerja.
Alan yang tidak mempunyai mata kuliah lebih memilih untuk tetap di rumah sakit namun Olan membujuk agar adik mereka itu pulang dulu untuk mengganti pakaian dan bersih-bersih. sejak semalam Alan memakai pakaian yang berlumuran darah.
"pulang aja dulu Al, nanti elu bisa datang lagi" ucap Olan
"kalau Alan pulang terus yang jagain Gery siapa bang...?"
"Gery nggak sendirian Al, ada dokter sama suster yang mantau keadaan dia. udah sebaiknya kita pulang, nanti elu datang lagi"
"benar Al, lihat baju elu banyak darahnya kayak gitu. ayo, nanti gue antar ke sini lagi sebelum gue ngampus" Mahendra merangkul Alan
"makasih bang" ucap Alan memaksakan senyum
semalam Alan telah memberitahu orang tua Gery dan mereka akan pulang hari ini dari luar kota. mereka meminta Alan untuk menjaga Gery sebelum keduanya datang dan itulah yang membuat Alan enggan untuk meningkatkan Gery.
Alan melihat ke arah Danil yang duduk di samping Randi. saat itu Danil pun melihat Alan dan dengan hangat Danil tersenyum.
"salam kenal bang, gue Danil adik bang Arga" ucap Danil memperkenalkan dirinya kepada Alan
"Arga...?" Alan mengerutkan keningnya bingung
"dia adek gue Al. udah cabut yuk" Mahendra beranjak dari tempat duduknya
sebelum pergi, Alan menyempatkan diri untuk melihat Gery dibalik kaca. tatapannya nanar, dia sangat khawatir kepada sahabatnya itu. setelah merasa cukup, mereka semua meninggalkan tempat itu menuju lobby rumah sakit.
di lobby rumah sakit mereka bertemu dengan Angga, polisi muda yang tengah mengusut kasus pembunuhan berantai bersama kedua rekannya.
"udah mau pulang...?" tanya Angga
"iya Pak. bapak ngapain pagi-pagi sudah ada di rumah sakit...?" Rahim menjawab sekaligus bertanya
"saya datang mengambil hasil tes darah yang kami bawa kemarin. darah yang ada di kayu dimana Alan menggunakan kayu itu untuk memukul kepala pembunuh" jawab Angga
seseorang dari mereka menatap datar ke arah Angga namun tangannya terkepal dan bahkan rahangnya mengeras. ia melihat ke arah Alan yang dirangkul oleh salah satu abangnya, penghuni kost 010.
(gara-gara nih bocah semuanya berantakan. gue harus melakukan sesuatu) batinnya
"semoga cepat mendapatkan titik terang ya pak" ucap Rahim
"iya semoga saja. kami juga sedang berusaha semampu kami" jawab Angga
"kalau begitu kami permisi dulu pak"
"iya, silahkan"
mereka pun berpisah, squad 010 menuju parkiran sedang Angga menghubungi dokter untuk bertemu dengannya.
diparkiran mereka mulai menaiki kendaraan mereka namun salah seorang dari mereka mengatakan bahwa dirinya akan singgah di suatu tempat.
"ya udah kita duluan ya"
"oke, sip" ucapnya mengangkat jempol
semuanya telah meninggalkan rumah sakit. ternyata salah satu dari mereka yang mengatakan akan singgah di tempat lain pergi ke suatu tempat. ia kemudian mengganti pakaiannya yang ia simpan di jok motor dan juga ia melakukan sesuatu dengan motornya. setelah itu dirinya kembali lagi. motornya ia parkir di tempat lain agar tidak terlihat dengan kamera CCTV. setelahnya ia melangkah masuk ke dalam dan mencari seseorang dan tepat saat itu orang yang dicarinya tengah berbincang dengan seorang dokter. kemudian ia bersalaman dengan dokter tersebut dan berjalan menuju pintu keluar. di tangannya terdapat map berwarna coklat, entah apa isi di dalamnya namun seseorang yang menunggunya tadi memperhatikan map tersebut.
drrrtt.... drrrtt....
📞Angga
halo Cak, kenapa...?
📞Cakra
masih di rumah sakit...?
📞Angga
udah mau pulang. kenapa...?"
📞Cakra
jemput gue, mobil gue bermasalah. gue di jalan Kenanga
📞Angga
oke, tunggu gue di situ
setelah mematikan ponselnya, Angga masuk ke dalam mobilnya dan menuju jalan Kenanga. sedangkan salah seorang penghuni kost 010 melajukan kendaraannya dan mengikuti mobil Angga dari belakang.
beberapa menit Angga sampai di jalan Kenanga. ia dapat melihat Cakra yang sedang bersandar di mobilnya. Angga menepikan mobilnya dan keluar menghampiri Cakra.
"tumben mobil elu mogok, biasanya kan kereta kencana lu ini nggak pernah rewel" ucap Angga saat tiba di dekat Cakra
"nggak tau juga gue. tapi gue udah menghubungi bengkel langganan untuk datang ambil mobil gue" Cakra memukul pelan mobilnya
"ya sudah kita ke kantor sekarang. hasil sampelnya udah gue ambil" Angga memperlihatkan sebuah map coklat di tangannya
"ayo kalau begitu. gue nggak sabar pengen liat hasilnya" Cakra sangat antusias
mereka pun berjalan menuju mobil Angga. seseorang yang mengikuti mereka masih stay di tempatnya dan saat mobil Angga melaju, ia pun kembali melajukan motornya.
"boleh liat sekarang nggak sih...?" gue penasaran banget" ucap Cakra
"sabarlah, kita harus lihat sama-sama" jawab Angga yang fokus menyetir
mobil mereka kini tiba di perempatan namun saat itu juga dari arah depan sana mobil hitam melaju cepat dan
"awas ngga" teriak Cakra karena mobil itu sepertinya akan menabrak mereka
ciiiiiiiit
Angga menginjak rem mobilnya dan membanting stir ke kanan. hal itu membuat mobil Angga berputar seperti gasing dan hampir saja mobil itu menabrak seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. untung saja Angga segera membelokkan mobilnya dan setelahnya
braaaaaaaaakkk
mereka menabrak tiang listrik. kepala Angga terbentur di stir mobil sedangkan begitu juga dengan Cakra yang terbentur di kaca mobil.
semua kendaraan berhenti dan berlomba menghampiri mobil kedua polisi itu. seseorang yang sejak tadi mengikuti mereka tersenyum penuh kelicikan dan kemudian turun dari motornya.
dia menggunakan sweater abu-abu dan menutup wajahnya dengan masker serta topi. Angga sudah tidak sadarkan diri, dari kepalanya mengalir darah yang membasahi pelipisnya sedang Cakra masih dalam keadaan sadar. kepalanya juga terluka akibat benturan keras tadi.
Cakra berusaha membuka pintu mobil dan saat itu juga beberapa orang membantunya untuk keluar kemudian setelah itu mereka juga membantu Angga.
saat pintu mobil masih terbuka, kesempatan itu digunakan oleh pria tadi untuk memeriksa ke dalam mobil Angga. matanya mencari sesuatu dan kemudian apa yang dicarinya akhirnya ia dapatkan. ia meraih map berwarna coklat itu kemudian keluar dan meninggalkan tempat.
Angga dan Cakra sudah dilarikan ke rumah sakit sedang salah tau penghuni kost 010 yang mengikuti mereka tadi pergi bersama dengan motornya.
penghuni kost 010 kembali ke aktivitas mereka. kini di kost hanya tersisa Alan dan Danil dan Damar, sedang yang lainnya pergi ke kampus dan bekerja.
saat Alan keluar dari kamarnya, saat itu juga Danil membuka pintu untuk turun ke bawah.
"bang Alan mau ke rumah sakit lagi...?" tanya Danil
"iya, gue nggak bisa di sini terus sementara Gery teman gue sedang sekarat" jawab Alan mengunci pintu kamarnya
"gue temanin boleh nggak bang. kebetulan gue juga nggak ada kerjaan di sini, yaaa sekalian gue jalan-jalan" Danil menawarkan diri
"izin dulu sama bang Mahendra, nanti dia marah lagi gue bawa-bawa elu" Alan memberikan saran
"oke, tunggu bentar ya gue telepon dulu bang Arga" Danil masuk lagi ke dalam kamarnya sedang Alan menunggunya di depan pintu
Danil segera menghubungi Mahendra dan saat telah mendapatkan izin, ia kembali memberitahu Alan.
"kalau gitu gue tunggu dibawah ya Dan" ucap Alan
"iya bang" jawab Danil
di bawah tepatnya di ruang utama, Damar sedang menonton berita kehebohan pembunuhan yang terjadi tadi malam.
"kasian banget, padahal ceweknya cakep bener. kok sampai tega ya orang yang membunuhnya" gumam Damar yang sedang fokus menatap layar televisi
"bang" Alan menepuk bahu Damar
"astaghfirullah" Damar terlonjak kaget
"ya ampun Al, elu ngagetin gue aja" Damar mengelus dadanya
"bang Damar kayak habis liat setan aja sampai kaget gitu" Alan duduk di samping Damar
"gue lagi nonton berita pembunuhan kemarin. ngeri banget gue. kita jatuh dari tangga aja udah sakit banget dan bahkan patah. apalagi itu yang jatuh dari ketinggian lantai 10" Damar membayangkan bagaimana keadaan mayat Alexandria Robin
tadi malam dirinya tidak sempat melihat mayat wanita itu karena saat datang mayat wanita itu telah dimasukkan ke dalam kantung jenazah.
saat sedang menonton berita kematian Alexandria Robin, mereka kini dikejutkan dengan berita kecelakaan sebuah mobil yang menabrak tiang listrik. bukan karena kecelakaan itu yang membuat mereka terkejut namun mereka kaget karena mengenal siapa yang berada di dalam mobil itu.
"astaghfirullah, itu kan pak Angga dan pak Cakra" ucap Alan saat melihat kedua polisi itu digotong oleh para warga yang menolong mereka
"padahal tadi kita baru saja loh ketemu sama pak Angga. musibah memang tidak bisa tau kapan waktunya" lanjut Alan
saat keduanya sedang serius, seseorang mengucapkan salam dan masuk ke dalam. dia adalah seseorang yang mengakibatkan Angga dan Cakra kecelakaan.
"baru pulang lu...?" tanya Damar
"iya, gue. kalian nonton apa sih...?" ia duduk bergabung bersama Alan dan Damar
"pak polisi Angga dan Cakra kecelakaan, ini kami lagi melihat liputannya" Damar menjawab
melihat berita itu, sudut bibirnya terangkat bahkan di dalam hati ia begitu senang telah memberikan pelajaran kepada kedua polisi itu.
(Mudah-mudahan mati aja sekalian) batinnya sangat menikmati berita tersebut
"abang ngapain senyam-senyum...?" Alan bertanya saat melihat abangnya itu tersenyum menatap layar televisi
"ah... emm nggak lah, gue nggak senyum. yaudah gue ke kamar dulu ya" ia bangkit dan meninggalkan keduanya
(perasaan gue melihat abang tadi tersenyum deh) batin Alan menggaruk kepalanya
"bang Alan ayo berangkat" ajak Danil yang baru saja turun
"elu ikut ke rumah sakit Dan...?" tanya Damar melihat ke arah Danil
"iya bang. gue hanya ingin menemani bang Alan saja" jawab Danil
"yaudah kalian hati-hati ya. gue sebenarnya mau ikut tapi siang nanti gue harus ngampus" ucap Damar
"nggak apa-apa bang kami berdua saja. kalau gitu kami pamit dulu bang. assalamu'alaikum" ucap Alan
"wa alaikumsalam" jawab Damar
Alan dan Danil meninggalkan kost 010. sementara itu Mahesa yang mendengar kabar kalau kedua rekannya kecelakaan, segera mencap gas mobilnya menuju rumah sakit. ia sangat khawatir dengan keadaan mereka. ketiganya sudah seperti saudara, meskipun Angga belum lama bergabung bersama mereka namun kedekatan mereka sudah sangatlah akrab.
tiba di rumah sakit, ia langsung bertanya kepada suster dan menanyakan pasien yang bernama Cakra dan Angga.
"untuk pasien Angga sedang berada di ruang ICU pak, sementara untuk pasien Cakra sedang berada di ruang perawatan" suster itu menjawab pertanyaan Mahesa
"terimakasih suster"
Mahesa dengan langkah cepat dan terburu-buru menuju tempat kamar rawat Cakra. tiba di sana Cakra dalam keadaan terbaring di ranjang dengan kaki yang dibalut karena cedera dan juga kepalanya yang diperban.
"Cak elu nggak apa-apa...?" Mahesa mendekat ke arah Cakra
"gue oke Hes, tapi Angga...." wajah Cakra terlihat redup
"dia pasti baik-baik saja, percayalah" Mahesa menepuk pundak Cakra
"sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kalian sampai kecelakaan seperti itu...?" tanya Mahesa
"entahlah Hes. Tiba-tiba saja ada mobil dari arah depan yang melaju kencang dan ingin menabrak kami. gue teriak dan Angga langsung menginjak rem kemudian membanting stir ke kanan. tapi di arah kanan hampir saja kami menabrak seorang wanita dengan anaknya dan tidak ada jalan lain akhirnya Angga berbelok lagi dan menabrakkan mobilnya ke tiang listrik" jawab Cakra
"syukurlah kalian selamat, meskipun Angga kini kritis. kita berdoa semoga dia cepat melewati masa kritisnya dan cepat sadar" ucap Mahesa
"ini semua salah gue. harusnya gue nggak nelpon dia untuk menjemput gue jadi dia nggak akan lewat di jalan itu"Cakra tertunduk penuh sesal
" musibah tidak ada yang tau Cak. untuk sekarang ini elu harus berpikir positif dan bangkit untuk segera sembuh "
"iya, elu benar. oh iya hasil tes yang kita lakukan kemarin masih ada di mobil Angga. nanti elu cari saja di mobilnya, kami nggak bisa mengambilnya tadi" Cakra masih memikirkan barang bukti mereka
"nggak usah mikirin itu, nanti itu menjadi urusan gue" ucap Mahesa dan Cakra mengangguk
setelah melihat Cakra, Mahesa ingin melihat keadaan Angga. pria yang masih sangat muda itu kini terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
Mahesa merasa kasian melihat rekannya itu. selama mereka saling mengenal, baru kali ini Mahesa melihat kedua temannya itu masuk ke rumah sakit.
ia kemudian pergi dari tempat itu untuk mengamankan mobil Angga sekaligus mengambil map yang dimaksud oleh Cakra. rupanya ia bertemu dengan Alan dan Danil.
"bapak di sini...? bagaimana keadaan pak Angga dan pak Cakra...?" tanya Alan
"Angga kritis dan Cakra sedang di ruang perawatan" jawab Mahesa
"kasian sekali pak Angga. padahal baru saja tadi pagi kami bertemu" ucap Alan ikut prihatin
"doakan saja semoga dia baik-baik saja. saya pergi dulu ya" Mahesa berpamitan
"iya pak" jawab Alan
setelah Mahesa pergi Alan dan Danil kemudian melangkah melihat Gery. mereka bertemu dokter yang menangani Gery dan memberitahu kalau Gery sudah melewati masa kritisnya dan sekarang telah dipindahkan ke ruang perawatan. segera Alan dan Danil menuju kamar rawat Gery. terlihat kelegaan di wajah Alan, ia sangat bersyukur akhirnya sahabatnya bisa melewati masa kritisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Asifa Rose Ma
olan
2024-03-10
0
V3
aku mo Absent LG ach penghuni kost 010 ,, aku msh penasaran aja nih ... Rahim , Alan , Randi , Damar , Olan , Iyan , Mahendra , Kevin , .... siapa yaa yg 2 lagi ❓❓
apa Kevin yaa pembunuh nya ❓❓ kok aku jd galau nih 🤔🤔
2023-01-31
0