Episode 8

seperti ucapan Iyan, setelah menjelang magrib dirinya akan pulang. Mahendra, Damar dan Alan masih setia menunggunya sejak jam 5 sore tadi, mereka akan pulang bersama.

"Bimo, Andra, gue cabut duluan ya" Iyan berpamitan kepada kedua teman rekan kerjanya

"oke, hati-hati" Andra dan Bimo mengangkat jempol mereka

sebelum pulang ke kost mereka 010, mereka terlebih dahulu singgah di masjid yang ada di dalam kampus untuk melaksanakan sholat magrib. Iyan sebenarnya membawa kendaraan saat pergi bekerja namun karena adik-adiknya sudah mengusulkan untuk pulang bersama ia pun tidak enak hati untuk menolak dan motornya ia titip di cafe. tentu saja aman, karena motor itu ia simpan di tempat yang aman.

"bang kita sekalian beli makan yuk, jadi nanti pas pulang nggak harus keluar lagi buat beli makanan" Alan memberikan usul

"boleh tuh, kebetulan kita masih di sekitaran depan kampus. sekali-sekali kita cobain makanan di sini" Damar setuju dengan usulan Alan

mereka kembali ke depan kampus untuk mencari warung makan. Iyan mengirim pesan di grup chat kost 010 untuk menanyakan adakah penghuni kost lain yang ingin menitip makanan atau sesuatu.

Iyan : ada yang mau nitip makanan nggak, kebetulan mau pulang nih

Rahim : yan, gue nasi padang ya

Randi : gue bang, samain aja sama yang abang beli

Wili : bang, belikan kopi dong, yang seperti Mahendra bikin semalam

Kevin : bang Iyan, gue nitip tinta ya, buat print soalnya tinta printer bang Rahim abis, sekalian makanan juga

Olan : gue nggak, masih di kantor soalnya

Iyan : ok, di tunggu pesanannya bapak-bapak

"kita bagi tugas deh. gue sama Alan mau beli makanan, terus kalian berdua ke minimarket buat beli kopi sama tinta printer" Iyan memberi ide

"oke, ayo Dam" ajak Mahendra

"Hen, Wili sukanya kopi yang elo bikin semalam" Iyan memberitahu

"iya bang"

mereka pun berpisah, Mahendra dan Damar ke minimarket sedang Iyan dan Alan ke warung makan.

"mumpung lagi di sini sekalian gue beli cemilan banyak deh" Damar mengambil keranjang

"hummm, kayaknya gue juga harus beli kopi yang banyak deh buat stok di kost" Mahendra menyetujui ucapan Damar

Mahendra dan Damar mengambil beberapa kacang dan juga roti. mereka juga mengambil permen dan cemilan lainnya. tidak lupa Mahendra membeli lima renteng kopi. di tempat mereka belanja itu tersedia berbagai macam kebutuhan mahasiswa dan salah satunya adalah tinta yang jadi pesanan Kevin. keduanya menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka.

setelah belanja dengan dua kantung plastik besar, keduanya keluar dari minimarket dan mencari Iyan dan Alan.

"buset daaah, abang berdua belanja ngalahin ciwi-ciwi" Alan geleng-geleng melihat dua kantung besar yang penuh dengan berbagai makanan

"buat ngemil Lan. bang Iyan mana...?" tanya Mahendra

"tuh"

Iyan datang menghampiri mereka dengan kantung plastik yang berisi makanan berat untuk penghuni kost 010.

"kita naik ojek aja deh, berat nih kalau jalan kaki" Iyan memberi usul

"gue sepemikiran sama abang. ya udah kita ke pangkalan ojek saja, noh di sana ada" Damar menunjuk di sebrang jalan terdapat pangkalan ojek

mereka berempat memutuskan untuk naik ojek. keempatnya menyebrang jalan dan menuju ke pangkalan ojek.

"bang ojek" ucap Damar

"empat orang...?" tanya tukang ojek

"iya bang" jawab Damar

empat orang tukang ojek siap mengantar mereka. mereka lebih memilih naik ojek daripada harus berjalan kaki, apalagi kost mereka berada di belakang kampus, jauh dari tempat mereka sekarang.

"blok apa dek...?" tanya tukang ojek

"blok M bang" jawab Mahendra

ojek yang ditumpangi Mahendra mengambil jalan kanan blok M sesuai ucapan Mahendra dan hanya beberapa meter mereka sampai di tujuan.

"makasih bang" Iyan membayar semua ojek itu

"sama-sama bang" jawab mereka dan berlalu pergi

"nanti uang bang Iyan Alan ganti ya" ucap Alan mengikuti langkah Iyan masuk ke dalam halaman kost

"gue juga bang" Mahendra menimpali

"nggak usah, santai aja" Iyan tersenyum ke arah ketiga adiknya itu

mereka tiba di kost menjelang isya. keempatnya ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.

Mahendra melihat ponselnya yang mati total karena kehabisan baterai, ia pun mencas ponselnya dan dirinya masuk ke dalam kamar mandi.

di lantai bawah, Randi sedang menyiapkan piring dan sendok, Damar berada di dalam kamarnya, Wili berada di lantai dua sedang mencuci pakaian kotornya karena dirinya baru sempat mencuci dan Kevin berada di kamar Rahim untuk memprint tugasnya yang akan di kumpulkan besok.

"bang Rahim kok mau sih tinggal di kosan, padahal kan abang dosen" Kevin memulai pembicaraan

"gue lebih nyaman di sini Vin, lagian dari gue masuk kuliah sampai lulus terus jadi dosen gue di sini terus, udah nyaman aja sama suasana di sini" Rahim menjelaskan

"bang jadi dosen itu enak nggak...?"

"semua pekerjaan ya ada enaknya ada susahnya. tinggal dari kitanya aja bagaimana menikmati dan menyikapi pekerjaan kita. kenapa, elo mau jadi dosen...?" Rahim melihat Kevin yang sibuk dengan laptop di depannya

"sempat kepikiran sih, tapi belum terlalu srek dihati. gue juga bingung mau jadi apa pas lulus nanti"

"ikuti aja kata hatimu, sesuai bakatmu aja"

adzan isya berkumandang, rintik-rintik hujan di luar membuat mereka melaksanakan sholat di kamar masing-masing, untuk ke masjid tidak memungkinkan karena bisa saja mereka kehujanan di jalan.

lepas sholat isya, ada yang mengucapkan salam di depan kost. Randi yang berada di ruang tamu segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.

"permisi dek kami sedang mencari mahasiswa atas nama Mahendra, apa benar disini kosannya...?" seorang pria dengan pakaian casual bertanya. di belakangnya terdapat dua pria yang menatap ke arah Randi

"iya Pak benar. bapak-bapak eeee maksud saya mas mas ini siapa ya...?" Randi bingung harus memanggil mereka apa karena dilihat dari wajah dan perwarakan ketiganya, mereka masih sangat muda bahkan seumuran dengan Olan dan Rahim

"kami dari pihak kepolisian ingin bertemu dengan saudara Mahendra" seorang polisi memperlihatkan tanda pengenalnya

"haaah kepolisian...?" Randi kaget dan terganga "memangnya teman saya salah apa pak...?" Randi mulai khawatir

"siapa Ran...?" Rahim datang menghampiri Randi

"selamat malam, kami dari kepolisian ingin bertemu dengan saudara Mahendra. bisa kami masuk...?"

"oh iya, silahkan" Rahim mempersilahkan

"beritahu Mahendra ada polisi yang mencarinya" bisik Rahim di telinga Randi

tanpa banyak bicara Randi langsung berlari ke lantai dua untuk memberitahu Mahendra.

tok... tok... tok

"Hen, buka Hen" Randi mengetuk pintu kamar Mahendra dengan keras

"Mahendra buka" Randi berteriak

"kenapa sih Ran, elo sampai panik gitu...?" Wili yang baru saja datang dari arah balkon untuk menjemur pakaiannya menghampiri Randi

"gaswat ini Wil, gaswat" Randi tidak dapat menyembunyikan kecemasannya

"apanya yang gaswat, memangnya kenapa...?" Wili geregetan melihat tingkah Randi

"di bawah ada polisi yang mencari Mahendra"

"haaah, polisi...?" Wili kaget

"Hen buka Hen, ya ampun nih anak ngapain sih di dalam

" elo ngapain sih teriak kayak gitu Ran...?" Iyan keluar dari kamarnya dan masih menggunakan pakaian sholatnya begitu juga dengan Alan

"bang, Mahendra mana sih gue ketuk ketuk dia nggak nyahut"

"masih sholat mungkin"

cek lek

Mahendra membuka pintu, sama seperti Iyan dan Alan, Mahendra masih mengenakan pakaian sholat.

"kenapa sih Ran, elo heboh banget" tanya Mahendra

"elo sebenarnya buat kesalahan apa Hen...?" bukan menjawab Randi malah bertanya

"kesalahan...? maksudnya apa gue nggak ngerti" Mahendra kebingungan

"di bawah ada polisi yang cariin elo"

"polisi...?" Mahendra, Iyan dan Alan berucap bersamaan

"ho'oh... ayo buruan"

Randi menarik lengan Mahendra untuk turun ke bawah, yang lain mengekor di belakang keduanya.

" itu dia Mahendra pak" ucap Rahim saat Mahendra turun bersama Randi dan yang lainnya

semua penghuni kost 010 berkumpul di ruang tamu kecuali Olan yang memang belum pulang.

"selamat malam Mahendra"

"malam Pak" Mahendra bersikap biasa saja karena dirinya merasa tidak melakukan kesalahan apapun

"maaf kami mengganggu waktu istrahat kamu. perkenalkan saya Mahesa, di samping kanan saya bernama Angga dan di samping kiri saya bernama Cakra. kami dari kepolisian ingin bertanya perihal tentang kasus kematian Sarah" Mahesa menatap Mahendra dengan teliti

"silahkan pak, saya akan menjawab apa yang saya tau" Mahendra bersikap tenang

semua penghuni kost menjadi tegang, selama mereka kost di tempat itu, baru kali ini mereka kedatangan tamu dari kepolisian.

"dari cctv yang kami lihat di perpustakaan, kamu yang terakhir pergi ke tempat itu. apa yang kamu lakukan...?" Mahesa bertanya

"saya pergi mengembalikan buku-buku yang saya pinjam pak" jawab Mahendra

"kenapa kamu pergi di jam seperti itu padahal sudah jelas perpustakaan akan segera tutup...?"

"masih ada waktu 10 menit untuk perpustakaan tutup. selama 10 menit saya menggunakan kesempatan itu untuk mengembalikan buku yang saya pinjam"

"apa kamu melihat gelagat lain dari korban...?"

"tidak pak, saya melihat dia biasa saja. saya bahkan berniat untuk mengantarnya pulang tapi dia menjawab masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan"

"kamu berniat mengantar wanita yang baru saja kamu kenal...?" kali ini Angga yang bersuara

"saya tidak mempunyai niat apapun, saya hanya ingin mengajak pulang bersama karena rawan seorang wanita pulang dalam keadaan waktu hampir malam. namun pada akhirnya saya tidak mengajak pulang bersama, saya pulang sendirian"

"saat kamu di tempat itu, adakah seseorang yang kamu lihat gerak-geriknya mencurigakan...?" Mahesa kembali bertanya

"sudah tidak ada orang di tempat itu pak selain satpam yang berjaga"

"jadi kamu ke perpustakaan dalam keadaan sepi dan tidak orang...?" Cakra menaikkan satu alisnya. pernyataannya seakan menaruh curiga kepada Mahendra

"saya sudah bilang kalau saya hanya pergi untuk mengembalikan buku, tidak bermaksud yang lain"

"pukul berapa kamu tiba di kost...?" tanya Mahesa lagi

"pukul 20.00 malam"

"jarak antara kampus dan tempat kost kalian jika menempuh dengan kendaraan paling hanya 20 menit. kenapa bisa sampai kamu tiba pukul 20.00 malam...?" Mahesa sama sekali tidak memalingkan wajahnya dari Mahendra. matanya seakan mengunci Mahendra untuk melihat setiap gerak dan ekspresi wajah Mahendra

"motor saya mogok dan saya harus mendorongnya sampai di depan kampus untuk mencari bengkel. sampai sekarang motor saya masih ada di bengkel"

"lalu setelah itu kamu kemana...?"

"saya bertemu dengan Randi dan kami pulang bersama"

"Randi siapa...?"

"saya pak, Mahendra memang kemarin pulang bersama saya" Randi mengangkat tangannya

"sepertinya dia bersih Hes" Angga berpendapat

"saya akan cek cctv di depan kampus, apakah alibimu ini benar atau tidak" ucap Mahesa

"silahkan pak, saya bersedia dihukum kalau memang saya bersalah"

"eeemmm pak polisi" Alan memberanikan diri untuk bersuara

"iya, ada apa...?" tanya Mahesa

"bagaimana dengan kematian kak Sisil, apakah pembunuhnya sudah di temukan...?" tanya Alan

"Sisil siapa...?" tanya Cakra

"mahasiswi manajemen pak, dia senior saya" jawab Alan

"kami masih menyelidikinya, pembunuhnya sangat pintar sampai tidak meninggalkan jejak sama sekali. mungkin bisa jadi pembunuh sarah adalah yang membunuh Sisil juga dan juga wanita yang di bunuh di jalan xxx" Mahesa menjawab

"kalau begitu termakasih atas informasinya Mahendra, kami akan menghubungi anda lagi jika kami menemukan yang ganjal di alibi kamu"

"sama-sama Pak, saya senang bisa membantu"

setelah ketiga polisi itu pergi, barulah mereka semua bernafas lega.

"bang Mahendra yang diinterogasi, kenapa gue yang deg degan" Alan memegang dadanya

"haduh Hen, hampir copot jantung gue" Randi berbaring di lantai

"elo kenapa nggak cerita sama kita Hen" Damar melihat temannya itu

"yaa gue pikir itu nggak akan jadi masalah, taunya gue sampai dicari polisi" Mahendra bersandar di kursi

"ya sudahlah, lebih baik sekarang kita makan, perut gue udah keroncongan dari tadi" Iyan berjalan ke arah dapur

makanan yang mereka beli tadi di bawa di ruang tamu, mereka makan malam bersama dan seperti biasa Olan akan pulang saat semua orang telah selesai makan. dirinya seperti biasa membawa apa saja yang ia beli di jalan. kali ini Olan membawa somai dalam jumlah banyak. niat hati Olan akan cuti malah menjadi batal karena beberapa masalah yang terjadi di tempat kerjanya membuat dirinya harus bekerja keras dan bahkan sampai lembur.

"makasih ya bang Olan, somainya enak" ucap Alan

"makan yang banyak Lan, supaya elo cepat gede" Olan mengacak rambut Alan

"Alan udah gede kali bang" Alan menimpali

"iya gede, tapi penakut" Wili mengejek

"ish bang Wili mah suka gitu" Alan memanyunkan bibirnya

"ulu ulu ulu..... adek gue ngambek" Kevin mencubit pipi Alan

"jangan dicubit bang Kevin, nanti pipi Alan melar" Alan semakin kesal

"ya udah gue cium aja kalau gitu" goda Kevin

"huaaaaa bang Kevin mah jorok, mulutnya penuh sambal" Alan memberontak saat Kevin berusaha untuk menciumnya

perasaan tegang kini berubah menjadi tawa. mereka merasa gemas dengan kelakuan Alan dan Kevin. seketika masalah Mahendra tadi mulai mereka lupakan.

Terpopuler

Comments

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

itu dbayarin/nnti dgnti apa patungan si, ky yg kopi kan buat rame2 apa d dapur nya prlngkpn d yg blnjain

2024-04-05

0

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

solid bgt semoga mrka ttp rukun...dan jgn dong slh 1dr mrka yg jd pmbunh

2024-04-05

0

V3

V3

benar kata Alan ,, Mahendra yg di interogasi knp aku ikutan deg degan yaa 🤣🤣

2023-01-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!