Episode 13

susana pagi di kost 010 terdengar riuh. Kevin yang bangun terlambat harus berlari ke sana kemari mencari bajunya di jemuran yang belum sempat ia setrika. perkuliahannya pukul 07.30 dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 07.10, sisa 20 menit lagi waktu yang ia punya.

bukan hanya dirinya, Wili, Alan, Mahendra, dan Olan juga langsung blingsatan saat melihat jarum jam di dalam kamar mereka.

"bang Kevin, Alan pinjam cas laptop" Alan langsung menerobos masuk kamar Kevin

"cari di lemari" ucap Kevin yang sedang memakai bajunya

"ampun, ini tugas gue kemana" Wili pusing mencari tugasnya yang tidak ia dapatkan

"mampus gue, bisa dimarahi bos ini" Olan buru-buru mengambil tasnya dan keluar dari kamar

Mahendra memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya dengan terburu-buru. ponselnya terus berdering, Robi teman jurusannya terus menghubunginya karena perkuliahan hanya beberapa menit lagi dosennya akan masuk.

semalam saat pulang dari pasar malam, waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. namun bukannya istrahat, mereka malah melanjutkan dengan menonton bola hingga akhirnya mereka tidur pada pukul 04.00 pagi. kini mereka kesiangan dan panik saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat.

saat Mahendra keluar dari kamarnya, saat itu juga Kevin dan Alan baru juga keluar dari kamar mereka.

"kuliah pagi juga kalian...?" tanya Mahendra

"iya bang, sekarang udah mau telat" jawab Alan, mereka langsung turun ke bawah

"bang Wili, Alan ikut ya" teriak Alan saat melihat Wili sedang mengunci pintu kamarnya

"yaudah cepat buruan, udah telat nih" ucap Wili menuju pintu keluar

Olan sudah lebih dulu pergi. Damar yang baru saja keluar dari kamarnya masih dengan muka bantalnya, melihat ke arah pintu.

"oi mau kemana, buru-buru amat" tanya Damar

"ngampus" jawab ketiganya yang langsung berlalu meninggalkan kost

"oh ngampus" ucapnya manggut-manggut sambil menguap

"haaah ngampus" Damar yang tadinya terlihat santai malah kaget dan langsung melompat ke dalam kamarnya

"mampus gue" Damar menjambak rambutnya saat melihat jadwal perkuliahannya

dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air. tidak cukup 2 menit dirinya selesai dan langsung berpakaian kemudian keluar dari kamar.

"telat ye pak...?" ledek Randi yang sedang duduk di ruang utama

puuuk

bukan menjawab, Damar malah memukul kepala Randi kemudian kabur melarikan diri ke pintu kost

"oi kampret, sakit tau" teriak Randi kesal

"kenapa lu Ran...?" tanya Iyan yang sedang menuruni anak tangga

"nggak kenapa-kenapa. bang Iyan nggak kerja...?"

"gue masuk siang" Iyan berjalan ke arah dapur

kini di dalam kost hanya ada Randi, Iyan dan Rahim yang masih berada di dalam kamarnya dan belum keluar sama sekali. selain dari mereka, semuanya telah meninggalkan kost untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya.

setelah memarkirkan motornya, Mahendra berlari dengan cepat untuk sampai ke ruang perkuliahan. sisa 2 menit lagi waktu yang tersedia, jika telat maka sudah pasti dirinya tidak akan boleh masuk dalam mengikuti perkuliahan.

untungnya dewi fortuna masih berpihak padanya. tepat 10 detik waktu yang tersisa, dirinya sudah berada di dalam ruangan.

"huuufftt... slamat... slamat" Mahendra mengusap dadanya

"Hen, sini" panggil Robi yang duduk di kursi belakang bersama Selda dan Maureen

Mahendra menghampiri mereka dan ia duduk di samping Robi.

"tumben telat pak" ucap Selda

"kesiangan gue" jawab Mahendra lesu

"abis ngapain sampai kesiangan...?" tanya Maureen

"nonton bola" jawab Mahendra

"pantas" ucap Selda dan Maureen bersamaan

"kayaknya elu perlu ngopi deh. setelah keluar kita nongkrong di cafe gimana" Robi memberikan usul

"boleh tuh, gue emang butuh ngopi buat penghilang ngantuk" Mahendra menyetujui

"kalian berdua mau ikut nggak...?" Robi melihat ke arah dua temannya

"gue nggak bisa, ada janji soalnya" jawab Selda

"elu gimana...?" Robi melihat Maureen

"ya bolelah, sekedar menghilangkan penat" angguk Maureen

kemudian perkuliahan pun dimulai. hingga tiga jam ke depan perkuliahan selesai dan semua mahasiswa keluar dari ruangan setelah dosennya lebih dulu telah meninggalkan ruangan.

"guys gue duluan ya" Selda pamit kepada semua temannya

"elu mau kemana sih Sel, perasaan di rumah elu nyokap bokap lu nggak ada deh. ikut kita aja kenapa sih" Maureen menahan Selda dengan mengapit lengannya

"gue ada janji dengan seseorang" timpal Selda

"janji...? siapa...? Rehan...? Maureen memicingkan matanya ke arah Selda

" bukannya Rehan elu berdua udah putus ya" Robi bersuara

"bukan Rehan, ih kalian kepo deh. udah ah gue mau cabut dulu. bye bye" Selda langsung meninggalkan mereka bertiga

"ih tuh anak, emang dasar ya" cebik Maureen

"jadi kita kemana nih...?" Mahendra bersuara setelah sejak tadi ia terdiam

"makan aja dulu deh, gue lapar nih, nanti setelah itu baru ngopi. terserah mau ngopi dimana, banyak tempat nongkrong di depan kampus" Maureen menjawab

"boleh juga deh, gue juga lapar soalnya. mau ke kantin kampus atau cari di luar...?" Robi menimpali

"kantin kampus aja, ayuk" Maureen mengapit lengan Mahendra dan mereka bertiga menuju kantin yang ada di Fakultas mereka itu.

Mahendra membiarkan lengannya di apit oleh Maureen. tidak ada rasa canggung dan risih karena mereka adalah teman yang begitu dekat. Selda dan Maureen memang selalu seperti itu kepada Mahendra dan Robi.

saat berjalan menuju kantin, sebuah suara memanggil Mahendra membuat ketiganya berhenti dan menoleh ke arah suara itu.

ternyata itu adalah Viona, dia menghampiri mereka dan matanya melihat Maureen yang sedang mengapit lengan Mahendra.

"mau kemana...?" tanya Viona

"kantin. bagaimana...? udah sehat...? Mahendra bertanya balik

" masih tapi tidak separah kemarin. kalian berdua romantis banget ya, pegangan lengan seperti itu" Viona melirik tangan Maureen yang ada di lengan Mahendra

"romantis sama sahabat sendiri nggak ada salahnya kali" Maureen menjawab namun belum melepaskan tangannya dari lengan Mahendra

"emmm Reen, kita pergi duluan yuk" Robi berbisik di telinga Maureen

Robi ingin segera pergi dari tempat itu, karena sebenarnya ia merasa tidak nyaman apalagi Viona yang menatap tidak suka ke arah Maureen. Robi ingin agar dia dan Maureen memberikan Mahendra dan mantan kekasihnya itu waktu untuk berdua.

"ayuk Hen, gue udah lapar nih" Maureen bermanja di lengan Mahendra

(ampun nih anak, sengaja banget mengibarkan bendera perang) Robi membatin

"Vi, gue duluan ya" pamit Mahendra

ketiganya meninggalkan Viona namun gadis itu menahan lengan Mahendra yang satunya sehingga langkah Mahendra terhenti.

"gue ikut" ucap Viona

Mahendra melihat Robi dan Maureen meminta persetujuan. keduanya mengangkat bahu tanda terserah dan Mahendra pun mengangguk pelan ke arah Viona.

Viona tersenyum senang, ia ingin mengapit lengan Mahendra namun dengan cepat Maureen ke sebelah kanan Mahendra sehingga Viona tidak dapat menyentuh Mahendra.

"ayuk" ajak Maureen menarik lengan mahendra

Viona kesal namun tetap mengikuti mereka. Maureen tersenyum licik di samping Mahendra.

(rasain, emang enak mantan pacarnya gue nempelin. sakit kan...? begitu juga dulu yang dirasakan Mahendra saat elu selingkuh di belakangnya. ngerjain elu dikit nggak apa-apa lah) Maureen membatin dan melirik Viona

ketiga sahabat Mahendra jelas tau bagaimana hubungan Mahendra dengan Viona. mereka adalah sepasang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan. tidak ada yang ditutupi oleh Mahendra kepada ketiga sahabatnya, bahkan saat dirinya putus dengan Viona, ia menceritakan kepada mereka dan tentu saja mereka memberikan solusi untuk sahabat mereka itu.

"kalian mau makan apa...?" tanya Mahendra

"gue soto ayam" jawab Maureen

"bakso aja deh gue" ucap Robi

"elu Vi mau makan apa...?" Mahendra melihat Viona

"samain aja sama pesananmu" jawab Viona

Mahendra meninggalkan mereka untuk memesan makanan. saat Mahendra pergi, Viona melirik Maureen yang sedang sibuk dengan ponselnya. keheningan menimpa mereka dan Robi mencairkan suasana dengan bertanya kepada Viona.

"elu emang sakit apa Vi...?" tanya Robi

"demam aja tapi udah mendingan. Mahendra kemarin yang rawat gue" jawab Viona dan ia melirik Maureen yang acuh dengan jawabannya itu

"dia ke kost elu...?" lanjut Robi

"iya, dia kan sayang banget sama gue. dengar gue sakit jelas dia langsung datang nemuin gue" Viona berucap dengan pd

"sayang tapi kok diselingkuhin" Maureen membuka suara

Viona tercekat dengan ucapan Maureen, ia menatap kesal ke arah gadis itu. Robi yang tidak ingin ada pertengkaran akan menengahi namun ternyata Mahendra telah datang dan ia dapat bernafas lega.

"udah pesannya...?" tanya Robi

"udah, bentar lagi datang" jawab Mahendra

saat sedang menunggu ponsel Mahendra berbunyi menandakan ada pesan masuk. ia mengambil ponselnya dan saku celananya dan memeriksa siapa yang mengirimkan dia pesan.

Danil : bang Arga, aku sudah mau berangkat, nanti jemput aku ya

Mahendra membaca pesan itu, adiknya kini telah berada di kereta untuk datang ke tempatnya. ia pun membalas pesan Danil dan mengatakan akan menjemputnya nanti.

makanan yang mereka pesan telah datang. mereka menikmatinya dengan lahap.

"kayaknya hari ini kita nggak bisa ke cafe" Mahendra membuka percakapan

"loh kenapa...?" tanya Robi

"gue harus jemput adek gue di stasiun" jawab Mahendra

"adek lu mau datang ke kota ini...?" lanjut Robi

"iya, dia sudah berada di dalam kereta. kita ke cafe nggak jadi nggak apa-apa ya" Mahendra tidak enak hati kepada dua sahabatnya

"santai aja kali Hen, kan masih ada waktu lain untuk kita bersama" Maureen menimpali

"gue temanin ya ke stasiun" Viona menawarkan diri

"nggak usah, sebaiknya setelah ini elu pulang, wajahmu masih pucat gitu. harusnya elu nggak datang di kampus" Mahendra menatap Viona

"gue datang karena nyariin elu, gue kangen" Viona tanpa malu memegang tangan Mahendra

"sayang, gue haus. elu nggak pesan minuman ya...?"

uhuk... uhuk

Robi terbatuk mendengar Maureen memanggil Mahendra dengan panggilan sayang. Viona membulatkan matanya saat mantan pacarnya dipanggil sayang oleh gadis lain, sedangkan Mahendra, ia menatap Maureen dengan tatapan bingung dan alis terangkat.

"sayang ih, gue haus kok malah bengong sih" Maureen membuyarkan Mahendra

"eh... iya tunggu gue pesanin dulu" Mahendra akan berdiri namun Robi segera menahannya dan dia yang menggantikan sahabatnya itu

(nih anak kenapa sih...) batin Mahendra melihat Maureen

(mereka pacaran...?) Viona begitu kesal dan tidak Terima kalau Mahendra menjadi milik wanita lain

Robi datang dengan empat minuman di nampan yang ia bawa. setelah mereka selesai makan, semuanya bergegas untuk kembali.

"yank, elu mau ke stasiun sekarang...?" tanya Maureen yang bergelayut manja di lengan Mahendra

Robi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa lucu sekaligus heran kenapa sahabat mereka itu bisa bersikap seperti itu

"iya" jawab Mahendra yang tidak kalah bingung

"yaudah, hati-hati ya" Maureen melepaskan tangannya saat mereka sudah berada di parkiran

Viona begitu kesal dan marah kepada Maureen, bagaimana bisa Mahendra bisa berpacaran dengan sahabatnya sendiri, itulah yang ada dalam pikirannya.

"gue cabut ya" ucap Mahendra yang sudah bersiap untuk pergi

"bye sayang" Maureen melambaikan tangan

setelah Mahendra pergi, Maureen segera menarik lengan Robi untuk meninggalkan tempat itu, sementara Viona dengan hati yang kesal kembali ke ruangan kelasnya.

"elu sehat kan Reen, nggak sakit kan...?" Robi bertanya

"ya enggak lah, elu nggak liat gue sehat walafiat seperti ini" jawab Maureen

"ya terus kenapa sikap elu aneh seperti tadi..?"

"gue cuman memberikan pelajaran kepada gadis itu. gimana, akting gue hebat kan"

"oooh.. akting toh, bilang kek dari tadi" ucap Robi mulai paham

Mahesa sedang berkutat dengan buku dan pulpen di dalam ruangannya. ada sesuatu yang sedang ia pikirkan dan sepertinya itu mengganggu pikirannya.

tok tok tok

"masuk"

pintu terbuka, Angga dan Cakra masuk ke dalam ruangan pria itu dan duduk di depannya.

"kenapa Hes...?" tanya Cakra

"gue mau tanya, saat elu ke toilet yang jaraknya 20 meter dari kantor ini, dan selang 5 menit Angga menyusul ke toilet, bukankah ada kemungkinan kalau kalian akan bertemu...?" Mahesa melihat kedua rekannya itu

"5 menit itu jelas kami akan bertemu, gue belum selesai dengan hajat gue, jelas Angga sudah datang" Cakra menjawab

"tapi kalau hanya buang air kecil pasti cepat, nggak butuh waktu berapa menit udah kelar" Angga memberikan pendapat

"pendapat Angga ada benarnya juga" Cakra membenarkan

"tapi nggak mungkin kita nggak bertemu dalam jarak 5 menit. paling tidak kita bertemu saat gue udah keluar dari toilet" Cakra melanjutkan ucapannya

Mahesa manggut-manggut mendengar penjelasan kedua rekannya. dirinya sepemikiran dengan apa yang dikatakan oleh Cakra.

"memangnya kenapa sih elu nanya kayak gitu...?" Cakra bertanya kepada Mahesa

Mahesa mulai menjelaskan apa yang menjadi pikirannya sekarang. itulah mengapa ia membutuhkan pendapat dari kedua rekannya itu.

"untuk sementara kita harus awasi tiga nama ini" Mahesa memperlihatkan nama yang dia tulis

"kenapa tiga nama, yang duanya kan sudah kita selidiki dan mereka bersih" Angga berucap

"gue tau tapi tidak ada salahnya menyelidiki ulang. mungkin ada sesuatu yang kita lewatkan" jawab Mahesa

Terpopuler

Comments

lecy

lecy

alasan olan mmbntu pdagang tdk msuk akal...mna ada awalnya mau mkn bso trs tba" ijin ke toilet ehh bknnya lgsg ke tmpt bso tp mlah milih bntu orang jualan..kn anehh..yg skrg lg di curigai sm polisi 3 nma yaitu mahendra,kevin,olan...
tp jjur aku msih curiga kpd randi..emng sii blm ada tnda" kecurigaanya..kl yg di psar mlm mmg trlht bgt curiga ke olan..tp lia aja tar author lg bkin pnasaran pra pmbaca biar pd nebak" dlu

2023-04-01

0

V3

V3

yg jd tanda tanya mmg Olan sih ,, apa benar Olan membantu pedagang itu ❓❓

2023-01-30

0

Winna

Winna

Olan .. hrs e ktmu dong saat keluar dr toilet kalo emang ke toilet beneran

2023-01-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!