Mahendra yang hatinya sedang tidak baik-baik saja langsung melajukan motornya untuk kembali ke kampus karena jam 1 siang dirinya harus mengikuti perkuliahan sampai sore hari. jadwalnya hari ini benar-benar padat.
"jangan lupa kumpulkan tugas kalian minggu depan"
"baik Pak"
jam 5 sore Mahendra baru selesai dengan perkuliahannya. semua teman-temannya sudah bergegas untuk pulang begitu juga dengan dirinya. namun dirinya tidak akan langsung pulang, ia akan ke perpustakaan terlebih dahulu untuk mengembalikan buku-buku yang ia pinjam karena tadi sempat tertunda lantaran mengikuti Viona dan selingkuhannya.
drrrrrrt..... drrrrrrt
ponsel Mahendra bergetar, saat ia memeriksa ternyata Viona yang menghubunginya. dengan malas ia mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam tas. Mahendra bergegas ke parkiran untuk menuju perpustakaan sebelum tutup.
tiba di perpustakaan ia segera masuk dan menuju lantai 3, tempat dimana dirinya meminjam buku.
"kak, saya mau mengembalikan buku yang pernah saya pinjam" Mahendra berhadapan dengan salah seorang wanita yang bertugas melayani para mahasiswa dan mahasiswi yang ingin meminjam buku
wanita itu yang sudah bersiap untuk pulang langsung menoleh saat Mahendra menghampirinya.
"kok baru datang, ini sudah mau tutup" wanita itu menghadap ke arah Mahendra
"kebetulan saya sudah di sini, bisa diterima saja nggak kak" Mahendra berharap ia dapat mengembalikan semua buku itu karena sangat berat baginya untuk membawa-bawa di dalam tasnya
wanita itu melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, kemudian ia menyimpan kembali tasnya dan mengambil buku album yang tebal berwarna merah.
"atas nama siapa...?" tanya si wanita
Mahendra yang dipertanyakan namanya langsung mengambil tempat duduk di depan si wanita yang terhalang meja besar.
"Mahendra Argadinata" Mahendra menyebutkan namanya
wanita itu mulai mencari nama laki-laki yang di depannya. setelah menemukan nama Mahendra, ia menyerahkan buku itu kepadanya untuk tanda tangan di tanggal pengembalian buku.
"terimakasih kak" ucap Mahendra setelah dirinya tanda tangan
"sama-sama, silahkan kembalikan bukunya di tempat yang kamu ambil" jawab wanita itu
Mahendra beranjak dan berjalan menuju rak buku tempat ia mengambil semua buku pinjamannya. ada empat buah buku yang ia pinjam dan semuanya ia kembalikan ke tempat yang semula.
setelah menyimpan buku-buku itu di rak masing-masing, Mahendra berjalan menuju pintu. ia melihat wanita tadi masih di tempat duduknya sedang memeriksa sesuatu. matanya terfokus kepada buku album yang dipegangnya.
sudah tidak ada siapapun di ruangan itu selain dirinya dan juga si wanita. waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, yang artinya 30 menit lagi magrib akan segera datang.
"belum pulang kak...?" tanya Mahendra basa basi. ia berhenti di depan meja wanita itu
"sebentar lagi. sudah...?" wanita itu menatap Mahendra
"sudah kak. kalau begitu saya permisi dulu"
"iya silahkan"
Mahendra berlalu dan turun ke lantai satu. wanita itu masih sibuk dengan urusannya hingga saat adzan berkumandang dirinya baru sadar kalau ternyata hari sudah berganti malam.
"sampai lupa waktu saya" ia segera merapikan mejanya kemudian mengambil tas dan meninggalkan ruangan yang luas itu
sunyi sepi tanpa seorangpun, mungkin karena sudah terbiasa pulang malam sehingga wanita itu tidak merasa takut. tiba di lantai satu ia bertemu dengan penjaga perpustakaan, seorang laki-laki.
"baru mau pulang mbah Sarah...?" tanya laki-laki itu
"iya mas Heru. saya pulang duluan ya" jawab wanita itu yang bernama Sarah
"iya mba, saya juga tidak lama akan segera pulang" timpal Heru
suara sepatu Sarah menggema di lantai bawah, dirinya keluar dan berjalan menuju tempat yang biasa ia lewati. masih ada orang yang berlalu lalang, namun saat sudah di tempat sepi, tidak ada seorangpun selain cahaya lampu yang temaram.
tak tak tak
suara langkah kaki dibelakangnya dapat ia dengar. Sarah lega karena ada seseorang yang menjadi temannya untuk menyusuri jalanan yang sepi itu. meskipun ia sering pulang jam seperti itu namun terkadang ada rasa takut dalam dirinya.
tak tak tak
Sarah tidak menoleh ke belakang, ia sengaja melakukan itu karena dirinya ingin agar orang tersebut tetap berada di belakangnya dan dia berada di depannya. saat tepat dirinya berada di lampu jalan, ia membetulkan sepatunya yang dimasuki kerikil.
Sarah menunduk dan melepas sepatunya untuk mengeluarkan kerikil itu dan kemudian ia memakainya kembali. saat akan bangun, ia sadar kalau suara kaki tadi saat dirinya berhenti suara langkah kaki itu juga berhenti. harusnya orang tersebut akan terus melangkah melewati Sarah atau berhenti di dekatnya dan menanyakan apa yang terjadi pada wanita itu. namun itu tidak terjadi, langkah kaki itu berhenti entah apa yang dilakukan seseorang itu di belakangnya.
Sarah terdiam di tempatnya dan dari cahaya lampu, dirinya dapat melihat bayangan seseorang yang berdiri tidak jauh darinya. orang tersebut memegang pisau tajam di tangan kanannya. seketika tubuh Sarah mulai kering dingin, lututnya bahkan gemetar dan ia mulai tegang.
dengan langkah pelan ia berjalan kembali dan saat melangkah maka langkah kaki itu terdengar lagi mengikutinya dari belakang. Sarah berbalik cepat untuk melihat siapa sebenarnya yang berada di belakangnya. saat berbalik ia sangat ketakutan dengan apa yang dilihatnya.
"Hai cantik.... akhirnya kita bertemu" orang tersebut tersenyum menyeringai dari balik masker yang ia pakai. suaranya sangat membuat Sarah ketakutan.
"s-siapa kamu...?" entah kenapa kaki Sarah begitu lemas
"aku...? aaah, kamu tidak mengenaliku...?" ia membawa dirinya lebih dekat dengan Sarah dan wanita itu semakin melangkah mundur
"jangan macam-macam, atau aku teriak" ucap Sarah dengan bibir bergetar
"teriak lah, teriak yang sekeras-kerasnya"
tanpa peduli lemas di kakinya, Sarah berbalik dan berlari. tentu saja laki-laki misterius itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Sarah sekuat tenaga mempercepat larinya, dirinya bersembunyi di tanaman bunga yang menghiasi jalan itu.
"sialan, kemana perginya ****** itu" umpatnya saat ia tidak berhasil menyusul Sarah
laki-laki itu berdiri tepat di depan Sarah. wanita itu menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. matanya membulat saat melihat pisau tajam yang dipegang oleh laki-laki itu.
karena tidak berhasil menemukan Sarah, laki-laki itu pergi dari tempat itu. Sarah jatuh lemas di tempat persembunyiannya. nafasnya terengah-engah dan jantungnya berpacu lebih cepat.
ia melihat sekitarnya, merasa aman kemudian ia keluar dari tempat persembunyiannya. di ujung jalan sana, ia dapat melihat seorang laki-laki yang tadi datang menemuinya. ia melihat Mahendra yang sedang memeriksa ban motornya yang sepertinya bermasalah. hati Sarah mulai tenang, segera ia melangkah untuk menghampiri Mahendra.
"Mahen.... mmmmm" belum sempat memanggil nama Mahendra, mulutnya telah dibekap oleh laki-laki misterius yang mengejarnya tadi
"mmmm.... mmmm" Sarah memberontak dan bahkan sepatunya terlepas namun kekuatannya tidak bisa mengalahkan tenaga dari si laki-laki misterius
laki-laki itu membawa Sarah semakin jauh dari Mahendra. pupus sudah harapan Sarah untuk meminta tolong kepada Mahendra.
plaaaaaak
plaaaaaak
laki-laki itu yang terkena gigitan Sarah, dengan sangat emosi menampar wajah wanita itu dengan sangat keras sehingga mulutnya berdarah.
ia menjambak rambut Sarah dan membenturkan kepalanya di batang pohon sehingga pelipis wanita itu mengeluarkan darah.
"kenapa menangis sayang, bukannya kamu ingin bermain-main denganku. maka sekarang aku kabulkan permintaan mu" ia membelai wajah Sarah yang sudah terkena darah
"s-siapa kamu, aku tidak mengenalmu" Sarah berucap dengan gemetar
"oh ya. ah wanita memang sangat jual mahal. baiklah akan aku buka masker ku"
laki-laki itu membuka maskernya dan tersenyum menyeringai ke arah Sarah. seketika mata Sarah hampir melompat dari tempatnya mengetahui siapa yang telah menganiaya dirinya.
"k-kamu"
"iya, ini aku. sudah mengenalku bukan"
"a-apa mau mu...?"
"oh ayolah, bukankah sudah aku katakan kalau aku mengabulkan permintaan mu untuk bermain denganku. kamu bilang akan sangat suka jika bermain denganku, lalu kenapa sekarang wajahmu ketakutan seperti itu, hemmm" laki-laki itu membelai wajah Sarah dengan pisau yang ia pegang
"t-tolong j-jangan, jangan bunuh aku" Sarah sangat takut melihat pisau yang berada di wajahnya itu
"siapa yang ingin membunuhmu, aku hanya ingin bermain-main denganmu. tapi yaaa kalau kamu ingin dibunuh, aku siap melakukannya"
"jangan-jangan, aku mohon" Sarah mulai menangis
"mana Sarah yang aku kenal saat mengirim pesan dengan kata-kata genitnya. kamu bilang akan memuaskan ku kalau kamu bermain denganku. maka sekarang puaskan aku, dengan permainan mu"
"akan aku lakukan, asal jangan bunuh aku"
"baiklah. permainan pertama, iris tanganmu dengan pisau ini"
"a-apa...?" mata Sarah membelalak
"AKU BILANG IRIS TANGANMU DENGAN PISAU INI" ia membentak Sarah dengan suara kerasnya
"tidak... aku tidak mau" Sarah menggeleng cepat
"kalau begitu biar aku yang melakukannya"
laki-laki itu mengambil lengan Sarah dan mengirisnya tepat di urat nadi wanita itu. Sarah berteriak kesakitan namun laki-laki itu menyumpal mulut Sarah sehingga wanita itu tidak mengeluarkan suara.
kedua urat nadi wanita itu ia iris dengan sangat dalam. darah segar mengucur dengan derasnya. Sarah sangat kesakitan, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
"selamat meregang nyawa" bisiknya di telinga Sarah
Sarah terkapar tidak berdaya di tanah. darah terus keluar dari tangannya dan mungkin hanya menghitung menit wanita itu tidak akan bernyawa lagi.
"aku benci wanita pengganggu" ucapnya kemudian meninggalkan Sarah yang sedang kritis
Mahendra mendorong motornya karena tiba-tiba saja kendaraannya itu mogok saat dirinya akan pulang. dia mencari bengkel terdekat dengan kampus karena dirinya masih berada di sekitaran kampus. setelah dari perpustakaan, ia sempat bertemu dengan temannya dan mengobrol sejenak. saat terdengar adzan magrib, mereka pun berpisah dan Mahendra bersiap pulang. sayangnya tiba-tiba saja motornya mogok dan dia harus memperbaikinya terlebih dahulu.
saat di periksa ternyata mesin motornya bermasalah dan tidak bisa diperbaiki sekarang karena bengkel sudah tutup. pemilik bengkel sudah akan menutup bengkelnya saat dirinya baru saja tiba.
"jadi kapan mas saya bisa ambil...?" tanya Mahendra
"besok sore kamu sudah bisa datang ambil" jawab pemilik bengkel
"baiklah, kalau begitu terimakasih mas. besok saya akan datang lagi"
"iya mas, sama-sama"
Mahendra menghela nafas panjang. akhirnya dirinya pulang dengan berjalan kaki. sebelum pulang ke kost, ia mampir di minimarket untuk membeli beberapa snack dan juga minuman.
"oi Hen, elo di sini juga" Randi yang ternyata berada di tempat itu menyapa Mahendra
"iya, gue sebenarnya mau pulang tapi mampir di sini sebentar" jawab Mahendra
"elo di sini mau belanja apa...?" tanya Mahendra
"belanja sabun, soalnya perlengkapan mandi gue udah habis. sekalian mau beli makanan, pesanan anak-anak kost" jawab Randi
"kalau gitu kita berengan aja pulangnya, elo habis itu mau langsung pulang kan...?"
"iya lah, mau ngapain lagi coba. yuk bayar" ajak Randi
setelah membayar, keduanya ke warung makan untuk membeli makanan. untungnya Randi membawa motor sehingga mereka tidak perlu jalan kaki lagi. selesai dengan membeli makanan, mereka berdua pulang ke kost 010.
"assalamu'alaikum" ucap Mahendra dan Randi
"wa alaikumsalam" jawab yang di dalam
"Hen, elo baru pulang...?" tanya Iyan yang berada di ruang tamu
"iya bang, motor gue mogok. untung gue ketemu Randi" Mahendra menjawab dan menyimpan kantung belanjaannya di meja sedang Randi menuju dapur
"apa nih...?" Iyan melihat kantung yang ada di depannya
"cemilan bang untuk kita semua. kebetulan tadi gue lewat di minimarket" jawab Mahendra
"wah bisa ngemil dong sambil nonton bola" Damar yang baru keluar dari kamarnya ikut bergabung
"bisa banget lah, kebetulan gue beli banyak" ucap Mahendra
"kalau gitu lo mandi sana, setelah itu kita makan bareng" Rahim berucap. ia bersama Iyan di ruang tamu
"iya bang"
Mahendra naik ke lantai dua menuju kamarnya. sebelum masuk ke kamarnya, ia mendekati kamar Alan dan mengetuk pintunya.
"Alan, gue boleh masuk...?" tanya Mahendra
"masuk aja" jawab Alan
cek lek
Mahendra membuka pintu dan saat pintu terbuka, ia dapat melihat Alan sedang berbaring di kasurnya.
"gimana badan elo, masih lemas...?" Mahendra mendekati Alan dan duduk di sampingnya
"alhamdulillah udah punya tenaga bang. sekarang gue merasa lebih sehat dari semalam dan tadi pagi" Alan menjawab meski wajahnya masih terlihat pucat
"syukurlah, gue senang dengarnya" Mahendra mengusap lengan Alan
"kalau gitu gue ke kamar dulu, mau mandi"
"abang baru pulang...?"
"iya, jadwal gue hari ini padat. gue ke kamar dulu ya"
"iya bang"
Mahendra keluar dari kamar Alan. sikap Alan sekarang tidak sejutek kemarin, wajahnya mulai memperlihatkan aura pertemanan. setelah selesai mandi dan sholat magrib, Mahendra turun ke bawah. penghuni kost 010 makan malam bersama, Alan ikut bergabung bersama mereka karena dirinya sudah mulai sehat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Yuli a
yang dosen. bang rahim kali ya...
2024-12-26
0
anhar005
mc❌
alan❌
Rendi.....
2023-09-23
0
anhar005
aduh bingung gw tambah lagi Rendi kedaftat mencurigakan
2023-09-23
0