sembilan orang pemuda dengan kendaraan yang mereka kendarai membelah jalan raya yang padat dengan kendaraan lain.
Wili membonceng Alan, Mahendra bersama Damar, Iyan dan Kevin, Rahim dan Randi sementara Olan berkendara seorang diri.
kini tibalah mereka di pasar malam, tempat yang menjadi tujuan mereka tadi siang untuk menghabiskan malam liburan sebelum esok pagi kembali beraktivitas.
"rame banget" ucap Alan yang turun dari motor
"kalau mau tempat sepi ya di kuburan Al" jawab Wili menurunkan standar motornya
plaaak
Alan memukul lengan Wili, ia jengkel abangnya itu selalu saja membuatnya kesal.
"sakit Alan, elu mah suka kdrt sama abang" Wili mengelus lengannya
"abis abang suka bikin Alan kesal. Alan nggak mau sama abang Wili lagi, mending sama bang Olan" Alan menghampiri Olan yang berdiri di samping motornya
mereka memarkirkan motor berdekatan agar nanti saat pulang tidak lagi saling mencari.
Wili geleng kepala melihat tingkah Alan yang menurutnya manja kepada semua abangnya. meski begitu Alan yang menjadi adik bungsu mereka, sangat mereka sayangi seperti adik sendiri.
"ayo masuk" ajak Olan
mereka mulai memasuki pasar malam yang sudah sangat ramai di kunjungi banyak orang. aneka jualan dan berbagai macam makanan di jual di tempat itu.
yang pertama mereka cari adalah sepatu untuk adik mereka. semuanya berjalan ke arah penjual sepatu.
Alan mulai mencari sepatu yang menurutnya bagus, yang lainnya pun ikut memilih karena mungkin ada sepatu yang suka.
"yang ini bagus Al" Mahendra menunjukkan salah satu sepatu yang menurutnya bagus
"Alan carinya tali yang warna biru bang" ucap Alan, karena ia suka dengan warna biru
"kalau gitu yang ini aja, ini talinya warna biru dan punya blitz warna biru juga" Iyan menunjukkan sepatu yang di pegangnya
Alan mencoba sepatu yang dipilihkan oleh Iyan. merasa cocok dan pas dengan kakinya, Alan menjatuhkan pilihannya kepada sepatu pilihan Iyan.
setelah mencari sepatu, kini mereka mencari barang yang lain. kali ini mereka mencari jaket, karena Damar ingin membeli jaket. Damar membeli jaket hoodie warna hitam, pria itu sangat suka dengan warna hitam. semua koleksi barang miliknya cenderung warna hitam semua.
selesai membeli jaket kini mereka beralih ke baju-baju yang digantung rapi. mereka ingin membeli baju yang sama agar mempunyai baju couple, untuk penghuni kost 010.
"kalau mau cari sembilan lembar baju yang sama sih kayaknya sudah deh. mending pesan online aja gimana" Kevin mengusulkan
"benar kata Kevin, mending pesan online aja deh daripada ribet cari ya kan" Randi Menimpali
"terserah kalian aja, gue mah ngikut baiknya aja gimana" Rahim menjawab sambil mencari baju yang cocok untuknya
"yang ini berapa bang...?" Rahim mengangkat satu baju warnah putih yang terdapat tulisan di depannya
"90 mas" jawab penjual
"kalau yang ini berapa...?" Olan menunjukkan satu baju warna hitam yang tulisannya killer di belakangnya
"sama mas, 90 juga" jawab penjual
Rahim dan Olan membeli baju yang mereka tanyakan harganya itu. setelah itu mereka kembali berkeliling mencari-cari sesuatu yang mereka suka.
satu persatu mereka telah memegang kantung belanjaan, bahkan kini Alan dan Randi yang lebih banyak kantung belanjaan daripada yang lain.
"cari makan yuk, Alan lapar" ucap Alan
"ayuk lah, gue juga lapar nih" Wili memegang perutnya
"kita ke sana saja, di ujung sana ada penjual bakso" Mahendra menunjuk tempat tujuan
"ya sudah kita ke sana sekarang" ajak Rahim
semuanya bergegas menuju ke abang penjual bakso. saat tiba rupanya banyak juga yang membeli dagangan pria baya tersebut.
"pak baksonya sembilan mangkuk ya" Mahendra memesan
"siap dek" jawabnya
mereka semua duduk di tempat yang telah disediakan oleh pedagang bakso tersebut. Olan pamit untuk ke toilet karena kantung kemih nya mulai penuh. setelah lama Olan pergi, kini Alan yang ingin buang air kecil. ia langsung pamit ke toilet di temani oleh Mahendra karena pemuda itu yang berada di sampingnya.
"elu kayak cewek perawan aja Al harus di temani. kayak takut diculik aja lu" ledek Wili
"Alan kan takut bang. ayo bang Hen, temani Alan" Alan menarik tangan Mahendra dan pada akhirnya Mahendra hanya mengikuti saja langkah kaki adiknya itu
ternyata jarak toilet dengan tempat mereka lumayan jauh. harus melewati beberapa penjual barang dan juga makanan. toiletnya berada di belakang dengan lampu yang tidak begitu terang, hanya menyisakan lampu yang remang.
"abang Hen jangan kemana-mana ya" pesan Alan
"iya, gue di tunggu di sini" jawab Mahendra
Alan kemudian berjalan ke arah toilet dan masuk ke dalamnya. sambil menunggu Alan, Mahendra memeriksa ponselnya untuk melihat mungkin ada pesan yang masuk.
pesan dari adiknya yang bernama Danil beberapa jam yang lalu, kemudian pesan dari teman kampusnya dan pesan dari Viona.
Danil : bang Arga, Danil mau jalan-jalan ke tempatnya abang, boleh nggak...?
Mahendra Argadinata nama lengkap dari Mahendra. adiknya itu sering memanggil dirinya dengan panggilan Arga bukan Mahendra. keluarganya pun sering memanggil dirinya dengan nama Arga.
Mahendra : emang udah ujiannya...?"
pesan Mahendra terkirim. adiknya itu sebentar lagi akan lulus sekolah dan sebentar lagi akan masuk ke perguruan tinggi sama seperti dirinya.
Danil : udah bang, makanya itu Danil mau jalan-jalan di situ sekalian lihat kampus yang cocok buat Danil
Mahendra : ya sudah, abang tunggu di sini. nanti abang jemput di stasiun
Danil : iya bang
setelah membalas pesan adiknya, Mahendra berniat membalas pesan Rudi dari teman kampusnya namun seseorang tanpa sengaja menabrak dirinya sehingga membuat ponselnya jatuh dari tangannya.
"bang hati-hati dong" tegur Mahendra yang tunduk mengambil ponselnya
orang tersebut yang memakai pakaian serba hitam, dan masker hitam serta topi hitam kemudian menutup kepalanya dengan topi jaketnya, berbalik dan menatap Mahendra kemudian ia membungkuk sebagai permohonan maaf setelahnya ia pergi meninggalkan Mahendra.
"jalan gede gini main tabrak aja" ucap Mahendra
"kenapa bang...?" tanya Alan yang baru keluar dari toilet
"nggak kenapa-kenapa, udah...?"
"udah bang"
"abang Olan kok nggak ada ya, tadi kan tanya datang ke toilet" Mahendra melihat ke arah toilet yang ada di belakang mereka
"udah balik mungkin" timpal Alan
"kalau balik pasti kita bertemu di jalan, apa dia ke tempat lain ya"
"mungkin saja. ayo balik bang" ajak Alan
mereka berdua berjalan kembali ke pedagang bakso tadi. saat pergi, mereka berpapasan dengan seorang wanita yang baru saja datang dengan terburu-buru dan wanita itu masuk ke dalam toilet.
belum lama mereka berjalan, tiba-tiba semua lampu di pasar malam itu mati seketika. kini pasar malam yang tadinya terang benderang berganti dengan gelapnya malam.
semua orang panik terlebih lagi para pedagang. Mahendra dan Alan menyalakan senter ponsel mereka begitu juga pengunjung yang lainnya.
"kok lampunya bisa mati ya" ucap Alan dengan menerangi sekitarnya
"koslet mungkin atau ada masalah lain. eh tapi tunggu Al, gue jadi pengen buang air kecil nih"
"jangan lama ya bang, Alan takut soalnya"
"jadi cowok harus berani dikit kali Al, lagian nggak akan ada yang makan elu juga. tunggu gue di sini ya. jangan kemana-mana"
"iya bang, jangan lama"
"iya"
Mahendra meninggalkan Alan sendirian di tempat itu. dengan keberanian yang terpaksa, Alan menunggu Mahendra untuk keluar dari kamar mandi.
Alan memang sangat takut dengan yang namanya kegelapan. bahkan saat lampu di kost mati, dirinya kerap kali tidur di kamar Wili.
"abang Mahendra lama banget sih" gumamnya
Alan masih menunggu Mahendra yang masih berada di kamar mandi. lampu di tempat itu belum menunjukkan tanda-tanda akan menyala. semua orang menggunakan senter masing-masing sebagai penerangan.
seseorang yang berpakaian serba hitam berjalan melewati Alan. Alan hanya melirik sekilas tanpa menaruh rasa keanehan kepada orang tersebut.
wanita yang tadi masuk ke toilet kini telah keluar. dengan senter ponselnya ia berjalan untuk kembali ke temannya yang sedang menunggu namun saat hendak mendekati keluar dari lorong toilet itu, ia melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapannya dan memegang tali panjang.
wanita itu mulai merasa takut apalagi pria misterius itu semakin berjalan mendekat ke arahnya.
"s-siapa kamu, mau apa kamu...?" wanita itu berjalan mundur
Mahendra yang berada di toilet mendengar suara wanita itu namun dirinya dalam keadaan tidak bisa keluar karena masih membuang hajatnya.
"tolong.... mmmmm"
wanita itu meminta tolong dan pria misterius itu dengan cepat membekap mulutnya. Mahendra yang mendengar suara meminta tolong dengan cepat menyelesaikan ritualnya dan keluar dari toilet namun saat membuka pintu, tidak ada siapapun di luar.
"loh kok sepi" ucapnya
"gue dengar betul ada suara wanita meminta tolong, ini kenapa malah nggak ada orang ya" lanjutnya
Mahendra segera menghampiri Alan yang sejak tadi menunggunya. ia menyinari setiap sudut tempat itu namun tidak ada siapapun.
"Al" panggil Mahendra
"abang lama banget sih di toiletnya, lagi bertapa ya"
"maaf, tiba-tiba perut gue mules. ayo cabut"
keduanya pergi meninggalkan tempat itu tanpa mereka tau di belakang mereka yang tidak terlihat oleh siapapun, seorang wanita sedang berusaha mengeluarkan suara untuk meminta tolong kepada Alan dan Mahendra. sayangnya karena mulutnya yang di bekap, ia tidak bisa memanggil kedua pemuda itu.
pria misterius itu membenturkan kepala si wanita di tembok tempat persembunyian mereka. beberapa kali kepala wanita itu di benturkan dengan keras sehingga darah mulai mengucur di dahinya.
wanita itu mulai lemas dan tanpa menunggu lama, pria itu menjerat leher si wanita dengan tali yang ia pegang tadi.
wanita itu memberontak dan kesakitan. bagaimana tidak, tali tersebut menarik lehernya dengan sangat kencang sehingga tenggorokannya tercekat dan bahkan dirinya sudah sulit untuk bernafas.
kakinya terus mendengang-nendang ke depan dan tangannya berusaha untuk melepaskan jeratan tali itu namun semua usahanya sia-sia saja.
perlahan tangan si wanita mulai terlepas dan matanya sudah mulai terpejam hingga beberapa detik kemudian wanita itu tidak bergerak lagi.
"tidur yang nyenyak sayang" bisik pria tersebut
ia meletakkan tubuh wanita itu di tanah dan setelahnya ia pergi dari tempat itu. tidak ada sama sekali yang tau bahwa malam itu telah terjadi pembunuhan di tempat ramai itu.
hampir satu jam lampu padam, akhirnya semua orang bisa bernafas lega karena lampu kini telah menyala kembali.
kini penghuni kost 010 sedang menikmati bakso dengan tenang karena lampu telah menyala.
"bang Olan mana, kok nggak datang-datang dari tadi" ucap Randi yang sedang menikmati baksonya
"nah itu dia, tadi katanya dia ke toilet, tapi tadi kita nggak ketemu sama dia" Mahendra menjawab
tidak lama Olan datang menghampiri mereka dengan kantung belanjaan di tangannya. sepertinya pria itu dari berbelanja keperluan lainnya.
"darimana Lan, ke toilet kok lama banget" tanya Rahim saat melihat Olan
"dari toilet gue sebenarnya udah mau datang, tapi gue lihat pedagang asongan yang dagangannya sepi, gue kasian jadi ya gue bantu dia menjual dulu" Olan duduk di kursinya
"pak, punya aku mana...?" Olan meminta bakso miliknya
"ini mas" bapak tersebut memberikan satu mangkuk yang berisi bakso
"jadi elu jadi penjual tadi. terus dagangan elu laku nggak...?" Iyan bertanya
"Alhamdulillah ada yang laku, penjualnya tampan begini masa nggak laku" Olan memuji dirinya
"pasti para wanita datang menyerbu dagangan abang, benar nggak bang" Kevin menimpali
"alhamdulillah, yang banyak ibu-ibu" jawab Olan
"diserbu emak-emak dong bang" Randi menimpali
Olan mengangguk sebagai jawaban karena ia tidak bisa bicara, mulutnya penuh dengan bakso bulat yang ada di tangannya.
setelah selesai makan, mereka berniat untuk pulang. malam menunjukkan pukul 23.00, ternyata sudah lama juga mereka berada di tempat itu. kini waktunya mereka pulang untuk istrahat di kost.
baru hendak melangkah, mereka dikejutkan dengan kepanikan semua orang. banyak yang berlarian ke arah jalan menuju toilet. karena penasaran akhirnya mereka pergi untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"ada apa mas...?" tanya Rahim kepada pemuda yang ada di depan mereka
mereka tidak bisa masuk terlalu dalam karena tempat itu di penuhi banyak orang bahkan membuat sesak.
"ada mayat" jawab pemuda itu
deg......
"mayat...?" mereka semua kaget
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Yuli a
Olan Tah pelakunya.....
2024-12-26
0
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
penasarqn sbnre korban2 itu wnta ngasal apa pacar s pelaku sih..kok y kbtlan sx time e ada salh satu pnghuni kos 010
2024-04-05
1
Nur Mutmainna Patta
Olan Olan Olan 🤣🤣🤣
2023-08-13
0