Episode 6

"bang Rahim punya printer kan...?" tanya Alan saat mereka telah selesai makan. semuanya bersantai di ruang tamu kecuali Olan yang tidak bergabung karena dirinya belum pulang dari tempat kerjanya

"ada di kamar Lan. elo mau print apaan...?" Rahim menjawab. pria yang berprofesi sebagai dosen itu sedang mengerjakan sesuatu di laptop yang ada di pangkuannya

"mau print tugas bang, besok mau di kumpul. kalau nggak ada tugas nggak boleh masuk ikut perkuliahan" jawab Alan

"udah sembuh dek...? elo kan masih sakit, masa udah mau kuliah" Wili menimpali

"udah mendingan kok bang, in shaa Allah besok pagi udah lebih baik badan gue. udah dua hari gue nggak kuliah. sebenarnya kalau mata kuliah yang lain sih nggak apa-apa tapi untuk mata kuliah yang ini gue nggak mau punya absen bolos. dosennya killer banget, bisa-bisa gue nggak lulus" Alan menjawab

"yang namanya dosen killer pasti ada di setiap fakultas dan jurusan. kayaknya itu sudah jadi takdir alam deh" Kevin menimpali

"humm benar banget, makanya itu gue harus was-was jangan sampai nggak lulus. bang gue mau print tugas bisa kan...?" Alan melihat ke arah Rahim

"boleh... boleh, pergi aja di kamar" Rahim menjawab tanpa melihat adiknya itu karena dirinya sibuk dengan laptopnya

"makasih bang" ucap Alan. ia beranjak dari tempat duduknya menuju lantai atas untuk mengambil laptopnya.

ponsel Mahendra terus berbunyi, Viona terus menghubunginya namun ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan wanita yang masih berstatus kekasihnya karena belum ada kata putus di antara mereka.

"angkat kek, bunyi terus" Damar menyenggol lengan Mahendra

"malas gue, udah biarin aja" Mahendra sama sekali tidak berniat untuk mengangkat

"dari siapa sih, pacar ya...?" Randi yang sibuk dengan laporannya mendekat dan melihat nama siapa yang tertera di ponsel Mahendra. dia memang suka penasaran terhadap hal apapun

"Viona" ucapnya

"kalian marahan lagi...?" Damar ikut melihat ke arah layar ponsel Mahendra

"jadi dia pacar elo...?" belum Mahendra menjawab, Randi sudah memberikan pertanyaan lagi

"elo kepo banget sih jadi orang. kerja cepat tuh laporan lo, gue mau nonton tau" Kevin menarik tubuh Randi untuk kembali ke tempatnya. Randi meminjam laptop Kevin untuk mengerjakan laporannya karena laptopnya rusak dan masih diperbaiki oleh temannya yang ahli

tanpa banyak kata, Mahendra mematikan ponselnya. dia sama sekali tidak ingin berbicara dengan Viona. hati dan perasaannya telah mati untuk wanita itu sejak dia ketahuan selingkuh.

"bang, gue pakai kertas HVS elo dulu ya, nanti gue ganti" Alan datang dengan laptop yang ia pegang

"santai aja dek, kertas banyak kok gue beli kemarin. elo pakai aja" Rahim melihat sekilas ke arah Alan

"makasih bang" Alan tersenyum dan masuk ke dalam kamar Rahim

"gue mau bikin kopi, ada yang mau nggak...?" Mahendra menawarkan

"boleh tuh, gue gulanya satu sendok aja ya" Wili menjawab

"kalau yang lain...?" tanya Mahendra

"gue dua sendok, supaya manis seperti gue" Damar menjawab

"kami semua dua sendok Hen, hanya Wili yang satu sendok" Iyan menjawab

"ok lah"

semuanya mengiyakan untuk dibuatkan kopi. Mahendra segera menuju dapur dan memasak air, setelahnya ia menuju kamarnya untuk mengambil kopi yang dibelinya di minimarket.

saat keluar kamar, Mahendra melihat kamar Kevin yang pintunya terbuka.

(lupa di tutup mungkin ya) batin Mahendra

Mahendra mendekati kamar Kevin berniat untuk menutup pintunya. namun saat gagang pintu ia pegang, matanya menangkap sesuatu di dalam kamar.

"d-darah" Mahendra berucap dengan pandangan lurus ke depan

"ekhem"

"astaghfirullahalazim"

Mahendra terlonjak kaget, bahkan ia menjatuhkan kopi yang ada di tangannya. Kevin telah berada di sampingnya dengan menautkan alisnya melihat Mahendra seperti seseorang yang melihat setan.

"kenapa lo...?" tanya Kevin

"astaga Vin, elo ngagetin aja" Mahendra menghela nafas dan mengusap dada

"lo kenapa sih, kayak orang habis melihat penampakan aja" Kevin menatap Mahendra

"nggak kenapa-kenapa. itu.... di kamar elo.... " Mahendra menunjuk ke dalam kamar Kevin

"kenapa kamar gue...?" Kevin menongolkan kepalanya melihat ke dalam

"itu darah siapa...?" Mahendra menunjuk darah yang ada di baju putih, di keranjang pakaian kotor

"oooh" Kevin ber oh dan masuk ke dalam kamarnya

"ini darah kucing yang gue tabrak tadi pas mau pulang. karena nggak ada kain, ya terpaksa gue gendong untuk menguburkan jasadnya. nggak mungkin kan gue biarkan dia begitu saja" Kevin mengambil baju putih itu dan menyimpannya di kamar mandi

"syukurlah kalau cuma darah kucing. gue pikir elo yang terluka" Mahendra merasa lega

"kalau gitu gue turun dulu ya, lain kali pintu kamar elo jangan lupa di tutup" ucap Mahendra

Mahendra berlalu meninggalkan Kevin. setelah Mahendra pergi, Kevin menutup pintu kamarnya dan mencuci baju putih itu.

di bawah para penghuni kost 010 masih berkumpul. kali ini mereka sedang menonton film horor di laptop . Alan yang memang notabenenya penakut mulai merapatkan badannya ke arah Wili. semuanya yang menonton begitu tegang dan fokus ke arah laptop.

Mahendra telah selesai membuat kopi dan membawanya ke ruang tamu. tidak mau mengganggu, Mahendra menyimpan minuman mereka di atas meja dan kemudian ikut bergabung menonton film adegan pembunuhan, The Killer.

mereka menonton di lantai dengan beralaskan tikar, laptop mereka simpan di depan agar semuanya dapat melihat adegan pembunuhan di film itu.

"gue yakin pasti cewek ini mati" Randi yang memang mulutnya asal ceplos berasumsi

"elo yakin banget, siapa tau dia selamat" Damar menimpali, namun matanya tetap fokus ke arah laptop

"film begini mah gue sering nont aaaaaaa"

Randi refleks berteriak begitu juga yang lain karena mereka kaget mendengar Alan yang tiba-tiba teriak dan melompat ke arah Mahendra. remaja umur 18 tahun itu dan bahkan akan masuk 19 tahun satu bulan lagi, shock dengan apa yang dilihatnya.

seorang wanita di bunuh dengan cara di tusuk beberapa kali. pembunuhnya bahkan menjilat darah wanita itu yang ada di pisau tajamnya. setelah membunuh, si pembunuh membuang mayat si wanita tidak jauh dengan jalan raya.

"ampun deh Alan, hampir copot jantung gue" Wili mengelus dadanya karena kaget

"jangan nonton yang begituan napa bang, gue kan takut" Alan merapat ke arah Mahendra

"ini hanya film Alan, parno banget sih lu" Randi berucap

"nonton yang lain kalau gitu, nih di laptop gue aja. film kungfu" Rahim mematikan film yang mereka nonton itu

"nah cakep tuh, gue suka kalau kungfu" Iyan bersemangat

"mending diminum dulu kopinya, nanti keburu dingin" Mahendra mengingatkan

"thanks ya Hen" ucap Kevin mengambil satu gelas kopi yang telah di sediakan

acara menonton masih berlanjut. Iyan, Rahim, Alan dan Wili menonton film kungfu di laptop Rahim, sementara Randi, Kevin, Mahendra dan Damar melanjutkan menonton film The Killer. semuanya fokus dengan apa yang mereka tonton.

pukul 10 malam, Olan baru saja pulang dari tempat kerjanya. karena pagar telah dikunci, ia menelpon Rahim untuk membuka kunci pagar.

Rahim keluar menuju pagar dan membuka kuncinya.

"elo lembur, jam segini baru pulang" Rahim bertanya, keduanya masuk ke dalam kost

"iya, gue capek banget" Olan mendaratkan tubuhnya di kursi ruang tamu

"bang Olan kok baru pulang, tumben banget" Wili melihat abangnya itu

"lembur gue. eh kalian udah pada makan belum, gue beli gorengan nih sam martabak" Olan menyimpan kantung plastik di atas meja

"wah... kebetulan bang, perut gue mulai keroncongan lagi" mata Randi berbinar melihat kedua makanan itu

"huuuuu.... perut elo mah nggak ada kenyangnya kalau sudah melihat makanan" Iyan menggeplak kepala Randi

"hehehehe, tau aja lo bang" Randi hanya menampilkan gigi-giginya

"masih, mau tambah kopi nggak untuk temannya martabak sama gorengan...?" Mahendra menawarkan

"boleh tuh boleh" Randi manggut-manggut dengan pisang goreng di mulutnya

"mau lo.... " Kevin mencibir dan Randi hanya cengengesan

Mahendra kembali ke dapur untuk membuat kopi. Olan pamit ke kamarnya untuk membersihkan diri kemudian kembali bergabung bersama yang lain.

malam itu mereka lewati dengan secangkir kopi dan juga martabak serta gorengan sebagai pelengkapnya. mereka bercanda dan bercerita, sampai pada pukul 11 malam, semuanya masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.

seperti biasa menjelang waktu subuh, mereka semua telah bersiap untuk pergi ke masjid. udara dingin di waktu subuh sangatlah menyegarkan. hanya beberapa menit saja mereka sampai di masjid yang digunakan anak-anak kost di tempat itu untuk beribadah.

pukul 07.00, Mahendra bersiap untuk ke kampus. ia turun ke lantai bawah dimana penghuni kost yang lain masih bersantai di ruang tamu.

"masuk jam berapa Hen...?" tanya Olan

"jam setengah 8 bang. bang Olan nggak kerja, tumben pagi-pagi masih nyantai biasanya udah rapi aja" Mahendra menjawab

"gue ngambil cuti 3 hari, lumayan lah buat santai-santai di kamar" Olan menimpali sambil menyeruput minumannya

"kalau gitu gue berangkat dulu bang" pamit Mahendra

Mahendra berjalan keluar. hari ini terpaksa dirinya harus jalan kaki karena motornya masih di bengkel dan rencananya hari ini ia akan pergi memeriksanya.

"bang Mahendra" teriak Alan sambil berlari

Mahendra berbalik, Alan berlari ke arahnya dan berhenti tepat di depannya.

"bareng yuk" ucap Alan

"elo masuk pagi juga...?" Mahendra bertanya dengan mulai melangkahkan kakinya dan Alan mengikutinya

"iya. gue sebenarnya mau minta antar sama bang Wili, eh tapi bang Wili masih ngorok. bang Olan bilang bang Mahendra belum lama keluar, ya udah gue susul abang saja" jawab Alan

keduanya menyusuri jalan yang mulai ramai di lalui mahasiswa dan mahasiswi. kost yang mereka tempati berada di belakang kampus, dan untuk mencapai fakultas mereka, mereka harus melewati beberapa fakultas yang lain. kali ini Mahendra mengajak Alan untuk melalui jalan yang bisa langsung tembus ke Perpustakaan.

"pulang nanti jam berapa Lan...?" tanya Mahendra

"emmm.... sepertinya sore bang. hari ini jadwal kuliah gue padat banget" jawab Alan

"gitu ya, padahal gue mau ngajak elo ke toko buku"

"maaf ya bang, kayaknya gue nggak bisa temanin bang Mahendra. lain kali aja gimana bang...?"

"boleh, emang elo free hari apa...?"

"minggu palingan. kalau masih maba begini, nggak ada libur kalau bukan hari minggu bang"

"sabar aja, nanti juga hari libur elo bertambah. jadi hari minggu kita ke toko buku ya"

"siap bang" Alan tersenyum

mereka tetap menyusuri jalan itu hingga langkah kaki mereka berhenti karena di depan sana sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul.

"ada apaan tuh...?" Alan berucap

"kita ke sana" Mahendra melangkah cepat, ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi

sudah ada beberapa polisi di tempat itu. Mahendra mendekat ke arah mayat seorang wanita yang akan di masukkan ke dalam kantung jenazah. dapat dilihat kedua lengan di bagian nadinya terluka dengan sangat dalam. saat rambut mayat wanita itu ditiup angin, Mahendra dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu.

deg.......

mata Mahendra membulat sempurna, melihat siapa mayat yang telah di masukkan ke dalam kantung jenazah.

"d-dia kan kakak penjaga di perpustakaan" gumam Mahendra

"abang kenal...?" Alan yang mendengar ucapannya, bertanya

Mahendra tidak menjawab, dirinya masih shock dengan apa yang ia lihat. baru kemarin sore dirinya bertemu dengan wanita itu untuk mengembalikan buku yang ia pinjam. tidak di sangka pagi ini wanita itu sudah meregang nyawa dengan sangat menyedihkan.

"menyedihkan banget"

"sudah tiga kali terjadi pembunuhan di kampus kita ini"

"ini sudah jelas psycopat, pembunuhan berantai. tiap hari sudah tiga kali berturut-turut, terjadi pembunuhan"

"ngeri banget sih, gue jadi takut kalau jalan sendirian"

mahasiswi yang berada di tempat itu merasa kasihan dengan korban sekaligus takut jikalau nanti pembunuh yang sudah membunuh tiga orang wanita itu, akan kembali mengincar mangsanya.

(pembunuhan berantai...?) batin Mahendra

Terpopuler

Comments

anhar005

anhar005

aduhhh kevin njirr

2023-09-23

0

anhar005

anhar005

eh gw ada tebakan lagi selingkuhan viona itu mungkin pembunuhnya karna tadi dy sempat bilang klo korban chat dy yg nakal" jgn" dy lagi karna punya dendam mungkin jadi dy pacarin terus bunuhhh

2023-09-23

0

Eskael Evol

Eskael Evol

jangan² kevin lah si pembunuh

2023-04-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!