Episode 14

sebelum ke stasiun, Mahendra terlebih dahulu pulang ke kost untuk istirahat sejenak. kereta yang ditumpangi Danil akan tiba 1 jam lagi itu artinya dirinya masih bisa menggunakan beberapa menit waktunya untuk istrahat sebelum menjemput adiknya itu.

sebenarnya di kampus tadi Mahendra ingin berbicara dengan Viona namun karena keadaan yang tidak mendukung akhirnya ia mengurungkan niatnya itu.

waktu menunjukkan pukul 11.00 saat Mahendra tiba di halaman kost. siang hari seperti itu, keadaan kost sedikit lenggang karena para penghuninya sedang menjalani aktivitas masing-masing.

Mahendra masuk ke dalam. di ruang tamu tempat biasanya mereka berkumpul terlihat sangat sepi tanpa ada siapapun. ia melenggang menuju dapur karena tenggorokannya terasa kering. setelah itu ia naik ke lantai dua menuju kamarnya.

saat menuju kamarnya, ia berpapasan dengan Iyan yang sepertinya akan keluar

"udah pulang Hen...?" tanya Iyan

"baru aja sampai bang. bang Iyan mau kerja ya...?" jawab Mahendra

"iya, gue masuk siang lagi. kalau gitu gue cabut dulu ya Hen" Iyan menepuk pelan bahu Mahendra

"iya bang, hati-hati" ucap Mahendra

Mahendra masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu dan membaringkan tubuhnya di kasur. hanya beberapa menit akhirnya ia terlelap dengan nyaman.

siang ini ketiga polisi yang mengusut kasus pembunuhan berantai bertamu di setiap rumah yang telah menjadi korban pembunuhan. mereka mendatangi satu persatu ke rumah lima korban itu.

Mahesa ke rumah Sisil mahasiswi manajemen, wanita yang ditemukan tewas di jln Salangga dengan luka tusuk. Cakra ke rumah Clara mahasiswi hukum yang tewas di dalam kampus dengan luka sayatan di lehernya dan Angga ke rumah Sarah wanita yang bekerja di kampus perpustakaan dan ditemukan tewas dengan luka sayatan di kedua urat nadi di lengannya.

untuk sementara hanya tiga korban yang mereka datangi dan dua korban lainnya Karina dan Lila akan dilanjutkan setelah mereka selesai.

Mahesa mendatangi sebuah rumah yang mewah untuk kalangan elit. rumah itu berada di perumahan kawasan orang-orang kaya.

setelah diizinkan satpam untuk masuk dan Mahesa memberitahu dirinya akan bertemu siapa, satpam penjaga area itu langsung membuka pagar dan mempersilahkan mobil Mahesa untuk masuk ke dalam rumah.

Mahesa berhenti di sebuah rumah besar dengan cat warna putih. ia turun dari mobil dan mendekati pagar untuk bertemu dengan satpam penjaga rumah.

"ada apa mas...?" tanya satpam saat melihat mobil Mahesa berhenti di pagar rumah majikannya

"pemilik rumah ada pak...? saya ingin bertemu, saya dari kepolisian" Mahesa menunjukkan tanda pengenalnya

"ada pak, mari masuk" satpam itu mempersilahkan

Mahesa kembali masuk ke dalam mobilnya kemudian memasuki area halaman rumah yang besar itu.

satpam tadi hanya mengarahkan Mahesa ke dalam selebihnya Mahesa yang akan bertamu sesuai keinginannya.

ting tong

bel rumah berbunyi, Mahesa menunggu beberapa menit dan pintu rumah terbuka. seorang wanita paruh baya berdiri di depan Mahesa.

"cari siapa...?"

"saya ingin bertemu bapak Hartawan dan ibu Rosita, saya dari kepolisian" ucap Mahesa

"silahkan masuk"

Mahesa memasuki rumah besar itu. tidak dapat dipungkiri kalau Mahesa takjub dengan rumah yang dimasukinya itu. untuk ukuran rumahnya saja, tidak ada apa-apanya dibandingkan rumah itu.

Mahesa duduk di ruang tamu dengan sofa yang sangat nyaman. tidak berselang lama, orang ingin ditemuinya datang menghampirinya.

"selamat siang" pak Hartawan menjabat tangan Mahesa

"siang pak" Mahesa menyambut tangan pengusaha kaya itu

"silahkan duduk kembali" pak Hartawan mempersilahkan. hanya dia seorang diri yang datang menyambut Mahesa karena istrinya sedang berada di luar

"terimakasih" jawab Mahesa

"jadi ada yang bisa saya bantu pak polisi...?" pak Hartawan bertanya ramah

"saya datang ke sini untuk menanyakan perihal tentang Sisil pak.saya dan kedua rekan saya adalah yang menangani kasus pembunuhan yang dialami oleh putri bapak" Mahesa menjawab

"apa sudah ditentukan siapa pelakunya...?"

"sampai saat ini kami masih terus mencari. siapapun pelakunya kami pasti akan menangkapnya"

"sudah berminggu-minggu kematian putri saya dan kalian belum juga menemukan pelakunya. sepertinya kerja kalian sangat tidak profesional"

mendapat pernyataan seperti itu membuat Mahesa meradang namun ia tetap berusaha bersikap tenang dan tidak terbawa emosi, sebab tujuannya sekarang adalah bukan untuk datang beradu mulut.

"kami juga sedang mengusahakan yang terbaik pak. oleh karena itu saya meminta bantuan kepada bapak untuk menceritakan keseharian Sisil dan dengan siapa saja dia berteman, karena bisanya orang terdekat itu lebih berbahaya daripada orang yang tidak kita kenal"

"lalu apa yang perlu kamu ketahui...?" tanya pak Hartawan

"apakah bapak mengetahui mungkin Sisil mempunyai musuh atau teman yang tidak menyukainya...?"

"tidak, seingat saya putriku sama sekali tidak mempunyai musuh. saat pulang kampus dia hanya akan menceritakan kesehariannya dengan teman-temannya yang dia akrabkan"

"siapa saja teman-teman putri bapak...?"

"Linda, Fais, Raya dan..... " Hartawan tampan sedang berpikir

"dan siapa...?" Mahesa menanti ucapan pak Hartawan

"dan Alan, yuniornya di kampus"

"Alan....?" Mahesa mengangkat alisnya, jelas dia tau satu nama itu yang disebutkan oleh pak Hartawan

"iya. Sisil pernah cerita kalau dirinya sangat akrab dengan yuniornya itu"

"apa dari keempat teman Sisil, adakah gelagat yang tidak biasa saat bapak bertemu mereka"

"tidak ada, mereka tampak biasa saja sama seperti anak-anak lainnya"

"bapak sudah bertemu mereka semua...?"

"sudah, hanya yang bernama Alan yang belum pernah aku lihat. terakhir Sisil berkomunikasi dengan anak itu saat Sisil akan ke pasar malam dan malam itu Alan menghubungi Sisil untuk menanyakan buku karena anak itu akan meminjamnya, dan malam itu juga Sisil meregang nyawa" mata pak Hartawan mulai sendu

"jadi Sisil malam itu pergi menemui Alan...?" Mahesa semakin penasaran

"dia bilang sebelum ke pasar malam dirinya akan menemui Alan untuk memberikan buku yang akan dipinjam anak itu. saya tidak tau apakah dia bertemu dengannya atau tidak"

"selain ingin bertemu Alan, dengan siapa Sisil akan ke pasar malam...?"

"saat meminta izin, dia mengatakan akan pergi bersama kedua teman perempuannya, Linda dan Raya"

"temannya yang bernama Fais tidak ikut...?"

"dia bilang tidak karena Fais sedang berada di rumah neneknya, neneknya sakit"

"baiklah pak, terimakasih atas informasinya dan mohon maaf telah mengganggu waktu bapak"

"sama-sama. saya harap pembunuhnya dapat segera ditemukan"

"kami akan terus berusaha pak"

di lain tempat, Cakra sedang berbicara dengan ibu dari Clara, wanita yang menjadi korban kedua dari kasus pembunuhan.

Cakra menanyakan hal seperti yang ditanyakan oleh Mahesa. keseharian Clara dan teman-temannya. hingga ibu Clara bercerita kalau anak gadisnya itu sedang jatuh cinta kepada seorang pria.

"ibu tau siapa nama dari pria itu...?" tanya Cakra

"saya tidak tau bahkan wajahnya saja saya tidak tau. Clara hanya pernah bercerita kalau ada seorang pria yang pernah ia tabrak dan anak saya langsung jatuh hati padanya"

hal itu menjadi poin penting bagi Cakra, mereka harus mencari tau siapa pria yang disukai oleh Clara.

setelah mengantongi beberapa informasi, Cakra pamit undur diri dan meninggalkan rumah yang sederhana itu.

Angga mencatat setiap poin yang diceritakan oleh kakak dari Sarah. rupanya wanita itu hanya tinggal berdua bersama kakak laki-lakinya dan kedua orang tua mereka telah meninggal dunia.

"tidak ada yang salah dari sikapnya, pagi itu sebelum pergi bekerja, dia masih seperti biasanya ceria dan masih bermain dengan anak saya" ucap Rahman kakak dari Sarah

"apa Sarah tidak panah bercerita, mungkin dia punya masalah di tempat kerjanya atau dengan teman-temannya...?" tanya Angga

"selama saya mengenal adikku, dia bukan orang yang mencari masalah dengan orang lain"

"maksud saya apakah Sarah tidak pernah bercerita kalau ada satu masalah yang dia alami...?"

"tidak ada, dia hanya bercerita kalau dirinya sedang jatuh cinta. dia menyukai seseorang dan mereka saling berkomunikasi"

"siapa dia, mas tau siapa orangnya...?"

"saya tidak tau, namun Sarah sering menyebut namanya dengan panggilan Syam"

"Syam...?" Angga mengernyitkan keningnya

nama itu sangat asing di telinga Angga. jelas saja asing karena nama itu baru pertama kali ini dia mendengarnya.

setelah dirasa cukup, Angga pamit kepada kakak Sarah dan juga istrinya. ia segera menghubungi kedua rekannya untuk segera bertemu.

ketiga polisi itu bertemu di sebuah cafe tempat dimana mereka melepas penat.

"jadi kapan kita akan ke rumah keluarga Karina dan Lila...?" Cakra bertanya

"lebih cepat lebih baik. setelah itu kita simpulkan apa yang kita dapatkan. sepertinya kita harus mewawancarai semua teman-teman terdekat korban" jawab Mahesa

"kalau begitu setelah dari sini kita ke rumah Karina dan Lila" Angga menimpali

"iya, kita harus bergegas cepat"

setelah kepenatan mereka hilang, kini mereka kembali berbagi tugas. Mahesa akan ke rumah Karina seorang diri sementara Cakra dan Angga akan ke rumah Lila.

******

Mahendra bangun dari tidurnya. ia periksa jam di pergelangan tangannya, dirinya kaget karena ia ketiduran cukup lama. pasti adiknya sedang menunggu dirinya. saat memeriksa ponselnya, benar saja Danil sudah menghubunginya beberapa kali bahkan mengirimkan dirinya pesan.

Mahendra segera menekan nomor Danil dan menghubunginya.

📞Mahendra

halo dek, udah sampai...?

📞Danil

udah jadi ikan kering juga aku di sini. abang kemana sih lama banget. kalau nggak bisa jemput biar aku pesan ojol untuk antar aku.

Danil mengomel saat panggilan terhubung, dirinya sangat kesal karena Mahendra tidak mengangkat teleponnya dan bahkan pesannya pun tidak dibalasnya. sudah dari 2 jam yang lalu ia menunggu kakaknya itu namun sampai sekarang batang hidungnya pun tidak kelihatan.

📞Mahendra

maaf, abang ketiduran. ya udah abang jemput sekarang, kamu jangan kemana-mana tunggu abang di situ

📞Danil

dari tadi juga aku nggak kemana-mana. cepatan dikit bang, aku lapar tau. Danil menggerutu

📞Mahendra

iya... iya, abang ke situ sekarang

Mahendra mematikan panggilannya. sebelum berangkat ia sholat dzuhur terlebih dahulu karena tadi saat dirinya pulang, waktu dzuhur belum tiba dan saat bangun waktu dzuhur satu jam lagi akan habis waktunya.

setelah selesai sholat, Mahendra segera bersiap dan keluar dari kamarnya menuju lantai bawah. di ruang tamu terlihat Damar dan Kevin sedang melepas lelah yang baru saja pulang dari aktivitas mereka di luar.

"mau kemana Hen...?" tanya Damar saat melihat Mahendra menghampiri mereka

"ke stasiun jemput Danil" jawab Mahendra

"Danil siapa...?" Kevin bertanya

"adek gue, dia datang jalan-jalan saja ke sini sekalian mau liat kampus mana yang cocok untuknya" jawab Mahendra lagi

"wah kalau elu masih mau jemput jam segini berarti Danil udah nunggu dari tadi dong" ucap Damar. jelas dia tau karena Damar dan Mahendra satu kota dan juga teman saat sekolah dulu

"hehehehe, malah dia udah ngomel pas gue telepon Dam" Mahendra cengengesan

"jahara banget sama adek sendiri. udah sana jemput dia, kasian tau" Damar mendorong tubuh Mahendra

"ya udah gue cabut ya" Mahendra meninggalkan mereka

"oke" sahut Damar dan Kevin

di tempat lain, seorang pria sedang berada di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, tempat itu berada di ujung kota tempat yang sama sekali tidak ada orang yang tau.

dia duduk di kursi sambil memperhatikan sebuah foto yang ia tempel di dinding. di foto itu tampak seorang gadis sedang tersenyum menampilkan kecantikannya.

pria itu kemudian mengambil spidol warna merah dan melingkari wajah gadis yang berada di dalam foto tersebut.

"sekarang tiba giliranmu sayang" ucapnya dengan senyuman yang menyeringai

nampak di ruangan yang pencahayaannya remang itu, terdapat beberapa foto yang di tempel di dinding. mereka adalah gadis yang telah menjadi korban pembunuhan sadis dan tidak lain yang menjadi pembunuhnya adalah pria tersebut.

wajah para korbannya yang sudah tidak bernyawa tertempel di dinding ruangan itu. dia seakan sangat bahagia dan puas dengan hasil karyanya, menghilangkan nyawa seseorang dan mengambil gambar mereka kemudian menjadikan gambar itu sebagai koleksinya.

"tiba waktunya untuk bermain, tunggu aku sayang" ia mengelus foto wajah gadis yang akan menjadi target selanjutnya

pria itu kemudian meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam mobilnya menuju kota, tempat dimana dirinya tinggal. mobil pria itu melaju dengan cepat membelah jalan raya. tidak sabar baginya untuk menunggu malam karena tangannya sudah sangat gatal ingin bermain.

Terpopuler

Comments

anhar005

anhar005

gw tebak viona

2023-09-23

1

Nur Mutmainna Patta

Nur Mutmainna Patta

Olan kandidat terbaik

2023-08-13

0

Pengging

Pengging

yang cantik " harus hati"😆😆

2023-03-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!