"bang ayo, nanti kita telat" Alan menarik lengan Mahendra untuk meninggalkan tempat itu
Mahendra belum bisa percaya kalau wanita yang dia temui kemarin sudah berpulang ke sang pemilik kehidupan, bahkan kematiannya sangat tragis, harus meregang nyawa di tangan seorang pembunuh.
"Lan, senior elo kemarin ada yang meninggal kan...?" Mahendra melirik Alan yang berjalan di sampingnya
"iya bang, namanya Sisil" jawab Alan
"dia meninggal karena dibunuh juga. padahal kak Sisil orang baik, entah siapa yang tega membunuhnya" Alan berucap dengan wajah sedih
"Lan, gue kok merasa kalau ketiga korban yang meninggal pembunuhnya adalah satu orang saja" Mahendra berpendapat
"maksud abang, pembunuhnya orang yang sama gitu...?"
"iya, tapi itu baru pemikiran gue sih belum tentu juga benar"
"gue nggak peduli pembunuhnya siapa, yang gue harap pembunuh itu bisa secepatnya di tangkap. lama-lama kampus kita jadi horor karena terjadi pembunuhan terus" ucap Alan
"bang gue duluan ya" Alan sudah sampai di fakultasnya
"oke"
Mahendra dan Alan berpisah. Mahendra harus berjalan lagi sedikit jauh untuk sampai di fakultasnya. ia merasa mulai lelah karena biasanya setiap hari dirinya menggunakan motor namun kali ini ia harus mengandalkan kedua kakinya untuk membawanya menuntut ilmu.
"Mahendra" dari jauh Viona telah memanggilnya
malas sekali rasanya Mahendra bertemu wanita itu namun karena satu-satunya jalan hanya ada di tempat Viona berdiri dengan berat hati Mahendra melangkah mendekat namun ia hanya melewati Viona begitu saja.
"Hen, elo nggak pernah angkat telpon gue sih" Viona mengapit lengan Mahendra seakan tidak terjadi sesuatu di antara mereka
"jangan seperti ini Vi, gue nggak mau entar cowok lo liat elo bermesraan dengan cowok lain" Mahendra melepas tangan Viona dari lengannya
ucapan Mahendra memukul telak Viona, namun tanpa malu Viona tetap bergelayut manja di lengan Mahendra.
"nanti kita pulang bareng ya, kan udah lama kita nggak jalan bareng. aku kangen tau" ucap Viona dengan manja
"Vi, kita putus" langkah Mahendra berhenti, begitu juga dengan Viona. akhirnya setelah lama menahan, kalimat itu keluar dari mulut Mahendra
"p-putus...?" Viona menatap manik mata laki-laki yang selama ini mengisi hatinya
"maaf Vi, gue rasa nggak ada lagi yang perlu kita pertahankan. elo udah memilih laki-laki lain dan gue nggak akan nahan lo untuk bersamanya. gue berharap mulai sekarang jangan pernah elo ganggu gue lagi"
setelah berkata seperti itu, Mahendra pergi meninggalkan Viona yang masih mematung menatap punggung Mahendra sampai tidak terlihat lagi.
Mahendra tidak bisa berada dalam situasi seperti itu, lebih baik dia mengalah daripada dirinya harus tetap bertahan dalam kesakitan.
"oi Hen" Robi teman sekelas Mahendra merangkul bahunya
"tugas kita elo bawa kan, gue nggak mau punya nilai buruk hanya karena gara-gara elo ya" Mahendra berucap sambil menaiki anak tangga menuju ruang kuliah mereka
"tenang aja, santui brai. ada kok di dalam tas, kali ini elo yang jadi moderator ya, gue lagi malas bicara banyak" Robi tersenyum tipis
hari ini kelompok dari Mahendra akan melakukan persentase di depan kelas mengenai tugas yang telah diberikan oleh dosen mata kuliah.
"tumben, biasanya elo yang ambil alih" Mahendra menautkan alisnya
"ya sekali-sekali gantian lah, masa gue terus" keduanya telah sampai di ruangan perkuliahan
"Hen, Robi, sini" Selda dan Maureen memanggil keduanya
"hola sayang-sayangku" Robi menyapa keduanya
"sayang pala kau" cebik Selda " tugasnya kita ada kan....?" lanjutnya
"oh my got, gue lupa.... gimana dong" Robi pura-pura panik
"ish Robi.... kalau benar nggak ada, gue geplak pala kau ya" Maureen mulai kesal
"geplak aja Ren, sekalian putar lehernya" Mahendra ikut duduk di samping Maureen
"ya amsyong, elo kayak psikopat aja Hen" Robi memegang lehernya dengan ngeri
"gue memang psikopat, kenapa emang...?" Mahendra tersenyum menyeringai ke arah Robi
pluuuuk
"aw.... sakit Sel" Mahendra meringis karena Selda memukul kepalanya dengan buku cetak
"jangan dua kali elo pasang muka kayak gitu ya, gue ngeri liatnya tau nggak. elo kayak pembunuh berantai" Selda bergidik
"eh tapi ya bicara tentang pembunuh, di sosmed lagi ramai berita seorang wanita yang di bunuh di jalan menuju perpustakaan" Maureen memberitahu
"hah serius lo, gue kok baru tau" Selda mengambil ponselnya di dalam tas dan membuka berita yang di maksud oleh Maureen
"penjaga perpustakaan, namanya Sarah. ya ampun gue kok jadi makin ngeri sama kampus kita ini" Selda menggigit bibirnya melihat berita di layar ponselnya
"kalian berdua kalau nggak ada urusan yang penting, mending jangan keluyuran terlebih lagi malam" Robi mengingatkan
"gue kemarin masih ketemu sama tuh cewek" ucap Mahendra
"maksudnya, kalian berdua....... " Robi merapatkan kedua jari telunjuknya
"ish... bukan bego. gue ketemu dia karena gue kemarin ke perpustakaan buat mengembalikan buku yang udah gue pinjam" Mahendra menjelaskan
"sebenarnya..... gue merasa bersalah sama dia" lanjut Mahendra
"kok gitu, emang elo salah apa sama dia...?" Selda penasaran
"nggak salah apa-apa sih. cuman karena gue dia jadi terlambat pulang. padahal kemarin pas gue tiba, dia udah mau pulang tapi gue paksa untuk melayani gue dulu. kalau seandainya gue kemarin bisa bersabar menunggu hari esok, mungkin dia nggak akan celaka seperti itu" Mahendra mendesah berat
"bukan salah lo brai.... udah ajalnya dia aja" Robi menepuk pelan bahu Mahendra
"iya, udah takdirnya dia seperti itu. nggak usah merasa terbebani dengan itu Hen" Selda menenangkan
"eh... dosennya datang tuh" Maureen memberitahu
semua mahasiswa mengambil posisi masing-masing untuk mengikuti perkuliahan. Mahendra berserta tiga temannya tadi langsung maju ke depan untuk melakukan persentasi.
selesai dengan perkuliahannya, Mahendra akan ke bengkel untuk mengambil motornya. ia nebeng di motor Robi karena temannya itu siap untuk mengantarnya ke depan kampus. tiba di bengkel motor Mahendra masih di perbaiki.
"bang belum selesai ya...?" tanya Mahendra yang turun dari motor
"belum, in shaa Allah besok diambil. maaf ya, gue kira anak buah gue udah selesai memperbaikinya namun ternyata dia sakit jadi sedikit terlambat" pemilik bengkel menjelaskan
"ya udah nggak apa-apa kalau gitu. besok gue datang lagi ya bang" Mahendra memaklumi
"iya, besok pasti udah jadi"
"oke bang"
Mahendra kembali naik di motor Robi dan meninggalkan bengkel.
"kemana kita nih...?" tanya Robi
"ngopi aja gimana" usul Mahendra
"boleh, kebetulan gue juga nggak ada kegiatan. kita mau ngopi di cafe mana...?"
"gue telpon abang Iyan dulu deh, tempat kerjanya di cafe apa"
"stop bentar Rob, gue mau nelpon" Mahendra menepuk bahu Robi untuk berhenti
Mahendra mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Iyan.
📞Iyan
halo Hen
📞Mahendra
halo bang, elo lagi kerja kan bang...?
📞Iyan
iya, kenapa emang...?
📞Mahendra
cafe tempat kerja bang Iyan dimana, gue mau ke sana bareng teman nih
📞Iyan
cafe Rayyan, di jalan pelindung. kalau mau datang, gue tunggu ya
📞Mahendra
siap bang. kalau gitu gue tutup ya
📞Iyan
oke, sampai bertemu
Mahendra mematikan pangggilannya dan menyuruh Robi untuk ke jalan pelindung, di cafe yang akan mereka tuju.
"nggak jauh dari kampus ternyata, tapi kan di depan kampus banyak cafe Hen, kenapa harus ke sana" Robi bertanya dan menyalakan mesin motornya
"gue pengen lihat tempat kerja bang Iyan seperti apa" Mahendra menjawab
hanya beberapa menit mereka sampai di tujuan. cafe tempat kerja Iyan berada di sebelah kanan. cafe tersebut sama seperti cafe pada umumnya, ada tempat duduk di luar dan juga untuk di dalam.
Mahendra dan Robi memilih masuk di dalam, meski di luar tempatnya tidak kalah nyaman namun Mahendra penasaran dengan dalaman cafe itu.
saat masuk, Mahendra langsung melihat Iyan yang sedang membuatkan kopi untuk salah satu pelanggan.
"bang" panggil Mahendra
"udah datang, duduk gih... gue selesaikan ini dulu" Iyan melihat ke arah Mahendra dan Robi
Mahendra dan Robi mengambil tempat di dekat jendela agar dapat melihat pemandangan di luar. tidak lama Iyan datang dengan buku menu berbagai aneka kopi.
"nih, mau pesan apa...?" Iyan duduk di kursi kosong dan menyodorkan buku menu ke hadapan keduanya
"yang paling diminati para pelanggan yang mana bang...?" Robi bertanya
"semuanya sih diminati, emmm kalian mau coba yang baru nggak...?" Iyan mengusulkan
"tapi enak nggak...?" tanya Mahendra
"enak lah, siapa dulu yang racik" Iyan menepuk dadanya pelan
"ya udah deh, gue mau yang baru aja. elo mau yang mana Rob...?" Mahendra melihat temannya itu
"samain aja sama elo" jawab Robi
"okelah, tungg bentar ya" Iyan beranjak untuk melakukan tugasnya
"Hen, bang Iyan itu siapa elo...?" tanya Robi melihat ke arah Iyan
"dia teman satu penghuni kost. eh kapan-kapan elo main ke kost gue, gue udah pindah di belakang kampus" Mahendra menjawab dan mengajak
"oh ya, sejak kapan elo pindah...?"
"ummm..... mungkin udah tiga atau empat hari kali ya, gue juga lupa"
"ya elah elo pindah nggak bilang-bilang. tau gitu dari kemarin aja gue main ke kosan lo"
"sorry, baru ingat gue"
"Hen.... ngomong-ngomong elo udah putus ya sama Viona...?"
mendengar pertanyaan Robi, suasana hati Mahendra mulai buruk. dia tidak ingin lagi mendengar nama wanita itu.
"udah, gue yang putusin dia"
"lah kok bisa...?"
"yaa gitu lah. bukan jodoh. dia lebih memilih yang punya mobil daripada cowok miskin kayak gue" Mahendra tersenyum kecut
"sebenernya sih gue pernah liat dia jalan sama cowok barunya, cuman gue nggak enak aja ngomong sama elo"
"nggak apa-apa, lagian kami udah selesai"
pembicaraan keduanya terhenti saat Iyan datang membawakan pesanan mereka.
"nih cobain yang baru dari cafe Rayyan" Iyan meletakkan dua cangkir kopi di hadapan keduanya
"wangi bang" Robi menghirup aroma kopi itu
"iya dong wangi. silahkan di coba" Iyan duduk bergabung bersama mereka
"enak banget bang. ini abang sendiri yang buat...?" Mahendra menyeruput kopi miliknya
"iya. awalnya sih hanya coba-coba, eh nggak taunya banyak yang suka ya dijadikan menu deh" jawab Iyan
"abang pintar banget sih racik kopi, gue juga mau belajar dong. gue punya impian pengen bangun cafe seperti ini nanti" Robi melihat sekeliling cafe tersebut
"nantilah gue ajar. kalau elo mau bangun cafe, boleh tuh gue jadi baristanya" Iyan bergurau
"abang serius...?" Robi menatap Iyan dengan binar
"eh, elo seriusan mau bangun cafe...?" kali ini Iyan yang bertanya karena ia pikir Robi hanya bercanda saja tadi
"serius lah bang. tapi gue masih cari tempat yang cocok. abang benaran mau kan jadi barista di cafe gue" Robi sangat berharap
"aduh gimana ya, gue tadi hanya bercanda aja sih" Iyan merasa tidak enak hati
"yaaah... kirain beneran" Robi mulai lesu
"tenang aja Rob, nanti gue yang jadi baristanya" Mahendra menimpali
"hummm" jawab Robi lesu
mereka nyaman di cafe tempat kerja Iyan, sesekali Iyan harus melayani pelanggan dan kemudian kembali lagi ke dua temannya itu. setelah bertukar cerita, Iyan dan Robi saling berkenalan.
"udah sore nih, pulang yuk" ajak Mahendra
"ayo, gue bayar dulu ya" Robi berdiri untuk membayar namun Mahendra menahannya
"gue aja, kan gue yang aja elo. nanti lain kali elo yang bayar" Mahendra beranjak dan menuju kasir
"Hen, nggak usah... itu gratis buat lu berdua" Iyan menahan Mahendra
"aduh jangan bang gue nggak enak"
"yaa dienakin aja" Iyan menaik turunkan alisnya
"idih... vulgar nih abang" Mahendra terkekeh
"eh bang, elo pulang jam berapa...?"
abis magrib, kebetulan gue tadi masuk pagi. kenapa...?"
belum menjawab ponsel Mahendra berdering, segera ia mengangkat panggilan dari Damar.
📞Damar
Hen, dimana...?
📞Mahendra
tempat kerja bang Iyan, kenapa Dam...?
📞Damar
pulang bareng yuk, ada Alan juga nih
📞Mahendra
kalau gitu kalian ke sini aja, sekalian kita tunggu bang Iyan pulang
📞Damar
emang bang Iyan pulang jam berapa...?
📞Mahendra
abis magrib. gue tunggu kalian di sini ya
📞Damar
oke
"siapa Hen...?" tanya Iyan saat Mahendra menutup panggilan
"Damar bang. dia sama Alan mau kesini sekalian kita tunggu bang Iyan untuk pulang sama-sama" Mahendra menjawab
"wah gue jadi terharu" Iyan tersenyum
"Hen, jadi pulang nggak...?" Robi mendekati mereka
"maaf Rob, elo kayaknya duluan aja deh, soalnya gue masih tunggu Damar sama Alan terus mau nunggu sampai bang Iyan pulang" Mahendra menjawab
"oh ya udah, gue duluan ya" Robi pamit untuk pulang
"hati-hati"
"oke"
setelah Robi pergi, Mahendra kembali duduk di tempatnya semula. beberapa menit Damar dan Alan pun datang. keduanya memesan kopi untuk bersantai sebentar. masih ada satu jam lagi waktu mereka sebelum Iyan pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
V3
teman kost tp serasa Saudara ,, benar² kekeluargaan bgt sih 😘😘
2023-01-30
1
💎hart👑
next💪💪💪
2022-07-30
1