Mahendra dan Raka tiba di kost menjelang larut malam. pagar sudah di kunci dan dengan terpaksa, Mahendra menghubungi Agus untuk membukakan mereka pagar.
"maaf ya bang kita ganggu larut malam" Mahendra tidak enak hati
"nggak apa-apa. kalian baru pulang, darimana aja...?" Agus yang membuka pagar bertanya dan heran saat melihat mereka berdua
"dari pasar malam bang, kita habis jatuh dari motor" jawab Mahendra
"serius, kok bisa"
"kita masuk dulu di dalam deh. tutup lagi gus pagarnya" ucap Raka
"iya"
Agus kembali mengunci pagar dan kemudian ia masuk ke dalam menyusul Mahendra dan Raka. mereka berada di ruang tamu kost tersebut.
"bang minum dulu" Mahendra mengambil air putih untuk Raka
"makasih Hen" Raka meneguk air itu sampai habis
"elo berdua darimana sih, tengah malam begini baru pulang...?" tanya Agus penasaran
"cari makan sih sebenernya terus kita jalan-jalan sebentar dan singgah di pasar malam. pas pulang malah kena apes. hampir tabrak orang gue, untuk gue banting stir kalau nggak masuk buih gue" jawab Raka yang membuka sepatunya dan melihat kakinya yang sakit
"masih sakit bang kakinya...?" tanya Mahendra
"banget. kayaknya terkilir deh" Raka memijit kakinya yang sakit
"kompres pakai air hangat aja ya bang, gue ambilin airnya" usul Mahendra
"nggak usah Hen, biar gue kompres sendiri aja. lebih kalian istrahat, pasti elo capek kan. elo juga gus, istrahat. makasih udah bukain kita pintu" Raka menatap Agus
"santai aja kali. kalau gitu gue masuk ya, ngantuk banget soalnya"
"oke"
Agus meninggalkan Raka dan Mahendra di ruang tamu.
"elo nggak apa-apa bang gue tinggal...?" Mahendra agak ragu
"nggak apa-apa, lagian gue juga mau masuk kamar. lebih baik elo istrahat gih, jangan lupa makan dulu, dari tadi kan kita belum makan"
"abang juga jangan lupa makan. kalau gitu gue naik ke atas dulu ya bang"
"iya, tidur yang nyenyak"
Mahendra meninggalkan Raka, naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. sebenarnya ia begitu mengantuk dan ingin istrahat namun rasa perih di perutnya membuat Mahendra harus makan terlebih dahulu untuk memberi makan cacing yang ada di dalam perutnya.
setelah makan, Mahendra langsung baring di tempat tidurnya. meskipun ia tau tidak baik setelah makan langsung baring, namun matanya sungguh sudah tidak bisa diajak kompromi. hanya beberapa menit, dirinya sudah berlabuh di alam mimpi.
pagi harinya setelah sholat subuh, Mahendra memeriksa kembali tugas yang akan ia kumpul di perkuliahan paginya. merasa cukup, dan waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Mahendra turun ke bawah untuk membeli sarapan di luar.
"sarapan dulu Hen, gue udah masak nasi goreng tuh di dapur" Agus sedang sarapan pagi di meja tamu
"wah kebetulan, makasih bang" Mahendra langsung ke dapur untuk mengambil nasi goreng buatan Agus dan menghampiri Agus untuk sarapan bersama
"oi Gus, tumben lo bangun pagi" Roki yang baru bangun dan menuruni anak tangga bertanya
"lagi latihan bangun pagi. makan Ki, ada nasi goreng tuh" jawab Agus
"makasih banget. tapi gue mau sarapan roti aja. mau beli di depan. mau nitip nggak, gue yang traktir" timpal Roki menuju pintu
"nggak deh, udah kenyang sama nasi goreng. Mahendra mungkin yang mau nitip" Agus melihat ke arah Mahendra.
"gue juga nggak bang, makasih" ucap Mahendra
"oke lah kalau gitu" Roki berjalan keluar pagar untuk membeli roti di dekat kost mereka
"bang Raka belum bangun ya bang...?" Mahendra melihat pintu kamar Raka yang masih tertutup rapat
"masih tidur mungkin. elo kuliah jam berapa...?" tanya Agus
"jam 8 bang, kuliah pagi" jawab Mahendra
"pulang nanti tinggal beritahu gue ya, nanti gue bantu pindahan"
"makasih bang" Mahendra tersenyum
setelah sarapan, Mahendra kembali ke kamarnya bersiap untuk ke kampus. ia masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lama keluar lagi. ia mencari kemeja yang akan dikenakannya hari ini. merasa sudah rapi, Mahendra mengambil laptop dan menyimpannya di dalam tas. ia juga mengambil kunci motor dan keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.
"bang Raka, gimana kakinya...?" tanya Mahendra saat melihat Raka sedang berada di ruang tamu bersama dengan Roki
"lumayan sakit. elo mau ngampus...?" ucap Raka
"iya bang. kalau gitu gue berangkat dulu yang bang, takut telat"
"Hati-hati ya" ucap Raka
"iya bang"
Mahendra mengendarai motornya menuju kampus. di jalan yang mereka lalui tadi malam, tempat dirinya dan Raka jatuh dari motor, terdapat beberapa mobil polisi dan para warga yang berhamburan di tempat itu.
"kenapa tuh...?" gumamnya
Mahendra mendekat karena penasaran ada apa sebenarnya. apakah ada yang kecelakaan atau semacamnya.
"ini kenapa ya pak...?" tanya Mahendra kepada seorang bapak yang ada di dekatnya
"ada mayat" jawab sang bapak
"mayat...?" Mahendra kaget
"iya, mayatnya cewek" lanjut bapak itu
terlihat beberapa polisi sedang mengangkat kantung mayat dan di masukkan ke dalam ambulan. sepertinya akan di bawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut tentang kematian yang dialami sang korban.
Mahendra melirik jam tangannya, sudah dekat waktunya dia akan masuk. segera ia tancap gas dan setengah jam perjalan, ia sampai di kampus besar dan ternama itu. ia memarkirkan motornya di parkiran fakultasnya.
"Mahendra" panggil seseorang
baru juga dirinya tiba di parkiran, sudah ada seseorang yang memanggil namanya dan ia tau siapa yang memanggilnya itu.
"elo kok nggak pernah balas pesan gue sih" gadis itu adalah Viona
"gue sibuk Vi, sorry" jawab Mahendra turun dari motornya
"sekarang nggak sibuk kan, gue mau bicara"
"maaf Vi, nanti aja. gue ada kelas"
Mahendra meninggalkan gadis itu yang sedang menatapnya pergi. sepertinya Dewi fortuna sedang berpihak kepada Mahendra. baru beberapa detik ia duduk, dosen yang mengajar masuk ke dalam kelas mereka.
"huffttt... hampir aja gue telat" Mahendra membuang nafas
selesai dengan perkuliahan, Mahendra bersiap untuk pulang karena akan mengurus perpindahan kostnya. namun langkahnya terhenti saat ia mendengar teman-teman satu ruangannya itu sedang membicarakan masalah pembunuhan.
"astaga nggak percaya banget gue. ini kan Sisil, mahasiswi manajemen" Ranti yang satu jurusan dengan Mahendra menutup mulutnya
"kenapa sih, ada apa...?" tanya Mahendra penasaran
"nih lihat" Robi memperlihatkan berita yang tersebar di akun sosial media
mayat seorang wanita ditemukan di jalan xxx dengan keadaan yang mengenaskan. di duga korban mati karena di tusuk beberapa kali di perutnya bahkan sampai mengeluarkan isi perutnya. dari identitas korban, korban bernama Sisil seorang mahasiswi manajemen di salah satu kampus ternama di kota ini. di perkirakan, korban dihabisi tadi malam karena lukanya yang masih begitu baru.
(astaga, ini kan jalan yang gue lewati semalam bersama bang Raka. jadi tadi malam itu ada pembunuhan di tempat itu) batin Mahendra saat membaca berita yang ada di ponsel Robi
(apa yang hampir kami tabrak tadi malam itu adalah.... pembunuhnya ya. pakaiannya serba hitam semua dan gerak geriknya juga mencurigakan)
"oi Hen, lo tegang banget" Robi menepuk bahu Mahendra membuat dirinya kaget
"kasian banget ya" Mahendra memberikan ponsel Robi
"iya, cantik-cantik tapi mati mengenaskan" timpal Robi
"kalau gitu gue duluan cabut ya" pamit Mahendra
"ok bro" semua teman-temannya melambai
Mahendra menuju parkiran, saat ia akan memakai helmnya, Viona datang dan mengambil helm itu dari tangan Mahendra.
"kita perlu bicara" ucapnya
Mahendra menghela nafas kasar. dengan terpaksa ia membonceng Viona untuk mencari cafe terdekat, tempat mereka bicara.
"ada apa...?" tanya Mahendra. mereka berada di cafe depan kampus. masih pagi namun sudah ada beberapa pelanggan yang datang. pastinya mereka mahasiswa di kampus itu
"elo menghindar terus dari gue. kenapa sih Hen" Viona menatap mata Mahendra
"itu perasaan elo aja. akhir-akhir ini gue sibuk jadi nggak sempat balas pesan dan angkat telepon elo" jawab Mahendra
"gue punya salah ya sama elo...?"
"emang elo merasa punya salah sama gue...?" Mahendra menatap tajam gadis yang ada di depannya itu
"nggak, gue merasa nggak punya salah" jawab Viona terlihat kikuk
"ya kalau gitu ngapain nanya" Mahendra bersandar di kursinya
"gue nanya karena elo menghindari gue terus dari kemarin-kemarin. Hen, gue kangen" Viona memegang tangan Mahendra
"banyak orang Vi, malu" Mahendra menarik tangannya
"elo kenapa sih Hen. kemarin-kemarin elo nggak kayak gini sama gue" Viona terlihat kesal
"kalau gue ada salah bilang dong Hen, jangan kayak gini. gue nggak bisa tanpa elo"
"cih, bullshit" Mahendra jengah
"lo kok ngomong gitu sih Hen" Viona kaget mendengar ucapan Mahendra
biasanya laki-laki yang ada di depannya itu sangat bersikap lembut dan manis padanya. tapi kali ini, Mahendra begitu berbeda dari sebelumnya. tidak ada sikap lembut yang ia tunjukkan seperti saat mereka terus bertemu dulu.
"sekarang gue tanya Vi. ada yang lo sembunyikan dari gue...?" Mahendra menatap tajam Viona
"s-sembunyikan apa sih Hen. gue nggak ngerti" Viona terlihat gugup
"ya sudah kalau elo nggak mau ngaku. gue pergi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus gue selesaikan"
Mahendra beranjak dari duduknya dan menuju kasir untuk membayar minuman yang mereka pesan. bahkan minumannya tidak ia sentuh sama sekali. setelah membayar, Mahendra keluar dari cafe tanpa mengajak Viona untuk pergi dari tempat itu.
pukul 13.00 Mahendra tiba di kost. suasana kost nampak sepi karena penghuni kost itu banyak yang keluar, entah ke kampus atau pergi bekerja. biasanya akan ramai saat menjelang sore hari.
Mahendra naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. akan sangat panas bila harus pindah sekarang. ia memutuskan untuk pindahan saat sore nanti. sekarang ia menggunakan waktu santainya untuk tidur siang.
drrrrttt...... drrrrttt
ponsel Mahendra bergetar, yang menghubunginya adalah Damar. dengan setengah sadar ia mengangkat panggilan temannya itu.
📞Damar
jadi pindah nggak Hen...?
📞Mahendra
emang udah jam berapa sih...? tanya Mahendra dengan suara seraknya khas orang bangun tidur
📞Damar
jam 4. mau pindah nggak, kalau iya nanti gue bantu
📞Mahendra
udah sore ya. jadi kok jadi. nggak usah deh Dam, makasih. elo tunggu gue aja di situ "
📞Damar
oke lah. gue tunggu ya. Hati-hati
📞Mahendra
ok sip
panggilan di tutup. Mahendra segera membersihkan dirinya dan melaksanakan sholat ashar. setelahnya, ia membereskan semua pakaian dan barang-barang miliknya. ada satu koper kecil tempat pakaiannya. laki-laki memang tidak membutuhkan banyak pakaian, lain halnya dengan perempuan. kemudian ada juga tas ransel tempat penyimpanan barang-barangnya yang lain.
Mahendra keluar dari kamarnya dan menguncinya. kemudian ia turun di lantai bawah dengan barang bawaannya.
"mau kemana lo Hen...?" tanya Roki saat melihat Mahendra membawa koper dan satu tas
"elo mau pindah Hen...?" tanya Raka yang juga ada di tempat itu
"iya, gue mau pindah bang" jawab Mahendra
"eh buset dah. elo pindah nggak bilang-bilang" ucap Roki
"maaf bang. soalnya ini juga mendadak" Mahendra tidak enak hati
"ya sudah. terus siapa yang mau anterin elo bawa koper besar begitu...?" tanya Raka
"emmm" Mahendra juga bingung
"sama gue. kebetulan gue juga mau ke kost teman dekat kampus. jadi kita barengan aja" Agus yang baru keluar dari kamarnya menimpali
"ayo Hen. elo yang bawa motor ya" ajak Agus
"siap bang. kalau gitu gue pergi dulu bang Roki, bang Raka" Mahendra berpamitan kepada kedua laki-laki itu
"oke. Hati-hati ya. jangan lupa sering-sering main kesini ya" ucap Raka mengantar mereka sampai ke depan bersama dengan Roki
"iya bang"
Mahendra dan Agus mengendari motor Mahendra. tas ransel di simpan di depan dan koper di simpan di tengah-tengah antara ia dan Agus. jarak yang cukup jauh membuat mereka berdua sampai di kost baru Mahendra sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore.
"ini kost baru lo Hen...?" tanya Agus saat mereka telah sampai
"iya bang. dekat dengan kampus" jawab Mahendra
"kalau gitu gue langsung cabut ya Hen, teman gue udah nungguin di depan"
"nggak gue antar saja bang"
"nggak perlu, lagian dekat kok. gue pergi dulu ya"
"iya bang. sebelumnya terimakasih banyak bang udah bantuin gue"
"sama-sama. gue pergi ya" Agus melambaikan tangan
"Hati-hati bang"
setelah Agus pergi, Mahendra mengangkat koper dan tasnya untuk masuk ke dalam tempat tinggal barunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
anhar005
ajg gw kira dy yg mati🤣
2023-09-23
0
anhar005
aduh jgn" cewe yg chat mahendra itu bunuh diri gara" perasaan gk dibales
2023-09-23
0
anhar005
gw sebagai manusia iq rendah gw nebak yg tadi itu pasti cewe yg chat
mahendra
2023-09-23
0