malam merupakan waktu untuk istrahat dari segala aktivitas di siang hari. meskipun masih ada sebagian orang yang tetap melanjutkan pekerjaannya, hanya untuk mendapat rezeki untuk bertahan hidup. tengah malam merupakan waktu dimana semua tempat sudah sangat sepi, terkecuali di tempat-tempat hiburan tertentu.
seorang wanita keluar dari bar dengan langkah yang sempoyongan. ia menunggu jemputannya hingga beberapa saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
tanpa bertanya dan memeriksa siapa yang menyopiri mobil itu, dia yang dalam keadaan mabuk langsung saja masuk ke dalam mobil dan terbaring di kursi bagian tengah. sang sopir pun kembali menjalankan mobilnya dengan seringai kecil di wajahnya.
entah kemana pria itu akan membawa wanita itu, mobil tetap melaju ke tempat tujuan. si wanita tertidur pulas tanpa tau sama sekali kalau nyawanya sedang dalam bahaya.
mobil berhenti di sebuah tempat yang sepi tanpa seorangpun manusia. pria itu keluar dari mobil dan membuka pintu kursi bagian tengah kemudian menggendong wanita itu dan membaringkannya di jalanan.
byuuuur
satu air ember ia siramkan kepada wanita itu membuat si wanita kaget dan langsung bangun dari tidurnya.
"aaaaa kurang ajar.... siapa yang menyiramku...?" wanita itu berteriak marah
"halo honey, apa kabar...?" sang pria duduk berjongkok di hadapan wanita itu
plaaaaaaak
satu tamparan mendarat di wajah mulus pria tersebut. wanita itu sangat marah kenapa pria yang ada di hadapannya malah menyiram dirinya dengan air.
pria misterius itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dengan urat yang sudah terlihat di lehernya. kemudian ia tersenyum dan memegang dengan lembut wajah wanita itu. namun pegangannya berubah menjadi cengkraman di wajah wanita itu.
"beraninya kamu menyentuhku Alexandria Robin" ucapnya dengan kilatan mata yang tajam
"aw... lepasin" wanita yang bernama Alexa itu meringis dan berusaha melepaskan tangan pria misterius itu
"lepasin"
plaaaaaaak
lagi, Alexa menampar kembali wajah pria itu. pria misterius memegang wajahnya yang perih karena tamparan dan kini emosinya mulai memuncak.
"BERANINYA KAMU MENYENTUHKU" bentakan pria misterius membuat Alexa tersentak kaget
dengan kejam pria itu menarik rambut Alexa dan menyeretnya mendekati mobil kemudian
buaaaakkk
kepala Alexa dihantamkan ke mobil dengan sangat keras. Alexa berteriak sakit dan kepalanya mulai terasa pusing.
"bagaimana, nikmat sayang...?" pria misterius kembali membelai wajah Alexa dan
buaaaakk
kembali kepala Alexa dibenturkan ke mobil. setelah itu pria misterius menarik kembali rambut Alexa dan menyeretnya menjauh dari mobil.
"sakit.... lepasin" Alexa berteriak keras, kepalanya sangat terasa sakit. sudah di benturkan dan kini rambutnya dijambak lagi
pria misterius menghentakkan tubuh Alexa dengan kasar di tanah. ia kemudian berjongkok dan menampar wajah Alexa berkali-kali. bahkan kini dari mulut wanita itu mengeluarkan darah segar.
Alexa mulai menangis dan meminta maaf. sakit di kepalanya belum hilang, kini wajahnya pun ikut merasakan sakit.
"siapa kamu, kenapa melakukan hal seperti ini padaku" Alexa bertanya dan menangis
tentu Alexa tidak mengenal siapa pria yang menyakitinya itu. karena seperti biasa, pria itu memakai pakaian serba hitam dengan masker dan topi.
"mau melihat wajahku...? baiklah, akan aku perlihatkan wajah tampanku"
pria itu membuka masker dan topinya. saat melihat wajah pria tersebut, mata Alexa membelalak tidak percaya, pria itu sangat ia kenal.
"k-kamu...?"
"iya, ini aku Alexa. kenapa, kaget...?"
"KENAPA KAMU MELAKUKAN SEMUA INI PADAKU, APA SALAHKU BRENGSEK" Alexa berteriak dan menyerang pria itu namun dengan mudahnya pria itu mengukung Alexa
"sebenarnya kamu tidak punya salah apapun. aku hanya ingin bermain-main saja denganmu"
"LEPASKAN.... LEPASKAN AKU"
sekuat apapun Alexa memberontak, tentu tidak akan dapat mengalahkan kekuatan pria misterius itu. tangan dan kaki Alexa kemudian diikat, sementara mulutnya tetap dibiarkan tanpa dilakban. pria itu ingin mendengar rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Alexa.
pria itu menggendong Alexa, mereka memasuki gedung yang belum sepenuhnya jadi dan masih dibangun. gedung itu mempunyai sepuluh lantai. pria itu menaiki anak tangga satu persatu sampai mereka tiba di lantai sepuluh.
ia kemudian membawa Alexa ke ujung dan memperlihatkan kepada wanita itu bagaimana seandainya dirinya jatuh dari lantai sepuluh.
"a-apa yang akan kamu lakukan...?" Alexa mulai takut, apalagi melihat wajah dingin pria itu yang sedang tersenyum menyeringai ke arahnya
"coba tebak, apa yang akan aku lakukan padamu. jika kamu berhasil menebaknya maka akan aku lepaskan kamu" pria itu membawa Alexa duduk di sebuah kursi kemudian Alexa diikat di kursi tersebut.
"apa maumu sebenarnya, apa yang kamu inginkan...?"
"sudah aku katakan, aku hanya ingin bermain-main denganmu" pria itu membelai wajah Alexa
"lepaskan aku. akan aku berikan apapun yang kamu mau" Alexa terlihat putus asa
"aku sudah mempunyai semua apa yang aku inginkan. tapi kalau kamu ingin memberikan apapun yang aku mau, maka aku akan meminta"
"katakan, apapun itu akan aku turuti" Alexa merasa dapat mengabulkan keinginan pria yang ada di hadapannya itu
"aku menginginkan satu hal yang kamu miliki dan saat aku ambil kamu tidak akan bisa memilikinya lagi" pria itu berjalan memutari Alexa dan kemudian ia berhenti tepat di telinga wanita itu
"aku....... menginginkan nyawamu" bisiknya dengan suara lembut namun terdengar sangat menakutkan
deg.....
"a-apa m-maksud mu...?" Alexa mulai gagap dan bahkan ia merinding mendengar ucapan pria itu
"kenapa sayang...? bukannya kamu bilang akan memberikan apapun yang aku inginkan, hemm" pria itu mengendus leher jenjang Alexa
"tolong lepaskan aku, kenapa kamu melakukan ini padaku" Alexa mulai menangis
"ssssttt.... jangan menangis, aku tidak suka gadis cengeng" ia berjalan kembali ke depan dan menghapus air mata Alexa
Alexa semakin takut saat pria itu mengeluarkan pisau tajam dari balik jaketnya. air matanya terus saja keluar, bibirnya mulai bergetar.
"aku bilang jangan menangis" ucapnya lagi namun Alexa yang sangat takut tidak berhenti mengeluarkan air mata
"AKU BILANG JANGAN MENANGIS" bentaknya dan kemudian ia menendang kursi yang di duduki Alexa sehingga kursi itu bergeser mendekati ujung gedung
"aaaaa"
Alexa menutup matanya, ia sangat ketakutan. sadar dirinya belum jatuh dari lantai itu, ia bernafas lega. jaraknya dengan ujung gedung sudah tidak jauh lagi, ia semakin panik dan tidak ingin berakhir dengan tragis jatuh dari lantai 10.
"lepaskan aku.... lepaskan"
"DIAM" bentaknya kepada Alexa membuat Alexa bungkam seketika
"gampang saja aku melepaskanmu, tinggal jawab pertanyaan ku, jika benar maka aku akan membawamu jauh dari ujung gedung ini"
"a-apa...?"
"apa makan kesukaan ku...?" pria itu duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Alexa
"pertanyaan macam apa itu, mana aku tau makanan apa kesukaan mu"
bughh
sraaaak
"aaaaa" kembali Alexa berteriak
pria itu menendang kembali kursi Alexa, dan semakin terseret ke ujung gedung.
"n-nasi" Alexa menjawab dengan sangat gugup dan takut
"nasi apa...? aku tidak suka hanya makan nasi"
"n-nasi padang"
bugh
kembali pria itu menendang kursi Alexa. Alexa semakin histeris saat dirinya kini semakin mendekati ujung gedung itu.
"hiks.... hiks, lepaskan aku... aku mohon lepaskan aku. aku minta maaf kalau aku punya salah, tolong jangan bunuh aku" Alexa memohon dengan deraian air mata
"kamu baru sadar kalau kamu punya salah...?" pria itu tersenyum sinis
"m-maaf... aku benar-benar minta maaf"
"baguslah kalau kamu menyadari kesalahanmu. aku sengaja mengatakan kamu tidak mempunyai kesalahan apapun agar kamu ingat kesalahan apa yang sudah kamu perbuat" dia mendekati Alexa dan menarik rambutnya
"aaagghhh, sakit" ringis Alexa
"kamu berurusan dengan orang yang salah Alexa. kamu akan menyusul lima korban yang telah aku bunuh, dan untuk sekarang adalah giliranmu"
pria itu membawa Alexa ke ujung gedung dan membiarkan Alexa menggelantung, namun ia masih memegang kursi Alexa sehingga wanita itu belum jatuh ke bawah.
"ada kata mutiara yang ingin kamu sampaikan...?"
"tolong.... tolong lepaskan aku, aku minta maaf"
"terlambat sayang. selamat bertemu malaikat maut"
pria itu melepaskan pegangan tangannya di kursi Alexa sehingga wanita cantik itu langsung terjun dari lantai 10 ke lantai dasar. suara Alexa menggema di tengah malam yang sunyi dan dingin.
"astaghfirullah" dua orang berteriak
ternyata ada dua orang yang sedang lewat di tempat itu. Alexa mendarat dan jatuh tepat di hadapan keduanya. darah segar mengenang mewarnai tanah. dua orang yang sedang mengendari kendaraan bermotor kaget bukan main. bagaimana tidak, Tiba-tiba saja, seseorang dari lantai 10 langsung terjun ke lantai dasar.
"turun Al... turun" Gery dan Alan turun dari motor menghampiri Alexa
kedua orang itu adalah Alan dan Gery. mereka berdua baru saja pulang dari pesta ulang tahun teman mereka. saat hendak pulang, Gery mengambil jalan pintas, jalan yang sangat jarang dilalui oleh kendaraan, ia ingin segera cepat sampai di rumah.
namun ternyata kesialan menimpa keduanya, seorang wanita bunuh diri dan jatuh tepat di hadapan mereka. tentu saja mereka sangat shock.
Alan melihat ke atas, dapat ia lihat seseorang yang sedang berdiri di atas sana. meskipun gelap namun penglihatannya masih sangat jelas.
"woooiii" Alan meneriaki pria itu
ia kemudian mencari kayu untuk senjatanya dan berlari masuk ke arah tangga. Gery yang penasaran apa yang akan di lakukan temannya itu, langsung mengikutinya. ia takut terjadi apa-apa kepada Alan.
entah apa yang merasuki Alan sehingga dia kini dapat berani menghampiri si pembunuh. mereka bertemu di lantai lima. si pembunuh kembali memakai maskernya dan topi agar wajahnya tidak terlihat.
"bajingan, jadi elu selama ini pelakunya" Alan yang emosi mulai menyerang pria itu
pertarungan pun terjadi. tadinya pria itu menganggap Alan tidak akan bisa melawannya namun dirinya salah, Alan bahkan mahir dalam bela diri.
bugh
bugh
pria itu dan Alan sama-sama terkena tendangan masing-masing. Gery hanya dapat bisa menonton karena ia bingung harus berbuat apa.
bugh
Alan berhasil memukul kepala di bagian belakang pria itu dengan kayu yang ia pegang tadi. saat Alan akan menyerang kembali, pria itu menendang Alan dan mengambil pasir kemudian melempar ke arah Alan sehingga Alan tidak dapat melihat.
bugh
buah
kembali pria itu menyerang Alan sehingga Alan tersungkur. pria itu segera melarikan diri. Gery mengejar pria misterius itu. sayangnya saat tiba di bawah, ia kehilangan jejak.
"sial" umpat Gery
ia kemudian hendak kembali menemui Alan. namun saat berbalik
jleb
ugh
pisau tajam menusuk perut Gery. rupanya pria misterius itu bersembunyi dan saat Gery lengah, ia menyerang Gery dengan pisaunya.
"jangan ikut campur urusanku" bisiknya di telinga Gery yang sedang kesakitan
bughh
Gery tersungkur dengan luka tusuk di perutnya. baju putih yang ia kenakan, kini berubah menjadi merah.
"Gery" Alan yang baru saja datang langsung menghampiri sahabatnya itu
si pembunuh telah menghilang di gelapnya malam bersama dengan mobil yang ia bawa tadi. ia kembali ke kost 010 sebagai tempatnya selama ini. saat tiba dengan segera ia masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya. dari kepalanya mengalir darah akibat pukulan yang dilayangkan Alan tadi.
"sialan, apes banget sih nih malam" ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi
sementara itu Alan semakin kalang kabut saat melihat perut Gery yang mengeluarkan begitu banyak darah
"bertahan Ger, bertahan"
Alan sangat panik, ia kemudian merobek bajunya dan mengikat perut Gery agar darahnya tidak terus keluar.
"ponsel.... ponsel" Alan merogoh ponselnya di saku celananya
Alan menghubungi penghuni kost 010 namun tidak akan yang menjawab panggilannya. berkali-kali ia menghubungi mereka namun tetap saja tidak diangkat.
kemudian ia menghubungi Rahim, abang tertua di kost mereka. panggilan langsung tersambung
📞Rahim
halo Al, ada apa...?"
📞Alan
bang Rahim tolong bang, tolongin Alan plis. Alan panik diujung sana
📞Rahim
elu kenapa Al, ada apa...?
mendengar Alan panik, seketika Rahim menjadi khawatir.
📞Alan
terjadi pembunuhan di jalan Pelindung bang, teman Alan di tusuk sama si pembunuh. tolongin Alan bang. ada mayat sorang wanita di sini
📞Rahim
elu jangan kemana-mana ya, tetap di situ. abang akan menghubungi ambulan. tetap di situ Al, abang ke sana sekarang
Rahim keluar dari kamarnya dan mengetuk semua pintu kamar penghuni kost. mereka keluar dan berkumpul di ruang utama dengan muka bantal satu persatu.
"kenapa sih bang, jam segini udah ribut aja" Wili bertanya dengan mata yang masih tertutup
"terjadi pembunuhan di jalan Pelindung dan Alan ada di sana* jawab Rahim
" apa....?" sontak semuanya yang tadinya masih mengantuk kini mata mereka terbuka lebar
"brengsek.... siapa yang membunuh adek gue" Wili mulai lemas bahkan air matanya mulai mengalir
"bukan Alan korbannya, tapi seorang wanita. namun teman Alan juga menjadi korban tusukan si pembunuh. kita ke sana sekarang" ucap Rahim
"huuuh syukurlah, gue kira Alan.... " Wili bernafas lega
tanpa mereka tau bahwa penyebab kematian malam ini dan penyebab sahabat Alan tertusuk, itu semua adalah ulah dari salah satu penghuni kost 010.
si pembunuh ada di sekitar mereka bahkan tinggal bersama mereka. dia sangat pandai berakting menjadi seseorang yang begitu baik tanpa mereka sangka bahwa dibalik itu dia adalah seorang psikopat berdarah dingin.
"kasian banget Alan, kalau begitu kita pergi sekarang" si pembunuh berpura-pura khawatir padahal sebenarnya harusnya ia tadi menusuk Alan juga karena remaja itu telah berani menyerangnya
"benar, kita pergi sekarang. ayo" Mahendra mengajak
mereka semua bersiap dan bergegas ke tempat Alan. semuanya khawatir tehadap adik mereka itu terkecuali si pembunuh yang kini telah memasukkan Alan ke dalam daftar merah untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
kl ini sdh bs d tebak si x klwr dr kos mau jemput temene yg mabuk, bs jd saksi tu damar atau sp yg ketemu mlm2
2024-04-05
0
Eskael Evol
tadinta curiga ma Kevin
vi kyknya olan nih
2023-04-25
0
lecy
msih curiga ke randi...kl g mmg bang rahim pelakunya,secara dy kn yg tgl pling lma dikosan dy jg jd dosen jg betah tgl dstu...
2023-04-02
0