Suatu malam, aku bermimpi berada di suatu tempat yang sangat asing. Sulit untuk digambarkan, karena tempat itu terlihat berbeda dengan alam manusia. Aku pun belum pernah melihat, apalagi pergi ke tempat semacam itu semasa hidupku.
Di tempat itu, aku tidak bisa menentukan arah mata angin. Utara, selatan, timur, dan barat, semua terlihat sama. Tempatnya terlihat sangat terang. Lantai putihnya memancarkan cahaya seperti mendapatkan pantulan sinar dari langit, tapi tidak ada matahari. Langitnya pun terlihat putih, tanpa ada satu pun awan yang menutupinya. Meskipun sangat terang, tempat ini terasa sangat sejuk. Aku menebak, mungkin suhunya sekitar 24 derajat Celcius. Tidak ada rasa lelah sedikitpun meski aku berjalan tanpa henti.
Aku terus melangkahkan kaki tanpa tujuan di tempat yang sangat luas dan tanpa batas itu. Aku juga tidak bisa menebak waktu, karena semua terlihat sama. Saat aku berjalan tanpa arah itu, tidak terlihat ada seorang pun di sana. Padahal, aku ingin sekali bertanya tentang tempat ini.
Aku pun tetap berjalan, tidak tahu sudah seberapa jauh, tidak tahu sudah berapa lama. Tiba-tiba di kejauhan, terlihat seseorang yang sedang berbaring. Akhirnya! Perasaanku sangat senang dan lega waktu itu. Aku mencoba mempercepat langkah, tapi tidak bisa. Kecepatanku dalam berjalan seperti ada yang mengatur.
Lama aku berjalan, sampailah aku ke tempat orang yang sedang berbaring itu. Orang itu tampak kaget melihatku. Semula berbaring, kini dia duduk. Aku baru bisa melihatnya dengan jelas. Dia adalah sesosok wanita paruh baya. Pakaiannya tradisional, memakai jarik sepanjang betis dan kebaya kutu baru. Dia bangun dari duduknya, tapi wajahnya tetap tertunduk dan tertutup sebagian oleh rambut. Rambutnya kusut tidak karuan, seperti sudah tidak pernah dicuci selama bertahun-tahun.
Tidak ada yang membuka mulut di antara kami. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Tapi kami mengerti satu sama lain, seperti sedang bicara dalam kebisuan. Perempuan itu menunjuk ke sebuah arah dengan jarinya. Dia menyuruhku berjalan ke arah sana. Aku menurut, dan melanjutkan perjalananku.
Entah berapa lama aku berjalan, entah arah yang kutuju benar atau salah, aku tidak tahu. Tanpa kusadari, aku sudah berada di depan sebuah pintu.
Di hadapanku, pintu itu tertutup rapat, tapi di sekelilingnya tetap kosong. Tidak tampak dinding seperti layaknya sebuah ruangan. Aku mendorong pintu itu hingga terbuka beberapa jengkal. Aku mendorongnya lagi dengan kuat, tapi hanya sampai situ pintunya bisa terbuka.
Meskipun tidak bisa masuk ke dalamnya, aku bisa melongok ke balik pintu. Cahaya dari tempatku berdiri menembus masuk ke dalam ruangan gelap itu. Ada sebuah papan tulis besar berwarna hitam di dalamnya. Di depan papan tulis itu, terlihat sesosok wanita dengan gaun panjang berwarna abu-abu muda. Dia sedang berdiri menghadap ke arah papan tulis. Rambutnya hitam dan panjang, bagus sekali. Sangat berbeda dengan wanita paruh baya yang sebelumnya aku temui.
Dengan keterbatasan penglihatanku, aku menoleh ke arah kiri dan terlihat seperti seorang guru yang sedang mengajar dari balik pintu tempatku berdiri. Ternyata, guru itulah yang menghalangi pintu ini, sehingga tidak bisa aku buka dengan lebar. Di hadapannya, ada beberapa deret bangku dan meja yang diiisi oleh tiga laki-laki dan tiga perempuan. Mereka tampak seperti anak sekolahan yang sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.
Tiba-tiba, ada seorang siswa laki-laki yang berada di bangku terdepan bergeser tempat duduk ke sebelah kanan, dekat pintu tempatku berdiri. Sosok siswa itu memiringkan kepalanya ke arah pintu, tapi dengan wajah yang agak tertunduk. Cahaya yang mengenainya, meski cuma sedikit, memperjelas warna baju dan wajah siswa itu. Bajunya berwarna putih dengan celana abu-abu. Aku menduga mereka adalah siswa SMA. Potongan rambut siswa itu cepak dengan poni panjang yang menutupi matanya. Kulitnya pucat sekali.
Tidak lama kemudian, guru yang sedang berdiri itu menoleh ke arahku. Kulitnya tidak kalah pucat dengan siswa yang kulihat tadi. Rambutnya diikat ke belakang, sehingga aku bisa dengan jelas melihat wajahnya. Mata, hidung, dan mulutnya lengkap. Hanya saja ketika kuperhatikan lebih jelas, matanya tidak berpupil. Hanya ada warna putih polos di bola matanya.
Aku yang bingung harus berbuat apa, hanya bisa menganga karena terkesima melihat seisi ruangan yang janggal itu. Sang guru kemudian menyodorkan sebuah map berwarna merah yang sejak tadi dipegangnya.
"Ini formulir pendaftaran," kata guru itu.
Setelah itu, dia langsung mendorong pintu hingga tertutup kembali. Seketika, pintu itu hilang. Tempat itu kembali kosong seperti semula.
Aku tidak punya kesempatan bicara dan bertanya. Apa yang harus aku lakukan dengan map ini? Apakah aku harus membukanya? Atau haruskah aku mengantarnya ke sebuah tempat?
Seperti semula, aku kembali berjalan tanpa arah dan tujuan. Tiba-tiba, aku melihat wanita paruh baya berkain kebaya yang pertama aku temui. Posisinya sama dengan yang kulihat tadi, dia berbaring. Tapi kali ini, dia tidak berbaring di lantai, melainkan melayang di udara tanpa kasur, kursi, atau apapun yang menyangganya. Aku ingin menghampirinya, tapi aku tidak bisa mengendalikan langkahku. Aku merasa melayang dengan tubuh yang sangat ringan. Aku mencoba mendekati wanita itu. Dengan posisi yang masih melayang, dia duduk dan menoleh ke arahku dengan wajah yang masih tertunduk.
Aku semakin penasaran dengan semua yang kualami. Aku berada di mana? Aku melihat ke segala penjuru, tapi tidak ada tanda-tanda atau petunjuk yang bisa mengurangi penasaran ini.
Dengan langkahku yang semakin ringan dan hampir melayang, aku berjalan terus untuk berusaha mencapai wanita itu. Tapi langkahku tidak pernah sampai ke sana. Padahal dari jauh, mulai terlihat pemandangan lain, yaitu bukit berwarna putih. Aku tidak bisa mengatakan secara jelas, itu bukit atau bukan, karena aku tidak pernah bisa sampai ke sana. Hanya sebatas pandangan mataku saja yang melihatnya sebagai bukit.
Dengan susah payah, aku menyodorkan map merah yang kupegang kepada wanita itu. Tapi wanita itu tidak bergeming, dan aku pun tidak bisa menggapainya. Wanita yang semula tertunduk itu kemudian melihat ke arahku.
Merasa putus asa, akhirnya aku hanya bisa memandangi map merah itu. Saat aku berniat untuk membukanya, perempuan berkain kebaya tersebut mengingatkan bahwa aku belum layak untuk diterima di kelas itu. Aku ingin bertanya lebih jelas lagi, tapi perempuan itu mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar aku segera pergi dari tempat itu. Kemudian, perempuan itu kembali merebahkan badannya seperti semula, dan aku pun terbangun...
Hingga kini, aku tidak pernah mengerti arti mimpi aneh itu. Siapa wanita paruh baya itu? Bagaimana dengan wanita bergaun abu-abu yang kutemui di dalam kelas? Lalu, siapa guru dan murid-murid itu? Aku tidak tahu jawabannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Hapsari
semoga suka ya kak dengan karya aku🌹
2023-01-06
1
kunjungan ke dimensi lain ..
hi..hi.. serem banget
2023-01-06
2