Siang ini, cuaca terlihat mendung. Aku melamun memandang keluar jendela kelas, melihat awan-awan yang hitam kelam itu. Di saat menjelang hujan seperti ini, aku jadi teringat akan Kinasih, teman baikku saat SMP.
Kinasih sangat suka cuaca mendung. Dia sering melamun memandangi jendela kelas ketika menjelang hujan, seperti yang sedang aku lakukan saat ini.
Kadang aku masih tidak percaya kalau Kinasih sudah tiada. Ya, dia sudah meninggal satu tahun lalu, ketika kami duduk di kelas 3 SMP.
***
Kinasih adalah anak yang baik hati. Banyak yang menyukai dia karena sifatnya yang ceria. Sayangnya, Kinasih harus pergi cepat di umurnya yang masih belia karena penyakit kanker yang diderita.
Aku juga kenal baik keluarga Kinasih: papa, mama, dan kakaknya. Semasa aku mengenalnya, Kinasih memang sudah harus bolak balik opname di rumah sakit. Sebagai salah satu teman dekatnya, aku pun sering menjenguk dan menemaninya. Biasanya, aku pergi ke rumah sakit dengan membawa segudang kisah lucu untuk menghibur Kinasih. Baik itu kejadian lucu yang terjadi di sekolah, maupun cerita tentang ulah teman-teman yang bisa membuatnya tertawa. Selama liburan sekolah pun, aku sering menemani Kinasih berobat ke rumah sakit. Kakak perempuannya, Kak Murni, juga selalu ikut menemani.
Pada suatu hari, aku ingat sedang mengantar Kinasih berobat bersama dengan Kak Murni. Saat itu, genap sudah dua tahun Kinasih menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut. Awalnya, Kinasih terlihat enggan pergi. Dia memang sering menyembunyikan rasa sakitnya, supaya tidak dibawa ke rumah sakit. Hari itu, dia tidak bisa mengelak dan harus dirawat karena rasa sakitnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Dia terlihat lemah dan seakan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tadi aku bicara sama dokter. Menurutnya, kesehatan Kinasih terus menurun," kata Kak Murni.
Hari itu, Kinasih terlihat sangat pucat dan makin kurus. Padahal, beberapa hari lagi, dia akan ulang tahun yang ke-14, tepatnya pada 28 Februari. Aku merasa sangat kasihan, sehingga memutuskan untuk menginap di rumah sakit dan menemaninya.
Keesokan harinya, Kinasih sudah tampak kembali segar. Keadaannya sangat berbeda dengan hari sebelumnya. Dia terlihat bersemangat untuk mengobrol denganku. Kinasih banyak bercerita hari itu. Tentang keluarganya, pengalaman masa kecilnya, sakit yang dideritanya, hingga rasa tidak nyamannya saat dirawat di rumah sakit ini.
"Udah dua tahun lebih aku bolak-balik dirawat di sini. Padahal, semua dokter dan perawatnya ramah! Tapi tetap saja aku tidak betah," ujarnya.
Belum sempat kujawab, terdengar suara ketukan pintu. Ternyata, beberapa teman dari sekolah datang menjenguk. Kinasih selalu senang ketika ada teman yang datang. Dia menjadi terhibur dan lupa akan rasa tidak nyaman tersebut. Dia pun tidak menolak ketika Kak Murni menawari untuk mendandaninya.
"Dikittt aja. Dibedakin biat seger, ngga pucet-pucet amat. Mau yaa," ucap Kak Murni merayu Kinasih. Kinasih pun menjawab 'iya' dengan senyuman lebar di wajahnya.
Ketika teman-teman sudah pulang, Kinasih pun izin untuk tidur karena merasa lelah. Setelah Kinasih tertidur, aku pun berbincang dengan Kak Murni. Menurutnya, sikap Kinasih agak berubah akhir-akhir ini.
"Beberapa hari belakangan ini, Kinasih agak aneh. Setiap bertemu orang, Kinasih selalu mengucapkan permintaan maaf. Kayak tadi, pas teman-teman pulang, Kinasih menyalami mereka satu-satu dan minta maaf. Kamu lihat kan?" kata Kak Murni.
Aku pun heran ketika melihat hal tersebut. Tapi aku dan Kak Murni berusaha menyembunyikan rasa heran kami, agar suasana tetap terjaga baik.
Setelah mengobrol selama beberapa lama, Kak Murni tertidur di kursi.
"Kasihan Kak Murni, pasti dia kecapean," pikirku dalam hati.
Keadaan rumah sakit sudah sepi setelah jam besuk selesai. Jam telah menunjukkan pukul 21.30. Aku duduk di samping Kinasih yang masih tertidur sambil membaca buku. Saking asyiknya tenggelam dalam cerita di buku yang aku baca, aku tidak sadar kalau Kinasih terbangun. Tiba-tiba, dia memegang tanganku.
"Alit, terima kasih atas semua yang sudah Alit lakukan untukku. Aku minta maaf ya kalau ada salah..." ujarnya.
Aku terdiam, kehabisan kata-kata. Tidak terasa, air mata jatuh ke pipiku. Air mataku tidak bisa terbendung lagi. Sesak rasanya. Aku pun memegang tangan Kinasih, dan tidak bisa lagi menahan tangis...
Di tengah-tengah rasa sedih dan campur aduk, tiba-tiba terdengar erangan kesakitan seorang bapak paruh baya. Bapak tersebut memang dirawat bersebelahan dengan Kinasih. Dari sela-sela gorden jendela kaca, aku bisa melihat isteri dan keluarga menjaganya secara bergantian. Namun malam itu, ruangan si bapak terlihat sepi dan tidak ada orang yang menjaga.
"Mungkin penjaganya sedang ke toilet. Kasihan sekali bapak itu..." kata Kinasih.
Setelah itu, aku pun kembali kuat dan berusaha menghibur Kinasih. Kami berbincang sebentar, sampai Kinasih kembali tertidur.
Suasana kembali hening dan aku pun kembali tenggelam di dalam buku yang kubaca. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Aku mulai merasa mengantuk dan mencoba untuk tidur. Sedangkan Kak Murni terlihat masih pulas di kursinya. Dalam suasana hening itu, tiba-tiba Kinasih terbangun lagi dan duduk di kasurnya. Pandangannya tertuju ke arah pintu kamarnya yang hampir berhadapan dengan koridor menuju ruang jaga.
"Alit, Alit, lihat, bapak itu mau dibawa ke mana? Kenapa dipapah begitu? Kenapa ngga pake kursi roda aja?" Kata Kinasih sambil menunjuk ke arah pintu.
Aku berdiri dan melihat ke arah koridor untuk mengetahui lebih jelas. Ternyata, aku juga melihat bapak yang dirawat di ruang sebelah itu sedang dipapah dua orang. Aku hanya melihat mereka berjalan menjauh. Memang aneh, pasien yang sedang sakit terlihat dipaksa berjalan. Padahal, di rumah sakit harusnya ada kursi roda, benar kata Kinasih. Aku dan Kinasih bertatapan muka, saling memandang karena heran melihat kejadian itu.
Kak Murni yang terbangun mendengar suara Kinasih pun juga keheranan.
"Kalian kenapa? Kok kayak orang bingung?" Tanya Kak Murni.
"Kakak ngga lihat tadi? Bapak tua yang dirawat di ruangan sebelah itu, tadi terlihat dipapah oleh dua orang. Mereka berjalan di koridor," jawab Kinasih. "Aneh banget, Kak. Kok si bapak ngga dibawa pakai kursi roda aja? Padahal bapak itu terlihat lemas dan terseok-seok. Kakinya agak menekuk, kayak orang berlutut. Tapi tetap diseret. Kan kasian. Udah gitu, dua orang yang memapah si bapak, ngga pakai baju medis."
Kinasih terus menjelaskan tentang hal aneh yang baru saja dilihatnya. Wajahnya terlihat tegang melihat kejadian itu. Tidak berapa lama kemudian, terdengar tangis histeris dari kamar bapak itu. Rupanya, yang menangisq adalah isteri dari bapak tersebut. Perawat penjaga bergegas mendatangi si ibu untuk memeriksa keadaan bapak. Sesaat kemudian, perawat membawa kasur dorong. Ternyata, bapak itu telah meninggal.
Kak Murni langsung menutup gorden jendela agar Kinasih tidak syok saat melihat jenazah itu melewati ruang rawatnya.
"Jangan ditutup, Kak, buka aja," kata Kinasih. Rupanya dia penasaran ingin melihat jenazah bapak tua itu. Kinasih terlihat tetap memandangi koridor sambil menerawang jauh. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.
Pagi hari setelah kejadian tersebut, aku berpamitan dengan Kinasih dan Kak Murni. Aku harus pulang ke rumah, kemudian berangkat ke sekolah karena waktu itu sudah hari Senin. Sekali lagi, Kinasih memegang tanganku sambil tersenyum. Aku pun memeluknya, dan berjanji akan kembali lagi besok sepulang sekolah. Rupanya, itu jadi kali terakhir aku berjumpa Kinasih. Belum sempat aku datang, dia meninggal dunia keesokan harinya, tepat satu hari sebelum ulang tahunnya.
***
"Alit. Hey, Alit!" Teguran bu guru Frida membangunkan lamunanku. "Lagi pelajaran kok malah ngelamun."
Teman-teman sekelasku tertawa, aku pun menyeringai sambil minta maaf. Mungkin di atas sana, Kinasih pun juga ikut tertawa melihatku dimarahi.
"Di saat mendung gini, aku jadi ingat kamu. Kinasih, semoga kamu tenang ya di sana..." kataku dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Minaa Lee💅
Di tambah onomatope makin mantul Thor 🤗
2022-12-30
2
FLA
sahabat yg baik... kinasih
2022-08-31
5
Head Hunter ---ay...
wahh kerennn🥰🎉🎉
2022-08-11
2