Pada suatu akhir pekan, aku, Kak Luni, mama, papa, dan nenek pergi berjalan-jalan ke sebuah daerah wisata dekat dengan kota tempatku tinggal. Kami memutuskan untuk menginap di hotel sejak hari Jumat sore hingga Minggu karena mama dan papa sedang cuti bekerja. Sepulangnya dari sekolah, aku dan Kak Luni langsung berangkat ke sana bersama papa, mama, dan nenek dengan mengendarai mobil.
Sekitar jam setengah tujuh malam, sampailah kami di sebuah hotel bintang 3. Dari pintu masuk mobil, aku melihat bangunannya yang cukup mewah. Kami pun langsung menuju resepsionis untuk melakukan administrasi dan mengambil kunci. Setelah itu, kami diantar oleh seorang bell boy menuju ke kamar.
Dari ruangan resepsionis, kami melewati sebuah restoran yang cukup besar. Dari restoran itu, barulah kami masuk ke lorong panjang yang terdapat kamar-kamar di sisi kanan kirinya. Lorongnya terlihat remang-remang, hanya diterangi oleh sederetan lampu berwarna kuning. Aku sedikit takut melewati lorong remang-remang ini. Apalagi, berhubung saat ini bukan sedang dalam masa liburan, pengunjung hotelnya sepi sekali. Suasananya memang nyaman, tapi juga sedikit mencekam. Aku pun berusaha menepis rasa takutku, karena aku akan satu kamar dengan Kak Luni dan nenek.
"Setidaknya, kamarku ramai," pikirku.
Kami sekeluarga bermalam di lantai satu. Papa memesan dua kamar yang bersebelahan, satu untuk papa dan mama, satu lagi untuk aku, Kak Luni, dan nenek. Nenek tidur bersama Kak Luni di satu kasur berukuran besar, sementara aku akan tidur di extra bed.
Aku mengamati sekeliling kamar itu. Luasnya kira-kira 20 meter persegi: ada kamar mandi, meja, dua kursi kursi, dan juga ada satu TV berukuran 41 inch.
Kamar ini beserta tempat tidur dan kamar mandinya terlihat sangat bersih. Dari kamarku, juga terlihat pemandangan indah dari perbukitan hijau.
"Mudah2an aku bisa tidur pulas tanpa ada gangguan," pikirku.
Setelah membereskan koper dan mandi, kami bersiap makan malam di restoran hotel. Lagi-lagi, aku harus melewati lorong yang remang-remang itu. Ternyata, bagian dalam restonya juga agak gelap. Semua lampu yang terpasang terlihat memiliki watt yang rendah.
"Resto ini gelap banget, Ma. Besok malam kita makan di luar saja ya," kataku sembari berbisik kepada mama.
Mama hanya menjawabku dengan senyuman dan mengangguk. Setelah itu, kami pun menyantap makan malam dan segera kembali ke kamar untuk beristirahat.
Sesampainya di kamar, seorang bell boy menghampiri kami dan meminta izin untuk memasukkan extra bed yang telah dipesan oleh papa. Kami pun kemudian masuk ke kamar masing-masing. Tapi, aku membiarkan pintu kamar terbuka, agar petugas hotel bisa dengan mudah memasukkan kasurnya.
Aku memang sengaja memilih tidur di kasur ekstra, agar Kak Luni tidak iri jika aku satu kasur dengan nenek. Ketika kasurku datang, aku mengarahkan bell boy itu untuk meletakkannya di dekat jendela. Setelah itu, aku, Kak Luni, dan Nenek mengobrol di kasur. Kami membicarakan kondisi restoran yang terlalu gelap, tapi kami beruntung karena makanannya semua enak.
Kira-kira pukul 21.00, kami bersiap untuk tidur. Aku mematikan semua lampu, kecuali kamar mandi agar masih ada cahaya yang tersisa. Suasana pun menjadi nyaman, dan aku tertidur tidak lama kemudian.
Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku terbangun karena mendengar suara rintihan. Aku duduk di kasurku dan memasang telinga baik-baik untuk mencari sumber suara. Ternyata, suara rintihan itu berasal dari Kak Luni. Dia terlihat meronta seperti sedang membebaskan diri dari sesuatu yang menahannya.
Sepertinya Kak Luni 'ketindihan', tetapi aku tidak melihat ada makhluk yang mengganggunya. Tidak lama kemudian, aku melihat sekelibatan asap putih yang membumbung ke arah langit-langit kamar. Nenek ikut terbangun mendengar rintihan Kak Luni dan duduk di kasurnya. Aku pun menghampiri nenek, tapi nenek memberi isyarat agar aku tidak berisik dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Aku diam. Suasana jadi semakin mencekam. Aku terus memperhatikan Kak Luni. Lama kelamaan, rintihannya mulai mereda dan kemudian tubuhnya terlihat tenang dalam posisi telentang.
"Alit, tolong nyalakan lampunya," kata nenek.
Aku pun segera menuruti nenek dan mengambil segelas air putih untuk Kak Luni. Dalam keadaan terang, Kak Luni pun mulai membuka matanya dan duduk di kasur.
"Kak Luni mimpi buruk?" Tanyaku.
Kak Luni terdiam sejenak, mengingat-ingat kejadian yang barusan terjadi. Kemudian, dia meminum air putih yang aku suguhkan.
"Tadi itu kejadian beneran, Alit. Aku ngga mimpi. Aku hampir kehabisan tenaga dan napas, rasanya ada menindih badanku," kata Kak Luni. "Mulut dan hidungku dibekap, serem banget. Tapi aku ngga melihat sosoknya."
Kak Luni bercerita soal peristiwa ketindihan yang dialaminya dengan suara yang gemetar. Nenek memeluk kak Luni dan membelai rambutnya.
Nenek selalu memperlakukan aku dan Kak Luni seperti anak kecil. Ketika sedang ketakutan, nenek selalu bisa membuat kami merasa aman.
"Sekarang masih jam 3 pagi. Yuk pada tidur lagi supaya besok bisa seger pas jalan-jalan," kata nenek.
Aku pun kembali ke kasur tanpa mematikan lampu. Malam itu, kami sengaja tidur dengan lampu menyala. Kak Luni pun mencoba kembali tidur dengan posisi miring menghadap nenek agar merasa lebih tenang.
Dalam hati, aku masih bertanya-tanya, apakah nenek melihat sosok yang mengganggu Kak Luni? Tidak seperti biasanya, aku tidak melihat apa-apa. Makhluk halus itu seperti bersembunyi dan tidak tampak wujudnya. Aku menyimpan rasa penasaran itu untuk menjaga perasaan Kak Luni agar tidak semakin takut. Sebenarnya, aku ingin sekali mengobrol panjang dengan nenek mengenai hal ini.
Keesokan harinya, kami sarapan di restoran hotel. Meski ada kejadian tidak mengenakkan pada malam sebelumnya, kami sedikit terobati oleh makanan di resto ini dengan sajian menu dan bumbunya yang terasa enak di lidah. Menu yang disajikan juga cukup variatif. Pagi ini, kami semua tergiur dengan sajian bubur, dengan kuah terpisah yang dihidangkan menggunakan mangkok kecil.
Pelayanannya juga cukup baik. Meski bisa meracik makanan sendiri, tetap ada beberapa orang di resto itu yang dengan ramah melayani tamu. Aku dan Kak Luni mengambil secangkir kopi. Kami masih mengantuk akibat kejadian semalam.
Rupanya, mama memperhatikan kami yang minum kopi, tidak seperti biasanya.
"Kok kalian minum kopi? Semalam ngga tidur?" Tanya mama.
Kak Luni pun berbohong dan menjelaskan bahwa kami minum kopi hanya untuk iseng, supaya badan terasa lebih segar.
Sebelumnya, aku, nenek, dan Kak Luni telah sepakat untuk tidak mengatakan kejadian itu kepada papa dan mama. Kami tidak mau membahas kejadian malam itu karena takut akan merusak suasana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments