Aku terbangun dari tidur dengan perasaan kaget pagi ini. Dalam mimpiku, aku bertemu dengan Pak Melas, guru sekolahku yang telah tiada tepat di hari ke-40 setelah beliau meninggal.
Aku percaya bahwa mimpi dan kenyataan memiliki garis batas yang tipis. Apalagi konon katanya, arwah seseorang yang telah meninggal masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang dikenalnya hingga hari ke-40 pasca kematian. Mungkin saja sebelum meninggal, ada hal yang belum selesai atau belum tersampaikan.
***
Bisa dibilang, aku lumayan dekat dengan Pak Melas. Semasa hidupnya, aku sering membantu beliau di sekolah. Seperti misalnya memasukkan nilai ke dalam daftar siswa, membagikan buku kepada siswa lain, dan beberapa tugas sekolah lainnya. Aku termasuk salah satu siswa yang pintar. Mungkin karena itulah, Pak Melas jadi senang meminta bantuanku.
Menjelang liburan lalu, pak Melas terlihat sangat sibuk, padahal jam sekolah sudah selesai. Aku pun berpamitan dengan beliau.
"Pak, saya pamit pulang dulu ya. Bapak ngga pulang? Lagi sibuk banget nih, Pak, kelihatannya," kataku menggoda.
"Saya lagi menyusun bahan ajar untuk semester berikutnya. Soalnya selama seminggu liburan sekolah nanti, saya akan mengikuti pelatihan untuk guru," jawab Pak Melas
Aku pun memberi kata-kata semangat untuk Pak Melas. Beliau pun terlihat senang dan tersenyum kepadaku. Siapa sangka kalau kala itu adalah kali terakhir aku bertemu dengan Pak Melas.
Teman-teman di sekolahku menganggap Pak Melas sebagai guru favorit. Banyak yang menilai Pak Melas sebagai orang yang penyabar dan inspiratif. Ada pula yang mengatakan bahwa Pak Melas memang baik hati dan suka menolong. Beliau tidak pernah marah. Hanya kata-kata baik dan bijak yang pernah terlontar dari mulutnya.
***
Hari pertama masuk sekolah pasca liburan, aku dan teman-teman lain tidak melihat Pak Melas. Seharusnya pagi itu, Pak Melas yang mengajar kami untuk mata pelajaran matematika. Tapi, beliau tidak masuk dan digantikan oleh Bu Mirah.
"Anak-anak, mohon doanya untuk kesembuhan Pak Melas. Beliau sedang dirawat di rumah sakit karena stroke," kata Bu Mirah.
Sontak, kelas menjadi ramai akibat kabar tersebut. Terdengar suara kasak kusuk dari para siswa. Aku dan teman-teman sangat kaget mendengarnya.
"Kalian akan diberi waktu untuk menjenguk Pak Melas besok, karena hari ini hanya keluarganya yang boleh datang ke sana", ucap Bu Mirah.
Sampai separah itukah penyakit stroke yang diderita Pak Melas? Aku bertanya-tanya dalam hati. Kemudian, aku, Monet, dan Ara memutuskan untuk telepon ke rumahnya dan bertanya mengenai keadaan Pak Melas.
Pada saat itu, anak dari Pak Melas yang menerima telepon kami. Menurut anaknya, tiba-tiba Pak Melas terjatuh saat masuk rumah pada Sabtu sore dua hari lalu, dan langsung dilarikan ke rumah sakit.
Keeskokan harinya, aku dan teman-teman lainnya datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Namun, Pak Melas masih tidak sadarkan diri. Hingga akhirnya tiga hari kemudian, Pak Melas meninggal dunia.
***
Tepat pada hari ke-40 meninggalnya Pak Melas, aku bermimpi sedang berada di sebuah rooftop gedung bertingkat. Tempat itu tampak seperti sebuah gedung kantor tua yang sudah tidak digunakan. Di rooftop tersebut, terlihat serakan sampah yang menandakan jarang ada orang datang ke sini.
Di pojok rooftop tempat aku berdiri, tampak sebuah ruangan seperti gudang berukuran kira-kira 2x2 meter. Pintunya yang terbuat dari besi sedikit terbuka. Aku melongok ke dalam dan melihat ada tangga yang disandarkan ke tembok, dan diesel cadangan untuk listrik mati. Di depan gudang itu, ada meja payung dengan empat kursi.
Aku tetap berdiri, angin pun berhembus kencang. Tiba-tiba, di kursi meja payung yang sebelumnya kosong, terdapat sosok laki-laki berkemeja dan bercelana panjang duduk di sana. Dia terlihat terus menunduk dan cuek dengan sekelilingnya. Selang beberapa saat, datang dua sosok laki-laki menuju ke arah meja payung tersebut. Dua laki-laki tersebut tidak berjalan, melainkan seperti terbawa angin kencang dan terdorong ke kursi yang ada di hadapan meja.
Empat kursi yang semula kosong kini telah terisi tiga orang. Tinggal satu kursi kosong yang tersisa. Dengan perasaan takut campur penasaran, aku mendekat dan duduk di kursi kosong itu.
Rupanya, satu dari ketiga laki-laki tersebut adalah Pak Melas. Sementara itu, aku tidak mengenali kedua sosok lainnya. Beliau terlihat sehat, memakai baju kemeja yang biasa dikenakannya, sambil membawa tas kantor. Tanpa bicara sepatah katapun, beliau membuka tas itu seperti hendak mengambil sesuatu.
Tiba-tiba Pak Melas menoleh ke arahku. Beliau menatapku seolah berkata tanpa suara.
"Alit, baru hari ini Bapak bisa keluar dari rumah," katanya sambil tersenyum. Anehnya, Pak Melas tidak membuka mulut saat mengucapkan hal itu. Mulutnya tetap tertutup sambil tersenyum, seakan aku bisa mendengar isi hatinya.
Setelah itu, lagi-lagi angin kencang berhembus dan membawa ketiga sosok itu terbang melayang entah ke mana. Tiba-tiba mereka menghilang, dan aku pun terbangun.
"Ternyata aku bermimpi," kataku sambil melihat ke luar jendela yang sudah diterangi oleh sinar matahari.
***
Pagi itu, aku bangun kesiangan. Mama pun memanggilku.
"Alit, ayo bangun, sarapan dulu," teriaknya.
Aku langsung beranjak dari tempat tidur, lalu bergegas sarapan dan mandi, bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan menuju sekolah, aku masih terbayang akan mimpiku. Mimpi itu sungguh terasa sangat nyata.
Hari ini, benakku dipenuhi oleh bayangan Pak Melas. Aku dan teman-teman memang sangat merasa kehilangan beliau, guru favorit kami di sekolah.
Pada jam istirahat, aku melihat isteri Pak Melas datang ke sekolah dengan membawa map coklat berukuran kertas folio. Dia terlihat sedang berbicara dengan seorang guru. Rupanya, Bu Melas sedang mencariku.
"Benar kamu yang namanya Alit?" Tanya Bu Melas dengan ramah. Aku pun mengangguk.
"Pak Melas sering cerita soal kamu. Katanya, kamu anak yang pintar, dia jadi bangga," lanjut Bu Melas sambil tersenyum.
Kemudian, Bu Melas pun menyerahkan map cokelat tersebut kepadaku. Aku melihat, di sampulnya tertera sebuah nama: "Alit". Begitu aku buka, ternyata isinya adalah sebuah buku berjudul 'Atomic Habits' karya James Clear, dan juga secarik surat.
Teruntuk Alit,
Satu kebiasaan kecil akan terbentuk menjadi sebuah identitas jika dilakukan secara konsisten. Sekecil apapun kebiasaan baikmu, terus lakukan, terus sebarkan. Semoga buku ini bermanfaat.
Dari Pak Melas
Itulah kata-kata yang tertulis di surat itu. Aku pun meneteskan air mata. Bu Melas pun kemudian memelukku. Rupanya, Pak Melas datang ke mimpiku untuk memberitahu soal buku yang tidak sempat diberikannya ini.
"Pak Melas, aku tidak akan melupakan jasa-jasa Bapak. Aku akan terus mengenang dan mendoakan Bapak dari sini bersama teman-teman yang lain," ucapku dalam hati.
***
Sudah tiga orang yang kukenal dekat pergi meninggalkan dunia ini dalam dua tahun terakhir: Kinasih, Pak Kidung, dan sekarang Pak Melas. Sebenarnya, aku merasa sangat sedih dan terpukul. Tapi aku merasa, mereka pasti akan ikut sedih melihatku menangis. Untuk itulah, aku bertekad untuk tetap tersenyum dalam menjalani hari.
Perginya mereka juga membuatku makin tersadar bahwa 'waktu' itu terbatas. Semua akan mati pada saatnya, termasuk aku. Aku pun jadi ingin menghabiskan waktuku lebih banyak lagi dengan orang-orang terdekatku dan berusaha untuk menyebarkan hal-hal baik di sekitarku. Sebelum nanti datang waktunya untuk pergi dan berpisah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments