Nenek sering sekali menceritakan kisah masa kecilnya kepadaku. Keadaan nenek waktu kecil memang sangat jauh berbeda denganku. Makanya aku sangat senang mendengar cerita-ceritanya. Aku jadi punya perspektif baru yang tidak bisa aku temukan di generasiku saat ini.
Selain cerita seru dan lucu, cerita masa kecil nenek juga tidak lepas dari kisah horror yang dialaminya. Salah satunya adalah rumah masa kecil nenek yang - konon katanya - terkenal angker.
Rumah yang ditempati nenek semasa kecil memang menyimpan banyak cerita mistis. Meskipun demikian, rumah itu tetap nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Bagian depan rumahnya sering dipakai anak-anak untuk bermain. Apalagi, ada pohon asem yang sangat besar dan teduh di sana. Jadi, suasana rumah selalu ramai ketika siang hingga sore hari menjelang.
Rumah itu memiliki luas sekitar 250 meter persegi, dengan pohon-pohon hijau yang menghiasi sekitar rumahnya. Dindingnya sudah agak lapuk, sehingga terkesan sekali kalau rumah itu sudah tua. Pada bagian dalam rumah, terdapat lima ruangan utama: ruang keluarga sekaligus ruang makan, tiga kamar tidur, dan juga dapur. Di bagian samping rumah, ada sumur tua dan bak untuk menampung airnya. Sedangkan di bagian belakang, ada kamar mandi dan satu ruangan kecil untuk meletakkan barang-barang yang tidak terpakai. Di ruangan itu pula terdapat sebuah meja kayu berukuran 100x70 cm yang merupakan peninggalan dari Bu Suwarni, pemilik lama dari rumah itu.
Ruangan paling belakang itu memang sengaja dibiarkan kosong karena pengap, gelap, dan lembap. Meskipun cahaya matahari bisa masuk sedikit pada siang hari, ruangan itu tetap terasa remang. Jarang sekali ada orang yang betah berlama-lama di sana.
***
Untuk menuju rumah terdekat, butuh waktu sekitar lima menit berjalan kaki. Namun, ada saja warga sekitar yang mampir untuk sekadar mengobrol, duduk-duduk, ataupun menemani anaknya bermain di bawah pohon asem. Salah satu orang yang paling sering datang ke rumah adalah Siwo.
Siwo merupakan kata lain dari Uak. Melihat orang-orang memanggilnya 'Siwo', nenek dan Yurah pun ikut memanggilnya dengan sebutan itu. Tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah. Bahkan, dia pernah bekerja untuk Ibu Suwarni di rumah itu. Berhubung dia sudah lama sekali tinggal di daerah sana, dan bahkan pernah bekerja di rumah masa kecil nenek, banyak sekali cerita mistis yang didapat darinya.
"Si ibu pemilik rumah yang dulu sering meletakkan sesajen dan melakukan ritual untuk memanggil makhluk halus," katanya kepada Simbok sambil menunjuk ke arah ruang belakang yang kosong itu. "Di ruang belakang itu yang sering digunakan, terus di daerah sumur situ juga."
Menurutnya, selain di bak dekat sumur, meja kayu itu juga merupakan tempat yang sering digunakan untuk meletakkan sesajen. Sesajen dari Bu Suwarni memang sederhana, hanya berisi bunga mawar, kantil, dan kenanga. Tujuan dari sesajen itu adalah untuk memohon keselamatan. Namun, sesajen ritual itu juga bisa mendatangkan makhluk halus yang tidak diinginkan. Sehingga, banyak yang mengatakan kalau suasana rumah ini terkesan angker meskipun dilihat dari luar.
Meskipun banyak cerita seram mengenai rumah ini, Siwo awalnya tidak mau ambil pusing. Dia tidak percaya akan adanya hantu ataupun makhluk tak kasat mata lainnya, karena Siwo tidak pernah mengalami ataupun melihatnya sendiri.
***
Suatu hari, Bu Suwarni meminta tolong kepada Siwo untuk mengantarkan sepasang giwang berlian ke rumah temannya. Sebelum berangkat, giwang tersebut sudah diperiksanya terlebih dahulu. Betul, ada sepasang giwang di dalam kotaknya.
"Cantik sekali," kata Siwo yang terkagum-kagum melihatnya.
Siwo kemudian membawa giwang itu beserta kotak perhiasannya dengan berjalan kaki. Sesampainya di depan rumah teman Ibu Suwarni tersebut, Siwo membuka kotak perhiasan itu untuk memastikan kembali. Ternyata, hanya ada satu giwang.
"Lho kok, ke mana giwang yang satu lagi??" Tanya Siwo kepada dirinya sendiri.
Melihat hanya ada satu giwang di dalam kotak, Siwo pun panik. Dia menelusuri jalan yang dilaluinya sambil mencarinya. Giwang itu tidak ada di manapun. Siwo merasa sedih dan takut, karena giwang berlian tersebut pasti sangat mahal harganya.
Masih dalam keadaan panik, Siwo kembali pulang ke rumah Ibu Suwarni. Dia berpikir, barangkali giwangnya jatuh atau tertinggal di rumah. Dia menelisik sudut-sudut rumah dengan teliti, tapi tetap tidak ada. Merasa putus asa, Siwo pun terduduk lemas di lantai ruangan belakang dan menangis tersedu-sedu.
"Bu Suwarni, saya minta maaf karena giwangnya hanya sisa satu. Saya tidak tahu yang satu hilang ke mana. Daritadi saya sudah mencarinya, tapi tidak ada hasil," ucap Siwo sambil menangis sesenggukan.
Ibu Suwarni hanya diam saja mengetahui giwangnya hilang. Dia tidak marah, tidak tersenyum, hanya diam. Kemudian, dia meminta Siwo untuk menyiapkan sesajen dan meletakkannya di meja kayu ruang belakang.
Setelah semua siap, Siwo dan Bu Suwarni duduk di dekat meja sesajen. Siwo hanya memperhatikan Bu Suwarni yang terlihat memejamkan mata sambil mengatupkan tangannya. Dia melakukan sesembahan sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Nanti juga ketemu," kata Bu Suwarni.
Siwo yang kebingungan mendengar ucapan Bu Suwarni hanya mengangguk pasrah. Dia tidak bisa tidur malam itu, memikirkan nasibnya yang tak tentu jika giwangnya betul-betul hilang.
"Bagaimana kalau giwangnya tidak ketemu lagi? Apa aku akan dipecat? Aku pasti dipecat. Bagaimana kalau aku sampai disuruh ganti rugi? Bagaimana cara aku membayarnya?" Kurang lebih, itulah yang ada di benak Siwo malam itu.
Keesokan paginya, Siwo kembali menjalankan tugas sehari-harinya, yaitu membersihkan rumah. Dalam keadaan masih mengantuk dan berkali-kali menguap, Siwo tetap menyapu rumah dengan sigap. Selain itu, karena terlalu lelah, dia pun sedikit lupa soal giwang yang hilang. Tiba-tiba, dia melihat kilauan dari lantai. Siwo berjongkok agar bisa memperhatikan benda tersebut dengan lebih jelas.
"Giwang! Giwangnya ketemu!!" Teriak Siwo kegirangan.
Digenggamnya dengan hati-hati giwang tersebut, lalu dimasukkannya ke dalam kotak perhiasan. Lengkap sudah sepasang giwang berlian itu! Siwo girang bukan main, merasa beban pikirannya sudah hilang. Melihat Siwo yang sedang sumringah, Bu Suwarni pun ikut tersenyum.
***
Kisah ini didapat oleh nenek langsung dari Siwo, dan kini diceritakan kepadaku. Kata nenek, Siwo percaya betul kalau giwang tersebut bisa muncul tiba-tiba berkat sesajen dan sesembahan yang dilakukan oleh Bu Suwarni.
Menurut Siwo, dia sudah menelusuri seluruh rumah secara detil dan teliti. Apalagi, giwang itu ditemukan dengan jelas berada di tengah-tengah lantai. Tidak mungkin terlewatkan olehnya. Apakah itu hanya kebetulan, atau makhluk penghuni rumahlah yang membantunya menemukan giwang? Tidak ada yang tahu pasti jawabannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Siti Arbainah
Sekarang juga msih ada yg kya gtu biasanya mama saya bilang gini "pling msih di pinjam orang halus nanti kalau gak di cari ktemu aja"
2023-10-22
0