Zaman dahulu, nenek buyutku pernah mempekerjakan seorang wanita untuk mengurus keperluan rumah tangga. Wanita itu punya seorang gadis kecil. Yurah namanya. Saat pertama datang ke rumah nenek, usianya masih 5 tahun. Hanya lebih muda satu tahun dari nenek.
Nasib Yurah tidak seberuntung anak-anak lain seusianya. Pada saat dia memasuki usia 9 tahun, ibunya meninggal dunia karena sakit. Sementara itu, ayahnya telah meninggal lebih dulu, tidak lama setelah dia lahir. Sejak ibunya tidak ada, Yurah jadi anak yatim piatu. Jadi, nenek dan kakek buyutku memutuskan untuk mengizinkan dia tinggal di rumah.
Setelah ditinggal oleh ibu Yurah, nenek buyutku pun kemudian mencari penggantinya. Akhirnya, dia bertemu dan mempekerjakan seorang wanita paruh baya. Mereka memanggilnya 'Simbok'.
Simbok sangat menyayangi anak kecil. Melihat ada dua orang anak di rumah, yaitu nenek dan Yurah, dia langsung dengan senang hati menerima tawaran pekerjaan dari nenek buyut.
Nenek dan Yurah punya kegemaran yang berbeda. Kalau nenek suka bermain di luar bersama teman-temannya, Yurah lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama boneka kain kesayangannya.
Di bagian belakang samping kiri rumah masa kecil nenek, ada sebuah sumur tua dengan tembok batu berwarna abu-abu yang melingkarinya. Tembok yang mengelilingi sumur tua itu memiliki tinggi sepinggang orang dewasa.
Sumur sedalam kurang lebih 30 meter ini menyimpan banyak misteri. Bahkan sebelum nenek pindah ke rumah itu, sudah banyak cerita mistis mengenai sumur tersebut. Dulu, sumur itu juga pernah dijadikan tempat untuk memandikan jenazah.
Yurah sangat senang bermain-main di dekat sumur. Sehari-hari, Simbok juga sering menghabiskan waktu di dekat sumur itu karena letaknya yang dekat dengan dapur. Di sebelah sumur itu, ada sebuah bak setinggi 30 cm dengan lebar 60x30 cm untuk menampung air, serta bale-bale kayu yang bisa digunakan untuk duduk dan tiduran. Bale-bale itu cukup panjang, bisa untuk duduk empat orang dewasa. Udara di sekitar sumur memang sejuk, sehingga nyaman untuk dijadikan tempat istirahat siang saat matahari sedang terik-teriknya. Yurah dan Simbok pun sering tertidur di bale-bale dekat sumur itu.
Setiap hari Minggu pagi, Simbok selalu pulang ke rumahnya dan baru kembali lagi ke rumah nenek pada Senin pagi. Siang itu, rumah sepi. Simbok sudah pulang ke rumahnya, nenek sedang di halaman rumah bersama teman-temannya, sedangkan kakek dan nenek buyutku sedang pergi ke kota untuk membeli barang-barang keperluan. Yurah sedang bermain sendirian berada di bale-bale dekat sumur bersama boneka kesayangannya. Lama dia bermain, hingga tidak terasa, dia tertidur di sana.
Tiba-tiba Yurah terbangun karena merasa kedinginan. Tangannya meraba-raba sekeliling, dan ternyata dia ada di atas genangan air. Betapa terkejutnya Yurah ketika baru menyadari bahwa dia sedang berada di dalam bak dekat sumur tersebut. Baju dan rambutnya basah semua terendam air yang ada di dalam bak. Dia pun menangis ketakutan, tapi tidak ada satupun yang mendengarnya karena rumah sedang kosong. Yurah kemudian bangun dari bak itu dan pergi ke kamar untuk mengganti baju dalam keadaan masih menangis sesenggukan.
Setelah berganti baju, dia kembali ke area sumur untuk mencari bonekanya meskipun masih dalam keadaan ketakutan. Boneka itu ditemukannya di atas bale-bale. Yurah kemudian teringat bahwa tadi dia tertidur di bale-bale, bukan di dalam bak. Dia pun segera mengambil bonekanya dan lari ke halaman rumah menghampiri nenek.
Saat itu, nenek kecil dan teman-temannya sedang bermain di bawah pohon asem. Melihat ada anak-anak lain, Yurah merasa tenang dan duduk di depan pintu. Dalam keadaan wajah masih sembab, dia memperhatikan anak-anak lain yang sedang bermain engklek. Mereka menggoreskan kayu di tanah dan membuat gambar petak-petak untuk dilompati para pemainnya.
Sebagian dari mereka, ada juga yang sedang bermain congklak. Sebagai hukuman, pemain yang kalah harus berjoget. Melihat anak yang sedang berjoget, Yurah pun mulai tertawa dan melupakan ketakutannya. Lalu dia bergabung dengan anak-anak itu dan ikut bermain congklak hingga sore menjelang.
***
Keesokan harinya, Yurah menceritakan pengalaman mistisnya itu kepada nenek dan Simbok. Simbok pun menanggapi ceritanya dengan senyuman.
"Di setiap rumah pasti ada penunggunya," kata Simbok.
Nenek yang menyimak perbicangan mereka jadi teringat akan cerita soal sumur tua itu dari seorang tetangga yang sudah lama tinggal di daerah ini. Warga sekitar menyebut sumur itu sebagai 'padusan mayat' karena sering menjadi tempat memandikan jenazah. Penghuni lama rumah ini juga konon katanya sering meletakkan sesajendi bak sumur itu.
- Bersambung -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments