Semasa kecil, aku punya teman bernama Menik. Dia adalah tetanggaku sebelum aku pindah ke rumah nenek. Dia juga sekaligus merupakan teman satu SD-ku. Meskipun kami bersekolah di SD yang sama, usia kami terpaut tiga tahun. Dia juga kenal dengan Kak Luni. Tapi walau usia mereka terpaut tidak jauh, Menik lebih dekat denganku karena kami satu sekolah dan sering pulang bersama. Sementara Kak Luni bersekolah di SD lain.
Menik adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakaknya semua laki-laki. Ibunya dikenal agak sombong di antara para tetangga, karena sering dianggap membeda-bedakan. Perlakuan ibu Menik terkesan lebih menghargai orang-orang kaya saja. Oleh karena itulah, Menik jadi tidak punya banyak teman, karena teman-teman merasa malas bermain ke rumah Menik.
Setelah Menik lulus SD, aku jadi jarang bertemu dengannya. Apalagi setelah aku pindah ke rumah nenek, aku sudah hampir tidak pernah bertemu Menik.
Di suatu hari Sabtu, aku dikejutkan oleh Menik yang tiba-tiba datang ke rumah nenek. Setelah setahun lebih tak jumpa, aku pun asyik mengobrol dan berbagi cerita dengannya. Ternyata, Menik baru saja menikah dengan seorang pria bernama Margo.
***
Aku tahu Margo, tapi tidak begitu mengenalnya. Dia lebih tua 10 tahun dengan Menik, dan rumahnya tidak jauh dari rumahku yang lama. Sejak kecil, aku sering melihatnya datang ke rumah karena dipanggil oleh papa untuk membetulkan barang elektronik.
Rumah Margo dan Menik hanya berjarak sekitar 200 meter. Akan tetapi, rumah Menik berada di dalam komplek, sedangkan rumah Margo berada di dalam gang kecil di dekat komplek.
Setelah lulus SD, Margo tidak melanjutkan sekolahnya dan bekerja serabutan. Dia juga sering membantu mengurus ternak ayam sederhana milik ayahnya.
Sejak Menik mulai beranjak remaja, sudah jadi rahasia umum kalau Margo sangat menyukai Menik. Tapi cintanya tidak berbalas. Menik seringkali buang muka ketika berpapasan dengan Margo. Jadi, Margo pun hanya bisa melihat Menik dari kejauhan.
Kabar tertariknya Margo kepada Menik pun akhirnya tersebar hingga ke teman-teman sekolah Menik. Beberapa teman bahkan ada yang mengejeknya.
"Ciee ciee," begitu ejekan orang-orang kepada Menik.
Mendengar ejekan itu, Menik jadi kesal dan semakin menjauhi Margo. Sampai akhirnya, gosip antara Menik dan Margo pun tedengar hingga telinga orangtua Menik. Tentu saja ibu Menik secara terang-terangan tidak setuju.
Maka dari itulah, aku sangat terkejut begitu mengetahui kini Menik telah menikah dengan Margo. Hubungan keduanya dianggap timpang karena aku tahu, ibunya ingin Menik menikah dengan orang kaya, yang menurutnya se-level dengan keluarganya. Aku pun penasaran, bagaimana bisa Margo meluluhkan hati ibu Menik dan menikah dengannya?
"Kata orang-orang, aku kena pelet," kata Menik sambil tertawa. Aku pun terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Menik.
Menik bercerita, sejak awal, dia memang berkeinginan untuk langsung menikah setelah lulus SMA. Saat kelas dua SMA, dia punya pacar yang merupakan teman sekolahnya. Akan tetapi, ibu Menik melarangnya berhubungan dengan pemuda itu. Seperti biasa, ibunya ingin Menik mendapat jodoh orang kaya. Sehingga menjelang kelas 3, Menik terpaksa putus dengan pacarnya.
"Aku ingin bebas dari kerasnya sikap ibuku, Alit. Makanya aku ingin segera bekerja setelah lulus SMA. Aku berpikiran untuk pindah ke luar kota," kata Menik.
***
Kala itu, menjelang kelulusan SMA yang tinggal beberapa minggu, ada yang menawarkan lowongan pekerjaan kepada Menik. Dia berpikir waktu itu, kesempatan emas tersebut tidak boleh dilewatkan. Jadi Menik pun segera menyetujui tawaran tersebut dan mempersiapkan keberangkatannya. Akhirnya, dia bisa bekerja di luar kota sesuai harapannya, dan bisa dengan bebas menentukan pasangannya.
Menurut Menik, Margo terlihat panik setelah mendengar rencana kepindahannya ke luar kota. Waktu untuk mengejar Menik semakin pendek. Bahkan kabarnya, dia sempat dipergoki tetangga sedang membuntuti Menik saat pulang sekolah. Menik pun menjadi ketakutan dan semakin menjauh dari Margo.
***
Waktu terus bergulir, tibalah saatnya Menik lulus SMA dan lanjut bekerja sambil kuliah di luar kota. Ibunya mengizinkan Menik untuk pindah ke luar kota, dengan harapan Menik bisa jauh dari Margo.
"Setelah pindah, aku tidak pernah lagi bertemu Margo. Tapi tiba-tiba suatu hari, dia meneleponku. Kami mengobrol lama saat itu, kira-kira sampai satu jam," kata Menik.
Begitu pula dengan keesokan harinya, lusa, hingga hari-hari ke depan. Berbincang dengan Margo di telepon telah menjadi aktivitas rutin bagi Menik. Menurut Menik, dia sangat senang dan bersyukur telah dihubungi oleh Margo saat itu. Dia pun menjadi sering malas keluar rumah untuk bekerja dan juga malas kuliah, karena pikirannya hanya tertuju pada Margo. Bahkan, mata kuliah Menik jadi banyak yang tidak lulus. Nilai rata-ratanya hanya D atau E.
Pada akhirnya suatu hari, Margo pun akhirnya merayu Menik untuk menikahinya. Menik sempat ragu. Dia tidak bisa membayangkan komentar dari ibunya jika mendengar hal tersebut. Namun, melihat nilai kuliahnya yang hancur dan pekerjaannya yang tidak beres, dia akhirnya memutuskan untuk pulang dan menerima lamaran Margo.
Sesampainya di rumah, Menik pun memberanikan diri untuk kabar pada kedua orangtua mengenai rencana pernikahannya dengan Margo. Mendengar hal tersebut, tentu saja ibu Menik kaget bukan kepalang.
"Pokoknya Ibu tidak setuju!" Kata ibu Menik.
Akan tetapi, beberapa hari kemudian, ibu Menik tiba-tiba berubah pikiran dan menyetujui pernikahan mereka. Tidak lama setelahnya, Menik dan Margo pun menikah. Pernikahan keduanya berlangsung sederhana dan hanya dihadiri oleh beberapa orang terdekat saja.
***
"Sampai detik ini pun aku masih bingung. Ibu yang tadinya begitu tidak setuju, tiba-tiba bisa luluh. Kok bisa ya?" Ucap Menik sebelum melanjutkan ceritanya.
Menik mengatakan, ada beberapa orang yang bilang bahwa Margo menggunakan 'pelet putar giling' untuk membuat Menik jatuh cinta kepadanya. Kabar burung tentang 'pelet' yang dilakukan Margo untuk mendapatkan Menik sangat santer terdengar. Banyak orang yang mengenal keluarga Menik merasa aneh. Bagaimana bisa Margo yang mulanya dibenci, tiba-tiba bisa menaklukan hati Menik dan juga ibunya. Padahal, semula ibunya mengizinkan Menik untuk pindah ke luar kota agar bisa jauh dari Margo.
"Memang aneh, kedengarannya. Tapi ya sudahlah, aku tidak mau ambil pusing. Yang penting aku baik-baik saja hingga saat ini," kata Menik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Hapsari
Silahkan baca, komen dan jangan lupa like ya. Makacii.
2023-01-16
2