Hantu Hotel

Tok.... tok.... tok....

Suara ketukan itu terdengar lirih, tapi jelas terdengar. Ada suara orang yang mengetuk pintu kamarku. Suara ketukan itu pun memaksaku untuk bangun.

Kala itu, hari masih pagi. Di luar, langit masih gelap dan jalanan masih sepi. Aku menengok ke sebelahku, terlihat Kak Luni yang masih tertidur pulas.

Ketukan pintu pun terdengar lagi.

Tok.... tok.... tok....

"Siapa yang mengetuk pintu kamarku pagi-pagi buta begini?" pikir Alit dalam hati. Dia pun merasa ragu untuk membuka pintu.

***

Aku, mama, papa, dan Kak Luni memutuskan untuk menghabiskan liburan sekolah di sebuah kota kecil yang tenang. Sudah beberapa kali kami ke sini, karena suasananya sangat berbeda dengan hingar bingar kota besar. Tapi, tetap saja kota kecil ini mulai menggeliat untuk berkembang mengikuti arah kota besar.

Di sepanjang jalan utama, banyak hotel yang terkenal di kalangan para wisatawan. Tapi, hotel-hotel kecil tetap bisa tetap bertahan, berhubung banyak juga orang yang memilih hotel kecil karena harga sewanya yang murah.

Saat itu, hari sudah hampir sore. Kami menemukan sebuah hotel yang tidak terlalu besar. Dari jalan raya, hotel dengan dua lantai itu masih tampak seperti baru. Di lantai pertama, ada kantor resepsionis yang melayani berbagai keperluan tamu hotel. Mulai dari kunci kamar, harga sewa, sampai segala macam keperluan lainnya. Sedangkan di lantai atas terdapat beberapa kamar. Kamar-kamar di lantai dua ini baru dibangun beberapa waktu lalu. Tetapi, ada juga kamar-kamar lama yang belum tersentuh renovasi, letaknya ada di area lahan luas bagian belakang gedung ini. Lahan luas itu juga sekaligus menjadi lahan parkir yang dikelilingi oleh kamar-kamar. Dari kantor resepsionis, aku bisa melihat sekilas kamar-kamar tersebut.

Kamar-kamar baru yang terletak di lantai dua sudah terisi penuh. Jadi, kami pun diberikan kunci kamar lama yang ada di belakang. Di kunci tersebut tertera nomor 505 dan 506. Aku akan tidur sekamar dengan Kak Luni di kamar 505, sedangkan mama dan papa akan bermalam di kamar 506. Meskipun tua, kamar tersebut terlihat sangat nyaman karena berada di ruang terbuka. Para tamu bisa duduk-duduk di lahan hijau depan kamar sambil menikmati udara segar.

Kami naik mobil menuju kamar dan melewati pos penjaga keamanan. Sesampainya di depan kamar, kami segera menyiapkan kunci yang diberikan oleh resepsionis. Begitu memasuki kamar, aku sedikit terkejut. Ternyata, kamarnya cukup luas. Ada tempat tidur berukuran besar, sofa panjang, dan juga kamar mandi di dalamnya. Tetap nyaman, meskipun aku bisa menyium aroma lembap gedung tua di kamar tersebut.

Aku masuk ke dalam kamar sekitar pukul 20.00. Kami memang sengaja berjalan-jalan dan makan malam di luar dulu sebelum check-in di hotel ini. Jadi begitu melihat kasur, aku langsung loncat dan berbaring di atasnya. Tidak terasa, aku pun tertidur.

***

Aku terbangun pukul empat dini hari karena suara ketukan itu. Selain takut, malas rasanya untuk membuka pintu. Awalnya, aku membiarkan suara ketukan itu, dan mencoba untuk tidur kembali. Tetapi, suara ketukan itu terdengar lagi.

“Tok...tok...tok...”

Kali ini, suara ketukannya lebih keras, tapi tetap lambat. Ketukan kali ini juga lebih panjang.

“Tok...tok...tok...tok...tok...tok...”

Ingin rasanya membangunkan Kak Luni yang masih pulas tertidur, tapi aku tidak tega. Dengan hati-hati, aku berjalan menuju ke arah pintu. Lantainya terasa dingin saat telapak kakiku menyentuhnya. Aku pun berjalan dengan agak berjinjit.

Saat aku tepat berhenti di depan pintu, suara ketukan itu terdengar lagi. Aku pun memutar kunci perlahan-lahan. Aku berpikir, apa mungkin itu papa atau mama yang mengetuk pintu? Meskipun ragu-ragu, aku memberanikan diri untuk membukanya.

Pintu pun terbuka, dan aku melihat

sesosok laki-laki yang membelakangiku. Aku berpikir bahwa dia adalah papa. Tapi badannya kurus dan tinggi, berbeda dengan papa yang agak berisi. Dengan tidak yakin, aku pun tetap memanggilnya.

"Papa?" kataku.

Laki-laki itu diam, tidak menjawab. Lalu, aku membuka pintu lebih lebar agar bisa melihatnya dengan lebih jelas. Barulah kemudian, dia balik badan. Saat itulah sekujur tubuhku terasa kaku melihat wajahnya yang pucat dan nyala matanya yang menyeramkan. Dia kemudian membungkuk dan memegang lengan kananku dengan kasar.

Aku langsung tersadar dan timbul keberanian untuk melepaskan tanganku. Beberapa kali, aku juga berusaha mendorong tubuhnya keluar kamar agar bisa terlihat oleh orang-orang di luar.

Tapi di luar juga masih sepi karena langit masih gelap. Aku pun berusaha lebih kuat untuk menepis tanganku dari makhluk itu. Belum berhasil lepas, aku dikejutkan oleh Kak Luni yang memanggilku.

"Alit, ngapain?!" Kata Kak Luni. Dia terlihat masih terduduk di kasurnya.

Laki-laki itu hilang begitu saja. Entah ke mana perginya dan bagaimana. Tidak ada lagi jari-jari panjang yang menggenggam lengan kananku. Aku langsung membanting pintu hingga tertutup.

"Kak Luni liat ngga, tadi itu siapa ya??" tanyaku dengan nada panik.

"Siapa apanya? Ngga ada siapa-siapa Alit. Mungkin kamu mengigau!" Kata Kak Luni. "Aku tidur lagi, ya. Masih ngantuk. Jangan suka banting-banting pintu, nanti tamu lain terganggu."

Kak Luni pun kembali ke posisi semula, dengan selimut yang menutupinya hingga leher. Sementara aku masih mematung di depan pintu. Masih tidak percaya dan tidak tahu mengenai kejadian yang barusan terjadi. Mungkinkah dia hanya orang iseng? Ataukah dia orang jahat yang mau menculikku? Tapi kalau dia memang 'orang', masa iya Kak Luni tidak melihatnya? Jelas-jelas dia menarik-narik tanganku sampai setengah badannya masuk ke kamar!

Ah, sudahlah...aku tidak mau ambil pusing dan memutuskan untuk kembali tidur. Baru satu langkah aku menjauh dari pintu, suara ketukan kembali terdengar. Pelan dan lirih.

Tok....tok....tok....

Kali ini, aku memilih untuk naik ke kasur. Aku menutup tubuh hingga kepalaku dengan selimut. Suara ketukan terdengar makin keras dan intens. Kak Luni tidak terbangun, dan aku pun berusaha untuk membiarkannya dan berharap aku cepat tertidur.

Beberapa menit berselang, aku bisa mendengar pintu kamar berderit terbuka pelan. Dari balik selimutku, aku bisa mengintip ada bayangan hitam yang datang dari pintu menuju ke arahku. Aku merasa ketakutan, hingga agak sedikit gemetar. Bayangan itu memiliki postur yang sama dengan laki-laki yang menarik lenganku tadi. Aku memejamkan mataku, berusaha tidak menghiraukannya. Tapi aku tidak bisa. Rasa penasaranku lebih besar!

Aku membuka mata, dan menoleh pelan ke arah pintu. Kali ini, pintu sudah tertutup kembali dan ruangan pun kosong seperti sedia kala.

"Dia sudah hilang," kataku lega.

Aku pun membuka selimut dari kepalaku, dan berbalik badan ke arah Kak Luni. Di situlah aku melihat makhluk tersebut berbaring di tengah-tengah antara aku dan Kak Luni. Dia menatap ke arahku dengan matanya yang menyala. Belum sempat aku teriak, tiba-tiba aku terbangun dari tidurku. Di luar sudah terang, dan waktu telah menunjukkan pukul 8 pagi.

"Hanya mimpikah?" Tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba Kak Luni menyapaku.

"Met pagii. Akhirnya bangun juga! Papa nanya tuh tadi, kenapa Alit banting pintu tadi pagi-pagi buta? Dasar Alit, ngga di rumah, ngga di hotel, hobi banget banting-banting pintu," kata Kak Luni menggodaku.

Berarti kejadian tadi bukan mimpi? Aku hanya bisa terbengong-bengong memikirkan sosok menyeramkan yang ada di sebelahku waktu itu.

"Hancur sudah liburanku," kataku dalam hati.

Episodes
1 Ireng
2 Rumah Nenek
3 Hantu Toilet
4 Kinasih
5 Firasat - Bagian 1
6 Firasat - Bagian 2
7 Hantu Hotel
8 Pohon di Taman Komplek
9 Pelet
10 Kebaya Kesukaan Nenek
11 Pesan di Hari ke-40
12 Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 1
13 Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 2
14 Kisah Kak Luni di Hotel Berhantu
15 Cerita Nenek 1: Tuah Akar Mimang
16 Cerita Nenek 2: Misteri Sumur Tua
17 Cerita Nenek 3: Rumah Masa Kecil
18 Cerita Nenek 4: Hantu Persimpangan Jalan
19 Sosok Misterius di Pesta Pernikahan
20 24⁰C
21 Di Balik Tembok - Bagian 1
22 Di Balik Tembok - Bagian 2
23 Arlo
24 Aciel
25 Akhir Pekan yang Menyenangkan
26 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 1
27 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 2
28 Lukisan
29 Tanpa Kata-Kata
30 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 3
31 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 4
32 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 5
33 Naya - Bagian 1
34 Naya - Bagian 2
35 Naya - Bagian 3
36 Naya - Bagian 4
37 Kiko - Bagian 1
38 Kiko - Bagian 2
39 Kiko - Bagian 3
40 Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 1
41 Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 2
42 Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
43 Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
44 Misteri di Balik Musibah - Bagian 2
45 Misteri di Balik Musibah - Bagian 3
46 Misteri di Balik Musibah - Bagian 4
47 Misteri di Balik Musibah - Bagian 5
48 Misteri di Balik Musibah - Bagian 6
49 Misteri di Balik Musibah - Bagian 7
50 Misteri di Balik Musibah - Bagian 8
51 Misteri di Balik Musibah - Bagian 9
52 Misteri di Balik Musibah - Bagian 10
53 Misteri di Balik Musibah - Bagian 11
54 Rombongan Manten - Bagian 1
55 Rombongan Manten - Bagian 2
56 Rombongan Manten - Bagian 3
57 Rombongan Manten - Bagian 4
58 Rombongan Manten - Bagian 5
59 Rombongan Manten - Bagian 6
60 Rombongan Manten - Bagian 7
61 Rombongan Manten - Bagian 8
62 Rombongan Manten - Bagian 9
63 Rombongan Manten - Bagian 10
64 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 1
65 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 2
66 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 3
67 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 4
68 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 5
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Ireng
2
Rumah Nenek
3
Hantu Toilet
4
Kinasih
5
Firasat - Bagian 1
6
Firasat - Bagian 2
7
Hantu Hotel
8
Pohon di Taman Komplek
9
Pelet
10
Kebaya Kesukaan Nenek
11
Pesan di Hari ke-40
12
Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 1
13
Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 2
14
Kisah Kak Luni di Hotel Berhantu
15
Cerita Nenek 1: Tuah Akar Mimang
16
Cerita Nenek 2: Misteri Sumur Tua
17
Cerita Nenek 3: Rumah Masa Kecil
18
Cerita Nenek 4: Hantu Persimpangan Jalan
19
Sosok Misterius di Pesta Pernikahan
20
24⁰C
21
Di Balik Tembok - Bagian 1
22
Di Balik Tembok - Bagian 2
23
Arlo
24
Aciel
25
Akhir Pekan yang Menyenangkan
26
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 1
27
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 2
28
Lukisan
29
Tanpa Kata-Kata
30
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 3
31
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 4
32
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 5
33
Naya - Bagian 1
34
Naya - Bagian 2
35
Naya - Bagian 3
36
Naya - Bagian 4
37
Kiko - Bagian 1
38
Kiko - Bagian 2
39
Kiko - Bagian 3
40
Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 1
41
Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 2
42
Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
43
Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
44
Misteri di Balik Musibah - Bagian 2
45
Misteri di Balik Musibah - Bagian 3
46
Misteri di Balik Musibah - Bagian 4
47
Misteri di Balik Musibah - Bagian 5
48
Misteri di Balik Musibah - Bagian 6
49
Misteri di Balik Musibah - Bagian 7
50
Misteri di Balik Musibah - Bagian 8
51
Misteri di Balik Musibah - Bagian 9
52
Misteri di Balik Musibah - Bagian 10
53
Misteri di Balik Musibah - Bagian 11
54
Rombongan Manten - Bagian 1
55
Rombongan Manten - Bagian 2
56
Rombongan Manten - Bagian 3
57
Rombongan Manten - Bagian 4
58
Rombongan Manten - Bagian 5
59
Rombongan Manten - Bagian 6
60
Rombongan Manten - Bagian 7
61
Rombongan Manten - Bagian 8
62
Rombongan Manten - Bagian 9
63
Rombongan Manten - Bagian 10
64
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 1
65
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 2
66
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 3
67
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 4
68
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 5

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!