Firasat - Bagian 2

Sepuluh hari sudah Pak Kidung pergi meninggalkan dunia ini. Seharusnya, hari ini dia datang ke rumah nenek untuk kembali bekerja.

Pagi ini seisi rumah terasa sunyi, seperti ada yang hilang. Tidak lengkap memang rasanya pagi hari tanpa Pak Kidung yang selalu ceria menyapa kami, sambil ditemani segelas kopi hitam dan sebatang rokok kesukaannya.

Aku dan Kak Luni pun berpamitan dengan mama, papa, dan nenek untuk berangkat sekolah. Kak Luni sama murungnya denganku. Meskipun dia tidak terlalu dekat dengan Pak Kidung, dia tetap merasa sangat kehilangan. Pak Kidung memang ramah. Setiap dia bicara dengan siapapun, pasti sambil diselingi dengan senyuman. Sehingga, kehadirannya pasti membekas di ingatan orang-orang yang mengenalnya.

Beberapa kali, Pak Kidung pernah mengantarku ke sekolah. Setiap dia mengantarku, pasti Pak Kidung mampir sebentar untuk ngopi sambil berbincang dengan Pak Enok, satpam sekolah, dan Bang Eem, petugas kebersihan. Beberapa temanku, seperti Monet dan Ara pun mengenal Pak Kidung. Untuk itulah, aku berniat memberi kabar meninggalnya Pak Kidung kepada orang-orang yang mengenalnya di sekolah.

"Hah, serius, Alit? Innalillahi. Aa' Kidung orang yang baik..." kata Pak Enok. Bang Eem pun sama kagetnya mendengar kabar tersebut.

Bahkan, Monet sempat menangis, karena Monet lumayan mengenal Pak Kidung. Dia dan Ara memang sering bertemu Pak Kidung ketika mereka sedang bermain di rumah nenek.

"Kalau dia lagi antar atau jemput Mba Alit, kita sering ngopi bareng di pos. Terakhir ketemu tuh emang agak aneh dia, ngga ceria kayak biasanya. Murung gitu, Mba," kata Bang Eem.

Mungkin saat itu, Pak Kidung memang sedang dilema memikirkan rencana pernikahan dengan pacarnya tersebut. Aku jadi teringat akan curhat terakhirnya kepada papa. Sedih rasanya mengingat saat itu.

***

Hari Senin berikutnya, tepat seminggu setelah aku beri kabar tentang meninggalnya Pak Kidung, Pak Enok sudah menyambutku di gerbang sekolah. Dia terlihat sekali sudah menunggu kedatanganku.

"Mba Alit, akhirnya nyampe juga! Mba, duduk dulu di sini, aku mau cerita," kata Pak Enok. Aku yang bingung, langsung saja menuruti Pak Enok dan duduk di depan pos.

Dia pun memulai cerita kejadian yang dialaminya bersama Bang Eem pada malam minggu lalu. Pak Enok dan Bang Eem memang menginap di sekolah karena kampung mereka agak jauh dari tempatnya bekerja. Jadi, tidak heran kalau mereka punya banyak cerita bersama, baik itu kisah lucu maupun horror.

***

Malam itu, langit terlihat cerah. Waktu telah menunjukkan pukul 20.30, suara jangkrik pun terdengar sayup-sayup sedang bersautan. Pak Enok dan Bang Eem sedang asyik menikmati kopi mereka sambil berbincang di pos, ditemani angin sepoi-sepoi yang membuat suasana menjadi sejuk.

Di tengah-tengah perbincangan, tiba-tiba Bang Eem terdiam. Dia terlihat duduk tegak, sambil memandang lurus ke depan.

"Em, kenapa lu?" tanya Pak Enok kebingungan.

Bang Eem tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Pak Enok. Tiba-tiba saja, Bang Eem menoleh ke arah Pak Enok sambil tersenyum.

"Pak, tolong bikinin kopi item dong. Kayak biasa, gulanya dua sendok," kata Bang Eem.

Pak Enok pun keheranan, tapi tetap memasak air untuk membuat kopi pesanan Bang Eem. Saat menyalakan kompor, dia baru tersadar kalau kopi milik Bang Eem masih ada setengah gelas.

"Kopinya kan masih ada. Lagian kan biasa dia bikin sendiri. Kenapa ini minta tolong yak? Tumben," kata Pak Enok dalam hati.

Tidak lama, air pun mulai mendidih. Pak Enok mematikan kompor, dan menuang air panas tersebut ke dalam gelas yang sudah terisi satu sendok kopi dan dua sendok gula. Belum sempat ditawari, Bang Eem sudah langsung mengambil dan meneguk kopi tersebut sampai habis.

"Gila Em, itu kan baru mendidih," kata Pak Enok.

Bang Eem tidak menghiraukan. Dia tetap meneguk kopinya dan terlihat sangat menikmati.

"Kopi bikinan Pak Enok emang enak, dah. Ngga ada yang ngalahin," kata Bang Eem sambil tertawa.

Pak Enok tidak menjawab. Dia masih terheran-heran dengan kelakuan Bang Eem. Bahkan menurut dia, cara bicara Bang Eem pun berubah. Belum sempat Pak Enok melontarkan pertanyaan, Bang Eem kembali meminta sesuatu. Kali ini, dia mau merokok Samsu.

"Yah, ngga ada Em. Adanya rokok Mil nih, mau?" tanya Pak Enok.

Bang Eem mengangguk dan berterima kasih. Dia pun mengambil rokok Mil yang disuguhkan oleh Pak Enok. Satu batang diambilnya, lalu dua batang, kemudian tiga batang...

Bang Eem memasukan ketiga batang rokok tersebut ke mulutnya, dan langsung membakar ketiganya. Kemudian, tiga-tiganya dia bakar dan hisap begitu saja!

Pak Enok cuma bisa terbengong-bengong sambil menganga melihat Bang Eem. Dia kehabisan kata-kata, hanya bisa terpaku di tempat duduknya. Melihat Pak Enok terdiam, Bang Eem tersenyum.

"Pak Enok, maaf ya kalo saya ada salah selama ini. Saya cuma mampir aja nih, sebentar. Kemarin kan belum sempet pamit," kata Bang Eem.

Dari situ, Pak Enok sudah mulai mengerti kalau Bang Eem dirasuki oleh arwah Pak Kidung. Apalagi, gaya bicara Bang Eem pun jadi mirip sekali dengan Pak Kidung.

"Iya, Aa' Kidung. Saya juga minta maaf ya kalo ada salah. Aa' yang tenang, istirahat aja," kata Pak Enok

Tidak lama setelah Pak Enok bilang begitu, Bang Eem mematikan ketiga batang rokoknya.

"Saya pamit yah. Salam buat Eem. Maaf nih jadi ngerepotin," ujarnya.

Tak lama setelah itu, Bang Eem pun muntah, tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Pak Enok menggoyang-goyangkan tubuh Bang Eem sambil memanggil-manggil namanya.

"Em, Em, sadar Em!" kata Pak Enok.

Bang Eem pun membuka mata dan terlihat linglung. Rupanya, dia tidak sadar dengan kejadian sebelumnya.

"Ada apa ya? Kayaknya saya ketiduran ya, Pak Enok?" Tanya Bang Eem.

Setelah itu, Pak Enok pun menceritakan bahwa Pak Kidung baru saja mampir dan merasuki tubuh Bang Eem. Mereka berdua langsung terdiam, merinding, dan memutuskan untuk membahas hal lain dan tidur cepat malam itu.

***

Pak Enok menceritakan kejadian malam minggu itu kepadaku dengan antusias. Beberapa kali juga, matanya berkaca-kaca. Aku pun jadi terharu melihatnya.

"Waktu malam itu sih merinding, Mba Alit. Tapi sekarang, jadi sedih mikirin Aa' Kidung," kata Pak Enok.

Setelah itu, kami jadi tenggelam dalam peribincangan mengenang Pak Kidung semasa hidupnya. Banyak juga cerita yang tidak bisa terlupa dari ingatan kami. Hingga tidak terasa, bel sekolah tiba-tiba berbunyi tanda dimulainya jam pelajaran. Aku pun kemudian pamit dengan Pak Enok untuk masuk kelas.

Hari itu, aku banyak melamun saat jam pelajaran. Aku tidak bisa berkonsentrasi penuh karena memikirkan kejadian yang dialami oleh Pak Enok dan Bang Eem. Tentu saja, aku juga tak lupa mendoakan Pak Kidung sambil mengenang senyuman ramahnya.

Episodes
1 Ireng
2 Rumah Nenek
3 Hantu Toilet
4 Kinasih
5 Firasat - Bagian 1
6 Firasat - Bagian 2
7 Hantu Hotel
8 Pohon di Taman Komplek
9 Pelet
10 Kebaya Kesukaan Nenek
11 Pesan di Hari ke-40
12 Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 1
13 Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 2
14 Kisah Kak Luni di Hotel Berhantu
15 Cerita Nenek 1: Tuah Akar Mimang
16 Cerita Nenek 2: Misteri Sumur Tua
17 Cerita Nenek 3: Rumah Masa Kecil
18 Cerita Nenek 4: Hantu Persimpangan Jalan
19 Sosok Misterius di Pesta Pernikahan
20 24⁰C
21 Di Balik Tembok - Bagian 1
22 Di Balik Tembok - Bagian 2
23 Arlo
24 Aciel
25 Akhir Pekan yang Menyenangkan
26 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 1
27 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 2
28 Lukisan
29 Tanpa Kata-Kata
30 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 3
31 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 4
32 Penari di Sanggar Kosong - Bagian 5
33 Naya - Bagian 1
34 Naya - Bagian 2
35 Naya - Bagian 3
36 Naya - Bagian 4
37 Kiko - Bagian 1
38 Kiko - Bagian 2
39 Kiko - Bagian 3
40 Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 1
41 Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 2
42 Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
43 Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
44 Misteri di Balik Musibah - Bagian 2
45 Misteri di Balik Musibah - Bagian 3
46 Misteri di Balik Musibah - Bagian 4
47 Misteri di Balik Musibah - Bagian 5
48 Misteri di Balik Musibah - Bagian 6
49 Misteri di Balik Musibah - Bagian 7
50 Misteri di Balik Musibah - Bagian 8
51 Misteri di Balik Musibah - Bagian 9
52 Misteri di Balik Musibah - Bagian 10
53 Misteri di Balik Musibah - Bagian 11
54 Rombongan Manten - Bagian 1
55 Rombongan Manten - Bagian 2
56 Rombongan Manten - Bagian 3
57 Rombongan Manten - Bagian 4
58 Rombongan Manten - Bagian 5
59 Rombongan Manten - Bagian 6
60 Rombongan Manten - Bagian 7
61 Rombongan Manten - Bagian 8
62 Rombongan Manten - Bagian 9
63 Rombongan Manten - Bagian 10
64 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 1
65 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 2
66 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 3
67 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 4
68 Pelet Cinta Tertukar - Bagian 5
Episodes

Updated 68 Episodes

1
Ireng
2
Rumah Nenek
3
Hantu Toilet
4
Kinasih
5
Firasat - Bagian 1
6
Firasat - Bagian 2
7
Hantu Hotel
8
Pohon di Taman Komplek
9
Pelet
10
Kebaya Kesukaan Nenek
11
Pesan di Hari ke-40
12
Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 1
13
Kisah Tragis Pak Priyo - Bagian 2
14
Kisah Kak Luni di Hotel Berhantu
15
Cerita Nenek 1: Tuah Akar Mimang
16
Cerita Nenek 2: Misteri Sumur Tua
17
Cerita Nenek 3: Rumah Masa Kecil
18
Cerita Nenek 4: Hantu Persimpangan Jalan
19
Sosok Misterius di Pesta Pernikahan
20
24⁰C
21
Di Balik Tembok - Bagian 1
22
Di Balik Tembok - Bagian 2
23
Arlo
24
Aciel
25
Akhir Pekan yang Menyenangkan
26
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 1
27
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 2
28
Lukisan
29
Tanpa Kata-Kata
30
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 3
31
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 4
32
Penari di Sanggar Kosong - Bagian 5
33
Naya - Bagian 1
34
Naya - Bagian 2
35
Naya - Bagian 3
36
Naya - Bagian 4
37
Kiko - Bagian 1
38
Kiko - Bagian 2
39
Kiko - Bagian 3
40
Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 1
41
Tempat Bermain Hantu Anak Kecil - Bagian 2
42
Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
43
Misteri di Balik Musibah - Bagian 1
44
Misteri di Balik Musibah - Bagian 2
45
Misteri di Balik Musibah - Bagian 3
46
Misteri di Balik Musibah - Bagian 4
47
Misteri di Balik Musibah - Bagian 5
48
Misteri di Balik Musibah - Bagian 6
49
Misteri di Balik Musibah - Bagian 7
50
Misteri di Balik Musibah - Bagian 8
51
Misteri di Balik Musibah - Bagian 9
52
Misteri di Balik Musibah - Bagian 10
53
Misteri di Balik Musibah - Bagian 11
54
Rombongan Manten - Bagian 1
55
Rombongan Manten - Bagian 2
56
Rombongan Manten - Bagian 3
57
Rombongan Manten - Bagian 4
58
Rombongan Manten - Bagian 5
59
Rombongan Manten - Bagian 6
60
Rombongan Manten - Bagian 7
61
Rombongan Manten - Bagian 8
62
Rombongan Manten - Bagian 9
63
Rombongan Manten - Bagian 10
64
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 1
65
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 2
66
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 3
67
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 4
68
Pelet Cinta Tertukar - Bagian 5

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!