"Alit, Luni, udah siap belum? Ayo, nanti kita terlambat!" Teriak papa memanggilku dan Kak Luni dari teras.
Pagi ini, aku dan keluarga akan menghadiri pernikahan anak dari teman papa, yaitu Pak Wono. Pak Wono adalah teman papa sewaktu masih bekerja di kantor lamanya. Papa dan Pak Wono memang sudah lama tidak bertemu, apalagi sejak mereka sudah tidak bekerja satu kantor. Oleh karena itulah, papa terlihat bersemangat dan tidak mau terlambat menyaksikan pernikahan anak dari temannya tersebut. Pasti dia juga ingin bertemu dan mengobrol banyak dengan Pak Wono.
Kami sampai di lokasi pernikahan pukul 9.50. Tepat 10 menit sebelum acara dimulai.
"Untung tepat waktu, ya," kata mama.
Acara pernikahan itu berlangsung di sebuah restoran mewah. Begitu sampai di depan pintu masuk utama, aku sudah bisa melihat ruangannya yang cukup besar, dengan dekorasi ala tradisional Jawa.
Tempat duduknya sudah hampir terisi penuh. Untungnya, kami masih bisa mendapatkan tempat duduk bersebelahan. Papa, mama, aku, dan Kak Luni mengisi kursi di barisan agak depan dekat dengan pelaminan. Aku duduk di paling pinggir, tepatnya di samping koridor yang menuju pelaminan dari pintu masuk. Dari sini, aku bisa melihat dengan jelas pelaminan yang ada di depan, dan juga orang yang keluar masuk dari pintu utama.
Tepat pukul 10.00, suasana langsung hening. Prosesi adat pun akan segera dimulai. Para tamu undangan, terutama kerabat pengantin, terkesan khidmat dalam menyaksikan upacara adat. Tahap demi tahap, prosesi pernikahan pun terlihat berjalan dengan baik.
Namun di tengah keheningan, aku mendengar suara langkah kaki orang yang berasal dari arah pintu utama. Aku pun secara reflek langsung menoleh untuk melihat ke arah sumber suara. Aku menengok secara perlahan, agar tidak mengganggu tamu undangan lain yang sedang mengikuti jalannya acara. Di pintu masuk, tampak ada enam orang laki-laki yang sedang memanggul sebuah benda besar berbentuk kotak. Mereka berjalan pelan, masuk dari pintu utama menuju ke arah pelaminan.
"Oh, ini bagian dari prosesi sepertinya. Unik juga," pikirku dalam hati sambil memperhatikan mereka.
Aku pun mengalihkan pandanganku kembali ke pelaminan, sambil menyimak suara langkah kaki yang semakin dekat. Kemudian, langkah kaki itu berhenti. Aku pun kembali menoleh ke arah mereka untuk melihat kotak yang di bawanya. Setelah makin dekat, baru terlihat jelas bahwa enam laki-laki itu memakai baju lengan panjang berwarna abu-abu, dengan celana panjang yang juga berwarna abu-abu, tapi lebih gelap. Mereka membawa benda kotak besar itu dengan cara dipanggul di pundak. Aku kaget bukan main setelah melihat bahwa kotak besar itu adalah peti mati.
Aku memandang ke sekeliling dan tidak satu tamu pun yang menoleh ke arah enam orang itu. Kemudian, pandanganku kembali ke arah mereka. Mereka terlihat diam dan memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Hingga tiba-tiba, salah satu dari mereka menoleh ka arahku. Aku dan dia bertatap muka, aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu. Wajahnya pucat tanpa ekspresi, menatap tajam ke arahku. Ingin teriak rasanya, tapi aku tidak bisa bergerak maupun bersuara saking takutnya. Aku pun memaksakan diri untuk bergerak. Akhirnya, aku berhasil memalingkan wajah kembali ke depan dan menutup mata.
Sesaat setelah mataku terpejam, langkah kaki itu terdengar lagi. Pelan, tapi pasti. Aku merasakan hembusan angin tipis saat mereka berjalan melewatiku. Langkah kaki mereka kembali terhenti, dan aku memaksakan diri untuk membuka mata. Mereka terlihat berdiri sejenak di depan pelaminan, dan kemudian meletakkan peti mati tersebut di depan Pak Wono. Aku kebingungan dan melihat ke sekeliling. Tidak ada yang bereaksi melihat keenam orang itu. Aku menoleh ke samping kananku, papa, mama, dan Kak Luni juga diam saja, masih serius menyaksikan jalannya prosesi pernikahan.
Setelah beberapa lama, diangkatnya lagi peti mati itu. Keenam orang tersebut kembali memanggulnya, tapi kali ini mereka berjalan menuju ke pintu samping melewati mempelai. Tubuh mereka melayang perlahan, makin tinggi dan makin tinggi hingga mendekati langit-langit gedung, hingga kemudian menghilang seperti tertiup angin ke arah luar melalui pintu sebelah kanan.
Kejadian itu sangat menegangkan bagiku. Melihat mereka hilang, baru tersadar kalau aku masih berada di tengah acara pernikahan. Aku kembali melihat sekeliling, tapi lagi-lagi tidak ada tamu undangan yang bereaksi sama denganku. Sepertinya, tidak ada yang melihat keenam orang dan peti mati yang dibawanya itu selain aku.
Sepulangnya dari acara, aku hanya diam. Tidak berani bicara tentang yang baru kulihat tadi kepada siapapun. Barulah ketika sampai di rumah, aku ceritakan pengalamanku itu kepada nenek dan Kak Luni. Aku masih agak takut saat menceritakannya. Sampai-sampai suaraku sedikit agak gemetar.
"Sudah ngga usah dipikirkan. Yang penting mereka ngga ganggu kamu, kan? Mungkin mereka cuma numpang lewat aja," kata Kak Luni sambil menenangkanku.
Mendengar kata-kata Kak Luni, aku jadi sedikit lebih tenang. Betul juga, yang penting mereka tidak menggangguku. Semoga mereka memang tidak ada niat mengganggu siapa-siapa.
***
Berbulan-bulan sudah berlalu sejak kejadian aneh yang kualami di acara pernikahan anak dari Pak Wono tersebut. Peristiwa itu sudah agak terlupakan dari benakku. Hingga tiba-tiba, di suatu Jumat malam, handphone papa berdering. Dia mendapatkan telepon dari temannya.
Papa terlihat kaget saat mengangkat telepon, lalu kemudian terdiam. Dia pun mengucapkan terima kasih kepada temannya tersebut karena telah diberi kabar, dan kemudian menutup teleponnya. Setelah itu, dia masih terdiam selama beberapa saat. Aku pun tidak berani bertanya kepada papa.
"Pak Wono meninggal tadi sore," kata papa dengan nada lemas memecah keheningan.
Aku merasa seperti tersambar petir karena teringat lagi akan kejadian di pesta pernikahan itu. Wajah enam orang yang menggotong peti mati itu kembali terbayang. Pucat, tatapannya kosong. Ingatan mengerikan itu kembali muncul di kepalaku.
Tidak lama setelahnya, papa dan mama bergegas menuju kediaman Pak Wono untuk melayat. Sementara aku, Kak Luni, dan nenek tidak ikut dan tinggal di rumah.
"Nek, apakah sosok yang Alit lihat waktu itu berhubungan dengan kematian Pak Wono? Alit jadi takut saat mengingatnya," kataku.
Nenek hanya tersenyum dan menepis anggapan itu. Dia tidak mau aku menganggapnya sebagai pertanda.
"Hanya Tuhan yang mengatur kehidupan. Tapi, ada kalanya makhluk halus mengganggu manusia," kata nenek.
Aku dan Kak Luni hanya diam saja mendengar ucapan nenek. Aku jadi berpikir, nenek memang betul. Jadi tidak perlu takut selama aku tidak berbuat jahat. Mungkin Kak Luni juga berpikir hal yang sama denganku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments