Malam itu, sulit bagiku rasanya untuk memejamkan mata. Waktu terasa lama saat aku menunggu sang fajar. Aku melongok ke arah keluar kamar dari pintu - yang setengah bagian atasnya terbuat dari kawat kasa - untuk melihat jam besar yang menempel pada dinding. Wah, ternyata sudah jam empat pagi, sebentar lagi, orang rumah akan terbangun. Aku merebahkan diri lagi ke tempat tidur sambil menunggu matahari terbit. Tidak terasa, aku malah tertidur lagi, sampai-sampai nenek membangunkan aku.
"Alit sakit?" tanya nenek.
"Ngga, Nek, cuma semalam Alit sulit tidur, hingga kesiangan bangun. Oh ya, nanti Alit mau pulang agak malam nek, Alit dan Ara mau ikut latihan pementasan untuk perpisahan siswa kelas 3," jawabku.
Akibat begadang malam itu, aku masih merasa mengantuk. Tapi, aku juga harus ke sekolah untuk berlatih.
Setelah berpamitan, aku pun berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan kali ini, aku berjalan lebih santai karena tugas kelompok sudah beres. Sehingga, aku terbebas dari jam pelajaran pertama.
Aku berjalan menyusuri jalan komplek melewati taman, menikmati udara segar. Padahal, setiap pagi aku melewati jalanan yang sama, tapi baru kali ini aku merasakan keindahannya. Komplek perumahan ini memang nyaman untuk tempat tinggal.
Aku baru menyadari, ternyata komplek ini cukup asri. Ada beberapa taman yang letaknya berdekatan. Namun, aku dengar dari beberapa tetangga, mereka takut berada dekat pohon beringin yang ada di taman itu. Pohon itu sangat kokoh. Akar anginnya menjuntai ke bawah, bergoyang diterpa angin.
Aku berhenti sejenak dan memandang pohon beringin itu. Rindang sekali. Aku membayangkan betapa teduhnya berlindung di bawah pohon ini ketika matahari sedang terik-teriknya. Pasti nyaman sekali! Pohon beringin tersebut sangat tinggi, mungkin ada sekitar 7 atau 8 meter. Tingginya hampir melebihi rumah tingkat di dekatnya.
***
Sekitar jam 7 sore, aku dan teman-teman baru selesai berlatih di aula. Suasana sore itu memang tidak seperti biasanya. Banyak guru yang hadir untuk menyemangati para siswa. Selesai latihan, aku tidak langsung pulang. Aku menikmati makan malam yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah bersama para guru dan juga teman-temanku yang lain.
Sekitar jam 19.30, aku mengajak Ara untuk pulang. Kebetulan, rumah kami memang searah. Setelah berpamitan, aku dan Ara pun berjalan ke halte untuk naik kendaraan umum. Ara turun dari kendaraan umum tepat di depan rumahnya, sedangkan aku harus jalan kaki sekitar 400 meter.
Aku sampai di depan komplek rumah nenek pada pukul 19.45. Begitu turun dari kendaraan dan melangkahkan kaki masuk ke dalam komplek, suasana sepi langsung menyelimuti. Semakin jauh berjalan, semakin tidak terdengar lagi suara lalu lalang mobil di jalan raya.
Biasanya, komplek rumah nenek memang sudah sepi selepas matahari terbenam. Aku pun jarang sekali berada di luar rumah pada jam segini. Keadaan yang sepi ini membuatku agak takut. Jadi, aku pun mulai mempercepat langkahku.
Aku melewati taman yang pertama dan terus berjalan menyusuri jalan aspal yang berada di samping taman ini. Di taman tersebut juga tidak terlihat ada siapa-siapa. Biasanya, ada dua atau tiga orang yang hanya sekadar duduk-duduk maupun bernyanyi-nyanyi dengan gitar.
Aku harus berjalan kurang lebih 200 meter untuk sampai di rumah. Ada satu taman lagi yang harus kulewati, yaitu taman yang bersebelahan dengan beringin besar itu. Taman tersebut dianggap paling seram di antara taman-taman yang lain. Sehingga, jarang ada orang yang mau duduk-duduk di sana. Padahal menurutku, taman ini tidak kalah bagus dan nyaman jika dibandingkan dengan taman lainnya. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi sangat penting manfaatnya, terutama untuk resapan air. Meski begitu, di kala malam seperti saat ini, suasana sepinya bisa membuat orang merasa takut kalau sendirian. Ditambah lagi, ada satu lampu jalan dekat taman yang mati.
"Kapan sih lampu itu akan diperbaiki? Bikin suasana ngga enak aja," pikirku dalam hati.
Sambil terus berjalan, aku masih sibuk dengan perasaan kesalku akibat matinya lampu jalan ini. Menurutku, lampu jalanan yang mati ini bisa membahayakan orang yang melintas. Bisa saja ada orang jahat yang mengintai mangsanya dari kegelapan.
Lamunanku hilang karena aku mendengar suara 'kraak' yang berasal dari pohon beringin yang akan aku lalui. Aku langsung melihat ke arah sumber suara dan berpikir mungkin ada dahan yang patah. Namun, kegelapan ini membuat aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas. Aku pun mulai melangkah ke tengah jalanan aspal karena takut kejatuhan dahan pohon.
Ketika aku menengok lagi ke arah atas pohon untuk mengecek keadaan, tiba-tiba terlihat seorang wanita berbaju putih bergelantungan di dahan seperti orangutan. Pertama melihat hal tersebut, otakku belum mencernanya. Aku masih menatapnya sambil memincingkan mata untuk memperjelas pengelihatanku.
Begitu tersadar, langkahku langsung membeku, sedangkan pandanganku tetap terpaku ke arah wanita itu. Bulu kudukku berdiri seketika. Di tengah ketakutan itu, entah kenapa, aku langsung terbayang wajah nenek. Aku ingin sekali berlari dan memeluk nenek!
"Nek, tolong jemput Alit. Alit takut," kataku dalam hati.
Aku pun kemudian memejamkan mata, tapi kakiku masih terasa berat untuk melangkah. Beberapa detik berselang, aku memberanikan diri untuk membuka mata. Tapi aku tidak berani untuk melihat ke atas. Pandanganku tertuju ke depan, ingin berusaha untuk melangkah pulang. Sekitar 50 meter di depanku, terdapat sebuah jalan menikung. Rumahku tepat berada di sebelah kiri setelah berbelok di jalan tersebut.
Pandanganku terus terpaku ke arah jalan tikungan tersebut. Ingin rasanya segera pulang. Aku masih berusaha untuk melangkah, tapi sulit sekali rasanya. Tiba-tiba, dari arah belokan, ada sesosok bayangan hitam kecil yang berlari ke arahku...
"Ireng!!!" Kataku setengah berteriak dengan mata berkaca-kaca.
Ternyata itu Ireng! Ireng datang menjemputku! Rasa takutku hilang begitu bertemu dengan Ireng. Aku pun bisa kembali melangkah dan berjalan bersama Ireng. Aku mempercepat langkahku, hampir setengah berlari, karena takut dikejar oleh makhluk itu. Sebelum aku belok ke arah rumah nenek, aku menyempatkan diri menengok ke arah pohon tersebut. Wanita itu sudah tidak ada. Jalanan kembali kosong seperti semula. Aku pun melanjutkan perjalanan pulangku sambil berlari.
"Ireng, tunggu!" Teriakku mengejar Ireng.
Sampai di depan rumah nenek, napasku hampir habis rasanya. Jantungku masih berdegup keras. Aku melepas sepatuku dan segera masuk ke dalam rumah. Begitu aku buka pintu, terlihat nenek yang sedang duduk di dekat meja makan sambil tersenyum ke arahku. Aku pun lega merasakan hangatnya senyuman itu. Jantungku tidak lagi berdegup kencang, dan aku pun juga menyapa nenek dengan senyuman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments