Namaku Alit Permata, anak paling kecil dari keluarga Purnama. Aku tinggal bersama nenek, papa, mama, kakak, dan Ireng, kucing kesayanganku. Sehari-hari, mama dan papa sibuk dengan urusan kantor. Sementara kakakku, Luni, sibuk belajar untuk persiapan lulus SMA dan masuk kuliah.
Sejak setahun lalu, kami pindah ke rumah nenek. Tinggal di rumah nenek memudahkan kak Luni dan aku pergi ke sekolah, karena jaraknya lebih dekat. Lagipula, nenek tinggal sendirian setelah kakek meninggal.
Di rumah nenek, ada halaman luas dengan pepohonan besar. Suasana di sini sejuk, meskipun matahari bersinar terik di siang hari. Halaman rumah nenek sering menjadi tempat singgah kucing liar. Aku punya kegiatan ekstra bersama teman-teman di komunitas peduli kucing, yaitu memberi makan hewan liar dan juga mengikuti program sterilisasi kucing.
Orang-orang rumah pun jadi sering ikut aktivitas peduli hewanku. Apalagi sejak ada Ireng di rumah, mereka jadi suka kucing, terutama papa. Memang, tingkah lakunya sangat lucu dan menggemaskan. Tidak mungkin orang tidak jatuh hati melihatnya.
Ireng telah jadi bagian dari keluarga kami. Dia adalah kucing yang pintar. Kenapa aku bilang pintar? Salah satunya, karena dia mengerti kebiasaan nenek. Setiap pagi, nenek selalu mengajaknya belanja di warung dekat rumah.
Warung tempat nenek belanja berada di dekat taman komplek rumah. Di bangku taman itulah, nenek biasa duduk-duduk bersama para tetangga untuk sekadar ngobrol santai sambil berjemur. Nenek memang sering pergi ke taman itu bersama Ireng. Apalagi, nenek sering sendirian karena papa, mama, Kak Luni, dan aku punya aktivitas masing-masing di luar rumah.
Para tetangga mengenal nenek sebagai pembuat jamu. Banyak orang yang suka jamu buatannya. Tidak hanya orang tua, anak-anak muda pun juga banyak yang suka jamu buatan nenek.
***
Sehari-hari, nenek selalu berpenampilan rapi. Aku sering melihatnya sedang menyerasikan motif serta warna jarik dan kebaya yang akan dipakainya.
"Motif batik itu sarat akan makna dan selalu dibuat untuk berbagai momen," begitu kata-kata yang sering diucapkan nenek.
Nenek bertubuh ramping. Rambutnya yang sudah putih itu selalu digelung dengan dua tusuk konde di kanan dan kirinya. Wajahnya selalu tampak ramah, yang membuat nenek sangat disukai orang.
Bisa dibilang, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama nenek karena mama dan papa sibuk bekerja. Begitupula dengan Kak Luni yang berbeda dua tahun denganku. Dia sedang punya jadwal ketat untuk menghadapi ujian kelulusan sekolah. Lagipula, Kak Luni lebih suka kumpul-kumpul bersama teman-temannya. Sedangkan aku lebih suka menghabiskan waktu di rumah.
Terkadang, Kak Luni merasa iri jika aku lebih dekat dengan nenek. Apalagi, nenek selalu membelaku ketika aku lupa mengerjakan tugas rumah, yaitu menyiram tanaman. Padahal, nenek juga selalu menjadi penengah dan bersikap netral saat aku dan Kak Luni bertengkar. Meskipun begitu, tetap saja Kak Luni cemberut dan tidak terima.
Aku merasa nenek menyayangi semua orang di rumah secara adil, baik itu papa, mama, kak Luni, dan juga aku. Setiap hari, neneklah yang menyiapkan makanan buat sekeluarga.
Akan tetapi, hanya aku yang bisa melihat sisi lain nenek yang misterius. Seringkali aku melihat sosok yang menyerupai nenek, seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya. Sampai-sampai aku banting pintu jam 3 pagi dan membangunkan seisi rumah. Kejadian semacam itu tidak hanya aku alami sekali dua kali. Tapi hingga sekarang, aku tidak tahu dan belum pernah bertanya kepada nenek mengenai hal tersebut.
***
Pada hari yang sama saat kejadian aku banting pintu di jam 3 pagi tersebut, mama dan papa memanggilku untuk sarapan bersama di ruang tengah. Di sana sudah ada Kak Luni dan nenek juga.
"Jadi gini, Alit, tadi aku dengar ada suara bantingan pintu jam 3 pagi, bener itu kamu? Kenapa? Kamu habis ngapain? Lagian, jam segitu kok belum tidur?" Kak Luni membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diucapkan dengan nada agak tinggi.
Dia memang agak bawel terhadap sesuatu hal yang belum jelas baginya. Berhubung aku anak paling kecil, aku memang sering jadi tumpahan kekesalan Kak Luni.
"..." Aku hanya terdiam dan sebenarnya agak kesal diberi pertanyaan betubi-tubi begitu.
Sementara itu, papa tetap bersikap tenang dan bertanya, "Kenapa, Alit?"
"Maaf, Pa, Alit ngga sengaja. Alit mau buka pintu buat Ireng, dia mau masuk rumah. Tapi pintunya kebanting, mungkin kena angin," kataku berbohong.
"Oh, Papa kira kamu banting pintu karena ketakutan lihat sesuatu," kata papa. Tebakan papa benar. Aku sampai kaget mendengarnya. Aku pun terdiam. Aku yakin, papa bisa lihat gelagatku. Dia jelas terlihat tidak puas dengan jawabanku, tapi papa tidak bertanya lebih detil.
Papa memang orang yang tenang dan tidak pernah mencecar seseorang. Dia selalu menghargai privasi orang lain, termasuk anak-anaknya.
Mama menghampiriku dan mengambilkan segelas air putih agar aku lebih tenang. Sedangkan Kak Luni...dia masih saja cemberut. Mungkin kesal, gara-gara aku, dia jadi terbangun dari tidurnya yang pulas tadi pagi.
Nenek hanya tersenyum mendengar percakapan kami. "Semua akan baik-baik saja, tidak usah cemas," kata nenek.
Kejadian itu memang membuat jantungku hampir copot karena ketakutan! Aku penasaran, takut, heran, semua campur aduk. Meskipun begitu, aku berusaha untuk tetap tenang, supaya mama, papa, dan Kak Luni tidak banyak bertanya. Aku harus meredam rasa penasaran ini untuk sementara, dan butuh kesabaran dalam mencari jawabannya.
***
Pernah sekali waktu, aku melihat sosok mirip nenek lagi. Kala itu matahari sudah bersinar terik. Rumah sedang sepi karena papa dan mama sedang bekerja, sedangkan nenek sedang pergi ke warung. Hanya ada aku yang sedang makan siang sendirian di dapur, dan Kak Luni yang sedang tidur siang di kamarnya.
Saat aku sedang asyik mengunyah, tiba-tiba pandanganku tertuju ke ruang tengah. Dari tempatku duduk, aku memang bisa melihat ke ruang tengah dari pintu dapur yang aku biarkan terbuka. Di situlah, aku melihat lagi sosok mirip nenek yang sedang menari gemulai seakan mengikuti irama. Aku hanya bisa diam terpaku memandang sosok itu. Tidak tahu berapa detik atau menit sudah aku habiskan. Hingga akhirnya Kak Luni, yang baru bangun tidur, tiba-tiba masuk ke dapur.
"Heh bengong aja," kata dia mengagetkanku.
Kak Luni sepertinya tidak melihat sosok itu. Benar saja, begitu aku menengok lagi ke ruang tengah, wanita itu sudah tidak ada.
"Aneh," pikirku. Aku tahu, nenek memang pintar menari. Tapi, nenek kan lagi di warung. Ah sudahlah, lagi-lagi aku buang saja rasa penasaranku.
***
Sejak aku tinggal di rumah nenek, memang banyak kejadian aneh yang kualami. Hanya aku. Mama, papa, dan Kak Luni tidak mengalaminya. Sedangkan nenek...entah makhluk macam apa yang sudah ditemuinya. Aku yakin, pasti lebih aneh dari pengalamanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments