Papa punya seorang teman karib. Pak Priyo namanya. Dia cukup sering mampir ke rumah nenek untuk bertemu dan ngobrol dengan papa. Mereka memang sangat akrab. Puluhan tahun sudah mereka saling kenal dan berteman dekat.
Ketika Pak Priyo datang ke rumah nenek dengan motornya, papa akan langsung menyambut dan membukakan pagar. Kemudian, mereka akan duduk dan mengobrol di teras. Suara tawa papa dan Pak Priyo sering terdengar sampai ke dalam rumah saking kerasnya! Kadang, aku juga ikut merasakan kegembiraan mereka berdua.
Jika ada tamu datang ke rumah, aku adalah orang yang paling sibuk. Biasanya, aku yang akan menyediakan minuman untuk tamu. Biasanya, aku membuat satu kopi pahit untuk papa, dan satu kopi manis untuk Pak Priyo. Ada kalanya juga aku akan menyuguhkan masakan nenek yang sudah tersedia di meja makan.
Itulah salah satu tugas rutinku, yaitu menyiapkan suguhan tamu. Sehingga, banyak teman papa yang kenal denganku ataupun sekadar tahu namaku.
Kami sekeluarga memang mengenal baik isteri dan anak-anak pak Priyo. Wajar saja, rumah Pak Priyo hanya berjarak 100 meter dari rumah papa yang lama. Jadi, kami sangat sering bertemu sebelun pindah ke rumah nenek.
Rasa ingin tahuku yang sangat besar membuatku kerap menguping obrolan papa dan Pak Priyo. Setelah meletakkan cangkir kopi dan makanan, seringkali aku berdiri di samping papa untuk sekadar mendengar perbincangan mereka.
"Alit kenapa, kok bengong begitu?" Tanya papa sam bil tertawa. Pak Priyo pun ikut tertawa melihatku.
Aku pun kaget dan tersadar masih mendekap nampan suguhan kopi. Papa hanya tersenyum melihatku. Terkadang aku merasa malu. Mungkin, memang itulah sifatku. Menurut orang-orang, aku sering sekali melamun.
***
Suatu sore, aku melihat pak Priyo bertamu ke rumah nenek. Kebetulan papa belum pulang dari kantor. Jadi, dia pun menunggu papa di rumahku. Aku menebak antara papa sedang terjebak dalam tumpukan pekerjaan atau sedang mampir membeli cemilan kesukaannya. Papa memang suka ngemil, tapi porsi makannya tidak banyak.
Pak Priyo duduk di teras rumah dan menunggu pulangnya papa. Aku mengajaknya masuk agar dia menunggu di dalam. Tapi Pak Priyi menolak dan lebih memilih untuk duduk di teras. Dia terlihat sangat murung hari ini, seperti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Sementara aku membuatkan kopi untuknya, nenek ikut duduk di teras untuk menemani Pak Priyo. Nenek pun membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kabar dia dan juga anak isterinya. Namun, pertanyaan nenek hanya dijawab dengan singkat dan seadanya. Seakan dia sedang malas berbicara kepada orang lain. Padahal, biasanya Pak Priyo selalu ceria dan menyenangkan ketika diajak mengobrol.
Aku pun ikut 'nimbrung' kali ini. Aku bertanya tentang kabar anak perempuannya yang seumuran denganku. Tapi tetap saja, hanya dijawabnya pertanyaanku dengan singkat.
Sejam kemudian, papa pun akhirnya pulang dengan membawa banyak makanan ringan. Betul dugaanku, dia mampir dulu ke toko langganannya itu.
"Papa abis gajian ya?" Kataku dengan setengah berbisik.
"Ssst," katanya sembar meletakkan jari telunjuknya ke bibir. "Ini bagi dua snacknya ya."
Melihat papa pulang, nenek langsung ke dalam. Aku mengikutinya masuk ke rumah dengan membawa tentengan kantong kertas cokelat ramah lingkungan yang berisi camilan itu. Setengah makanan ringan itu aku masukkan ke toples dan letakkan di meja makan. Sementara itu, setengahnya lagi aku bawa ke meja teras untuk disuguhkan kepada Pak Priyo.
Saat aku meletakkan camilan itu di meja teras, aku mendengar ucapan Pak Priyo kepada papa. Suaranya bergetar, seperti hampir menangis. Atau dia sudah menangis? Aku tidak tahu. Sepintas, aku mendengar omongan mengenai utang yang jatuh tempo. Saat aku masuk kembali ke dalam, aku pun bertanya kepada nenek.
"Nek, Pak Priyo lagi bercerita mengenai utang yang jatuh tempo. Kenapa dia bisa se-sedih itu?" Kataku.
Nenek pun menjelaskan, mungkin Pak Priyo sedang terlilit utang dan sudah waktunya untuk melunasi. Tapi, dia kesulitan untuk membayarnya. Aku pun mengangguk tanda mengerti.
***
Hari sudah gelap, waktu makan malam pun datang. Aku mengintip ke luar, papa dan Pak Priyo masih ada di sana. Aku pun membawakan makan malam untuk papa dan Pak Priyo.
Setelah makan malam, Pak Priyo pun pamit pulang. Masih dengan wajahnya yang murung, tapi sudah terlihat sedikit lebih cerah. Mungkin dia merasa lega telah mencurahkan isi hati kepada sahabatnya. Dia menyalakan motor,, dan kami menunggunya sampai dia berbelok di ujung jalan.
Keesokan harinya, papa bercerita tentang Pak Priyo pada saat kami sarapan bersama. Rupanya, masalah yang dihadapi oleh Pak Priyo sangat rumit. Dia terlibat utang hingga ratusan juta rupiah dengan lintah darat. Utang sebesar itu bukan hanya untuk kebutuhannya sehari-hari, tapi juga diberikan untuk temannya yang sedang kesusahan.
Utang Pak Priyo akan jatuh tempo bulan depan. Sejak minggu ini, lintah darat sudah mulai meneror keluarganya. Sementara itu, Pak Priyo tidak bisa menagih utang kepada temannya, karena temannya itu sendiri sedang ditimpa musibah. Anak dari teman Pak Priyo sedang dirawat di rumah sakit karena leukimia. Pikirannya kacau, sehingga bisnis sampingannya tidak terurus dan rugi. Sedangkan Pak Priyo hanya mengandalkan gaji yang cukup untuk kebutuhan keluarganya.
Sebetulnya, Pak Priyo sudah membar utangnya setahap demi setahap dengan cicilan. Namun berhubung bunganya besar, utang tersebut pun tidak kunjung lunas.
Lintah darat tersebut meminta agar utangnya dilunasi atau dia harus angkat kaki dari rumahnya. Dia sangat menyukai rumah Pak Priyo yang terletak di pinggir jalan raya dan berukuran cukup luas. Pak Priyo pun terpaksa harus pindah bulan depan jika dia tidak bisa melunasi utangnya.
Papa tentu sangat sedih mendengarnya, tapi tidak bisa membantu karena papa tidak mempunyai uang sebanyak itu. Pak Priyo juga belum membicarakan perihal utang dengan saudara-saudaranya. Dia merasa takut karena rumah tersebut merupakan rumah warisan dari orangtuanya. Jadi, Pak Priyo enggan menceritakan hal ini kepada keluarganya.
***
Saudara-saudara Pak Priyo telah sepakat menyerahkan rumah itu kepadanya. Sesekali, mereka datang bergantian dan menginap di rumah itu. Kala libur panjang di hari raya, mereka berkumpul dan menginap di sana. Di rumah itu juga banyak barang antik peninggalan orangtuanya. Untuk memindahkan barang-barang antik tersebut, Pak Priyo juga butuh dana yang tidak sedikit. Tragis sekali kisah Pak Priyo.
Bahkan kemarin lusa, ada seorang lelaki berbadan besar yang datang ke rumahnya sembari berteriak, "BAYAR UTANG KALIAN!"
Akibat teriakan itu, jadi banyak orang yang berkerumun di depan rumahnya. Oleh karena itu, Pak Priyo pun merasa bahwa mungkin sudah saatnya dia berunding dengan saudara-saudaranya.
- bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments