Satria kini menyadari bahwa Felicia yang berdiri di hadapannya adalah sosok nyata, bukan mimpi atau pun imajinasi saja. Dia juga melihat Kania ada di dekat pintu sedang terengah-engah. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Feli bisa ada di apartemen ini?
“Jadi ini yang kamu lakuin di belakang aku, Satria?” tanya Felicia dengan berteriak. Matanya yang terasa panas membuat air bening meluncur deras mengaliri wajahnya.
Melihat Feli menangis, Satria bergegas memakai boksernya dan turun dari ranjang. Dia melirik Kania yang kini juga berjalan mendekat. Semuanya sudah terbongkar dan kini dua wanita yang sama-sama menjadi istrinya sedang menuntut keputusannya.
“Aku bisa jelasin, Fel. Jangan nangis, dengerin dulu!” Satria tetaplah Satria yang tidak pernah sanggup melihat air mata Felicia dari dulu.
“Jelasin apa? Udah jelas kamu main api di belakang aku, Sat. Padahal aku sedang berusaha menjadi istri yang baik.” kata Feli sambil meraung, dia sangat tahu kelemahan Satria dan berhasil memanfaatkannya dengan baik.
“Fel, aku tahu. Semua sudah terjadi. Aku dan Kanya sudah menikah sebelum kamu kembali. Aku menikahinya karena aku kesepian tanpa kamu, Feli.” Satria berusaha menenangkan Felicia, tetapi wanita itu berontak dan kini berbalik menghadap Kania.
“Harusnya kamu bicara baik-baik sama aku, bukannya selingkuh bahkan sampai menikah lagi, Satria.” Felicia terus berteriak hingga membuat telinga Satria berdenging sakit.
“Dasar pelaacur! Aku tahu kamu menjual tubuh di kelab malam dan memanfaatkan suamiku yang kesepian untuk melunasi semua utangmu, ‘kan? Dasar jaalang!” teriak Felicia yang bergerak hampir menjaambak Kania, tapi untungnya Satria berhasil menangkap tangan Feli dan memeluknya.
“Fel, tahan emosimu, biar aku jelaskan dulu!” kata Satria berusaha menahan Felicia yang mengamuk.
“Ya, aku memang menjual diri untuk membayar utang, dan suamimulah yang menawarkan pernikahan ini. Tapi, kami menjalaninya dengan perasaan, aku mencintainya karena dia juga suamiku. Aku yakin, kami saling mencintai,” kata Kania berusaha mengumpulkan keberanian. Dia pikir dengan bicara tanpa emosi, Feli mungkin akan mendengarkan dan berharap bisa menerima pernikahan kedua suaminya.
Satria melihat mata Kania berkaca-kaca, tapi wanita itu lebih tenang dalam menghadapi Feli. Entah karena rasa bersalah, atau memang karena hatinya yang lebih lembut.
“Kamu itu pelaacur, mana mungkin suamiku mencintai kamu. Dia hanya butuh tubuh kamu untuk menampung sperrmanya, tapi akulah istri sah yang mendapatkan hati, cinta, dan semua miliknya. Termasuk anak yang sekarang ada di dalam rahimku,” kata Felicia dengan arogan.
Mendengar pengakuan Feli soal kehamilannya, Satria tiba-tiba membeku.
Hamil? Benarkah Felicia hamil?
Pikiran Satria jadi melayang. Pantas saja dia akhir-akhir ini sering memimpikan anak kecil di pangkuannya. Apakah ini saatnya dia menjadi ayah?
Merasa dekapan Satria melemah, Feli akhirnya berhasil melepaskan diri dari suaminya. Dia lalu melemparkan sebuh tes kehamilan tepat mengenai wajah Kania. “Lihat baik-baik! Aku dan Satria akan memiliki anak jadi jangan bermimpi lagi bisa mendapatkannya.”
Kania berhasil menangkap alat tes kehamilan itu dan air matanya langsung jatuh seketika setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri dua garis merah yang terlihat jelas. Dia telah kalah sekarang, Felicia berhasil mengalahkannya dengan hamil lebih dulu.
Feli berusaha mendekat ingin menjaambak atau mencakar selingkuhan suaminya itu untuk melampiaskan kekesalannya, tapi Satria langsung sigap mencegahnya.
“Feli, tahan emosi kamu. Kanya enggak salah, aku yang bersalah.” Satria kembali memegangi tubuh Felicia. Dia bingung karena tiba-tiba Feli hamil dalam keadaan yang seperti ini, saat hubungannya dengan Kania harus terbongkar.
“Lihatlah dirimu pelaacur! Sekarang kamu tidak punya kekuatan apa-apa untuk melawanku. Aku yakin, Satria pasti melarangmu hamil. Karena anak yang lahir dari rahimmu itu akan menjadi anak tidak sah, alias anak haram!” teriak Felicia yang tidak bisa puas karena tidak bisa melukai wajah Kania.
Dia mau Kania semakin kalah, Felicia berbalik badan dan kini merangkul tubuh Satria. “Katakan kamu mencintaiku, Sat. Ingatlah perjuanganmu mendapatkan aku, dan lihat dia baik-baik. Dia tidak ada apa-apanya dibandingkan aku,” kata Felicia dengan penuh kesedihan.
“Feli, aku ....” Satria malah memandang Kania, dia ingin menjelaskan baik-baik bahwa dia mencintai keduanya, tapi tiba-tiba Felicia mencium Satria tepat di depan Kania.
Wanita itu ingin Kania sadar posisi dan tidak mengharapkan suaminya lagi. Dia membuat Satria tidak bisa lepas dari ciumannya. Ciuman yang begitu menuntut sehingga Kania pikir, Satria juga menikmatinya.
Kania semakin menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan membiarkan alat tes kehamilan itu jatuh ke lantai. Dia sangat terluka dan rasa kecewanya begitu dalam.
“Feli, aku akan bertanggung jawab sama anak kamu, tapi izinkan aku tetap bersama Kanya,” kata Satria yang juga tidak tega melihat tangisan Kania.
“Dia hanya pelaacur, Satria. Apa yang dia berikan ke kamu, akan aku berikan juga. Tapi aku tidak terima kamu bersamanya, Sat. Dia itu pelaacur sekaligus pelakor. Awalnya, dia hanya menyenangkanmu sesaat, lama-lama meminta pertanggung jawaban, kemudian menuntut persamaan dengan istri sah, dan akhirnya melakukan segala cara untuk menggantikan posisi istri sah,” teriak Feli tidak ada habisnya menghina Kania.
“Feli cukup!”
“Kamu masih tetap membela dia, Sat? Oke kalau itu mau kamu, aku akan pergi dan jangan harap kamu bisa menemukan aku, bahkan anak kita.” Felicia menginjak kaki Satria dengan kesal, lalu berjalan mendekati Kania.
“Dasar pelakor!” Feli menaampar wajah Kania dengan sangat keras lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur. “Aku bersumpah, kamu tidak akan bahagia di atas penderitaanku!”
Felicia lalu pergi meninggalkan apartemen itu. Dia yakin, Satria pasti akan memilihnya karena saat ini dia sedang hamil.
Dengan cepat Satria memakai kemeja dan celananya agar bisa menyusul Feli.
“Kanya, kamu enggak apa-apa?” tanya Satria sambil membantu Kania bangun. Lalu, dia mengancingkan semua bajunya. “Aku akan bicara baik-baik sama Feli. Dia sedang hamil, hormonnya pasti membuat emosinya tidak stabil. Aku akan bicara sama dia.” Satria memeluk Kania sebentar dan akhirnya mengejar Feli.
“Semoga kalian bahagia,” gumam Kania yang mungkin tidak didengar oleh Satria karena dia sudah berlari mengejar Felicia.
Aku memang hanya pelaacur yang bodoh. Seharunya aku sadar diri bahwa aku tidak akan bisa menang melawan istri sah. Apalagi sekarang Feli sedang hamil, pasti Satria lebih memilihnya dan perlahan akan membuangku. Apakah lebih baik aku pergi, karena tidak ada gunanya aku bertahan di sini? Meski kontrak itu masih berlaku.
Kembang sama kopinya dulu jangan lupa 😂😂😂
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Hera Puspita
mungkin anak yg di kandung sama feli anak nya andrew 🤔🤔
2024-08-19
0
LENY
KAYAKNYA KANIA JG HAMIL. PERGI AJA KANTA TINGGALIN SATRIA
ANAKNYA FELI KAYALNTA BUKAN ANAL SATRIA. ANAKNYA ANDREW
2024-05-01
0
Borahe 🍉🧡
dah ga usah merasa jd korban Kan. Kmu jg salah di sini. intinya jd perebut suami org itu salah apapun alasannya. jd nikmati aj sakitnya
2023-09-27
1