Selama di Puncak, Kania dan Satria menikmati bulan madu mereka tanpa gangguan karena kebetulan Feli sedang ke luar negeri untuk menghadiri sebuah undangan. Mereka semakin mesra, dan membuat Kania merasa Satria semakin mencintainya.
Sebenarnya Satria cenderung lebih bahagia bersama Kania, tapi laki-laki itu sadar pernikahannya dan Kania yang sudah setengah tahun berjalan tidak bisa disamakan dengan kisahnya bersama Felicia yang berjalan jauh lebih lama. Feli sangat berarti di mata Satria karena dia berjuang dengan susah payah untuk mendapatkannya, sedangkan Kania, dia mendapatkannya tanpa perjuangan apa pun. Namun, jika bisa, Satria ingin memiliki dua wanita itu sekaligus.
Kehadiran Kania membuat gaairah hidupnya kembali bangkit, sedangkan perasaannya pada Feli semakin hari semakin berkurang. Itu semua membuat kepala Satria serasa ingin meledak setiap memikirkannya.
“Sayang, ngelamunin apa sih?” tanya Kania sambil memijat lembut lengan Satria. Pijatannya semakin naik ke pundak Satria.
Laki-laki itu semakin takjub dengan perlakuan Kania yang selalu mengerti apa yang Satria butuhkan.
“Tidak melamunkan apa-apa kok, cuma capek aja,” jawab Satria berbohong. “Ya, di situ, Sayang. Kepalaku pusing sekali,” katanya sembari menikmati pijatan Kania.
Feli tidak pernah memperhatikannya seperti ini. Ah, lagi-lagi membandingkan Kania dan Feli.
“Dulu, aku pikir jadi orang kaya itu enak, tidak akan pusing karena uangnya sudah banyak. Ternyata, semakin banyak uang malah semakin pusing ya, Sayang.” Kania masih terus memijat leher dan pundak Satria.
Satria terkekeh mendengar pemikiran istrinya itu. “Kalau tinggal perintah aja sih enggak akan pusing, Kanya, tapi tanggung jawabnya itu loh. Kakek dan ayahku bekerja keras untuk membangun semua ini, mana mungkin aku hanya santai menikmatinya.”
“Oh iya juga sih, Sayang. Tapi, itu ‘kan cuma pemikiran aku aja. Oh iya, Sayang, apa orang tuamu masih hidup?” tanya Kania.
“Jika saatnya tiba nanti, aku akan memperkenalkan kamu dengan mereka,” jawab Satria sambil memegangi tangan Kania.
“Aku sangat menantikannya. Apa mereka sangat menyayangi istrimu?”
“Kania, sudahlah. Jangan menanyakan sesuatu yang akan membuatmu berpikiran macam-macam.”
Ya, aku berharap hari itu akan segera tiba. Mereka pasti sangat menyayangi Feli, apa mereka juga bisa menerimaku?
***
Satria mengantarkan Kania sampai ke apartemen, dan akhirnya mereka harus berpisah.
“Istirahat ya,” kata Satria saat Kania akan turun dari mobil. Tangannya terulur menyentuh rambut sang istri yang terasa halus.
“Ya, sampai bertemu besok. Aku akan merindukanmu,” balas Kania sambil membuka pintu mobil dan keluar.
Satria menghela napas berat. Setelah ini dia akan bertemu Felicia yang sama sekali tidak membuat Satria merasa rindu. Justru rasa rindu itu kini tercipta untuk wanita yang berjalan meninggalkan mobilnya.
“Tuan, kita pulang sekarang?” tanya Sekretaris Gio sedikit khawatir karena bosnya terus melamun sejak tadi, seolah banyak beban yang ada di kepalanya saat ini.
“Ya. Feli pasti sudah di rumah sekarang.” Satria menatap kosong kaca mobil yang perlahan berjalan meninggalkan gedung pencakar langit itu.
“Apa Tuan sedang memikirkan kedua istri Tuan?” tanya Sekretaris Gio memberanikan diri.
Satria kini menatap kaca spion di atas Sekretaris Gio, membuat dua mata mereka saling bertemu.
“Aku yang membuat perjanjian, aku juga yang melanggarnya, Gio. Menurutmu, aku harus bagaimana?” tanya Satria ragu.
Dadanya kian berdebar memikirkan masalah yang dia buat sendiri. Mempunyai dua istri tidak semudah yang ada dalam benaknya.
“Sejujurnya, saya sangat terkejut saat Tuan meminta dibuatkan surat perjanjian itu. Saya pikir, Tuan sangat mencintai Nyonya Feli, tapi orang yang mencintai itu tidak mungkin berbagi hati, Tuan. Jadi, menurut saya sebaiknya Tuan tanyakan hati Tuan, apakah Nyonya masih di hati Tuan?” tanya Sekretaris Gio.
“Aku masih mencintai Feli, Gio. Aku mendapatkan hatinya dengan susah payah, tidak mungkin aku melepaskannya semudah ini.” Satria mengerutkan kening lalu memijat kepalanya yang semakin pening.
“Tuan yakin itu cinta? Atau jangan-jangan itu hanya obsesi, Tuan?”
Satria kembali menatap sekretarisnya. “Obsesi?”
Feli sangat populer dan paling cantik di kampus. Hampir semua laki-laki menggilainya, sama sepertiku. Saat dia menerima perasaanku, aku merasa menang dan menjadi laki-laki paling bahagia saat itu.
“Nona Kania menjual hidupnya pada Tuan, Nona memperlakukan Tuan dengan baik karena Anda membayarnya. Apa semua yang dilakukannya itu tulus? Tuan harus menyelidiki keduanya, supaya Tuan lebih yakin siapa yang Tuan pilih.”
“Apa aku harus menyelidiki Feli juga? Kami sudah bersama selama bertahun-tahun, dan aku tidak pernah mencurigainya sama sekali. Kamu dan anak buahmu juga pernah beberapa tahun mengawasinya, ‘kan?”
“Suapaya adil memang dua-duanya harus diselidiki, Tuan. Namun, untuk Nyonya Feli, mungkin kita perlu lebih banyak waktu, selain teman-temannya di luar negeri, tapi ibunya juga selalu bersamanya dan melindungi Nyonya dari apa pun.”
“Ya, kamu tahu, aku kurang menyukai ibu mertuaku. Tapi, dia satu-satunya orang tua yang Feli miliki. Apakah kita harus menyelidiki ulang?”
“Jika Tuan memerintah, saya akan segera mengurusnya,” jawab Sekretaris Gio.
“Baiklah, lakukan semuanya!”
***
***
Satria sampai di rumah yang dia tinggali bersama Feli. Rupanya, wanita itu sedang melakukan perawatan tubuh dengan memakai losion yang aroma harumnya menguar di hidung Satria.
“Sayang, baru pulang?” tanya Feli masih sibuk dengan benda cair berwarna putih itu.
“Iya, Fel,” jawab Satria tak bersemangat.
Feli melihat penampilan suaminya yang terlihat kusut dan kelelahan. Apalagi, saat dia menyapa, Satria hanya membalasnya singkat. Padahal, dia sangat berharap laki-laki itu memeluknya dan menumpahkan rasa lelah itu di pelukannya.
Semakin hari dia semakin aneh. Apa dia tidak senang aku pulang? Atau jangan-jangan dia memiliki wanita lain? Tapi, rasanya tidak mungkin, karena Satria sangat menggilaiku sejak dulu, dan aku sangat yakin sampai sekarang dia sangat mencintaiku.
Feli berjalan menghampiri suaminya yang sedang melepaskan kancing kemeja.
“Mau aku bantu?” tanya Feli, dia mengambil alih pekerjaan itu tanpa menunggu jawaban Satria.
Satria memandangi wajah cantik istrinya, dan pikirannya kembali kacau.
“Kamu pakai parfum siapa? Kenapa wanginya seperti perempuan?” tanya Feli sambil mengendus-endus dada bidang Satria.
Satria gelagapan, dia yakin Kania tidak menyemprotkan apa pun padanya, tapi kenapa Feli bisa mencium harumnya?
“Mungkin parfum klien, Sayang. Ya, tadi memang ada sedikit insiden kecil dan aku menyelamatkan klien itu yang tersandung. Mungkin karena itu parfumnya tertinggal di bajuku,” jawab Satria.
Dia mengecup pipi Feli dan berlalu memasuki kamar mandi.
Benarkah? Itu parfum klien? Atau jangan-jangan parfum selingkuhannya? Aku harus menyelidikinya.
Visual ada di ig ya @ittaharuka
Betewe, novel ini emang harus menonjolkan sisi pelakor ya. So, ikuti dulu alurnya, keluarkan unek unek kalian jangan ragu-ragu wkkkkk
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Qorie Izraini
benar kang Gio
klu mencintai kenapa harus beebagi
lelaki yg baik dia tdk akan mendua.
begitu jugaa hal ny dengan wanita.
jika dia wanita baik2 tak kan mau merebut milik wanita lain.
tapi klu sudah hazrat dan nafsu yg beetindak......
apa mau di kata.....
2023-05-20
2
lilis eriska
siapa sih visualnya
2023-02-17
0
lilis eriska
nah gituuu dongggg
2023-02-17
0